Cinta Komedi

Cinta Komedi
EPISODE 18 TEMAN TETAP TEMAN


__ADS_3

Teman tetaplah teman


-Lydia


***


       HARI ini akan menjadi hari yang berat. Jikalau bisa menghapus hari ini, Lydia ingin menghapus. Hari Jum'at, hari dimana Lydia akan mengakhiri pertemanannya dengan Desy. Hari ini yang rumit dan sulit.


      Lydia bangun dari tidur panjangnya. Wajahnya sekusut benang layangan yang salah digulung. Rambutnya berantakan seperti belum dikeramas setahun. Lydia menguap dan mengisi energinya. Lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


     Setelah semua siap, Lydia berjalan menuju meja makan. Lina pasti sudah menyiapkan sarapan. Lydia langsung duduk di kursinya. Sudah tersedia nasi goreng dan telor. Sambil makan, Lydia ingin menyampaikan sesuatu ke Ibu tercintanya.


     "Apa yang harus Lya lakukan Bu?" tanya Lydia secara tiba-tiba.


     Raut wajah Lina bingung. Pertanyaan Lydia aneh. "Seperti biasa lah, kamu tuh sekolah. Yaudah cepat habisin nanti telat."


     "Bukan itu maksudnya, Desy kan teman dekat Lya satu-satunya. Apakah Lya harus meninggalkan dia? Desy udah buat kecewa Lya," jawab Lya sambil memakan telor nya.


     "Oh masalah Desy. Toh, Ibu yakin kamu bisa mengatasinya. Ibu yakin kamu bisa," Lina tersenyum manis.


      Lydia berdiri sambil menggendong tasnya. Lalu bersalaman dengan Lina. Tidak biasanya Lydia memeluk Ibu kesayangannya. Rasanya akan sulit untuk menerima hari ini.


     Pintu rumah yang sedari tadi tidak ada reaksi, kemudian berbunyi menjadi ketukan. Sontak Lydia kaget dan penasaran. Tumben sekali pagi-pagi ada tamu apalagi ini waktu untuk berangkat sekolah.


     Lydia membuka pintu perlahan. "Eh Tama .... gue kira siapa. Ada perlu apa?" tanya Lydia antusias dan semangat.


     "Gue mau anter lo ke sekolah. Kita bareng aja ya," kata Tama sambil tersenyum manis.


     Lydia langsung malu-malu marmut, mukanya merah, tetapi tidak seperti merah darah. "Ehm, yaudah deh hehe. Gue juga biasanya jalan kaki."


     "Yaudah ayo, ngapain diam aja," ajak Tama sambil menggoda.


      Lydia tersadar dari lamunannya. "Eh iya ayo. Oh iya lo bawa mobil lagi? Atau motor?" tanya Lydia.


     "Untuk hari ini gue jalan kaki. Demi lo," jawabnya simpel.


     "Oh yaudah."


     Mereka berdua berjalan beriringan. Tidak lupa Lydia mengambil buku puisinya yang tersimpan di tasnya. Buku puisi itu dibaca sambil berjalan. Melihat keunikan Lydia, Tama hanya bisa geleng kepala.


     "Ternyata lo bisa baca sambil jalan. Hebat banget. Gue pasti kalo gitu udah kepentok tiang listrik," kata Tama.


     Lydia masih fokus ke buku bacaannya sambil menanggapi pembicaraan. "Iya, gue udah biasa baca. Malahan gue sama Desy satu buku baca sambil jalan juga."


     "Emang ya temen sejati, pasti ada aja kesamaannya," kita Tama sambil tertawa kecil.


     Lydia langsung berhenti di tempat sambil berpikir. Perkataan Tama rasanya sangat terasa di hati Lydia. Memang benar sekali Desy adalah teman sejati Lydia akhir-akhir ini, tetapi akan berakhir.


     Tama ikut berhenti di tempat. "Lya, kok lo diem aja? Ada apa Lya?"


     Lydia menatap wajah tampan Tama dalam-dalam. "Gue sebenarnya mau banget bahas ini. Tapi susah buat diungkapkan."

__ADS_1


     "Gak apa-apa, ceritain aja ke gue. Gue akan bantu."


     "Jadi pelakunya udah ketahuan. Desy yang melakukan semuanya. Wendi dan Reza sudah menjelaskan. Gue gak nyangka teman baik gue yang melakukan itu," jawab Lydia dengan wajah sendunya.


     Reaksi Tama tetap cool, walaupun sedikit terkejut. "Kita tidak bisa menduga orang yang mau berbuat jahat, mungkin dia juga mempunyai maksud tertentu."


     "Tapi gue gak pernah buat masalah yang fatal sama dia. Gue paling cuma ngatain mukanya jelek kalo gak buluk, tapi kan itu nyata," gumam Lydia.


     "Yaudah, hari ini lo harus selesaiin masalah ini. Gue yakin lo bisa. Jelasin baik-baik."


      Akhirnya, tidak terasa sudah sampai di depan gerbang sekolah.  Langkah demi langkah Lydia lalu dengan tenang. Pandangannya lurus ke depan. Yang terpenting tujuannya cepat ke kelas. Sampai di depan kelas Lydia berpisah dengan Tama.


     Lydia masuk ke dalam kelasnya yang sudah mulai ramai. Semua anggota geng Tensmart sudah duduk di tempat masing-masing. Dan Desy sudah duduk manis di tempat duduknya, mukanya sok polos sambil tersenyum ke arah Lydia. Wendi hanya bisa menatapi dengan wajah datarnya.


     Lydia duduk di kursinya. Seperti biasanya Desy duduk di depan Lydia. Dan Hilman duduk disamping Lydia. Rido duduk di samping Desy. Desy mengeluarkan buku novelnya, pada umumnya dia membaca, karena notabenenya kutu buku.


     "Lya, lo udah ngerjain PR Biologi? Gue belum nih, liat dong," kata Hilman.


     Lydia bengong sambil melamun.


     "Eh .... Lya, lo kok bengong aja," suara Hilman naik satu setengah oktaf, walaupun sedang tidak bernyanyi.


     "Eh, iya-iya ... Ambil aja di tas."


     "Ada apasih? Lo lagi ada masalah? Cerita aja ke gue," kata Hilman.


     "Oh iya lo belum dikasih tau sama Wendi?" tanya Lydia.


     "Oh yaudah, nanti lo tau sendiri kok. Gue bakal selesaiin ini."


      Desy memutar badannya menghadap ke Lydia. "Lagi bahas apa sih? Ajak gue dong."


     "Ehm ... lagi gak bahas apa-apa," jawab Lydia ragu.


     Wendi yang sedari tadi anteng di kursinya, kini ia beranjak dan menghampiri Lydia. Wendi memberikan kode untuk menyadap Desy. Wendi menunjukkan HPnya ke Lydia.


     "Rido, sini dah. Masa gue liat cewek cakep nih di Instagram," Wendi menyuruh Rido, agar Lydia bisa duduk disebelah Desy.


     Lydia duduk di sebelah Desy dan berpura-pura sok akrab. Desy masih tidak menyadari tak-tik dari Wendi untuk menyadapnya.


     "Des, tanggal di HP gue ngaco nih. Benerin dong. Gue kaga ngerti," kata Lydia.


     Desy melihat HP Lydia. "Oh, gampang kok. Tinggal diatur di pengaturan."


     "Bosen nih gue. Pinjem HP lo gue mau main game," kata Lydia.


     Desy agak curiga dengan tingkah laku Lydia yang janggal. "Ehm... Yaudah deh. Game gue cuma Talking Angela."


      Lydia memegang HP Desy. Dilihatnya HP Desy sambil menekan tombol power. Tampilan ponsel dengan walpaper kucing putih terpampang jelas. Lydia segera memberi kode ke Wendi untuk like dan komentar sebanyak-banyaknya ke akun Lydia. Wendi tampaknya sudah beraksi dengan ponselnya. Dan yang membuat terkejut, tenyata ada di notifikasi. Akun bernama @wendi_pras penuh di notifikasi. Ternyata memang benar akun Lydia ada di HP Desy. Sekarang sudah saatnya untuk membongkar perbuatan busuk Desy.


     "Des, gue mau bicara serius," kata Lydia.

__ADS_1


     Desy yang fokus ke HP Lydia, teralihkan. "Oh iya apa?"


     Lydia menghembuskan napas. "Gue udah punya bukti semuanya, lo gak bisa ngelak lagi. Lo yang ngelakuin semua hal buruk ke gue kan?"


     Reaksi Desy biasa saja, sembari menyeringai dan bertolak pinggang. "Oh gitu, wah hebat juga ya lo. Gak nyangka ya? Berarti gue ketahuan dong," nada bicaranya membuat orang gondok.


      "Gue gak nyangka ya lo bisa berbuat kaya gitu. Apa sih mau lo? Gue pernah salah sama lo? Untuk apa lo jadi temen gue?" suara Lydia nyaring seperti bernyanyi di nada tinggi.


    Desy hanya semeringah dan seperti tidak berdosa. "Lo mau tau alasannya? Lo kaga nyadar?"


     "Apa? Gue mau tau alasannya?" tanya Lydia.


      Semua yang ada di kelas langsung mengerubungi Lydia dan Desy yang sedang bercekcok, termasuk semua anggota Tensmart dan Seli.


      "Dulu gue jadi murid yang dikenal karena kepintaran, muka gue yang jelek jadi tertutupi karena prestasi gue, jadi gue gak pernah dibully siapapun. Gue selalu menjadi murid terpintar. Setelah gue masuk di SMA gue tergeser oleh kepintaran lo. Lo selalu yang menjadi pusat perhatian, lo yang selalu mendapatkan prestasi. Sementara gue jadi terasingkan. Gue gak bisa apa-apa lagi. Gue juga sering dibully kakak kelas. Lo gak bakal bisa merasakan penderitaan gue," jawab Desy dengan emosional.


    Desy berhenti sejenak untuk bernapas, soalnya dia bukan rapper. "Dan yang harus lo tahu. Gue suka suka sama Tama. Gue gak suka lo deketin dia. Lo udah ngerebut semuanya. Gue cuma mau lo tertekan dan pindah sejauh-jauhnya."


     Lydia menitikkan air matanya. Hatinya bagaikan terguncang. Perkataan Desy ada benarnya juga. "Itu aja? Lo iri sama gue? Apakah lo tau tentang hidup gue yang sebenarnya? Asal lo tau, hidup gue ini susah dan penuh penderitaan. Gue harus menjadi anak yang pintar untuk memperbaiki kehidupan gue. Kalo lo mau menjadi rangking satu di kelas silahkan. Kalo lo mau wakilin lomba sekolah silahkan. Lo boleh ambil semuanya. Lo boleh deketin Tama sepuas lo. Tapi lo harus ingat pertemanan kita selama 6 bulan ini. Lo ingat masa-masa sedih dan senang. Lo pasti merasakan kebahagian selama kita berteman. "


     "Gue selalu memaafkan lo. Lo adalah teman pertama gue di sekolah ini. Kita adalah teman. Lo juga harus terbuka, kita bisa atasi masalah bersama," lanjut Lydia.


     Desy hanya bisa menangis. Tangisannya sampai memekakkan telinga. Mungkin semua perbuatannya bodoh. Lydia adalah temannya, bahkan sudah menjadi sahabatnya. Desy menyesali semuanya.


     "MAAFIN GUE LYA," teriak Desy sambil menangis. Mereka berpelukan dengan penuh haru. Mereka akan tetap menjadi sahabat.


     Semua geng Tensmart ikut berpelukan juga. Lydia akhirnya bisa bahagia kembali. Semua masalah sudah selesai. Rido malah kegirangan bisa memeluk Lydia, kesempatan dalam kesempitan. Wendi hanya tersenyum ke Lydia. Hilman masih garuk-garuk kepalanya sambil berpelukan. Dan Seli masih berdiri menyaksikan geng Tensmart berpelukan.


     Lydia melepaskan pelukan semuanya. Dan menghampiri Seli dengan ragu. "Sel, maafin gue, gue bisa jelasin semuanya."


     Desy ikut menghampiri Seli. "Sel, maafin gue, gue yang salah. Maafin gue...." Desy kembali menangis kencang.


     Seli tersenyum bahagia. "Iya gue maafin. Maafin gue juga yang baperan. Gue masih jadi temen kalian semuakan?"


      "Kita teman!" kata geng Tensmart kompak.


     Disaat kita penuh penderitaan. Masalah tak kunjung sirna. Kesepian kian melanda. Muncullah sesosok pahlawan, bukan pahlawan kesiangan atau kegelapan. Tapi pahlawan yang mampu menemani kita, yaitu TEMAN.


~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•


Hai semua .....


Suka sama part ini?


Semoga feelnya dapet ya.


Terima kasih semua yang sudah baca sampai sini.


Ceritanya akan terus berlanjut.


Terus baca serial LYDIA

__ADS_1


Terima kasih, jangan lupa vote dan komentarnya.


__ADS_2