Cinta Komedi

Cinta Komedi
EPISODE 4 ICON SEKOLAH


__ADS_3

"**Kelas kita gak akan menang, yang ada menang...is"


-Lydia**


***


LYDIA yang lagi duduk di kelas sangat bosan. Wajahnya yang cemberut melihat Desy yang dari tadi cuma baca novel, Hilman disebelahnya garuk-garuk rambut kribonya, mungkin rambutnya bisa buat tempat pensil. Ridho yang disebelah Desy sama lagi ngelamun.


"Ridho, gue bosen banget nih, main yuk. Main apa gitu," sahut Lydia.


"Ayo ... bareng Desy sama Hilman,"


"Woiii Hilman jangan nyari kutu mulu ayo main. Des, lo juga baca mulu main napa," gertak Ridho.


Hilman menyangga kepalanya dengan punggung tangannya dan raut wajahnya lemah. "Gue nunggu guru jam pelajaran pertama tapi gak dateng-dateng. Apa gue panggil aja ya ke kantor."


"Sebagai ketua kelas yang baik harus membuat semua siswa bahagia. Jadi jangan dipanggil ya," kata Ridho sambil senyum asem.


"Ayo gue udah selesai baca nih," Desy menutup bukunya dan menaruhnya di kolong meja.


"Main apa?" tanya Lydia.


"Kita main Sang Raja ...." Teriak Ridho, sehingga membuat cewek yang lagi gosip kaget.


"Mainan apaan tuh? Gue baru denger," kata Desy sambil menggaruk-garuk kepala bingung.


"Jadi kita siapin kertas digulung, jumlahnya sesuai dengan pemain. Terus kita tulis angkanya di kertas yang digulung. Sampe sini ngerti?" tanya Ridho.


"Ngerti, kaya arisan gitukan terus dikocok biar angkanya mencar," sahut Hilman.


"Nah, terus salah satu kertas ada tulisan raja. Kalau ada yang dapat raja berarti dia berhak menyuruh nomer berapapun asal tidak berlebihan. Contohnya: menyuruh nomer 2 untuk mencubit nomer 3. Ngerti?"


"NGERTI!!!!" jawab semuanya bareng bareng, cewek yang lagi gosip disebelah langsung kaget lagi.


Mereka membuat gulungan kertasnya. Terus menulis angka dan raja di kertas.


"Ayo mulai ... gue kocok terus lempar ya," Ridho mengocok dan melempar ke meja. Mereka berebutan mengambil kertasnya.


"Yeay gue jadi raja," kata Desy girang. Yang mendapatkan angka harus berhati-hati agar tidak ketahuan oleh raja.


"Oke ... perintah raja mutlak ya, jadi harus dituruti. Gue pengen nomer 2 gendong nomer 3. Bisa dituruti?" Walaupun perintah raja mutlak, tetapi jika perintahnya di luar batas kemanusiaan tidak bisa.


"Ya ampun, gue nomer 2, siapa nomer 3?" kata Ridho.

__ADS_1


"Gue yang nomer 3. Iwww gue di gendong Ridho. Jangan modus lo," kata Lydia yang mendapatkan nomer 3.


"Ayo gue gendong. Untung dapet Lydia. Coba kalo si kribo, gue bisa encok." Rido malah kesenengan. Ridho menggendong Lydia, terus malah lari lari ke sekeliling kelas.


"Cie ... Rido ... cie ...." kata semua murid di kelas.


"Lo ngapain lari. Udah, malah kesenengan lagi," gerutu Lydia kesal.


"Ayo lagi yaa ...." Sekarang Hilman yang melempar ke meja biar tidak curang.


"YESSS!!!! Gue jadi Raja," teriak Hilman sambil berdiri di kursi.


Cewek-cewek tukang gosip melihat mereka yang lagi bermain. Cewek tukang gosip melirik ke Hilman yang menjadi raja, dan mereka memberi kode. Cewek tukang gosip diam-diam ke belakang Lydia, Ridho, dan Desy, dia memberi kode Lydia nomer 1, Rido nomer 3, Desy nomer 2. Hilman hanya mengangguk senang dan mengacungkan jempol.


"Nomer 1 mencium pipi nomer 3," kata Hilman.


"Gue keberatan, gak mau," kata Lydia.


"Lo nomer 1 Lya? Gue gak keberatan. Hehehe," Ridho tersenyum senang dan bahagia.


"Karena salah satunya tidak keberatan jadi perintah harus dilaksanakan," kata Hilman.


"Oke ... oke ... pipinya aja ya, awas lo, nanti bekas ciuman gue, gue ganti sama kepalan tangan ini." Lydia bersiap mencium pipi Ridho. Lydia mencium tepat di pipinya.


"Ehhh ngapain difoto? Hapusss!" Lydia antara marah dan malu-malu macan. Kalau jadi pacarnya Rido, Lydia pasti mau. Ridho anaknya ganteng, tinggi, sederhana, lucu, dan baik.


"Assalamualaikum Wr. Wb. Semua siswa yang berada dikelas diharapkan segera ke lapangan. Sebentar lagi akan diadakan upacara bendera dan sambutan dari kepala sekolah. Terima kasih...." suara pemberitahuan di speaker.


Semua murid terpaksa ke lapangan. Ada yang berlari-lari, ada yang rusuh dorong-dorong, ada yang masih gosip, dan ada yang masih main. Akhirnya semua kumpul di lapangan. Barisan sudah rapih oleh seluruh murid SMAN Putih Biru.


Pak kepala sekolah naik di mimbar yang terbuat dari kayu lengkap dengan mikrofonenya. "Selamat pagi, saya akan memberitahukan kepada semua siswa dan siswi SMAN Putih Biru tentang acara ulang tahun sekolah. Jadi kita akan mengadakan acara lomba Bahasa Indonesia, Seni Budaya, dan Olahraga."


"Lomba Bahasa Indonsesia yaitu lomba menulis dan membaca puisi. Lomba Seni Budaya yaitu lomba bernyanyi. Lomba Olahraga yaitu lari estafet. Masing-masing kelas harus ada perwakilan," lanjut Pak Kepsek.


"Jadi saya ucapkan selamat ulang tahun SMAN Putih Biru. Dan selamat berjuang di lomba. Dan satu lagi icon sekolah yaitu Lydia Selenia karena prestasinya disegala bidang, jadi saya persilahkan untuk memberikan sambutan," kata Pak Kepsek.


Lydia mimpi apa semalam? Dia menjadi icon sekolah. Lydia masih tidak menyangka akan memberikan sambutan ke semua murid. Lydia langsung ke mimbar sambil catwalk dan melambaikan tangan kaya miss world.


"Halo selamat pagi," sambut Lydia.


Krik ... krik ....


"Kok gak ada yang jawab. Nanti saya panjangin pidatonya biar pulangnya lama."

__ADS_1


"SELAMAT PAGI!!!!" teriak semua murid semangat.


"Nah kaya gitu, oke terima kasih semua. Saya Lya dari kelas X-1 mengucapkan selamat hari raya idul fitri, eh salah maksudnya, mengucapkan selamat berjuang!" Semua siswa hanya mangap dan bengong dengan pidato yang katanya panjang ternyata bikin geleng kepala.


💟💟💟


Bu Sari wali kelas X-1 masuk ke dalam kelas dan membawa kertas selembar. Bu Sari berdiri di depan kelas dan membaca kertas selembarnya.


"Ibu disini hanya ingin menyampaikan perwakilan kelas yang akan ikut lomba. Pertama lomba puisi Lya."


"Kok saya bu, saya kan tidak bisa buat puisi bu, apalagi bacanya," sahut Lydia cemberut.


"Jangan bohong ya Lya. Nilai Bahasa Indonesia kamu 100 terus," kata Bu Tari.


"Tapi ... tapi ...." Akhirnya Lydia menyerah. Memang Lydia kalau soal ulangan Bahasa Indonesia sering dapat nilai 100, tetapi menulis dan membaca puisi Lydia tidak bisa.


"Lomba bernyanyi Hilman. Dan Lomba estafet Ridho, Lya, Seli, Wendi, dan Karim. Lombanya diadakan besok. Yang ikut dua lomba bisa, karena jamnya beda-beda. Terima kasih, semoga kelas kita menang."


"Kelas kita gak akan menang bu, yang ada menang...is," dalam hati Lydia.


💟💟💟


Sepulang sekolah selalu ditemani oleh senja. Pemandangan kota Bandung yang indah, memanjakan mata. Untuk menyaksikan senja ada baiknya di lapangan yang ada pohon besar untuk berteduh. Tempat itu tempat lelaki pujangga menatapi kehindahan alam.


Tama duduk di rumput yang sedikit basah. Tangannya memeluk lutut. Seragam sekolah masih ia pakai lengkap dengan tas nya. Baru pertama pindah ke Bandung, tetapi Tama sudah menemukan tempat favoritnya.


Lalu Tama mengeluarkan buku dari tas. Buku catatan kecil untuk menulis puisi. Sampul buku itu cokelat dan ada sedikit hiasan stiker spongebob squarepants. Pulpen yang digunakan pulpen seharga lima juta. Pulpen itu dilapisi oleh emas dan perak, diujungnya ada kupu-kupu berwarna putih. Pulpen itu pemberian dari neneknya.


"Menatapi senja sendirian sangatlah buruk. Jikalau ada seseorang yang dekat denganmu, mengapa tidak bersamanya? Senja tidak akan cemburu, karena kehindahannya untuk dilihat bersama." Lydia berdiri dibelakang Tama yang masih duduk dan menulis puisi di notenya.


Tama menoleh kebelakang, "Lya, Lo kesini? Ayo sini duduk sebelah gue?"


Lydia duduk disebelah Tama, "Gue ikut lomba puisi,"


"Sama gue juga."


"Tolong ajarin gue bikin puisi," Lydia tiba-tiba memelas dan meminta bantuan Tama.


"Puisi adalah karya sastra yang indah. Ingat menulis puisi harus berdasarkan perasaan kita. Buatlah puisi itu berkesan dan memiliki seni," Lydia menatapi Tama yang berbicara dengan bijak dengan mata yang berbinar dan sok mengerti.


~~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•


Gimana sampai sini? Kalian tambah suka? Jangan lupa untuk membubuhkan komentar. Dan apresiasinya dengan like dan vote. Terima kasih semua. Tunggu kelanjutannya.

__ADS_1


__ADS_2