Cinta Komedi

Cinta Komedi
EPISODE 16 TERUNGKAP 1


__ADS_3

     Setelah melalui berbagai macam pelajaran yang membuat otak ingin pecah, akhirnya suara bel terdengar seperti panggilan alam yang sangat indah didengar. Lydia merapihkan buku paket Matematika beserta buku catatan dan tugasnya. Semua buku dan alat tulis sudah dimasukan ke dalam tasnya.


     Desy menghampiri Lydia sambil membawa tempat makannya yang berwarna putih dengan motif abstrak. "Kita jadi nyamperin Reza?" tanya Desy sambil duduk di kursi.


     Lydia menghela napas dan mukanya datar. "Kayaknya enggak dulu deh, gue mau istirahat dulu. Otak gue rasanya ingin pecah."


     "Ternyata otak orang pinter ada batasannya juga ya hehehe," Desy nyengir sambil tertawa renyah.


    "Des, untuk sementara jangan bahas tentang masalah dulu. Mending ganti topik aja. Biarin dah tentang gosip juga gak apa-apa."


     Desy membuka bekalnya yang berisi ayam kecap dan sayur kangkung. "Oh iya lo nyadar gak kalo Wendi akhir-akhir ini murung mulu?"


     "Dia seperti biasanya. Emang anaknya kaya gitu bukannya?" Lydia berbicara sambil mengunyah ayam kecap dari Desy.


     Desy ikut memakan bekalnya sambil berbicara. "Bedalah, dia biasanya main HP dan sering komat-kamit sendiri. Sekarang dia diam aja kaya kehilangan jiwanya."


     "Cie perhatian sama dia. Oh iya bener juga sih. Lo sih bukannya temenin dia. Kasihan dia kesepian. Diketin gih siapa tau jodoh."


     "Ehek uhuk uhuk ...." Desy keselek mendengar kata-kata Lydia. Desy langsung mengambil botol minumnya. "Enak aja. Wendi bukan tipe gue."


     "Belom jadian udah bilang enak. Jangan sok kecakepan dah," Lydia membalas dengan tatapan datar.


    Desy mulai kesal. "Cewek jelek juga punya tipe. Maksud gua enak ajanya bukan ke arah situ. Lo mah bikin gue kesel."


    "Bodo amat dah," Lydia hanya geleng-geleng dengan muka datarnya.


    Tanpa diundang dan diduga, Wendi sudah berdiri disamping Lydia dengan aura mistisnya. Lydia dan Desy sontak terkejut dan keselek berjamaah.


     Lydia minum air mineral dan berusaha bercakap. "Wen, lo bikin gue kaget aja. Ada apa sih?"


     "Gue mau bicara sama lo pulang sekolah nanti. Empat mata. Tanpa Desy."


     Lydia terdiam dan berpikir. "Eh? Yaudah dah."


    Desy tersenyum-senyum ngeselin melihat Lydia diajak pulang bareng Wendi. Lydia membalasnya dengan melotot, sehingga membuat Desy terdiam.


     "Oke ... terima kasih," Wendi kembali ke bangku kesayangannya.


     Wendi memang akhir-akhir ini mulai akrab dengan Lydia terutama geng Tensmart. Tapi untuk berbicara empat mata dengan Wendi adalah kesempatan langka. Sepertinya ada hal penting, tapi semoga jangan mengarah ke hal mistis yang ada membuat merinding.


     Kalian pasti belum tahu awal mula Wendi bisa melihat dan berinteraksi dengan makhluk halus. Kali ini akan dijelaskan tentang Wendi dulu.


    Wendi terlahir di keluarga yang biasa saja. Ayahnya seorang wirausahawan dan ibunya kerja di kantor. Waktu umur lima tahun Wendi sudah menunjukan keanehan seperti berbicara sendiri dan bermain sambil tertawa sendiri. Ibunya yang menjadi saksi nyata keanehan Wendi. Setelah konsultasi ke ahli spiritual, ternyata Wendi memiliki keahlian bisa melihat dan komunikasi dengan makhluk halus. Keahliannya itu diwarisi dari kakeknya.


    Wendi tetap tumbuh tanpa kendala dengan keahliannya itu. Hingga mengenyam pendidikan Wendi tetap memilikinya. Bahkan hingga sekarang Wendi masih melestarikan dan menjaga keahliannya.


     Setelah bel pulang akhirnya Lydia menghampiri Wendi yang masih duduk di kursi singgasananya.  Wendi masih sibuk dengan HP yang menampilkan game Flappy Bird.


     "Ehm...." Lydia berdehem untuk menghentikan aktivitas Wendi.


     Wendi langsung mengalihkan pandangan ke Lydia. "Eh Lya ... Maaf, yuk pulbar."


     Wendi merapihkan semua peralatan sekolahnya dan menaruhnya di dalam tas selempangnya. Lalu dipakailah tasnya dan berjalan menyusul Lydia yang sudah diambang pintu.

__ADS_1


     "Kita mau kemana nih?" tanya Lydia sambil berjalan.


     Wendi seketika berhenti ditempat. "Eh? Oh iya mau kemana ya? Gue belom rencanain hehehe."


     Lydia menepuk jidatnya dan menghela nafas. "Gue kira lo udah rencanain. Yaudah kita ke tempat biasanya lo datengin, kaya taman gitu atau apalah."


     Wendi berpikir keras. "Gue biasanya nyantai di rumah doang sih. Yaudah ke rumah gue aja lah. Mumpung ada ibu gue."


      "Oh yaudah. Mumpung gue belom pernah."


     Lydia dan Wendi berjalan beriringan ke rumah Wendi. Lydia masih menyimpan pertanyannya tentang apa yang ingin diomongin. Rumah Wendi tidak terlalu jauh dari sekolah sekitar 900 meter, jalan kaki juga akan cepat sampai.


     "Wen, lo kalo sekolah gak bawa motor?" tanya Lydia sambil berjalan.


     "Rumah gue deket jadi gak usah bawa kendaraan."


     "Btw, kata Desy lo murung aja di sekolah emang ada masalah apa?"


     Wendi langsung terkejut. "Gimana ya? Susah dijelasin. Nah nanti gue akan menjelaskan tentang ini."


     "Ohh tentang masalah ini. Yaudah curhat aja sama gue. Siapa tau gue bisa bantu."


     Wendi berhenti mendadak. Lydia mulai kebingungan lagi. "Wen, kok berhenti disini?"


     "Kita udah sampe di rumah gue." 


     "Oh gue kira ada apa hehe."


     Rumah Wendi cukup megah dan besar. Ternyata Wendi anak orang kaya. Rumahnya tingkat dua dengan desain sederhana dan modern. Halamannya cukup luas ditumbuhi berbagai macam tumbuhan. Lydia sampai terpesona dengan rumah Wendi yang indah dan mulai berkhayal jikalau ini rumah miliknya. Wendi memang tampan sih, tapi keanehannya membuat ketakutan semua orang. Apalagi kalau cewek-cewek di sekolahnya tahu kalau Wendi kaya pasti banyak yang suka.


     Lydia masih melihat-lihat keindahan rumah Wendi. Lalu Lydia memasuki rumah Wendi. Dari dalamnya lebih luar biasa. Barang-barangnya masih bagus dan bersih. Ruangannya sangat simetris dan ditata dengan rapih.


     Ibu Wendi tiba-tiba datang menghampiri Lydia dan Wendi. Dengan wajah yang ceria dan senang. Sepertinya ibu Wendi Ramah.


     Wendi bersalaman dengan ibunya, begitupun dengan Lydia. "Wendi, ini siapa? Cantik banget. Bisa aja nih Wendi nyari pacar yang cantik. Aduh senangnya ibu."


     "Eh... Ini Lya Bu, temen sekelas Wendi. Bukan pacar Wendi." Wendi malu-malu menjawabnya.


     "Hai tante ... saya Lya. Senang bertemu tante."


     "Hai Lya. Aduh kamu cantik banget sih. Wendi gak pernah ajak temennya main ke rumah. Ini kamu orang pertama yang Wendi ajak sepertinya."


     "Bu, aku mau ambil cemilan dulu ya buat Lya di dapur," kata Wendi.


     "Oh iya Lya, silahkan duduk ya. Tante udah masak tadi. Nanti kita makan bareng ya."


     "Terima kasih tante," jawab Lydia sopan.


     Lydia duduk di sofa yang terletak di ruang tamu. Sofanya empuk banget rasanya ingin berbaring dan tidur, tapi ini rumahnya Wendi. Tidak menunggu lama, Wendi datang membawa banyak cemilan dibantu ibunya.


     "Tante pengen main HP lagi. Kalo mau yang lain panggil aja ya," kata Ibu Wendi sambil berjalan ke dalam.


     Wendi sudah berganti baju. Bajunya putih polos dengan celana selutut. Ganteng banget kalau tidak pakai seragam. Wendi duduk dan mulai pembicaraan.

__ADS_1


     "Lya, gue pengen sampaikan ini. Tapi lo harus percaya. Awalnya gue juga gak percaya. Tapi setelah gue telaah dan pikir ternyata emang benar."


     Lydia bingung sambil menggaruk kepalanya seperti gayanya Hilman. "Emangnya ada apa?"


     Wendi menghela napas berusaha menjelaskan yang sebenarnya. "Gue ingin memastikan dulu. Jawab pertanyaan gue ya. Lo buat Instagram sendiri atau dibuatin?"


     "Dibuatin Desy."


     "Lo duduk sama siapa? Terus samping kanan dan depan belakang lo siapa?"


     "Gue duduk bareng Hilman kan lo tau. Samping kanan gue Hana, Depan gue Desy, Belakang gue Kharim. Kok jadi nanya beginian sih? Ada apa sih?" Lydia mulai kebingungan.


     "Siapa orang paling terdekat lo di kelas?"


     "Desy!"


     "Berarti benar. Lo harus tau. Tapi lo harus percaya sepenuhnya." Wendi berusaha meyakinkan.


     Lydia tersenyum sambil mengangguk. "Oh gue tau. Lo suka sama Desy kan? Tenang aja nanti gue coba deketin deh. Gampang itu mah."


     "Bukan masalah itu. Tapi pelaku sebenarnya yang ngehack IG lo, yang ngambil buku PR lo sama naruh duit iuran kipas ke dalam tas lo adalah..." Wendi menarik napas. Sulit untuk melanjutkannya.


     "Siapa!!!"


     "Desy!"


     "Ahhhhhh!!! Desy? Gak mungkin. Dia baik dan dia juga teman gue. Gak mungkin. Ini cuma asumsi dan teori lo doang. Belum ada buktinyakan?"


     "Gue bisa melihat dari mata batin gue Lya, temen-temen gue juga udah ngebantu menjelaskan ke gue. Percaya sama gue."


      "Percaya sama lo? Yang ada gue musyrik. Susah kalo punya temen yang aneh. Udah ah gue mau pulang." Lydia berdiri dari kursinya dan memakai tasnya.


     Wendi langsung meraih tangan Lydia dan mengenggamnya erat. Ditatapnya mata Lydia. "Untuk kali ini lo harus percaya sama gue. Gue gak akan pernah menyesatkan lo. Percaya sama gue. Gue hanya ingin membantu lo. Please Lya!"


     "Oke gue percaya sama lo. Tapi jangan tatap gue mulu dong. Muka lo ganteng banget. Deg-degan gue."


     Wendi malu-malu harimau. Mukanya merah ketika mendegar jawaban Lydia. "Wen, ini pegangan tangannya lama?"


     "Ohh iya sorry," Wendi melepaskan sambil tersenyum bahagia.


     "Tapi ada benarnya juga lo. IG gue yang bikin Desy jadi dia bisa akses akun gue. Pas buku PR gue emang sih cuman ada Desy sama Reza waktu itu bertepatan juga sama duit iuran yang ada di tas gue. Bener juga. Tapi gue masih gak nyangka Desy yang ngelakuin. Sumpah rumit banget masalahnya."


    "Besok kita jangan langsung tangkep basah si Desy. Caranya gini, besok lo pinjem HP Desy terus gue spam like sama komentar di Instagram lo. Kalo ada notif berarti bener. Lo pura-pura aja main game, kalo buka IG pasti gak dizinin terus dia curiga."


~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~


Thank You yang udah baca sampai sini. Seru part ini? Lanjut terus ya sampai tamat.


Kalian suka sama Wendi yang ganteng tapi misterius dan menyeramkan?


Kalian suka sama Lydia yang cantik, pede, ceria, dan selalu semangat?


Sampai jumpa di part berikutnya...

__ADS_1


Jangan lupa vote dan komentarnya.


__ADS_2