Cinta Komedi

Cinta Komedi
EPISODE 1 KEPEDEAN


__ADS_3

**Percaya diri adalah bagian hidup


-Lydia**


***


"ANAK-anak, ulangan kali ini yang nilainya sempurna adalah Lya. Saya mau Lya maju dan semuanya tepuk tangan dan memberikan selamat, karena ini bukan sekali Lya dapat nilai sempurna, tetapi sudah sering jadi kita harus mengapresiasi," jelas Pak Jaluβ€”guru Matematika paling killer dan ngeselin sepanjang masa. Tetapi guru itu bisa luluh sama Lydia yang pintar dan berprestasi.


Ketika nama panggilannya yang khas dipanggil, Lydia langsung beranjak dari kursinya. Seragamnya yang acak-acakan. Menggunakan syal, padahal bukan musim dingin. Antingnya yang bergemerincing sengaja di goyang-goyangkan. Lydia menuju ke depan kelas sambil melambai-lambaikan tangan seperti miss universe kesurupan.


Lydia menarik napas lalu mengembuskannya dan berbicara. "Terima kasih semua," Lydia mengacungkan jempol seraya berbicara layaknya artis yang sudah mendapat bayaran semilyar.


Semua murid hanya diam dan tak acuh dengan sikap Lydia. Semua tau kalau Lydia memiliki penampilan, tingkah laku dan gaya bahasa yang aneh dan berbeda. Lydia selalu ingin menjadi pusat perhatian semua murid. Jadi semua murid sudah terbiasa.


Lyida kembali ke mejanya sambil tersenyum manis dan berjalan anggun. Semua pasang mata kagum dengan kecantikan Lydia dan kepintarannya di bidang akademik.


"Selamat ya Lya. Saya bangga sama kamu. Ayo semua tepuk tangan untuk Lydia .... " Pak Jalu terlihat senang dan bangga mempunyai murid yang pintar. Padahal di kelas cuma Lydia saja yang pintar.


πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ


Bel istirahat berbunyi merdu. Lydia hanya di dalam kelas. Dia tidak suka ke kantin. Lydia melamun memikirkan sesuatu. Padahal dia tidak punya masalah sekecil pun. Tangan kanannya masih menyangga dagunya dan mukanya datar kaya aspal baru jadi.


Seseorang tanpa diundang berdiri tepat di depan Lydia, "Lya, lo lagi ngapain? Kok ngelamun aja," tanya anak dengan poni hampir menutupi mata dan rambutnya yang hitam sebahu. Nama dia adalah Desy.


Lydia mengalihkan pandangannya ke Desy sambil menatapnya dingin. "Eh iya gue sibuk nih. Gue sibuk jadi terkenal hehe," jawab Lydia nyengir.


"Gue pengen deket aja sama lo. Lo juga gak punya temen di kelas. Siapa tau kita akrab."


Lydia mulai serius dan raut wajahnya mulai tidak datar. "Oh, yaudah sini duduk sebelah gue, jangan diri mulu nanti pegel."


"Lya please! Terima gue sebagai temen. Gue menderita banget. Gue kesepian. Gak ada satupun yang mau deketin gue," Lydia tau kalau Desy adalah murid paling underrated. Desy anak kutu buku, mukanya juga mengenaskan. Rambutnya yang aneh dan menggunakan kacamata jengkol bikin ngeselin.


Lydia tersenyum dan ceria. "Yaudah lo boleh jadi temen gue kok. Tapi lo tau kan gue ini populer, jadi kalo ada fans gue, sabar ya."


Desy kegirangan dan loncat-loncat. "Yeay, oke terima kasih Lya. Nih buat lo, gue bawa bekel banyak." Desy mengeluarkan bekalnya yang berisi lauk pauk empat sehat lima sempurna.


"Lo tau gak ada anak baru tuh dari kelas X-6. Mukanya cakep banget. Gue gak tahan."


Lydia yang mau minum langsung menyemburkan airnya ke segala arah. Lydia kalo lagi kaget, memang kaya gitu.


"Siapa? Kok gue baru tau."


"Aduh seragam gue basah nih. Kena semburan lo," Desy mengelap seragamnya yang terkena semburan Lydia.


"Yahh maap, aturan lo menghindar gitu pas gue sembur. Nama anak baru itu siapa?"

__ADS_1


"Gak tau sih. Gue penasaran juga soalnya dia ganteng banget."


Lydia berdiri dan menarik tangan Desy. "Yuk mumpung masih istirahat liat tuh anak. Gue penasaran. Siapa tau gue suka sama dia hihi."


Lydia keluar kelas lalu menegok kiri dan kanan memastikan tidak ramai orang. Langsung dia berjalan ke kelas X-6. Biasanya Lydia tidak kepo, mengingat anak baru itu ganteng jadi dia penasaran. Semoga aja mata Desy tidak rabun.


Kebetulan tidak terlalu ramai di depan kelas X-6. Lydia melirik dan mengintip lewat jendela. Yang ia lihat hanya ada kumpulan cewek tukang gosip. Lydia malah melupakan tujuannya untuk melihat anak baru, dia malah mendengarkan kumpulan cewek tukang gosip.


"Eh, tau gak masa si Ronal jadian sama Susi. Susi kan cabe-cabean tapi si Ronal mau aja ya."


"Terus tau gak, si Lya dari kelas X-1 dapet nilai MTK perfect. Dia emang pinter banget yaa. Padahal satu angkatan nilai MTK-nya jelek." Lydia ketawa kecil ketika dia jadi bahan gosip yang bagus.


Tiba-tiba ada botol plastik yang terlempar ke jendela mengenai Lydia. "Aduh sakit, **** banget sih. Siapa yang ngelempar botol?" Lydia meringis kesakitan dengan nada yang kencang, dia lupa posisinya sekarang lagi menguntit.


Laki-laki dengan wajah tampan, rambutnya hitam kecoklat-coklatan dan mata hitam legamnya menarik perhatian. Anak itu membuka jendela lebar. "Eh ... maaf ... lagian ngapain ngintip-ngintip di jendela?"


"Buang sampah jangan lewat jendela. Lo kagak punya kaki buat buang sampah di tempatnya?!" Lydia jutek, padahal dia juga salah ngintip tidak jelas di jendela.


"Ehh lo siapa?? Kok gue baru liat lo sih," sambung Lydia.


"Lo ngapain tiba-tiba di jendela kaya orang kurang kerjaan. Jangan-jangan mau ngintipin gue ya?" goda anak baru itu.


"Kepedean banget sih lo, muka lo juga pas-pasan," Lydia merasa kalah pedenya dengan anak itu. Baru kali ini ada orang yang memiliki tingkat kepedean melebihi Lydia.


Lydia langsung berjalan menuju kelas. Lydia berjalan seperti bermain ski. Dia memanfaatkan lantainya yang licin dan sepatunya juga mendukung, sehingga gaya geseknya semakin besar. Lydia juga malu dengan kelakuan tadi yang tidak berkelas untuk orang ter-famous di SMA Putih Biru. Desy hanya menatap aneh ke Lydia yang tingkahnya aneh.


"Aduh ... sakit ... batu lo ngapain disini sih!" Lydia menghardik batu seolah batu itu salah besar. Lydia lagi enak-enaknya selancar di lantai tersandung batu.


"Lo gak apa-apa kan? Makanya jangan pecicilan jadi orang." Desy malah ikut-ikutan selancar di lantai, dia malah kesandung bungkus seblak.


"Jadi orang jangan pecicilan!" Lydia membalas sambil tertawa terbahak-bahak. "Yuk cepet, mau masuk nih...."


Mereka langsung masuk ke kelas. Ternyata masih belum ada guru masuk. Lydia ke depan kelas dulu berjalan seperti model terkenal dan tebar pesona. Lalu dia duduk di kursinya. Semua murid hanya menanggapinya biasa saja.


"Des, itu anak barunya? Mukanya cakep juga ya, tapi tadi tuh anak songong banget ya," Lydia berbisik ke Desy yang duduk di depannya.


"Iya kan udah gue bilang cakep, namanya siapa ya?"


"Oh iya tadi lupa nanya. Tapi gengsi dong. Masa gue orang paling terkenal nanya ke anak baru. Nanti juga tau namanya," gerutu Lydia.


Ketua kelas dengan ciri khasnya tinggi, mukanya yang biasa aja, tapi rambut kribonya bikin salah fokus. Namanya Hilman. Dia ke depan kelas ingin memberi tahu sesuatu. "Bu Sari lagi sakit, ada tugas hal 105. Itu di kerjakan di buku tulis."


"Dikumpulin sekarang?" teriak Lydia.


"Gak dijelasin, yang penting kerjain."

__ADS_1


"Yaudah gak gua kerjain sekarang," teriak Lydia. Sehingga membuat semua murid ikut-ikutan tidak mengerjakan.


Lydia langsung membuka buku Bahasa Indonesia hal 105. Tertara soal: 'Buatlah puisi tentang perasaanmu sekarang'


"Gue gak bisa bikin puisi. Baca aja gak pernah. Puisi itu spesies apa sih?" Lydia bergumam sendiri seperti orang melihat soal Fisika.


πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ


Lydia pulang dengan keadaan gundah, karena Desy ikut pulang bareng. Lydia juga masih penasaran dengan anak baru itu. Lydia mulai tertarik dengan anak baru itu yang pedenya mengalahkannya.


"Lya lo ngelamun aja. Lo mau baca buku gue? Biar gak bosen." Desy yang notabenenya kutu buku memberikan buku yang ia baca sambil berjalan.


"Yang ada gue tambah bosen. Malah tambah pusing. Emang lo baca apasih serius banget."


"Gue baca novel. Seru banget ... ceritanya tentang anak cewek masih muda hamil, terus lakinya malah selingkuh. Pokoknya seru."


Di pertigaan mereka berpisah. Rumah mereka berbeda arah. Lydia langsung lega tanpa mendengar novel membosankan Desy yang berjudul Hamil muda di masa SMA.


Lydia menyusuri jalan menuju rumahnya. Di Bandung tidak terlalu ramai kendaraan lalu lalang. Daerah rumah Lydia juga pedesaan. Lydia berjalan kaki di pinggir jalan yang tidak ada genangan air. Lydia menyempatkan waktu untuk istirahat sebentar di bawah pohon.


Senja yang bergradasi memancarkan cahaya ke setiap objek. Rumput ikut berwarna oranye dari jauh. Angin meniup rambut gadis yang sedang berdiri menatap keindahan alam. Lydia biasanya malas dengan urusan menatapi pemandangan, tetapi senja mengajak untuk melihatnya. Lydia masih berdiri dengan berdecak pinggang.


"Senja sangat angkuh. Menghilang dengan cepat meninggalkan kegelapan. Semua makhluk langsung menghilang ketika senja sirna. Senja berikan aku sedikit waktu untuk mendeskripsikan keindahanmu," gumam seorang laki-laki yang sedang duduk di depan Lydia.


Lydia langsung kaget ketika anak itu tiba-tiba berbicara sendiri. Dan dia juga baru sadar kalau ada orang di depannya. Dalam hatinya Lydia 'Nih anak stress kali ya ngomong sendiri... Kasian banget pasti jomblo.. Tapi gue jomblo juga sih, huhu😭' Lydia hanya kikuk memilih untuk pergi atau tetap menunggu hingga matahari tenggelam. Ia ingin pergi karena takut mengganggu lelaki pujangga di depannya. Dia malah memiliki niatan untuk bikin kata-kata indah juga.


"Sore hari menjadi malam. Malam gelap banget gue takut. Apalagi ada suara jangkrik. Kuping gue jadi budek." Lydia ikut bergumam mengucapkan kata yang menurutnya indah.


"Tama ayo pulang, Ibu sudah menunggu. Masa masih di sini aja. Ayo naik mobil cepet," panggil ibu-ibu yang sudah tua ke anak itu.


"Eh, Bibi iya maaf, Ibu pasti udah nunggu .... " anak itu berdiri dan langsung menuju mobil tanpa menatap Lydia sedikitpun.


"Idih ... sombong banget jadi anak, gue juga ogah ngeliat muka lo," batin Lydia kesal sendiri.


Buku tebal tertinggal tepat bekas duduk anak itu. Buku anak tadi tertinggal. "Jadi orang ceroboh banget sih, buku aja sampe kelupaan," Lydia mengambil buku itu.


'Kumpulan Puisi Lama Karya Penulis Hebat,' Judul buku tersebut. Dan ada namanya yaitu Tama. Lydia paling bosen membaca buku sastra, walaupun ia sangat pintar. Akhirnya ia menyimpannya dan akan kembali besok untuk mengembalikannya.


~β€’~β€’~β€’~β€’~β€’~β€’~β€’~β€’~β€’~β€’~β€’~


***Selamat datang di karya pertamaku di aplikasi terbaik untuk para Author dan pembaca setia novel yaitu Mangatoon/Noveltoon. Saya sangat mencintai aplikasi ini.


Semoga cerita ini bisa menghibur kalian. Nikmatilah setiap jokes dan plotnya. Semoga hari kalian bisa bahagia dengan membaca cerita ini. Ingat ini genre romance Comedy.


Jangan lupa untuk memberikan ulasan di komentar. Untuk mengapresiasi karyaku kalian cukup memberikan like dan votenya. Terima kasih semua, selamat membaca***.

__ADS_1


__ADS_2