Cinta Komedi

Cinta Komedi
BAB 15 SEHARI BERSAMA TAMA


__ADS_3

     PAGI hari yang cerah memang enak untuk dipandang. Cahaya matahari bersinar hingga ke celah-celah jendela. Udara yang sejuk memanjakan raga. Tama biasanya sebelum berangkat sekolah sarapan bersama Ayah dan Ibunya.


     Setelah mandi dan memakai seragamnya, Tama menuju meja makan untuk sarapan. Ayah dan Ibunya sudah duduk di kursinya. Roti beserta selai cokelat kacang sudah disajikan lengkap dengan susu murni. Tama duduk di kursinya sambil membawa tasnya.


     Ayah Tama yang bernama Chris memulai pembicaraan. "Bagaimana sekolah baru kamu? Selama 2 bulan ini nyaman?"


     "Lumayan, saya bisa beradaptasi disana. Dan semuanya ramah," jawab Tama sekenanya.


     "Kamu sudah akrab sama Fina? Dia anaknya temen papa. Kaya loh cantik pula," pertanyaan ayahnya membuat gerah hati.


     "Saya malas membahas orang yang tidak jelas," jawab Tama dingin.


    "Kamu tuh dari dulu pemikirannya dangkal. Fina orang kaya, kalau kamu nikah sama dia nanti hidupnya lebih dari ini," tukas ayah.


     Sambil mengunyah rotinya Tama  segan sekali menjawab. "Yang Papa pikirkan hanya kekayaan dan kekayaan. Saya tidak menyukai orang itu."


    Ibunya yang sedari tadi menikmati rotinya sambil membersihkan kukunya ikut andil berbicara. "Papa kamu benar, ini semua demi kebaikan kamu. Fina juga suka banget sama kamu. Kalo ibu sih setuju saja. Dan ibu dengar dari Fina, kamu deket sama cewek kampung ya?"


     "Lya bukan cewek kampung. Lagian siapa sih cowok yang mau sama Fina, cewek yang suka ke salon kerjaannya hura-hura. Lya jelas lebih baik," tegas Tama.


    Ibunya menaikkan alis memasang muka ngeselin. "Kalau kamu deketin tuh cewek kampung, hidup kamu yang ada sengsara. Apa sih istimewanya dia? Cantik? Fina juga cantik. Baik? Fina juga baik," tanya Ibunya yang mulai ngawur.


    "Lya anak yang cerdas dan berprestasi. Cantik dan selalu membawa keceriaan. Tidak seperti Ibu dan Fina yang kerjaannya cuma memikirkan harta," jawab Tama menohok.


    Ibunya berdiri dan mendobrak meja. "Kamu jadi berani melawan ya. Ini ibu kamu loh. Lancang sekali berbicaranya. Ibu sudah menyekolakan kamu sampai sekarang, tetapi sopan santunmu hilang."


    Tama pura-pura melihat jam tangan. "Sudah hampir terlambat. Saya berangkat dulu."


   Tama berangkat tanpa salam ke orangtuanya. Dari dulu mereka tidak pernah akur. Jalan pikiran mereka suka berbeda-beda. Orang tua Tama juga selalu sibuk dengan pekerjaannya. Tama paling tidak suka ketika orang tuanya mengatur hidupnya yang seharusnya bisa ia emban. Apalagi masalah jodoh, Tama masih SMA saja udah dicariin pasangan.


    Tama berjalan ke garasi yang terletak di belakang rumahnya. Cukup menggunakan motor matic untuk ke sekolah, tidak perlu ribet menggunakan mobil mewah milik ayahnya. Setelah sampai Tama mengeluarkan motor yang menyempil di samping mobil mewah. Cara mengendarai motor mudah kok, tinggal gas, rem, patuhi lalu lintas, dan jaga keseimbangan. Tama mengendarai motor meninggalkan rumah mewahnya.


    Pemandangan kota Bandung memang luar biasa indah. Dahulu ketika di ibu kota Tama hanya melihat gedung-gedung pencakar langit berbaris beserta jalan layang yang lurus. Berbeda dengan di Bandung, pemandangan alam dan pepohonan berderet indah disepanjang jalan.


    Jarak dari rumah ke sekolah hanya 2 kilometer. Tidak begitu jauh. Waktu tempuh mungkin hanya sekitar 30 menit. Benarkan tidak membutuhkan waktu lama sudah sampai di depan sekolah. Tama mengarahkan motornya ke parkiran sekolah.


     Helm yang masih menyangkut di kepalanya dilepaskan. Rambut hitam kecokelatan yang masih berantakan disisir menggunakan jari tangannya sembari mengaca di spion. Parkiran juga sepi, sekali-kali ngaca tidak apa-apa, manusiawi. Sambil merapihkan seragam dan menggunakan tas selempangnya Tama berjalan menuju lapangan.


    "Eh itu Tama ...."


    "Itu Tama ... ganteng banget ...."


    "Hai Tama ...."

__ADS_1


    "Haii Tama ...."


    Tama hanya mengeluarkan senyum manisnya. Para siswi itu hampir pingsan melihat senyuman indah Tama. Setiap hari nama panggilannya itu disebut-sebut seluruh siswi di sekolah. Padahal baru 2 bulan, tetapi Tama sudah jadi murid terkenal.


     Ketika Tama berjalan ke lapangan, ada yang mencegahnya. Seorang siswi dengan berawakan tinggi semampai dan kecantikannya bersinar-sinar. Dia adalah ... Lya ... eh ralat bukan Lya, tetapi Tiara. Tiara adalah wakil ketua osis kelas sepuluh yang selalu berusaha mendapatkan Tama akhir-akhir ini.


    "Permisi Gue mau ke kelas," kata Tama.


    "Gue anterin ya, gue juga bawa bekel nih buat lo. Gue udah susah payah buatin, terima ya," Tiara masih berusaha menahan agar tidak emosi.


    "Permisi Gue gak punya waktu. Gue pengen ke kelas. Bye!"


    "Yaudah lo boleh ke kelas, tapi terima bekel gue dulu ya. Gue udah susah payah buat ini."


    "Sini, yaudah gue ke kelas dulu. Sana lo ke kelas juga jangan sok sibuk," Tama mengambil bekal itu terpaksa.


    "Yeay, terima kasih. Nanti istirahat ketemu lagi ya," betapa senangnya Tiara ketika Tama mulai peduli dengannya.


    Tama berjalan meninggalkan Tiara yang masih berdiri di dekat ruang lab. "Nanti bekelnya gue kasih kucing. Itung-itung menambah pahala."


     "Tama .... jahat lo," Tiara mencak-mencak kakinya kesal.


     Tama tahu bahwa Tiara selalu menggodanya agar bisa jadi pacarnya. Bahkan Tiara menyebarkan gosip bahwa ia telah berpacaran dengan Tama. Tama berjalan terus tanpa melihat keadaan Tiara. Tama melewati beberapa kelas. Kelasnya berada di lantai atas. Ketika ingin menaiki tangga, Tama melihat Lydia yang duduk sendirian di depan kelas Sepuluh Satu. Langsung saja Tama menghampiri Lydia.


    "Eh Tama. Gue lagi nyari udara segar aja. Di kelas pengap." Suara Lydia datar dan kosong. Tama juga belum mengetahui masalahnya akhir-akhir ini.


     "Cerita aja masalahnya. Gue gue tau kok, lo lagi ada masalah. Siapa tau gue bisa bantu," Kata Tama menghibur.


     Hilman yang lagi menyapu dan muncul di pintu, ketika melihat Sivan kangsung berlari ke arahnya.


     "Eh Tama, kita mau bicara sebentar aja," kata Hilman.


     "Masih ada waktu sih. Oh iya gue gak tahu nama lo nih." Tama sering lihat Hilman tapi belum tahu namanya.


     "Oh iya maaf. Nama gue Hilman. Gue temennya Lya. Tunggu sebentar ya, gue pengen panggil Rido, Wendi, sama Desy," Hilman lari ke dalam kelas dan teriak-teriak.


     Selagi menunggu Hilman, Tama berusaha berbicara dengan Lydia. "Ada apa? Kok Hilman mendadak pengen bicara sama gue. Ada hubungannya juga sama lo?"


    "Iya tunggu aja. Ada yang ingin dibicarakan."


    Hilman menarik Rido dan Wendi keluar. Desy juga ikut keluar. Kelihatannya lagi pada lemes semua nih orang. Kemarin bilangannya ingin menemui Reza lagi, sekarang malah malas-malasan.


    "Hai Tama," Tensmart kompak menyapa Tama.

__ADS_1


     "Gue disini mau nanya sesuatu. Sebelumnya gue minta maaf. Kita semua tidak menuduh lo, kita cuma mau bertanya saja," kata Rido.


    "Iya gak apa-apa. Mau tanya apa?"


    "Lo yang menyuruh Lya bikin instagram kan? Apa tujuan lo nyuruh Lya bikin Instagram?" tanya Hilman.


    "Iya gue yang nyuruh. Tujuanya biar Lya terkenal. Kan dia famous di sekolah. Pasti banyak yang penasaran sama sosmednya Lya."


    "Masuk akal juga. Lya kena hack. Instagramnya memposting foto aib dan caption yang mencemarkan nama baik orang," kata Wendi.


     "Demi?! Kok bisa?" Tama kaget dan tidak percaya. "Kok lo gak kasih tau gue Lya? Siapa yang ngehack? Kok bisa?"


    Geng tensmart mengangguk penuh arti. Sudah ketahuan hasilnya. "Bener kan. Tama gak mungkin melakukan ini. Gue percaya. Selamat anda sudah lepas jadi tersangka," kata Hilman sehingga membuat gelak tawa.


    "Iyalah mana mungkin gue ngelakuin hal itu. Apa faedahnya? Oh iya emang foto siapa yang diposting?" tentu Tama masih penasaran.


    "Seli, temen gue. Dia lagi marah banget sama gue. Gue gak tau gimana cara memperbaiki hubungan sama Seli," muka datar Lydia berubah menjadi sedih.


    "Tenang aja Lya. Gue akan membantu. Kalau menurut kalian apa ada tersangka yang akurat?" tanya Tama.


    "Tersangkanya Reza. Ini pasti. Gak mungkin salah," Rido berbicara seperti mata-mata.


    "Gue juga punya prasangka buruk sama dia. Tapi bisa aja bukan dia," Tama masih berpikir keras.


    Lydia menunjuk-nunjuk tidak bisa jelas. Matanya melotot seperti mau keluar. Yang lain malah kebingungan.


    "Lya lo ngapa?" Tanya Wendi.


     Sekarang Desy juga ikut ikutan nunjuk tidak jelas. Matanya lebih melotot. Sungguh aneh cewek ini.


    "Des lo juga ngapa? Lya?" tanya Hilman.


    "Itu liat belakang," kata Desy sambil menunjuk. Semua langsung menoleh ke belakang. Pak Yanto–guru Fisika yang terkenal kejam dan menakutkan, meremas-remas tangannya. Semua bergidik ketakutan.


     "Ngapain kalian masih disini. Ngegosip aja. Masuk!" Bentak Pak Yanto. Semua langsung lari ke dalam kelas. Tama langsung lari menuju kelasnya di lantai atas.


~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~


SUKA SAMA PART INI?


SERU GAK?


TERUS VOTE DAN KOMENTAR.

__ADS_1


TUNGGU KELANJUTANNYA


__ADS_2