Cinta Komedi

Cinta Komedi
EPISODE 6 BERUBAH DRASTIS


__ADS_3

**Dari tampangnya cantik, tetapi kalau sudah marah berubah dratis


-Lydia**


***


HARI Minggu biasanya Lydia hanya menonton tv, tetapi sekarang dia mulai membaca buku. Buku yang diberikan Tama sangat berpengaruh sekali. Biasanya Lydia hanya membaca buku kalau ada PR.


Ternyata puisi sangat menarik dan enak untuk dibaca. Lydia sekarang jadi menyukai puisi.


Lydia membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya dan menaruh bukunya disebelahnya. Lalu dia mengambil HP pemberian Tama. Lama-lama Lydia mulai terbiasa menggunakan HP.


'Lya ... gue lagi liburan di monas dong, lo kemana nih?' 💬 Pesan dari Desy.


'Bodo ... bikin iri gue aja lo. Gue cuma di rumah 😭😭😭'💬 Bales Lydia.


Tiba-tiba ada pesan dari Tama.


'Lyaa ... main yuk. Gue bosen dirumah.' 💬


'Oke ke rumah gue dulu aja ya. Gue siap-siap dulu' 💬 bales Lydia.


Lydia langsung mengacak-acak lemari bajunya. Dia memilih menggunakan baju santai dengan celana berbahan dan menggunakan syalnya. Lydia sudah siap!


Tok ... tok ...


Lydia membukakan pintu rumahnya. Ternyata Tama sudah datang. Tama hari ini sungguh menawan, kaos hitam dan jaket serta celana levis, sederhana tetapi sangat cocok.


Mereka langsung ke mobil. Lydia walaupun baru kenal beberapa hari, tapi sudah jalan bareng dua kali, berawal dari barang jatuh bisa aja jadi jatuh cinta.


"Kita mau kemana nih?" tanya Lydia.


"Liat aja nanti," jawab Tama sambil tersenyum manis.


"Oh iya, nama kepanjangan lo apa? Masa gue taunya Tama doang," kata Lydia.


Pertanyaan Lydia diurungkan dan Tama mengalihkan pembicaraan. "Eh, Udah nyampe ayo turun."


Lydia sontak kaget dan melotot. "Ini kan SALON!!!!!"


💟💟💟


"Ahhhhhhh .... gue telattttt!!!!" Lydia bangun melihat jam sudah 07:00. Lydia langsung buru-buru mandi dan menggunakan seragamnya. Lydia langsung berlari tanpa sarapan sama sekali. Beruntung pelajaran dan seragamnya sudah disiapkan tadi malam.


Lydia sudah sampai di depan pagar sekolah. Ternyata sudah ditutup. Lydia masih mengatur nafasnya dan jongkok kelelahan. Dia menghampiri Pak Tukul satpam sekolah.


"Maaf pak, saya terlambat. Saya siap dihukum guru piket. Jadi biarkan saya masuk dulu," kata Lydia masih ngos-ngosan.


"Tuan putri, kamu anak kelas berapa? Saya baru lihat kamu, cantik sekali kamu."


"Saya Lya, sudah biasa liat masih aja lupa. Saya emang cantik dari dulu." Lydia heran dengan perkataan aneh Pak Tukul.


"Lya, kamu emang cantik dari dulu sih ... tapi ... yaudah masuk keburu jam pelajaran pertama selesai," Pak Tukul masih meneliti Lydia, dia masih tidak percaya.


Lydia langsung lari ke kelasnya. Untung guru piketnya sedang di ruang tata usaha. Pintu kelasnya sudah tertutup, pasti sudah ada guru. Lydia langsung membuka pintunya secara perlahan. Ketika dibuka seperti ada cahaya yang keluar ketika pintu dibuka.


"Wahhhhhhh!" semua murid kompak.


"Kamu siapa?" tanya Pak Jalu.


"Saya Lya, masa bapak lupa sama saya sih. Jahat banget, padahal saya sering dapet nilai 100 MTK," gerutu Lydia.


"Kamu berbeda banget penampilannya. Rambut kamu lurus dan mengkilat. Tidak menggunakan syal. Anting kamu juga kecil dan indah. Seragam kamu rapih dan bagus," Pak Jalu masih terkagum dan terpesona melihat Lydia.


Lydia baru ingat kemarin habis ke Salon bersama Tama. Rambutnya sudah lurus dan rapih, menurut tukang salon Syalnya sangat mengganggu, jadi Lydia tidak menggunakan Syalnya lagi. Anting lamanya juga berisik bergemerincing, jadi Tama membelikan anting yang elegan dan cantik. Seragamnya juga baru beli menggunakan duit juara lomba waktu itu.


"Saya boleh duduk pak?" tanya Lydia sambil memelas manja.


"Silahkan ... karena penampilanmu sangat cantik jadi saya tidak menghukummu," Pak Jalu mempersilahkan duduk.

__ADS_1


Lydia duduk di kursinya seperti biasa dekat dengan Hilman. Desy di depannya masih menatap heran Lydia yang berubah total. Lydia sangat mempesona bak bidadari dari dunia fantasi.


Lydia menyangkutkan tasnya dan membuka resleting tasnya lalu mengambil buku pelajarannya. Pelajaran berikutnya adalah Bahasa Indonesia. Tugas minggu kemarin membuat puisi tentu saja sudah ia kerjakan, karena dia sudah bisa membuat puisi.


💟💟💟


Bel istirahat bergema. Lydia menghembuskan napas lega. Suara bel istirahat memang merdu dan paling ditunggu. Lydia hanya duduk membaca buku puisi pemberian dari Tama.


"Tumben lo baca buku selain mapel. Kesambet apa nih?" Desy yang sudah duduk didekat Lydia.


"Gue emang rajin membaca dari dulu. Gak usah heran kaya gitu," jawab Lydia dengan nada aneh.


"Ohhh iya. Lo hari ini cantik banget. Gaya lo kaya cewek kekinian. Kok bisa cepet banget berubahnya," tanya Desy sambil terkekeh.


"Gue habis ke salon sama Tama. Gue sebenarnya juga males rambut lurus rapih kaya gini. Apalagi syal gue harus dibuang. Tapi kalo penampilan ini menurut banyak orang lebih baik, maka tetap gue pertahankan," jawab Lydia panjang lebar.


"Ke kantin yuk, karena perubahan lo yang drastis, jadi gue mau traktir lo. Gue traktir lo sekalian merayakan kemenangan kemarin," kata Desy.


"Ayoooo!" Hilman dan Rido yang mendengar, jadi ikut-ikutan.


"Ehh, gue cuma traktir Lya doang," Sahut Desy.


"Sekali aja gitu sama temen. Lo kan kaya. Yuk cepet keburu masuk nih," Hilman emang ngeselin dari orok.


"Yaudah, karena lo semua udah menjadi temen gue, jadi gue mau traktir juga, ajak Wendi, Karim, sama Seli juga." Desy pasrah bercampur senang.


"Ayooo!!!!" Semua murid di kelas ikut teriak dan antusias.


"Kok jadi semuanya sih, gue bisa bangkrut ...."


💟💟💟


Setelah istirahat semua siswa masuk ke dalam kelas. Jam berikutnya adalah PJOK. Semua murid dikasih waktu 15 menit untuk mengganti seragam olahraga.


"Yang cewek ganti baju di kelas atau di kamar mandi?" teriak Hilman si ketua kelas kribo.


"Di kelas lah. Yang cowok sana ke kamar mandi!!!"


"Cowok ngalah, yang cewek kalo ganti di kamar mandi lama."


"Yaudah bareng aja gantinya ... yuk buru!" kata Karim seenak keningnya.


"Apaan sih cepet keluar sebelum gue ngamuk," Seli marah. Biasanya Seli kalo marah ganas dan tidak terkontrol, namanya juga cabe-cabean.


Semua anak cowok bergegas keluar pasrah. Kalo beradu mulut sama cewek nggak bakal selesai sampai kiamat.


Setelah selesai berganti seragam olahraga, para murid ke lapangan untuk pemanasan. Lalu Pak Bejo datang dan menuip peluitnya, tanda para murid harus berkumpul di dekatnya.


"Semuanya, sebelumnya saya minta maaf karena hari ini tidak bisa mengajar. Saya harus mengawasi O2SN. Jadi hari ini kalian olahraga bebas," jelas Pak Bejo.


"Iya tidak apa-apa pak, kita maafkan kok," gumam Hilman sambil senang.


Para murid langsung menyebar, ada yang di tribun duduk-duduk ngegosip, ada yang main bola, dan ada yang ke kantin. Lain dengan Lydia, Desy, Hilman, Karim, Seli, dan Wendi. Mereka masih dipusat lapangan kebingungan mau melakukan apa?


"Mau ngapain nih? Ke kantin?" Lydia memulai pembicaraan.


"Gak mau, tadi udah ke kantin," Desy cemberut karena duitnya habis untuk mentraktir temannya itu.


Rido seperti mendapatkan ide, kalau digambarkan ada lampu di kepalanya. "Kita main petak umpet yuk!"


"Itukan mainan anak-anak. Nanti diculik setan lo!" Desy bergidik ketakutan.


"Temen gue disini baik semua. Jangan menghina!" jawaban sinis Wendi anak indigo.


"Yaudah yuk main. Gue juga udah lama nggak main petak umpet. Bodo amat diliatin kakak kelas kita main ginian. Yang penting kita nggak gabut," kata Lydia. Lydia dari tadi masih menjadi perhatian dari semua kelas. Penampilannya masih membuat orang pang-ling.


Mereka gambreng seperti anak kecil. Desy sendiri yang mengeluarkan punggung tangan, berarti dia yang jaga.


Desy ke tembok dan menutup matanya. "Oke gue hitung satu sampai lima ya ...."

__ADS_1


"SATU!!!!" yang lain langsung mencari tempat sembunyi yang tidak strategis dan sulit dijangkau.


"DUA!!!!" Lydia mengumpat di samping kelas dua belas yang dekat dengan lapangan.


"TIGA!!!!"


"EMPAT!!!!"


"LIMA!!!!!"


Desy membuka matanya dan mulai mencari. Bermain petak umpet di sekolah sangatlah rumit, jangakuannya sangat luas dan banyak tempat persembunyiannya.


Lydia di samping kelas dua belas masih mengumpat. Dia masih bisa melihat Desy dari sini. Untung tempatnya diujung jadi susah untuk dilihat.


"Permisi ...." suara laki-laki yang tiba-tiba membisik Lydia dari belakang.


"Shuutttttt! Gue lagi ngumpet sabar ya" dengan desisan kecil Lydia membalasnya. Lydia masih tidak melihat orang tersebut.


"Gue mau lewat, awas!" suara orang itu semakin kencang.


Lydia menoleh ke belakang karena geram. "Sabar napa, gue lagi ngumpet sebentar!"


Tempat Lydia mengumpet memang di samping kelas dua belas yang membentuk sebuah gang kecil menghubungkan kantin. Biasanya anak yang bolos lewat sini supaya tidak terlihat guru piket.


"Lo kan Lya ya? Anak sok terkenal. Jijik gue ngeliatnya."


"Lo gak suka? Iya gue terkenal, karena prestasi gue. Gue terkenal bukan karena jadi cabe-cabean atau anak berandalan."


"Awas! Gue pengen lewat. Males gue ngomong sama cewek aneh!"


"Nama lo siapa sih? Ngeselin banget." Lydia menatap anak tersebut dengan sinis. Penampilan anak itu rapih, mukanya juga tidak jelek.


"AWAS!" anak itu mendorong Lydia pelan, Lydia hanya terhempaskan saja.


"Dasar lo cowok brengsek!" Teriak Lydia.


"WAH! Ketahuan lo, jaga ya Lya," ternyata Desy sudah dibelakang Lydia.


💟💟💟


Semua murid pulang dengan keadaan gembira, karena hampir semua mata pelajaran gurunya tidak ngajar. Lydia dan Desy keluar kelas. Lydia berjalan sambil membaca buku puisinya. Begitupun Desy membaca novel terbarunya. Dua orang gadis yang kompak membaca buku sambil berjalan.


Lydia melewati warung Bu Yuli. Warung itu dipenuhi anak cowok yang nongkrong. Lydia masih saja fokus ke bukunya tidak melihat atau tergoda dengan makanan di warung Bu Yuli.


"Liat tuh, itu si Lya, masa tadi dia godain gue kaya cewek murahan. Terus dia paksa minta nomer gue," kata anak laki-laki yang duduk di warung Bu Yuli. Anak itu yang tadi dihalangi Lydia saat bermain petak umpet.


"Ternyata, anak yang terkenal cuma cabe-cabean kelas bawah," sahut salah satu dari kumpulan anak cowik itu.


Lydia menutup bukunya dan memasukan bukunya ke dalam tas. Lalu berjalan menghampiri kumpulan anak cowok itu. Lydia kalau sudah marah tidak bisa ada yang mencegah. Lydia kalo dilihat dari tampangannya memang cewek manis dan cantik, tetapi kalau sudah marah berubah drastis. Lydia juga sering menjuarai lomba silat.


"Lo ada masalah sama gue? Dasar orang brengsek!" Lydia mengertak meja. Anak cowok itu langsung kaget.


Lydia mendekati anak cowok yang menyahuti dan bilang cabe-cabean kelas bawah. Lalu dia menarik kerah dan mengangkatnya. "Lo kalo mau ngajak ribut sini! Mulutnya kaya banci ABG!"


Lydia menatapi anak itu dengan tatapan dingin dan mengerikan. Seketika mukanya yang cantik berubah menjadi menyeramkan. "Kalo lo belum tau tentang gue jangan sok-sokan tau! Gue gak takut sama kalian semua yang kerjaan cuma godain cewek yang gak berdosa."


"Ma ... ma ... maaf Lya ... gue tadi cuma khilaf aja. Maaf," anak cowok itu tergagap dan ketakutan ketika Lydia mengangkat kerahnya dan hampir mencekiknya.


"Gue gak bisa maafin lo! Gue udah sakit hati dikatain kaya gitu!" Lydia tidak bisa meredam amarahnya. Tangannya mengepal kuat. Lydia langsung meninju tanpa melihat kondisi.


"Jangan Lya! Ayo kita pulang aja. Yuk, gak usah urusan mereka," Desy membujuk Lydia dan memperbaiki suasana.


"Sekali lagi lo semua bilang kaya tadi. Gak akan ada kata maaf dari gue," Lydia meninggalkan mereka. Anak cowok yang pertama hanya diam.


~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~


***TERIMA KASIH YANG SUDAH BACA NOVEL LYDIA! SEMOGA NOVEL INI TETAP LANCAR DAN MENARIK PEMBACA.


AJAK TEMAN-TEMAN UNTUK MEMBACA CERITA INI. JANGAN LUPA KOMENTAR DAN VOTENYA.

__ADS_1


TERIMA KASIH.. TETAP BACA CERITANYA DAN TUNGGU KELANJUTANNYA. SEMOGA CERITA SERU BAGI PARA PEMBACA***


__ADS_2