
Biasanya aku hanyalah pemeran pendukung. Aku adalah salah satu sahabat Lydia. Walaupun aku tidak seperti Desy yang sangat dekat dengan Lydia. Tapi aku sudah berteman dengan Lydia membuatku bahagia.
Coba kalian tebak, sebenarnya aku yang lagi cerita ini namanya siapa sih? Ayo... Kelamaan mikirnya. Nama aku adalah Seli. Aku itu ekskul paduan suara. Dan kebetulan aku juga ikut OSIS di kelas sepuluh sampai sekarang. Pokoknya hariku itu sangatlah sibuk. Maka dari itu aku jarang menyempatkan waktu bersama teman.
Sebenarnya tujuan aku jadi pemeran utama di episode karena ada satu masalah akhir-akhir ini. Aku ingin sekali membahasnya bersama Lydia dan teman-teman yang lain.
Ketika aku ingin masuk ke kelas Lydia ada di depan mataku. Aku langsung menghampirinya. Aku ingin membahas masalah ini. Semoga Lydia bisa memecahkannya.
"Hai, Ly..." sapaku sambil berjalan di sisinya.
"Eh Seli, tumben datangnya pas banget mau masuk. Biasanya juga subuh-subuh," kata Lydia.
"Btw, pendaftaran ketua OSIS terakhir lusa. Lu harus kumpulin formulirnya. Jangan lupa siapin visi misinya." kataku.
"Oh oke. Gua udah siapin kok. Tapi gua maunya kumpulin di hari akhir pendaftaran aja."
"Oh iya, gua minta saran lu dong. Gua ada masalah nih. Yuk gibah di tempat duduk lu." Pintaku ke Lydia.
"Hmm Ok. Mumpung lagi gak ada PR. Akhirnya ada bahan gibahan," Lydia tampaknya senang kalau ada bahan gibahan.
Aku menaruh tasku di bangku. Begitupun Lydia. Aku menghampiri tempat duduk Lydia di pojok sana. Lalu aku duduk di dekat Lydia.
"Masalah apa nih. Tumben banget punya masalah," kata Lydia.
"Jadi gini. Lu tau gak Aska dari kelas XI IPS 2?" tanyaku.
"Hmmm, siapa ya. Lupa. Coba sebutin ciri-cirinya."
"Dia tuh di kelas sebelah. Masa lupa sih. Itu loh yang anaknya gak terlalu tinggi alias biasa aja. Kulitnya putih. Bibirnya pink. Rambutnya rapih. Terus mukanya imut-imut gitu," aku mendeskripsikan sesuai dengan ingatanku.
"Pasti cantik banget tuh," kata Lydia.
"Ih dia cowok! Nih liat fotonya di Instagram," aku memperlihatkan foto Aska di Instagram. Lydia terus menerus memandang muka Aska.
"Gua pernah liat sekilas. Imut banget ya mukanya. Kayak cewek gitu. Pakaiannya juga feminim cute gitu. Dia cantik banget tapi cowok." Kata Lydia.
"Nah iya cantik sepemikiran. Aneh ya."
"Lah terus apa hubungannya kita gibahin dia? Dia kan gak berdosa. Atau jangan-jangan lu suka sama dia ya. Ayo ngakuuu. Terus minta saran sama gua tentang cinta-cintaan," Lydia mukanya ngeselin banget ketika bertanya.
"Enggak bukan gitu. Gua gak ada perasaan sama dia," kataku.
__ADS_1
"Terus kalo bukan suka apa? Ngapain kita gibahin dia. Dosa tau. Dia gak salah apa-apa."
"Jadi dia itu juga anggota ekskul paduan suara. Dia satu-satunya cowok di ekskul paduan suara. Nah yang gua heran tuh. Ketika gua ekskul dia ngeliatin gua terus dong. Kadang-kadang dia suka mau sok deket-deket gua. Terus waktu itu gua inget banget pas pulang sekolah dia ngikutin gua dari belakang. Gua pura-pura gak liat aja. Terus pas gua berangkat sekolah tadipun dia ngeliatin gua terus. Aneh gak sih? Atau guanya aja yang kepedean. Atau ada yang salah sama penampilan gua?" jelasku panjang lebay.
"Fix, dia stalker. Kayaknya dia pengagum rahasia lu. Atau mungkin dia suka sama lu. Udah bisa kebaca sih."
"Tapi dia kan cocan atau cowok cantik. Keliatannya dia tuh penyuka cowok. Masa iya suka sama gua yang bohay gini," kataku.
"Tapi Sel, gak ada bisa menahan iman melihat kebohayan lu. Lu itu cantik plus cabe-cabean. Terus itu lu gede juga. Cowok jenis apapun bakal tertarik," kata Lydia yang gak ada akhlaknya😂
"Iya juga sih. Tapi gua masih heran aja. Apa yang harus gua lakukan nih?" tanyaku.
"Kalau menurut gua sih. Lu harus bicara baik-baik. Tanya apa mau dia. Kalo dia mesum langsung gampar aja," kata Lydia.
"Dari penampilannya kayaknya dia gak mesum deh. Kayaknya dia anak baik-baik. Yaudah kalau di ekskul gua bakal ajak ngomong dia," jelasku.
"Kalau gak mesum ngapain dia ngeliatin lu terus. Gua yakin dia melihat kebohayan lu. Kita liat aja nanti."
Hilman tiba-tiba datang untuk duduk di kursinya. "Eh Seli. Tumben curhat. Lagi pada gibah apa nih. Nimbrung dong."
"Ini tuh bahan gibahan cewek. Cowok gak boleh ikut." Kata Lydia.
Desy yang membaca buku dengan serius tiba-tiba menengok kebelakang. "Ih kok curhat gak bilang-bilang. Ikut dong!"
Lydia yang menjelaskan secara singkat tentang tadi ke yang lain. Ekspresi mereka tampaknya penasaran.
"Gua pernah denger tentang si Aska itu. Katanya dia sering dibully sama anak cowok karena kayak banci. Tapi sebenarnya ada banyak cowok juga yang suka sama dia. Terus dia itu katanya anaknya pendiam banget. Walaupun sering dibully tapi dia tetap diam aja," Hilman ternyata tau gosip-gosip tentang Aska.
"Hari gini masih zaman aja bully. Gak keren banget ih. Padahal setiap orang tidak ada yang sempurna. Untuk apa bully. Gak ada gunanya," kata Lydia.
"Tapi kasian juga ya. Padahal dia anak yang imut. Gua yakin pasti dia suka sama lu Sel. Dia pengen banget PDKT sama lu," kata Desy.
"Tapi gak stalking gitu juga dong. Serem jadinya. Takutnya dia psikopat. Punya dendam sama Seli." Kata Ridho.
"Yaudah Sel, nanti kalau pulang sekolah. Kan dia ngikutin lu dari belakang. Nah nanti lu ciduk tuh dia. Terus ajak dia ngomong baik-baik," kata Lydia.
~•~
Pulang sekolah aku langsung bergegas. Betul saja Aska sudah melihatku ketika keluar kelas. Dia juga tampaknya ingin mengikuti ku.
Aku berjalan santai saja ketika pulang. Pura-pura tidak tahu kalau Aska sedang mengikutiku dari belakang. Ketika sampai belokan aku langsung mengagetkannya. Kita lihat saja.
__ADS_1
Ketika sampai belokan aku langsung diam menunggu Aska. Dan ketika Aska sudah dibelokkan.. "Ayolohhh! Ketangkep lu... jangan lari!"
"Ahhh lepasinnn... tolonggg.... tolonggg!" Dia malah teriak lagi. aku harus membuat dirinya diam. Aku langsung membekap mulutnya. Lalu aku langsung membawanya ke tempat biasa aku berteduh.
"Oke gua lepasin ya. Tapi jangan lari. Kalo lari gua lempar sepatu!" kataku. Aku langsung melepas Aska.
"Kamu mau culik aku ya? Jahat banget!" Dia cemberut. Cowok imut itu kalau cemberut lucu banget.
"Harusnya gua yang nanya sama lu. Ngapain lu ngikutin gua? Terus ngapain lihatin gua terus? Stalker lu ya? Psikopat? Hah?" tanyaku.
Muka dia langsung kelihatan panik. "Hmmm... itu... anu..."
"Hah ngomong yang bener! Kaga bisa ngomong lu!" emosiku mulai memuncak.
"Sebenarnya...."
"Apaaa?? Sebenarnya apa?"
"Itu... dompet kamu jatuh waktu di ekskul. Terus aku nemuin. Aku mau pulangin tapi takut disangka copet. Aku juga takut mau ngomong sama kamu. Aku gak bisa ngomong sama orang lain," jelasnya sambil menunduk. Ternyata niatnya baik.
"Ohh... ngomong dong. Kan jelas kalo gini. Alhamdulillah dompet gua kembali. Udah gua cari-cari terima kasih ya..." aku langsung mencium-cium dompet kesayangan.
Aska tersenyum manis ketika aku berterima kasih dengannya. Mukanya pun manis juga. Ternyata apa yang dibilang teman-teman mengenai psikopat, stalker, dll itu salah.
~•~
Setelah acara penjelasan tentang tadi. Akhirnya aku pulang bareng Aska. Yang perlu kalian tahu. Aska dia memang pendiam. Tapi kalau diajak bicara dia sangat ramah dan sopan. Sikap dia juga sangat imut sekali. Beda banget sama aku yang brandalan kayak cabe-cabean. Aska anak yang baik. Emang kurang ajar tuh yang ngebully Aska.
Jadi Aska itu sering dibully karena ia tidak pernah berkumpul bareng anak cowok seperti main basket, futsal, dll. Dia juga sering dikatain banci karena penampilannya yang kayak cewek bahkan tingkahnya yang kayak cewek.
Tapi yang dilakukan Aska hanyalah diam. Makadari itu Aska berubah menjadi pendiam karena menutup dirinya agar tidak dibully. Sifat asli Aska adalah ceria dan friendly. Sekarang dia tidak peduli lagi dengan orang-orang yang membullynya. Karena dia yakin pembully hanyalah orang yang kurang kerjaan. Suatu saat Aska akan menjadi lebih sukses dan menutup mulut para pembully.
Aku bertanya ke Aska. "Lu gak mau jadi diri sendiri aja? Nikmati hidup seperti anak lain. Tanpa harus menutupi diri dari yang lain."
"Aku rasa, aku yang sekarang sudah cukup. Lagian aku juga masih punya orang yang aku sayang, yaitu keluarga aku. Aku yang seperti ini akan susah diterima orang lain." katanya dengan tabah.
"Iya lu benar. Tapi lu harus semangat juga. Ayo tunjukan diri lu apa adanya. Gua pun terima apapun dalam diri lu. Kita teman!" kataku.
"Teman? Aku sangat bersyukur. Terima kasih Seli. Kamu memang mengerti perasaan aku," kata Aska dengan senyumannya. Aduh tuh anak mukanya imut banget. Dari pada sama bad boy mending gua sama cowok kayak gini. Ah, apa aku suka sama dia?
~•~•~~•~•~•~•~•~•~
__ADS_1
Haiii semua. Gimana nih kabarnya. Pada nunggu gak cerita ini. Semoga suka ya. Jangan lupa like, vote, dan komentarnya.
Dan jika kalian kepo dengan authornya bisa follow Instagram:@ghoni_adim