
Jam pelajaran pertama akan lama dimulai, karena cuaca hari ini tidak mendukung untuk berupacara. Hujan bahkan sudah turun ke bumi rintik demi rintik. Semua murid pasti akan disuruh menunggu hingga jam upacara selesai, lalu jam pelajaran pertama di mulai.
Hawa dingin sangat terasa sekali. Tapi para makhluk aneh ini malah pada tiduran dan duduk-duduk di teras kelas. Hal yang paling seru untuk dilakukan adalah ngegibah. Kebiasaan murid yang sangat ngehits dan diminati jelas gibah dan gosip. Geng Lydia sudah kumpul di teras.
Hilman yang tiduran langsung angkat bicara. "Udah jelaskan lu bakal ikut PEOS?" tanya Hilman ke Lydia.
"Apa tuh PEOS?" tanya Lydia.
"Pemilihan OSIS," jawab Hilman sambil tertawa.
"Ada-ada bikin singkatannya. Iya gua yakin ikut kok. Nanti gua bujuk Tama buat jadi wakilnya."
Desy yang membaca buku jadi ikut nimbrung. "Wah bakal seru nih Pemilihan OSIS tahun ini. Jelas banget calonnya orang famous."
Desy yang notabenenya tukang gosip langsung mengeluarkan handphonenya. "Kalian semua pada tau gak nih. Di akun resmi OSIS sudah mengumpulkan satu nama calon. Berarti udah ada yang daftar. Katanya sih cewek. Tapi gak tau juga sih."
Lydia berpikir yaitu sudah jelas yang daftar adalah Ziva. Ternyata Ziva gerak cepat juga.
"Kita tunggu aja ya. Gua yakin akan seru acaranya." kata Lydia.
Ketika geng Lydia lagi ngerumpi, kelas malah berisik sekali. Semua murid teriak-teriak kayak di kebun binatang. Geng Lydia langsung bergegas penasaran ke kelas.
"Ada apa nih, berisik amat?" tanya Hilman sang ketua kelas ketika melihat semua murid berteriak sambil berkerumunan.
"Itu... itu..." kata salah satu siswi gemetaran.
Ketika dilihat ternyata... PROYEKTOR kelas rusak berkeping-keping. Ini BENCANA!!! INI BENCANA bagi kelas. Bisa-bisa satu kelas dihukum di ruang BK. Kalau gak uang kas kelas yang sedikit bisa lenyap.
"Kok bisa rusak? Kan tuh proyektor digantung di atas?" tanya Lydia penasaran.
"Tadi pada main lempar-lemparan buku. Terus bukunya nyangkut di proyektor. Karena itu buku tugas, jadi buat ngambilnya dilempar pake sepatu. Eh malah proyektornya jatuh. Ancur lagi."
"Aduh gimana nih. Buang aja lah. Jangan sampai ada yang tersisa. Kalau ketahuan bisa dihukum," kata Hilman.
"Gila aja ya. Nanti ketahuan. Mau buang di mana? Di tempat sampah sekolah bakal ketahuan lah. Buang ke samping sekolah ketahuan juga ****** proyektornya," balas Seli.
"Tunggu, dulu jam pelajaran pertama Pak Gani guru agama. Jam pelajaran akan dimulai 10 menit lagi. Kemungkinan Pak Gani jalan dari kantor 5 menit. Berarti masih ada 15 menit. Cepat mikir!" kata Lydia.
"Aduh gua takutnya Pak Gani malah make proyektornya buat pelajarannya. Aduh gimana nih," Desy dan siswi lain gemetaran.
Lydia berpikir. Lalu menyampaikan opininya. "Tenang dulu. Gua baca kemungkinannya. Pak Gani jelas gak akan gunain proyektor karena hari ini ada hapalan. Jadi tenang. Satu lagi kita gak tau beliau masuk apa gak. Karena hujan. Beliau juga pasti akan lama menuju kelasnya karena sekolah becek teras juga licin."
Ridho ikut beropini "Jadi kita punya kesempatan waktu. Terus kita juga gak tau Pak Gani masuk atau tidak. Tapi gimana cara kita menghilangkan proyektornya. Dan jelas banget nanti kalo proyektornya gak ada nanti guru akan nanya."
"Udahlah ganti pake uang kas. Kita harus berkorban," kata Seli.
__ADS_1
"Uang kas kita gak sampai 200 ribu. Kita kan baru aja masuk. Harga proyektor juga mahal. Kalo patungan, sekarang gua gak ada duit." Balas Desi.
"Gua aja yang beliin proyektornya, gua kaya. Harga segitu mah gak seberapa," kata Zidan mengajukan pendapat.
"Gak, kita gak mau ada hutang sama lu. Ini urusan kelas." ucap Hilman.
"Guys 10 menit lagi. Gimana nih?" tanya Desy yang keringat dingin.
"Wendi terawang Pak Gani. Terus tahan dia dengan teman-teman lu." kata Lydia.
"Oke tunggu dulu." Wendi langsung komat-kamit dan menerawang keadaan Pak Gani. Ia pasti bisa menangani masalah ini secara spiritual.
Wendi berhenti dari komat-kamit nya. "Sayangnya Pak Gani sedang menuju ke kelas. Gua gak bisa nahan beliau. Kalian tahukan dia guru agama. Ilmu dia juga tinggi. Teman-teman gua jelas pada takut."
"Ah gimana nih. Pasrah aja lah dihukum. Lagian sih siapa suruh main lempar-lemparan. Jadi kena satu kelas kan!" ujar Desy.
"Itu salah si... salahnya si," semua main salah-salahan dan rusuh.
Lydia langsung geplak meja. Semua langsung diam. "Tenang semua. Gua punya rencana matang. Kita pasti bisa kalau rencana ini dilakukan hati-hati dan tepat."
"Rencana nya adalah kita tukar proyektornya sama punya Tata Usaha."
"Gak bisalah. Kalau kita tukar pasti ketahuan di CCTV. Apalagi guru BK yang awasin CCTVnya. Bisa gawat." kata Hilman.
"Jadi gini. Pertama gua butuh 4 orang. Satu orang yang akan menjemput Pak Gani buat ulur waktu. Satu orang ikut gua untuk ke tata usaha. Dua orang lainnya maju duluan untuk berjaga-jaga kalau ada guru." Kata Lydia.
"Tenang aja. Nanti gua yang akan cari perhatian ke orang TU untuk pura-pura isi spidol. Dan satu orang lainnya merangkak untuk menukar Proyektornya. Beruntungnya lemari barang ada di bawah. Jadi gak kelihatan dari CCTV," kata Lydia.
"Jadi Hilman dan Seli yang akan tahan Pak Gani. Ridho sama Wendi yang awasin dari depan. Dan gua sama Desy yang akan ke ruang Tata Usaha."
"Kita masih punya waktu 5 menit. Ayo kita mulai beraksi," kata Hilman.
Geng Lydia langsung mulai beraksi. Ridho dan Wendi berjalan terlebih dahulu. Ia langsung memberi kode aman dengan mengacungkan jempolnya. Semua langsung ikut bergegas menjalankan tugasnya masing-masing.
Hilman yang melihat Pak Gani langsung menghampirinya untuk pura-pura berbincang. Hilman memberikan kode untuk Lydia dan Desy.
Sedikit lagi ingin mencapai ruang Tata Usaha. Wendi dan Ridho dari tadi sudah memberikan intruksi aman. Akhirnya sudah mencapai ruang Tata Usaha.
"Des, udah siap?" tanya Lydia masih menggenggam gagang pintu ruang Tata Usaha.
"Tapi lantainya kotor terus masih ada bekas hujan," kata Desy.
"Demi kelas. Demi kelas ingat itu," Lydia meyakinkan Desy.
Lydia membuka pintunya. Lalu Desy berjongkok dan bersiap untuk merangkak ke lemari barang di ujung sana. Lydia langsung menghampiri guru Tata Usahanya untuk berpura-pura mengisi spidol.
__ADS_1
"Bu, bolehkah saya mengisi spidol. Spidol kelas sudah habis," kata Lydia. Sedangkan dibawah ada Desy yang merangkak sambil membawa proyektornya.
"Silahkan ambil tintanya. Kamu bisa isi spidolnya disini. Jangan dibawa ya tintanya," ucap Guru TU.
Tiba-tiba terdengar suara berdecit dari lantai. Ternyata Desy sedikit terganggu dengan lantai yang licin. Lydia melihat Desy dengan hati-hati di lantai. Desy sudah keringat dingin ketakutan.
"Suara apa tuh. Kok berdecit gitu," Guru TU mulai curiga.
"Ini suara saya membuka spidol Bu, lumayan keras ya Bu." Kata Lydia.
"Sini saya bantu. Kamu tuh harus belajar cara membuka spidol yang benar. Anak zaman sekarang kasian ya gak tau cara buka spidol."
Lydia menganggukkan kepala agar Desy mempercepat merangkaknya. Desy langsung merangkak super cepat ala cicak. Desy sekarang sudah mencapai lemari nya. Ia langsung bergegas menukar Proyektornya.
Proyektor sudah ditukar oleh Desy. Akhirnya berjalan dengan lancar. Lydia langsung lega. Desy merangkak kembali menuju pintu.
"Oh iya saya mau ambil laptop di lemari dulu," kata guru TU.
Lydia dan Desy langsung panik. "Aduh kok susah banget sih Bu tintanya keluar. Bantuin dong Bu," Lydia berpura-pura lagi.
"Gimana sih kamu ini, isi spidol aja gak bisa." Guru TU itu langsung membantu Lydia. Lydia dan Desy langsung lega.
Desy akhirnya udah di dekat pintu, tinggal menunggu Lydia membukakannya. "Oke, terima kasih Bu, saya sudah selesai."
"Cepat tuh pasti guru kamu udah nungguin."
Lydia membukakan pintu, Desy berjongkok ikut keluar. Akhirnya misi berjalan lancar. Lydia dan Desy langsung berlari kencang menuju kelas. Ia mengambil plastik hitam di tempat sampah untuk membungkus proyektornya.
Ketika masuk kelas ternyata Pak Gani sudah mulai mengajar. Lydia dan Desy menghampiri Pak Gani. Semua murid ikut tegang juga.
"Kalian habis dari mana?" tanya Pak Gani.
"Saya habis anterin Desy. Bekalnya ketinggalan. Tadi saya ambil di satpam." jawab Lydia tenang.
"Itu yang di plastik hitam apa?" tanya Pak Gani curiga.
Desy langsung gemetaran dan keringat dingin lagi. Lydia masih tetap tenang. "Ini bekal punya saya yang ketinggalan Pak," jawab Desy.
"Oh yaudah kalian boleh duduk. Saya lagi ngejelasin materinya."
Lydia dan Desy langsung tenang. Akhirnya Pak Gani tidak mengetahuinya. Lydia langsung mengacungkan jempolnya ke seluruh murid. Seluruh murid langsung lega. Ternyata berjalan lancar. Lydia dan Desy bisa tenang duduk sekarang. Mission accomplished!
Pak Gani berdiri di depan kelas. Tepatnya di tengah. "Saya tau rencana kalian semua!"😡
~•~•~•`•~•~
__ADS_1
Gimana nih kabar kalian? Semoga sehat selalu ya. Seneng gak nih Update nya cepet. Jangan lupa like dan komentarnya😉