
KETIKA ingin memasuki kelas Lydia melihat Tama di kelas sebelah. Ia langsung lari sambil melambaikan tangan dengan memasang muka menyedihkan. Ia terus meneriaki Tama yang ingin masuk ke dalam kelas.
"Tama... maafin aku," Lydia langsung menggapai tangan Tama.
"Iya aku maafin," kata Tama enteng.
"Maafin aku yang udah selingkuh. Aku selingkuh. Aku hina!" kata Lydia mendramatisir.
"Iya aku maafin kok. Jangan ulangin ya," balas Tama sambil tersenyum.
"Gak, hukum aku! HUKUM AKU!!!" Teriak Lydia.
"Lya... aku udah maafin. Gak apa-apa kok. Namanya juga hubungan. Pasti ada aja pengganggu. Jadi mulai sekarang kita harus saling percaya ya. Janji?" kata Tama.
"Janji... terima kasih Tama. Kamu pacar aku yang terbaik," Lydia memeluk Tama dari samping. Semua murid yang di kelas Tama hanya cemberut, apalagi yang jomblo.
"Udah bel masuk. Yaudah kamu ke kelas dulu. Semangat belajarnya ya!" Tama memang pacar idaman. Selalu perhatian.
"Iya kamu juga semangat belajarnya ya. Nanti kita pulang bareng," balas Lydia sambil berlari ke kelas.
Sedangkan Tama memasuki kelasnya. Hari ini semoga menjadi hari yang membahagiakan buat Tama. Semoga ada pelajaran seru untuk hari ini, bukan hanya perkenalan terus.
Ketika Tama berjalan ada Ziva—murid baru di kelas ini. Dia seperti sedang mencari sesuatu. Dia memandangi lantai terus menerus. Matanya sangat fokus. Tama menghampiri Ziva untuk membantunya.
"Kamu sedang cari apa?" tanya Tama.
"Oh Tama... hmmm ini... anu. Oh iya lagi cari cincin aku yang hilang," jawab Ziva sambil tersenyum tenang.
"Apa sih lo kepo banget. Terserah gue lah mau nyari apa. Bilang aja mau pedekate!" Sisi gelap Ziva.
"Oh yaudah biar aku bantu ya. Kamu cari disana aja. Aku cari di dekat meja guru." kata Tama.
"Iya terima kasih," jawab Ziva dengan senyum palsunya.
"Idih lo ngapain sih bantuin gue. Sok akrab banget ih. Aduh bisa ketahuan rahasia gue hiks." Batin sisi gelap Ziva.
Untuk kalian yang tidak tahu tentang Ziva. Oke biar gua jelasin. Ziva adalah murid baru asal Amerika. Dia pindah ke Indonesia karena mengikuti ibunya yang ada bisnis di Indonesia. Ziva bisa dibilang sangat kaya raya. Bukan hanya itu parasnya yang cantik menambah kesan sempurna. Semua pasti bisa jatuh cinta dengan sekejap. Entah manusia, makhluk halus, ataupun benda mati.
__ADS_1
Dibalik sifatnya yang manis, sopan, dan baik hati. Sebenarnya Ziva bukanlah seperti itu. Apa yang diucapkan dan apa yang dipikirkannya berbeda. Sebenarnya ia sangat membenci orang sekitar. Apalagi orang yang suka sok deket, sok cakep, dan sok b
Ketika Tama ingin meraba kolong meja tangannya seperti ada serangga yang menggigit. "Aw kok ada semut merah ya. Banyak banget lagi di kolong meja guru. Nanti kalo guru ke gigit gimana. Gua harus sapu dulu."
Tama beranjak dari merangkaknya dan berdiri mengambil sapu. "Eh mau kemana?" Tanya Ziva.
"Oh mau ambil sapu. Itu banyak semut di kolong meja guru."
"Ada semut? Di kolong meja? Yaudah kamu ambil sapu dulu aja" tanya Ziva sok cool.
"Yaudah, jangan sentuh ya. Nanti kamu kegigit." Tama menuju pintu depan. Tempat menyimpan sapu.
"Aduh aduh... mereka ada di kolong meja. Aduh gua harus ambil pake apa nih. Kalo ambil kandang di tas gak keburu. Aduh hewan peliharaan gua. Semut terimutku, beserta keluarga nya. Bodo amat dah gua ambil pake tangan." Batin Ziva.
"Yup bagus semut-semut jangan bandel ya. Sini sama aku aja. Ditangan ini kalian akan aman. Dan rahasia gua akan aman. Jangan sampe si cowok sok akrab itu tau rahasia gua kalo gua pelihara semut, nanti disangka gua aneh lagi." Ziva meletakkan semut-semut nya ditangannya.
Tama kembali membawa sapu. Ia menyapu daerah kolong meja guru. Ternyata bersih, sudah tidak ada semut lagi.
"Semutnya udah pada kabur kayaknya. Yaudah kita lanjut cari cincin sebelum bel pelajaran masuk."
"Awwww!" teriak Ziva spontan.
"Gak apa-apa kok. Tadi suara serak lagi tes aja," "Aduh ngapa semut-semut pada gigit telapak tangan gue sih."
"Yaudah kita lanjut cari cincinnya," Tama tidak curiga dengan gerak-gerik aneh Ziva.
"Awww!" teriak Ziva lagi.
"Kamu kenapa lagi?" tanya Tama.
"Tenggorokan aku kayaknya masih sedikit kering. Aku lagi tes," "Aduh semutnya malah berjamaah gigitnya. Gue harus pura-pura ke kamar mandi nih!"
"Oh yaudah yuk cari lagi." kata Tama masih tidak curiga.
"Gue mau ke... Awww awww aduhhh sakittt awww! Sakit banget damn It! Ouchhh!" Teriak Ziva sambil melepaskan genggaman tangan yang berisi semut.
__ADS_1
"Ziva kamu gak apa-apa? Loh kok itu ada semut di tangan kamu. Tangan kamu jadi merah-merah tuh. Sini aku lihat." Kata Tama khawatir.
Tama meraih tangan Ziva yang merah akibat gigitan semut. Tama mengambil obat merah untuk menghilangkan rasa sakitnya.
"Kenapa kamu genggam semut? Kan sakit digigit," tanya Tama sambil menatap wajah Ziva yang masih menangis.
"Tapi kalo aku kasih tau jangan kasih tau ke siapa-siapa ya. Janji ini rahasia loh," kata Ziva pasrah.
"Iya janji. Aku akan janji dan tidak akan bilang ke siapa-siapa," jawab Tama sambil tersenyum meyakinkan.
"Jadi semut itu peliharaan aku. Aku pelihara semut. Aneh ya? Sebenarnya yang aku cari bukan cincin, tapi semut. Pasti kamu bakal kira aku orang aneh," Ziva termenung dengan penjelasannya.
"Enggak aneh kok. Bagus loh kamu pelihara semut. Ternyata kamu peduli dengan hewan sekecil semut. Aku juga pelihara kadal kok di rumah. Setiap orang berhak punya hewan peliharaan aneh kok," kata Tama.
"Wah berarti aku bukan orang aneh ya. Aku aja kayaknya yang berpikiran aneh. Terima kasih ya, aku jadi percaya diri untuk pelihara semut. Nanti aku bawa semut beserta sarangnya ke kelas." Ziva tersenyum bahagia sekarang.
"Ternyata Tama aslinya baik banget. Ternyata dia gak fake. Udah ganteng, baik, penyayang. Cocoklah untuk diri gua yang sempurna ini. Pasti dia bakal suka sama gua sebentar lagi. Uh liat aja tuh. Dari tadi ngobatin tangan gua aja lama amat. Kayaknya demen sama tangan halus gue," kata sisi gelap Ziva.
"Tama... Tamaaaa... kemarin buku kamu kebawa sama aku Yang. Ini aku kembaliin. Ini bu—" Lydia yang riang gembira berhenti ketika melihat Tama berduaan dengan seorang cewek cantik, dan sedang berpegangan tangan.
"Oh iya. Makasih Yang bukunya." kata Tama santai.
"Eh kamu selingkuh ya????" Teriak Lydia.
"Tunggu... tunggu... Kamu siapanya Tama?" Ziva langsung kepo.
"Lah gue pacarnya. Lo siapanya?" Balas Lydia skakmat.
"Aku kira kamu gak punya pacar." Kata Ziva ke Tama.
"Kamu gak nanya." Balas Tama.
"Kalian beraninya selingkuh di depan gue ya. Oke okeeee byee! Nikmati pegangan tangannya!" kata Lydia langsung lari ke arah pintu.
"Tunggu Yanggg!" teriak Tama.
~•~•~•~•~•~•~
__ADS_1
Pada nunggu up ya. Aduh maaf banget. Aku lagi sibuk banget jadi Maba. Mohon pengertiannya. Cerita akan terus berlanjut. Aku akan nulis ketika sengang. Jangan lupa ya like...