
Teman itu apa?
-Lydia
SETELAH pulang dari rumah Wendi. Lydia tiduran dengan dilanda kegabutan. Dilihatnya langit-langit rumah putih dan datar seperti biasa, terkadang ada cicak yang melintas. Kipas angin terus berputar serah jarum jam, tetapi memiliki kecepatan yang tidak bisa terhitung. Lydia masih saja melihat keatas sambil melamun.
Sungguh tidak etis dan di luar logika, ketika tahu pelaku sebenarnya Desy. Desy adalah teman paling terdekat Lydia. Desy juga orang yang tiba-tiba datang meminta menjadi teman. Sikap Desy yang baik dan polos seakan di luar nalar untuk seorang yang berbuat busuk secara diam-diam. Rasanya otak Lydia ingin pecah memikirkannya.
Untuk menjernihkan dan menenangkan pikiran, Lydia berbaring di kasur yang tidak empuk dan tidak terlalu besar. Diambilnya buku note kecilnya dan pulpen hitam. Setiap perasaan Lydia dicurahkan lewat puisi. Lydia mulai menulis sambil berpikir. Tangannya terus bergerak disetiap kata-kata.
Benalu itu merayu pohon beringin
Pohon beringin memiliki kekuatan yang tak tertandingi
Benalu datang dan selalu hadir disisi pohon beringin.
Setiap helai sulur benalu mengikat dan seakan merugikan.
Lydia selesai menulis dan melempar buku notenya jauh-jauh. Lydia tidak pernah ingin menangis, Lydia adalah cewek yang kuat. Lydia harus menerima semuanya. Mungkin takdir sudah benar agar Lydia menjauhi Desy. Semoga Lydia bisa mencari teman dekat lagi.
Ponsel Lydia yang terletak di nakas bergetar. Lydia langsung terkejut. Semoga bukan Desy yang mengirim pesan. Dengan perlahan Lydia mengambil ponselnya dan menekan tombol powernya. Ternyata pesan dari Reza. Walaupun bukan dari Desy, tetapi tetap saja membuat Lydia berpikir keras lagi.
Lydia sejenak berpikir keras lagi. Pelaku sebenarnya adalah Desy. Berarti bukanlah Reza yang melakukan semuanya. Rasanya Lydia ingin mengutuk dirinya yang berperasaan buruk terhadap Reza. Oke sekarang Lydia sudah siap membaca pesannya.
'Lya, gue mau ketemuan sama lo. Bisa gak? Kalo gak bisa gak apa-apa. Hehehe. Maaf ya maksa.'💬
Lydia rasanya bimbang dan bersalah terhadap Reza. Ternyata benar kita tidak boleh negatif thingking terhadap seseorang.
'Oke ... Gue siap-siap ya. Lo ke rumah gue aja ya .... 💬'
📝📝📝
Tok ... tok ....
__ADS_1
Pintu rumah Lydia terketuk. Sudah pasti Reza yang mengetuk. Ibu Lydia membukakan pintu.
Lina menatapi Reza dengan bingung. "Nyari siapa ya?"
"Saya Reza. Saya temannya Lya. Ada Lyanya?" jawab Reza sopan dan ramah.
"Oh, temennya Lya. Yaudah masuk dulu. Nanti tante panggil Lyanya," kata Lina.
Lina masuk ke dalam kamar Lydia. Lydia masih duduk termenung dan cemberut. Melihat keadaan anaknya, Lina langsung menghampiri Lydia dan duduk di sampingnya.
"Lya, ada apa lagi sih? Tuh ada Reza nyariin. Cie, kemarin Tama, sekarang ada Reza. Bisa aja nih kamu dideketin cowok ganteng terus," goda Lina untuk memperbaiki suasana.
Lydia tetap cemberut. "Ah, Ibu mah Lya lagi bingung nih. Lya banyak salah sama Reza. Walaupun Lya gak berbuat salah. Tapi Lya malu karena udah berpikir kalo Reza yang melakukan kejahatan ke Lya."
"Loh, berarti kamu sudah tau yang melakukan semuanya? Awalnya kamu nuduh Reza? Yaudah kamu gak usah merasa bersalah atau malu. Ibu yakin Reza anak yang baik kok. Oh iya ngomong-ngomong siapa dalangnya? Kok gak kasih tau ibu sih?"
Lydia menghela napas. "Aduh ibu pertanyaannya banyak banget sih. Iya jadi Lya awalnya berpikir kalo Reza dalangnya, soalnya dia pernah ngatain Lya waktu itu, dia juga mencurigakan. Lya tau pelakunya dari Wendi. Tapi Ibu kalau tau pasti pelakunya gak percaya."
"Siapa sih? Bikin penasaran aja. Ibu usahakan percaya deh."
"Hah!? Desy? Kok bisa?" Ibu kaget dan tidak percaya.
"Tuh Ibu pasti kagetkan. Yaudah Lya mau keluar dulu ya Bu. Nanti Lya jelasin semuanya deh kalo ada waktu," kata Lya.
"Yaudah jangan lama-lama. Jangan terlalu malem, kan kamu masih ada PR," jawab ibu.
"Thank you Ibu ku tercinta ..." Lya memeluk dan salam ke Lina.
Lydia dan Lina keluar kamar dan menuju ke ruang depan. Reza masih duduk sambil bermain HP.
"Ayo ... Za," ajak Lydia.
"Oke ..., Tante, aku izin jalan sama Lya dulu ya," Reza salim ke Lina.
__ADS_1
"Oke, Jangan malem-malem ya."
📝📝📝
Di sebuah restoran cepat saji di Mall terdekat, Reza dan Lydia sudah duduk manis. Keadaan mulai canggung di antara mereka berdua. Lydia rasanya malu ingin berbicara dengan Reza.
"Lya, gue cuma mau bilang, maaf atas semua kesalahan gue. Maaf sebesar-besarnya," Reza memulai pembicaraan.
"Seharusnya gue yang minta maaf. Maaf perlakuan gue yang kurang mengenakan. Terima kasih atas kebaikan lo. Gue sudah memaafkan lo. Gue juga maaf sebesar-besarnya."
"Lya, gue pengen bicara ini. Jadi pas gue ngatain lo waktu itu, karena waktu itu Desy yang memberitahu gue hal-hal buruk tentang lo. Dan gilanya gue percaya. Dan gue ingin meminta maaf lo waktu itu dengan jadi pacar lo, aneh ya. Maaf ya," kata Reza.
Mata Lydia terbuka lebar. Dadanya rasnya sesak. "Oh jadi Desy juga yang mengintimidasi lo? Ya Allah, ternyata dia sejahat itu sama gue. Gue gak nyangka banget. Dan lo juga ternyata orang baik. Maaf juga waktu itu gue emosi mulu sama lo, gue kira lo pelaku semuanya."
"Iya gue maafin kok. Ini semua hanya kesalahpahaman. Oh iya emang pelaku apa maksudnya?"
"Jadi waktu itu buku PR gue hilang, terus ada yang naruh uang iuran kelas di tas gue. Instagram gue di hack, mengakibatkan temen gue membenci gue," jawab Lydia.
"Dan pelakunya Desy? Kalau gak salah Desy itu teman deket lo kan? Jahat banget sumpah. Sebenarnya tujuan dia apa sih?" tanya Reza gondok.
"Gue juga awalnya gak nyangka. Desy itu temen baik gue. Gue gak nyangka banget. Gue gak tau tujuan dia itu apa? Tapi gue yakin dia punya maksud terselubung."
"Besok lo mau menyelesaikannya sama Desy?" tanya Reza.
"Iya besok gue akan bicara baik-baik dulu. Gue udah rela kehilangan teman gue."
🎆🎆🎆🎆🎆🎆🎆🎆🎆🎆🎆🎆🎆🎆🎆🎆🎆🎆🎆🎆🎆🎆🎆🎆🎆🎆🎆🎆
Terima kasih semua yang sudah baca sampai sini....
Terus baca ceritanya sampai selesai
Kalian sudah kepikiran dari awal kalo Desy pelakunya?
__ADS_1
Sampai jumpa di part berikutnya...
Terima kasih