Cinta Komedi

Cinta Komedi
EPISODE 14 KESEDIHAN LYDIA


__ADS_3

 Khawatir berlebihan memperburuk suasana


-Lydia


❇❇❇


    KALAU pulang sekolah pasti Lydia tidak banyak melakukan aktifitas. Kalau kalian ingin tahu aktifitas Lydia di rumah itu apa? Cukup simple sekali. Lydia hanya tidur dan makan. Tapi terkadang menyapu, mencuci apa saja, dan memasak.


     Keadaan ekonomi keluarga Lydia sudah cukup membaik. Usaha gorengan ibu Lydia sudah lancar dan banyak pembelinya. Sekarang untuk makan Lydia tidak kesulitan lagi.


    Lydia sekarang membaringkan tubuhnya di kasurnya yang tidak empuk sambil membawa buku puisi dan ponselnya. Lalu Lydia membuka ponselnya dan masih penasaran dengan Instagramnya. Akun Instagram Lydia sudah tidak bisa dipakai Lydia karena kata sandinya sudah diganti oleh hacker. Karena malas akhirnya aplikasi instagram ia hapus.


     Buku puisinya sudah ia baca sampai habis. Dan lagi tidak mood bermain ponsel. Di sekitar rumah tidak ada yang bisa diajak main. Sungguh kegabutan yang tiada tara.


     "Lya, sini bantuin ibu sebentar," teriak Ibu dari ruang depan.


     "Iyaaaa, " jawab Lydia teriak juga.


     Lydia berjalan dengan kaki diseret dan mukanya yang kusut ditambah lagi lemas. Kalau dilihat keadaannya seperti habis melahirkan. Apakah ini efek samping dari gabut?


     Ibu Lydia bernama Lyna Selena itu sedang asiknya duduk sambil bermain monopoli. Mentang-mentang lagi libur malah main monopoli, emang mother jaman now.


     "Bantuin apa Bu? Masak air? Nyuci atau nyapu?" tanya Lydia dengan nada suara yang tidak bernyawa dan hampa.


     "Yaampun Lya, jangan lemes mulu. Ada apa sih? Gak baik loh anak cantik mukanya kusut kaya gitu," nasihat Lina.


     "Tidak apa-apa kok Bu, ya cuman gabut aja."


     "Gabut itu artinya apa?"


     "Kalau menurut Lya semacam keadaan malas gitu-gitu."


     "Ohhh," mulut Lina O dan mengerti maksud anaknya yang sudah bisa menggunakan bahasa gaul.


     "Tuhkan malah ganti topik. Tadi ibu mau nyuruh apa?" tanya Lydia kesal. Sekarang mukanya jadi imut kalau kesal gitu.


     "Ohh ayo main monopoli bareng ibu. Ini tadi baru beli di tukang jepitan harganya sepuluh ribu," jawab Lina sambil mengeluarkan uang monopoli dan kartu-kartunya.


     "Ya ilahhh, Lya kira apa? Yaudah Lya juga lagi gak ada kerjaan," Lydia kaget ternyata emak-emak juga masih main monopoli.

__ADS_1


     Lina membaca aturan permainan monopoli yang tertara di belakang. Dibelakanngnya juga ada permainan ular tangga. Lalu Lina membagikan uang secara merata sesuai dengan aturan.


     "Ayo suit biar adil," kata Lina kaya bocah suaranya.


     "Iyaaaaaaa," jawab Lydia dengan nada kesal.


      Mereka bermain cukup lama. Kadang sampai bertengkar karena hal-hal sepele. Ibu dan anak ini selalu kompak dan serasi.


      Disela permainan Lydia masih bengong dan memasang muka lemas. Lina masih kasian dengan putrinya. Pasti ada masalah yang dipendam.


     "Lya lagi punya masalah ya? Ceritain dong ke Ibu. Siapa tau Ibu bisa bantu. Walaupun umur Ibu sudah 39 tapi ibu berjiwa remaja jadi ceritain aja," kata Lina.


      "Temen Lya tiba-tiba marah sama Lya gara-gara instagram. Kan Lya gak pernah upload tentang dia tapi malah Lya yang disalahin. Seli temen baru Lya. Lya gak mau Seli benci terus-menerus," Lydia mencurahkan segala isi hatinya kepada ibunya, tempat satu-satunya untuk bercurhat.


     "Walaupun ibu tidak mengerti tentang instagram, tetapi ibu yakin bukan Lya yang melakukan. Lya anak ibu satu-satunya yang paling baik, pinter, dan Lucu. Walaupun kadang jutek," Lydia langsung memeluk ibunya. Nasihat Lina selalu menenangkan hati Lydia.


     "Nah, kamu yakinin ke Seli bahwa bukan kamu yang melakukan. Cari bukti-buktinya. Ibu yakin kamu bisa kok," lanjut Lina.


     "Terima kasih bu."


📝📝📝


     Lima tahun yang lalu tepatnya ketika Lydia masih mengenyam Pendidikan Sekolah Dasar, ayah Lydia masih hadir disini. Dengan keadaan ekonomi yang bisa dibilang cukup malah lebih dari kata cukup. Ayahnya seorang pengusaha.


     Ayah Lydia yang bernama Pandu itu lupa akan kehidupan. Pandu berhura-hura mencari wanita sana-sani, dan menghamburkan uang untuk berjudi dan berminum-minum. Karena lupa diri, pekerjaan yang selama ini sudah ia kejar harus musnah. Perusahaannya bangkrut akibat keuangan perusahaan yang menipis dan kinerja Pandu yang buruk.


     Karena hutangnya yang melilit akhirnya rumah mewah yang ditempati keluarga Lydia harus disita. Semua seperti kembali lagi dari nol. Mungkin belum cukup mengacaukan semuanya, Pandu masih saja berjudi menggunakan uang simpanannya.


     Lina hanya bisa bersedih dikala suaminya yang selalu memikirkan uang dan kesenangan. Begitu tabah Lina dalam menjalani hidup. Lydia kecil pantang menyerah dalam belajar.


     Pandu menjadi buronan akibat menggunakan narkoba dan hutangnya. Akhirnya ia meninggalkan kota Bandung. Betapa sedihnya Lina dan Lydia harus ditinggalkan Pandu.


     Dalam jangka waktu yang panjang Pandu tidak pernah mengunjungi Lina dan Lydia. Keadaan ekonomi Lina dan Lydia sangatlah buruk. Bahkan Lydia harus berhenti sekolah. Menunggu Pandu pulang adalah hal yang mustahil, maka dari itu Lina bekerja sebagai buruh tani di sekitar Bandung. Kini semua sudah tercukupi walau terkadang masih kekurangan. Lydia juga dapat sekolah kembali setelah masa transisi berapa bulan.


     Jika Pandu menampakan diri lagi di keluarga Lydia. Lina dan Lydia tidak akan pernah sudi menerimanya. Betapa pahitnya penderitaan selama ini.  Betapa Rindunya Lydia akan kehadiran sosok ayah tetap saja bencinya mengalahkan rasa rindu itu.


     Lydia sadar dari lamunanya dan berpikir jernih. "Ngapain mikirin tuh busuk lagi. Sekarang ada ibu yang selalu hadir dalam hidup gue."


     Lina tidak berhenti batuk. Suara batuknya terdengar sampai kamar Lydia. Tidak biasanya Lina sakit. Lydia yang khawatir langsung keluar kamar dan menghampiri ibunya.

__ADS_1


     "Ibu sakit? Dari tadi batuk mulu. Tiduran aja bu. Hari ini gak usah kerja dulu," kata Lydia.


     "Palingan cuma batuk biasa. Ibu gak mau bolos kerja cuma gara-gara batuk," jawab Lina tenang.


     "Uhukkk uhukkk ...." Lina batuk lagi dan mengeluarkan darah sedikit. Dan Lydia melihat itu.


     "Ibu itu udah parah, ayo ke rumah sakit. Ya Allah Lya panik nih," Lydia tahu pasti ibunya bukan hanya terkena batuk biasa pasti terkena TBC atau infeksi paru-paru.


     Lydia dan Lina ke klinik terdekat. Lydia sangat khawatir. Keringat disekujur tubuhnya terus menetes bersatu dengan air matanya. Firasat Lydia pasti ibunya terkena penyakit parah. Kalau ibunya meninggalkannya siapa lagi yang merawatnya?


     Dokter tidak membolehkan masuk Lydia. Sekarang bisa dibayangkan betapa khawatirnya Lydia. Kalau klinik ini mempunyai ruang kedap suara pasti Lydia akan menangis sekuat-kuatnya. Tuhan bisa saja berkehendak kapanpun. Lydia belum siap jika ibunya harus pergi. Si brengsek sudah meninggalkannya, betapa sedihnya jika ibu pergi dan tak akan kembali.


     Tiba-tiba pintu ruang pemeriksaan terbuka. Lina terlihat biasa saja. Lydia langsung memeluk Lina dengan erat. Sambil menangis sehingga membuat baju Lina basah.


     "Aduhhh ... Anak ibu lebaynya dari dulu," kata Lina sambil tertawa.


     "Lagi sakit parah masih aja ketawa. Pikirin kesehatan dulu," sekarang kebalik Lydia yang kaya emak-emak.


     "Tenang aja ya Lya. Ibu tidak apa-apa."


      "Tenang-tenang, mana bisa tenang sih. Kata dokter ibu sakit apa?" tanya Lydia kesal.


      "Ibu sakit ... kepo ...."


      "Kepa-kepo-kepo segala. Sakit apa???!" teriak Lydia.


      "Ibu sakit tenggorokan. Katanya infeksi gara-gara sering mengeluarkan suara. Nanti beberapa minggu sembuh kok." Lina mengasih catatan dari dokter, ternyata memang tidak bohong. Bikin khawatir aja.


     "Astagfirulloh Aladzim~~~" Lydia juga bersenandung sambil mengelus dada dan memasang muka datar. Ini namanya terlalu khawatir jadi bawaannya buruk mulu.


~•~•~•~•~•~•~••~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•


GIMANA PART INI? SEMOGA FEELNYA SELALU DAPAT


TERIMA KASIH


TETAP BACA, VOTE DAN KOMENTAR


TUNGGU KELANJUTANNYA.

__ADS_1


__ADS_2