Cinta Komedi

Cinta Komedi
EPISODE 11 SAKIT!!!


__ADS_3

Cerah berganti gulita


Begitupun benci bisa menjadi cinta


-Lydia


***


      Hari ini adalah hari yang paling membingungkan. Mengapa Reza begitu nekatnya menembak Lydia? Secepat itukah Reza memiliki perasaan cinta ke Lydia? Memang Lydia itu bisa dibilang perfect, semua cowok pasti suka sama Lydia. Mengapa Reza bisa muncul begitu saja?


      Malam hari yang sunyi dan senyap. Hawa yang dingin terasa disetiap kulit. Lydia hanya membaringkan tubuhnya di kasur yang kurang empuk. Padahal hari ini tidak ada pelajaran olahraga, tetapi Lydia sangat lemas.


      Lydia mengambil buku catatan kecil dan pulpen yang sudah ada disebelahnya. Kini Lydia berubah posisi menjadi tengkurap. Lydia menuangkan perasaannya melalu puisi.


Lawannya pagi adalah malam


Lawannya Lydia adalah Reza


      Lydia spontan menulis Reza. Sekarang pikirannya dipenuhi dengan nama Reza. Mengapa jadi memikirkan reza terus? Akhirnya dia mencoret nama Reza. Lydia melanjutkan menulis puisinya.


Lawannya pagi adalah malam


Cerah berganti gulita


Begitupun benci bisa menjadi cinta


Perasaan macam apa ini?


      Sekarang Lydia malah ke makan sama puisinya sendiri. Benar juga kalau benci bisa saja menjadi cinta. Tapi Reza itu sudah membuat Lydia membencinya sangat mendalam. Tapi ada perasaan yang aneh ketika Reza menembak di depan lapangan. Itu moment yang tidak bisa terlupakan. Apalagi ketika diberi cokelat besar.


      Lydia hanya mengacak-acak rambut. Bingung banget, coba aja Tama menyatakan cinta ke Lydia, Sivan mungkin hanya menganggapnya teman. Yang menjadi pertanyaan lagi. Apakah Lydia mencintai Tama? Sepertinya Lydia masih beradaptasi dahulu.


      Karena pikiran Lydia sudah tidak bisa diatur, Lydia akhirnya tidur. Semoga besok sekolah tidak ada hal macam-macam.


📝📝📝


      Lydia bangun tidur dengan keadaan buluk dan berantakan. Lalu dia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan malas ke kamar mandi. Lydia membersihkan diri dulu. Setelah selesai mandi, Lydia memakai seragam dan siap!


      Setelah berpamitan dengan ibunya, Lydia langsung lari menuju sekolah. Padahal masih terlalu pagi, tetapi Lydia lari kencang bahkan sampai tersandung polisi tidur.


       "ADUHHHH SAKITTTTT!!!!" teriak Lydia sekencang-kencangnya. Semua orang langsung menghampirinya.


       "Bantu-bantu, itu dia jatuh, kayaknya kakinya terkilir," kata salah satu orang.


      "Awas, permisi bu, permisi pak," ada seseorang yang muncul.

__ADS_1


      "Ayo gue anterin ke sekolah. Nanti kita ke UKS," ternyata itu Reza!


      "Gak mau!" tolak Lydia.


      "Itu kaki lo udah sakit parah. Ayo nanti telat."


      "Gue masih bisa jalan!" Lydia bangkit secara perlahan. Lydia berdiri sebentar. "Tuh kan gue bisa. Udah sana lo," Lydia melanjutkan jalan sambil terpincang-pincang lalu terjatuh lagi.


      "AWWW SAKIT ...." Lydia menjerit dan menahan sakit di pergelangan kakinya. Lydia duduk sambil menangis kencang.


      Reza menghampiri Lydia. "Udah gue bilang, kaki lo udah parah. Ayo naik motor."


      Lydia terpaksa ikut bersama Reza. Sambil naik motor, Lydia masih menahan sakit di kakinya. Jarak dari tempat jatuhnya Lydia ke sekolah sangat dekat sekitar 500 meter. Sudah pasti dalam semenit langsung sampai.


      Reza memarkirkan motornya dan Lydia duduk di pinggiran parkiran. Reza menghampiri Lydia yang masih duduk dalam keadaan menyedihkan.


      "Ayo gue bantu lo jalan ...." kata Reza.


      "Gak! Gue masih bisa jalan," cibir Lydia.


      "Oh iya udah jam berapa?" Reza panik. Mereka melupakan jam masuk sekolah.


      Lydia melihat jam di ponsel. "UDAH JAM 07:00 BERARTI UDAH UPACARA!!!!"


      Lydia karena panik berusaha lari ke lapangan. Lydia jatuh lagi, dia lupa kalau kakinya masih sakit. Sungguh kasihan Lydia, sudah sakit tambah sakit lagi, jangan-jangan pergelangan kakinya sudah remuk.


      Reza langsung lari dan berusaha membopong Lydia pelan-pelan. Lydia tidak bisa mengelak lagi dar Reza. Lydia hanya pasrah dan lemah ditangan Reza.


      Ternyata upacara sudah mulai dari tadi. Mereka terlambat cukup lama. Akhirnya mereka memutuskan ke lapangan dulu. Ketika ke lapangan semua murid melihat Lydia dan Reza berduaan, apalagi Lydia dalam keadaan yang sakit kaki dengan berpincang-pincang.


      Anak PMR langsung menghampiri Lydia yang masih dibopong Reza. Guru-guru yang masih berbaris ikut fokus ke Lydia. Pembina upacara yang lagi berbicara jadi berhenti.


      "Biar kita angkat pakai tandu ya," kata anak PMR.


      "Gak usah biar gue aja yang antar Lydia ke UKS," tolak Reza.


      Lydia diam saja dan sudah lemas menahan rasa sakit di kakinya. Dengan sigap Reza menarik Lydia dan menggendongnya dari belakang.


     Reza berlari sambil menggendong Lydia. Lydia hanya menyenderkan kepalanya di bahu Reza. Lydia kali ini melihat ketulusan dan perjuangan Reza yang luar biasa, walaupun masih menyimpan rasa benci. Mungkin bencinya sedikit demi sedikit sirna.


     Mereka sudah sampai di UKS. Guru olahraga yang jago dalam urusan urut dan patah tulang yang ambil alih. Dan guru biologi; Pak Nimpa yang memeriksa kakinya.


     Reza terpaksa menunggu diluar UKS. Sungguh menegangkan. Rasanya seperti membawa orang ke UGD.


     Tiba-tiba Desy, Hilman, Wendi, Rido, dan Seli berlari tergesah-gesah ke arah Reza yang masih duduk di depan UKS.

__ADS_1


     "Udah cukup lo nyakitin Lydia. Lo apain Lydia?!" bentak Desy.


     "Walaupun lo kakak kelas, gue gak takut. Lydia teman gue, gue gak terima kalo lo nyakitin Lydia," kata Rido.


     "Gue gak nyakitin Lya. Biar gue jelasin," tegas Reza.


     "Kita gak butuh penjelasan dari orang gak jelas kaya lo," bentak Hilman.


     "Iya!" Wendi ikut-ikutan marah gak jelas.


     "Lo salah paham. Gue tadi bantu Lya doang," kata Reza.


     "Alah mana ada sih orang yang dulunya menghujat tiba-tiba datang membantu. Lo tiba-tiba jadi baik ke Lya. Gue yakin lo punya maksud tertentu," jelas Seli.


     Lydia sudah menceritakan tentang Reza ke semua teman baiknya itu. Memang aneh sikap Reza yang berubah drastis tidak jelas. Patut dicurigai maksud terselubungnya.   


        "Please! Kalian hanya negatif thingking sama gue. Biar gue jelasin," kata Reza meyakinkan.


      "Hai semua gue udah baikan nih," Lydia tersenyum sambil berjalan pelan.


      "Lya!!!" semua langsung memeluk Lydia yang keluar dari ruang UKS.


     "Lo gak apa-apakan? Gue khawatir banget," kata Desy.


     "Gue udah mendingan. Untung Pak Bejo ahli urut. Kaki gue cuma terkilir, walaupun bengkak."


     "Ihhh mengerikan," kata Wendi.


      Semua langsung tertawa lagi. Rasa khawatir yang dari tadi melanda berubah menjadi ceria lagi. Lydia memang strong dan selalu membawa keceriaan.


      Lydia langsung menoleh ke arah Reza yang berdiri di belakang. Lydia harus apa? Mengatakan terima kasih? Sungguh bingung sekali. Lydia memutuskan menghampiri Reza.


     Lydia meremas tangannya gugup. "Oh iya terima kasih ya."


     "WHATTTTT?!" teriak Desy, Hilman, Rido, Seli, dan Wendi kompak.


📝📝📝


SEMOGA TETAP LANCAR DAN SERU


TERIMA KASIH SEMUA


TETAP VOTE DAN KOMENTAR


TO BE CONTINUE

__ADS_1


     


__ADS_2