Cinta Komedi

Cinta Komedi
EPISODE 3 GOSIP


__ADS_3

**Bergosiplah terang-terangan supaya aktual


-Desy**


***


DUA orang gadis unyu sedang duduk di ruang tamu. Yang satunya cantik, tetapi penampilannya acak-acakan. Menggunakan syal di musim panas dan menggunakan anting yang bergemerincing. Yang satunya mukanya mengenaskan. Menggunakan kacamata jengkol dan rambutnya yang ngeselin. Mereka adalah Lydia dan Desy.


"Hai, kembali lagi dengan saya Desy Diba. Dengan acara NGEGOSIP TERANG-TERANGAN!" Desy dan Lydia lagi bermain Reality Show di rumahnya Desy.


"Bintang tamu kita yaitu Lydia Selenia. Tepuk tangan dong ...."👏👏👏


"Des, lo gabut banget sih, jangan main ginian ah," kata Lydia yang masih duduk di sofa.


"Ah gak seru banget sih lo. Lo kan mau terkenal jadi kita praktekin dulu kaya di tv. Siapa tau nanti akan terwujud," kata Desy.


"Oh oke oke ... anggap gue artis papan atas yang diundang dengan bayaran mahal ya."


"Yaudah lo ke pintu dulu. Nanti gue panggil."


Lydia berjalan kecil ke ambang pintu. Beginilah mereka selalu melakukan hal paling aneh di dunia.


"Oke kita panggil bintang tamu kita yaitu Lydia Selenia ...." Lydia catwalk dan melambaikan tangan. Padahal tidak ada penontonnya. Mereka cipika-cipiki kaya belum bertemu bertahun-tahun.


"Dengar-dengar kamu lagi deket sama cowok baru-baru ini. Apakah benar?"


"Kepo banget sih!" jawab Lydia ngeselin.


"Gak apa-apa dong saya tau. Kan acaranya NGEGOSIP TERANG-TERANGAN."


"Pas ngomong nama acaranya gak usah ngegas dong. Oke jawabannya, Kepo banget sih lo!"


"Anda bintang tamu ya! Saya sudah bayar mahal. Cepet jelasin." Desy sudah mulai kesal.


"KEPO!"


"Lo mau ngajak ribut ah! Sini lo." Akhirnya mereka jambak-jambakan dan saling memegang kepala.


"Oke stop! Jangan diulangi. Tadi ada kesalahan teknis. Ayo lanjutkan. Cerita kan semuanya," kata Desy.


Lydia membuka mulutnya. "KEPO!" Desy malah yang jawab.


"Kok jadi lo yang bilang kepo. Ini gue mau ceritain," kata Lydia kesal.


"Maaf. Ayo lanjutkan."


"Laki-laki yang menjatuhkan hp yaitu TAMA! Kelas X-6."


"AHHHH." Desy kaget kaya dapet Doorprize.


"Yang menjatuhkan buku puisi itu juga TAMA! Kelas X-6."


"AHHHH!"


"Terus dia ngajak gue main ke rumahnya sebagai permintaan maaf dan wujud terima kasih," lanjut Lydia.


"AHHHH!"


"Lo jangan kaget mulu, gue mau ngomong susah."


"Maaf, Silahkan lanjutkan."


"Terus dia ngasih gue hp baru sama buku puisi baru. Ternyata dia orangnya baik banget. Katanya besok dia mau main lagi sama gue."


"Ahhhh!" Desy saking kagetnya malah pingsan.


"Desy, lo jangan mati," teriak Lydia.


💟💟💟


Laki-laki dengan tinggi badan 170 cm. Mukanya yang ganteng. Bajunya serba modis. Dan kaya raya yaitu Rivan Pratama. Orang rumah biasanya memanggilnya dengan nama Tama.


Tama duduk di tempat tidurnya dan masih memegang bukunya. Dia masih melamun dan berfikir keras.


"*Ternyata Lya anaknya baik banget. Orangnya lucu. Dan sedikit berbeda dari anak cewek lain."


"Ngapa bisa kebetulan hp sama buku gue jatuh tepat di Lya. Apa dia jodoh gue? Ah gak usah ngarep*.."

__ADS_1


Tama terus melamun dan memikirkan tentang Lydia. Apakah sebuah kebetulan? Atau memang mereka sudah ditakdirkan untuk bersama?


"Tama, ada Neng Fina tuh nyariin. Dia udah nungguin di ruang tamu." Bibi Imah berbicara lewat pintu, karena pintunya dikunci Tama.


"Bibi ngapain iziin dia masuk. Aku males ketemu dia."


"Dianya maksa. Bibi kasian sama dia."


"Yaudah aku kesana."


Fina adalah anak dari teman ibunya Tama. Fina sangat cantik dan kaya. Fina memang sangat sempurna, tetapi Tama tidak tertarik sama sekali dengan Fina. Fina yang suka belanja hura-hura dan ke salon setiap hari membuat Tama tidak menyukainya.


Tama ke ruang tamu dan menghampiri Fina. "Ngapain lo kesini. Gue lagi sibuk baca novel."


"Gue kangen sama lo. Tuh kan baru ngeliat muka lo aja gue udah pengen nyium lo, gemes banget muka nya."


"Kangen, kangen ... cih ... rumah sebelahan aja kangen," kata Tama.


"Ayo kita ke Mall, gue mau beli baju baru. Sekalian nanti ke salon."


"Gue udah janjian sama orang. Kapan-kapan aja ya, yaudah gue mau ke kamar."


"Sama siapa? Lo kan anak baru. Masa punya temen dalam sekejab." Fina penasaran.


"Sama cewek gue. Bye ...."


"Ihhh cewek lo tuh gue," Fina langsung nangis tersedu-sedu.


Tama tanpa melihat keadaan Fina langsung ke kamar. Dia memilih baju buat nge-date. Tama jelas lebih memilih jalan dengan Lydia dibanding dengan Fina yang boros. Kalau Fina menjadi istinya Tama bisa-bisa sengsara.


💟💟💟


Lydia masih bermain di rumah Desy. Rumah Desy tidak terlalu megah, tetapi sederhana dan indah. Rumahnya serba putih, barang-barangnya putih. Begitupun Desy dia suka warna putih.


"Des, lo punya kakak?" tanya Lydia yang melihat foto Desy dan kakaknya.


"Iya, kakak laki-laki. Dia orangnya baik banget. Gue sama dia gak terlalu akrab, tapi dia sering ngasih gue hadiah."


"Nama dia siapa? Kok ganteng sih. Muka lo buluk, tapi kakak lo ganteng banget. Gak sebanding."


"Kita main apa?" tanya Lydia.


"Main jadi cowok yuk ...."


"Ih amit-amit. Muka gue udah cantik masa harus jadi cowok."


"Cuman pake baju cowok. Sekali-kali kita pake baju cowok."


"Yaudah deh, pake baju kakak lo aja ya ...."


Mereka berdua ke kamar Daniel. Kebetulan Daniel lagi main sama temannya. Mereka membuka pintu kamar. Ketika dibuka, mereka terkejut ketika melihat kamar laki-laki yang penuh dengan koleksi pribadi. Kamarnya banyak poster band terkenal. Kamarnya juga rapih dan bersih. Mereka membuka lemari baju Daniel.


"Itu itu SESUATU!!!!!" Lydia teriak ketika melihat sesuatu di lemari baju.


"Pake kaget segala. Itu mau dibawa gak?"


"Enggak usah, itu privasi seseorang."


Mereka membuka lemari baju yang satunya. Terdapat baju-baju yang masih bagus. Ada seragam juga.


"Bawa jaket, kaos, sama celananya," kata Desy.


Mereka meninggalkan kamar dengan membawa baju Daniel. Bukannya merasa takut ketahuan Daniel, mereka malah ketawa-ketawa senang.


"Gue coba ya, pasti muat nih sama gue," kata Lydia.


Lydia memakai kaos berwarna putih dengan motif abstrak kemudian menggunakan celana levis. Terakhir menggunakan jaket.


"Wangi banget bajunya. Terasa dipeluk kakak lo."


"Gilaaa... lo malah tambah cantik. Pas banget bajunya, cocok-cocok!"


"Lo kan masih jomblo nih. Kasian belom pernah merasakan pelukan seorang laki-laki. Gue peluk dah lo biar seneng dikit." Lydia memeluk dari samping kaya emak sama anak.


Tiba-tiba pintu terbuka. "Desy, ini kakak bawa ketoprak buat kamu," seketika Daniel melihat mereka berdua.


"AHHHHHHHHHH!"

__ADS_1


"AHHHHHHHHHHH! Maaf mengganggu ...." Daniel menutup pintu dan ke kamar.


"TUNGGU!! BIAR GUE JELASIN!!"


💟💟💟


Hari ini Lydia ada janji dengan Tama. Lydia dari tadi mengacak-acak baju di lemarinya tetap saja tidak ada baju yang bagus. Akhirnya Lydia memilih baju yang biasa ia pakai. Seperti biasa menggunakan syalnya.


Tama sudah di depan rumah Lydia. Dia mengetuk pintu rumahnya.


"Siapa yaa?" tanya ibunya Lydia yang membukakan pintu.


"Saya Tama tante, temannya Lya. Saya sudah janji untuk jalan-jalan."


"Oh, silahkan masuk Tama. Biar saya panggil Lya dulu ya"


Tama duduk di lantai. Di rumah Lydia memang tidak ada sofa. Tama melihat rumah Lydia yang sangat kecil dan memperihatinkan.


Ibu Lydia ke kamar Lydia dan masuk. "Lya, itu ada temen kamu. Kamu punya temen ganteng gak bilang-bilang."


"Tama udah ke sini?"


"Iya baru aja, yaudah cepet sana ...."


Lydia ke ruang depan dan melihat Tama yang duduk. Tama sangat tampan hari ini penampilannya seperti artis. Lydia walaupun penampilannya biasa aja, tetapi wajahnya cantik natural.


"Lo sudah siap?" tanya Tama.


"Udah, yuk ...."


Tama berpamitan dengan ibu Lydia. "Tante aku jalan dulu ya sama Lydia."


"Yaudah hati-hati."


Lydia meremas tangannya karena gugup. Dia diam saja dan susah menatap Tama. Baru kali ini Lydia jalan bareng cowok, beruntung banget langsung sama cowok ganteng.


"Lya, kita ke toko buku dulu yuk, Gue pengen beli buku baru,"


"Yaudah gue ikut aja," jawab Lydia.


Sebenarnya Tama sangat ingin banget bertanya kepada Lydia tentang syalnya, padahal sekarang musim panas, tetapi takut menyinggung Lydia. Lydia juga nurut dengan ajakan Tama, inilah yang Sivan suka.


"Gue denger lo murid paling terpinter di sekolah. Hebat ya," Tama memulai pembicaraan saat mengendarai mobil.


"Banyak kok yang pinter di sana. Tapi gue emang selalu nomer satu di sekolah. Gue paling terkenal dong," Lydia lupa dia keceplosan.


"Lo suka baca buku sastra?"


"Gue gak terlalu suka sih. Tapi gue suka novel ringan."


Akhirnya mereka sampai di toko buku. Mereka langsung ke dalam toko buku. Lydia hanya kagum dengan toko buku yang megah. Seumur-umur dia belum pernah ke toko buku.


Tama memilih buku dan langsung mengambilnya. "Lo gak pilih-pilih buku?


"Gue gak punya duit buat beli buku."


"Beli aja yang banyak. Nanti gue yang bayar."


Tama sudah mengumpulkan buku-buku yang ingin dibeli. "Ayo, lo udah dapet bukunya?"


"Gak usah nanti ngerepotin lo. Gak apa-apa biar lo aja yang beli buku."


Tama ke kasir untuk membayar bukunya. Total harga bukunya dua juta. Lydia hanya bengong. Buat beli buku aja ngeluarin duit dua juta. Duit segitu padahal bisa buat makan sebulan.


"Nih buat lo. Hadiah buat lo." Tama memberi buku. Tama membeli banyak buku, lima buku untuk Lydia.


"Kok buat gue. Inikan buat lo baca."


"Itu hadiah... please terima yaa...."


"Terima kasih."


~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~


Hai semua... Bagaimana ceritanya sampai sini? Semoga tambah suka ya. Jangan lupa kalian bubuhkan komentarnya. Dan apresiasinya dengan like dan votenya. Terima kasih semua yang sudah baca.


Ikuti terus kelanjutannya...

__ADS_1


__ADS_2