
SPESIAL UNTUK KALIAN YANG SETIA MENUNGGU. SELAMAT MEMBACA😉
Bel masuk pelajaran biasanya guru mata pelajaran yang akan datang. Tapi berbeda dengan hari ini. Para petinggi sekolah alias anggota OSIS memasuki ruang kelas. Tentunya ada ketua dan wakil ketua OSIS yang akan memulai pembicaraan.
"Kok tumben OSIS pada ke kelas kita?" tanya Lydia ke Hilman yang sekarang menjadi teman sebangkunya. Zidan sudah mengalah, ia duduk di belakang.
"Biasanya bakal ada acara penting. Kita tunggu aja," jawab Hilman sambil menggaruk rambut kribonya.
Zaki ketua OSIS dengan perawakan tinggi. Badannya yang sangat bagud alias atletis, karena ia anggota atletik. Mukanya yang biasa aja sebenarnya. Namun ia memiliki kharisma dan jiwa kepemimpinan. Ia mulai menyampaikan sesuatu.
"Selamat pagi semua. Berhubung masa jabatan OSIS akan berakhir di penghujung bulan. Kami sebagai perwakilan OSIS ingin menyampaikan mengenai perekrutan Ketua OSIS baru beserta anggota nya. Karena kalian sudah kelas 11 jadi inilah saatnya kalian berkontribusi. Melanjutkan tugas kita untuk memajukan sekolah," pidato dari Ketua OSIS.
Wakil ketua OSIS—Ina, murid paling teladan diangkatannya. Dan banyak meraih prestasi di bidang sains. Masuk dalam jajaran peneliti muda. Ia juga ingin menyampaikan sesuatu. "Sekarang waktunya kalian untuk menunjukkan eksistensi kalian. Kalian bisa membuat nama sekolah menjadi lebih baik lagi. Tenaga dan curahan pikiran kalian adalah bukti bahwa kalian bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Dan menjadi OSIS merupakan pengalaman baru untuk kalian."
"Jadi, ayo daftarkan diri kalian menjadi calon ketua OSIS! Kalian bisa ambil formulir, ada persyaratannya, dan akan ada sesi wawancara. Terima kasih. Maaf mengganggu jam belajar kalian," kata Zaki sambil meninggalkan kelas.
Geng Lydia langsung nimbrung di meja Lydia. Semua langsung heboh bahas tentang pendaftaran ketua OSIS. Bakal jadi bahan perbincangan hangat.
"Siapa nih yang mau daftar? Gue sih ogah ya. Susah jadi ketua OSIS," ujar Ridho.
"Apalagi gue. Jadi ketua aja udah ribet. Apalagi ngurus murid satu sekolah. Bisa pusing kepala gue," kata Hilman.
"Kalau menurut gue. Yang cocok jadi ketua OSIS yaitu paling terkenal satu sekolah, good looking, berprestasi, dan disukai semua makhluk. Siapa ya?" Pikir Ridho. Semua pandangan langsung menuju ke arah Lydia. Ya, benar sekali siapa lagi yang bisa masuk kriteria tersebut, sudah pasti Lydia.
"Tapi kan... tapi..." ucap Lydia sambil berpikir.
"Udah gak ada tapi-tapian. Lu itu udah paling cocok banget. Semua udah kenal lu. Murid paling berpengaruh. Semua makhluk tau lu, manusia, tumbuhan, hewan, dan benda mati," ucap Desy.
"Sel, kan lu masih anggota OSIS kan. Ngapa gak daftar jadi ketua aja?" tanya Lydia ke Seli.
"Gue gak bisa. Jadwal ekskul gue juga padat. Gue juga gak bakal bisa handle kerjaan ketua OSIS. Paling gue nanti juga naik pangkat doang dari OSIS."
"Fix, lu harus daftar sekarang juga. Gue bakal jadi pendukung lu kok," kata Desy.
__ADS_1
"Tapi gimana ya. Gue pikir dulu deh. Coba Wen terawang ke temen lu. Apa gue pantas jadi ketua OSIS di sekolah ini?"
Wendi komat-kamit lagi. Ia memulai ritualnya lagi. "Hmm, udah pasti temen gue pada dukung lu. Mereka bakal jadi pendukung lu juga kok."
"Tuh udah pasti. Nanti gue bakal tanya ke tumbuhan, hewan, sama benda mati lainnya," kata Hilman.
"Dasar gilaaa!"
~•~
Ketika istirahat tiba Lydia langsung ngibrit ke kelas Tama. Ia langsung memasuki kelas dan berteriak memanggil Tama. Semua murid di kelas Tama hanya menutup telinganya karena kebisingan suara Lydia. Bahkan suaranya terdengar sampai kelas sebelah.
"Tama kemana kok gak ada?" Lydia celingukan melihat seisi kelas. Karena cuma ada beberapa orang.
"Eh lu sini!" Panggil cewek cantik diujung sana. Yang pasti Ziva.
"Apa lu! Mau ngapain!" jawab Lydia sewot.
Lydia akhirnya menuruti perkataan Ziva. Ia duduk di sebelah Ziva. Meja Ziva dipenuhi dengan peralatan untuk teh. Mulai dari teko hingga cangkirnya. Bahkan meja nya menggunakan taplak meja.
"Lu mau sekolah atau ngadain acara minum teh sih?" Lydia heran dengan keanehan Ziva.
"Gak usah heran. Gua mau meja gua vip. Beda sama murid lain. Gua tuh berkelas!" ucap Ziva.
"Elah paling taplak meja makan lu itu. Lu colong punya emak lu!" balas Lydia.
"Bodo amat. So, ada sesuatu yang mau gua sampaikan," Ziva mulai serius seperti pembawa acara Silet.
"Langsung intinya. Gak usah panjang lebay!" jawab Lydia.
"Terserah mau bilang apa. Jadi bakal ada perekrutan Ketua OSIS baru, Right? So I decided to be Part this event. Gua ingin jadi ketua OSIS. Jelas untuk menambah kepopuleran gua. Dan satu hal yang penting. Gua ingin duel. Gua tantang lu untuk daftar juga jadi ketua OSIS," jelas Ziva.
"Well, well. Apa untungnya buat gua? Terus ngapa harus gua?" balas Lydia.
__ADS_1
"Diminum dulu tehnya selagi hangat," Ziva dengan tenangnya mempersilakan Lydia meminum teh vipnya. "Lu tau kan gua suka banget sama Tama. Gua harus lebih populer lagi. Dan untungnya buat lu, ya lu tambah populer juga lah. Terus bukti kalo lu lebih baik dari gua."
"Jadi dengan lebih populer Tama mau sama lo. Aduh bocah otak dengkul. Tama tuh udah cinta mati sama gua. Dan satu hal lagi. Jadi OSIS itu bukan semata-mata terkenal. Tapi tanggung jawab sekolah ada di tangan kita. Nama baik sekolah dipertaruhkan! Ingat itu!"
"Gak usah munafik ya. Gua yakin semua yang daftar OSIS yaitu makhluk haus dengan popularitas. Mana ada yang mau kerja di sekolah gak digaji. Gua yakin anggaran sekolah kita di embat sama mereka. Konspirasi gua juga pasti benar," ucap Ziva seenak jidatnya.
Lydia meletakkan cangkirnya dengan keras. "Maaf ya, ucapan lu itu seharusnya gua laporin. Tapi sayangnya mulut gua gak ember. Tapi kalo emang lu mau nantang gua. Gua bakal buktiin. Tapi tanpa gua daftar kayaknya semua murid juga bakal pilih gua."
Ziva tersenyum jahat, "Ok kita liat nanti. Selamat berjuang. Dan selamat mencari kandidat wakilnya. Dan satu hal lagi. Hal mudah untuk gua bisa deketin Tama. Ya, udah jelas gua cantik dan kaya. Banyak upaya yang bisa gua lakukan."
Lydia menyentil semut yang ada di dekat lengannya. "Ih semut... pantesan aja kayak ada yang gigit. Hush!"
"Eh itu si Bella. Berani ya lu nyentil my baby," Ziva kesal karena semut peliharaannya di sentil Lydia.
"Jadi tuh semut hewan peliharaan lu?" Lydia menahan tawa.
"Iya...emang ngapa. Mereka imut!" Ziva melotot ke arah Lydia.
Seketika semut Ziva di injak oleh murid yang berjalan menuju bangkunya. "Ehhhhh itu semut gua... Yah... Bella mati! Dasar lu bodoh! Makhluk jelek! Bau! Semua bintang mirip lu!" Ziva tidak bisa menahan emosi nya.
"Ziva kok kamu ngomong kasar. Aku salah apa?" Murid itu hanya bingung dengan sifat Ziva yang berubah total.
"Oh iya maaf. Enggak. Aduh maaf ya tadi habis nonton drama Korea. Yaudah kamu lanjut makan ya," sisi baik Ziva yang palsu mulai.
"Oh yaudah. Aku makan dulu ya Ziva yang cantik."
"Aduh Bella gua mati. Dasar makhluk sampah. Beraninya bunuh hewan peliharaan kesayangan gua!" Sisi gelap Ziva berbicara.
"Dasar muka dua. Fake banget lu," kata Lydia berusaha keluar kelas.
"Eh jangan lupa ingat bahasan tadi. Gua tantang!" Teriak Ziva.
"Liat aja nanti," balas Lydia melihat kebelakang sambil tersenyum.
__ADS_1