
Langit mendung, gemuruh awan, kilatan cahaya di langit.
Waktu silih berganti siang dan malam tak pernah lelah.
Bumi masih terus berjalan mengitari orbititnya.
Sumberdaya perlahan menipis karena terkikis oleh manusia yang sedikit sadis.
Persediaan kian menipis, sementara kebutuhan tak dapat dielakan.
Hutan luas tak nampak lagi, kini hanya kayu-kayu serta tembok-tembok yang nampak.
Bagaikan ulat yang hanya bisa merayap. Sekali tangkap pasti langsung tak selamat.
Berefolusi mempertahankan diri, berkamuplase menghindari predator lain, saling memangsa dan menggigit bukan hanya sandiwara.
Toko-toko tinggal lah nama, setiap orang melarikan diri dari wabah yang mengerikan.
Entah siapa dalang dibalik wayang, sang karakter sungguh meyakinkan, menyuguhkan tontonan yang mengasyikan bagi penikmat wayang.
Udara sudah mulai berkurang, dari polusi asap kendaraan.
Bertahan dengan keadaan, hingga menunculkan pikiran dan ide-ide cemerlang.
Gemerlap bintang di langit malam, sungguh indah bagi yang memandang.
Orang-orang mulai ketakutan dari wabah yang di datangkan Tuhan.
Ada yang bertahan ada yang meninggal.
Di negara asalnya Wuhan banyak korban jiwa berjatuhan, Seluruh bumi digemparkan dari wabah yang akan selalu terkenang.
Penghuni daratan kelimpungan, kecuali penghuni lautan yang tetap tenang.
Rumah sakit menjadi sasaran bagi para penderita.
Susahnya melahirkan karena terkait dengan aturan.
Sakit sedikit menjadi tuduhan dari gejala awalan.
Setiap orang harus menjaga aturan, jaga jarak agar tetap aman, cuci tangan menjadi keharusan, serta menghindari kerumunan.
Cadar dilarang di negara yang menentang, kini setiap orang harus memakai masker.
Pekerja diliburkan WFH dijalankan.
Sekolah offline ditiadakan. Online makin digencarkan.
Teknologi semakin diperdayakan, manusia tinggallah sebutan bagi yang tak bisa mengikuti zaman.
Ekonomi mulai mengalami kemerosotan, memunculkan ide-ide cemerlang.
Dulu Online hanya bagi sebagian orang, kini hampir setiap insan.
Keimanan makin kuat bagi yang memegang teguh keyakinan, mengambil hikmah disetiap kejadian.
Kepala daerah terkena wabah, kenapa itu dipersoalkan?
Karena akan mengganggu pergerakan.
Setiap orang merasakan, diam tak ada kegiatan.
Pemecatan tak terelakan, anak istri kelimpungan.
Mencoba solusi dari setiap persoalan, tetap belum menemukan jawaban.
Mencoba bangkit dari keterpurukan dengan bantuan jalan teman.
Prok-prok suara tepuk tangan dari teman-teman vivi.
__ADS_1
"Wah sungguh gabus, Kuning menepuk bahu Kebelah Kanan Vii."
"Hah", Vii kaget, menutup mulut dengan telapak tangannya, dan berkata "Aku kira pada gak ada, ternyata masih ada, aduuuhhh" Menutup seluruh mukanya dengan tangannya."Heeemmmmm maluuuu".
"Gak apa-apa, Bagus koo sangat puitis." Pink memberi dua jempol dan menunjukkan giginya yang berjejer rapih.
"Kita kan abis bersih-bersih, Kamu malah disini sendirian", sindir biru.
"Hehe, Maaf yaa" Vii menangkupkan kedua tangannya.
"Iyaa, jangan diulangi lagi yaa" Biru menepuk bahu kiri Vii.
"Iyaaa, kan gak akan bareng lagi Kita." Vii menimpal.
"Hiks sedihhhh, pink kembali ke ruang sebelah dengan suara tangisan tanpa berlinang air mata.
"Ayoo bersih-bersih masih banyak tuh yang belum dibersihin" Merah merebahkan dirinya di kursi.
Semua tepuk jidat dan berucap "Hadeuh".
"Baiklah", Vii beranjak dan duduk di sebelah merah.
"Heee siapa suruh kamu duduk?" Merah menghentikan musik yang sedang di putarnya.
Vii menggeleng "Enggak ada, hehe" tersenyum menampilkan giginya.
"Ayoo, tinggal bagian kamu tuh, sedikit lagi koo" Merah menunjukk bagian yang kotor.
"Iya iyaa, jangan galak-galak napah" Vii beranjak dari duduknya.
"Galak karena peduli" Merah menimpal.
"Hemmm, makasih sudah peduli". Vii membuat bentuk love dengan semua jari-jari tangannya.
"Ya Allah, terimakasih karena telah mengirimkan orang-orang yang peduli" Vii tersenyum karena ucapan dalam hatinya.
Vii membereskan barang-barangnya dengan rapi.
"Apa nih?" tanya yang lain dan mendekat ke arah Kuning.
"Enaknya Kita makan apa yaa?" Tanya kuning melirik ke arah biru, pink, hijau dan vii.
"Makan yang manis", ucap biru dan hijau, "asin-asin" ucap pink dan vii beramaan.
"Gimana kalo beli makanan yang manis dan asin" Merah tiba-tiba muncul, memberi saran.
"Iyaa" semua setuju dan memesan melalui aplikasi online.
Tidak lama kemudian makanan yang dipesan tiba. Mereka makan dengan hidmat.
Malam telah datang, rumah telah rapi dari barang-barang yang berantakan.
Kendaraan Online telah dipesan, tinggal menunggu waktunya datang.
Perpisahan yang tak dapat dielakan untuk kembali ke kehidupan, bahkan kampung halaman.
Kebersamaan sudah tidak dapat dijalankan, karena keadaan.
__ADS_1
Satu persatu kian menghilang dari tempat Kami tinggal.
Keluarga tempat berpulang, kembali dan tinggal.
"Makasih yaa kalian sudah hadir" Vii melirik semua penghuni.
"Hadir, Yaa kali anak sekolahan, ada-ada sajee" Biruu tertawa terbahak-bahak.
"Makasih yaa kalian telah tinggal" Vii melirik ke semua penghuni.
"Laguu kali, tinggalkanlah masa lalu Aku kan melangkah, maafkanlah segala yang terjadi". Vii menyanyi.
"Emang gitu yaa?" Tanya pink, ke kuning dengan kening mengkerut.
"Enggak tau" Geleng hijau.
"Bener sih liriknya tapi nadanya koo beda yaa". Ucap Biru.
Kini giliran Vii yang kembali ke kampung halaman.
Barang-barang dimasukan ke dalam kendaraan online.
Vii berpamitan, "Makasih banyak yaa, Jazakillah khair, semoga silaturahmi ini tetap terjaga, semoga sukses untuk kita semua".
"Aamiin", ucap merah dan kuning.
"Berkabar yaa kalo udah sampe." Merah memberi pesan.
"InsyaAllah" Vii masuk. "Bismillah".
"Udah berangkat buu?", ucap sang pengendara.
"Iyaa", Vii menyamankan posisi duduknya.
"Hah ko Iya, harus nya belum dong, Ibuu, emang siapa yang nikah sama papa mu?", haduh" sambil menepuk jidat.
__ADS_1
"Udah siii, ibuu lebih baik dari pada bapak, kan aneh., astagfirullah", Vii mengusap wajahny.