
(BEGITU RUMIT)
Saat hari sudah malam pun harris mengantarkan aku pulang ke rumah. Sesampainya di rumah dan pada saat aku masuk ke rumah Lim sedang duduk di ruang tamu. Wajah Lim terlihat seperti sedang marah, lalu saat aku masuk dan melewatinya dengan sengaja dia memanggilku.
“Mia, kau darimana saja?” tanyanya kepadaku.
“aku barusan dari rumah harris” jawabku sambil melanjutkan jalan ke kamar.
“kenapa kau pergi tak memberitahuku, seharusnya kau memberitahu suamimu saat kau ingin pergi. Kau tau betapa khawatirnya diriku di sini menunggumu” ucap Lim kesal, lalu aku hanya berdiri diam di tempatku sambil meneteskan air mata.
Tiba tiba seseorang masuk ke rumah kami sambil memanggil namaku,
“Mia, kau melupakan tas mu” ucap seseorang itu yang tak lain adalah harris. Kemudian suasana pun menjadi hening seketika.
“ada apa ini, Mia kenapa kau menangis” ucap harris kepadaku. Lalu harris pun menghadap kearah lim.
__ADS_1
“apa yang kau katakana kepadanya, kenapa kau membuatnya menangis. Apa kau tidak tau dia tadi pingsan di jalan, dan sekarang kau malahan membuatnya menangis” ucap harris kepada Lim.
Seketika wajah Lim pun berubah, dan aku pun mengabaikan mereka berdua dengan langsung pergi ke kamar. Setelah itu aku menidurkan diriku di atas kasur, kemudian seseorang masuk ke kamar. Dan seseorang itu tak Lain adalah Lim sendiri, lalu Lim pun mendekat dan duduk di samping kasur.
“Mia, kenapa sebelumnya kau tidak memberitahuku bahwa kau pingsan di jalan. Sungguh aku minta maaf atas kejadian tadi. Mia apakah masih ada yang sakit biar aku lihat, dimana?” ucapnya dengan lembut.
“aku tidak apa apa, sekarang aku mengentuk. Biarkan aku tidur” jawabku sambil mebalikan badaku ke sisi yang lainnya.
“baiklah, selamat malam” jawabnya.
Keesokan harinya, aku bangun pagi hari dan sedang menyiapkan makanan di dapur. kemudian Lim datang dari atas kamarnya dan langsung duduk di meja makan. tersadar atas diriku sendiri yang di perhatikan diam diam olehnya. Aku pun hanya diam dan tidak berbicara apa pun kepadanya. Lalu Lim membuka mulutnya,
“Mia…” ucapnya.
Mendengar tapi tidak memperdulikanya, aku kemudian berjalan kearah dapur. lalu saat aku sedang memasak di atas kompor, tiba tiba seseorang memeluku dari belakang tubuhku. Saat itu aku mencoba melepaskan tanganya dari tubuhku tapi tanganya begitu kuat.
__ADS_1
“Lim lepaskan aku, aku sedang memasak” ucapku mengeluh dan sambil mecoba melepaskan diriku.
“tidak, sebelum kau memaafkanku aku tidak akan melepaskan mu” jawabnya.
“nanti ada yang melihat” ucapku lagi.
“tenang saja aku sudah menyuruh mereka pergi” jawabnya.
“Lim, lepaskan aku” ucapku lagi sambil memberontak. Kemudian Lim membalikan tubuhku ke arahnya sehingga aku menatap matanya disana.
“Mia dengarkan aku sekali ini saja, maaf aku tidak memahamimu sebelumnya. Aku sungguh minta maaf karena memarahimu kemarin, kumohon bicaralah kepadaku jangan hanya diam” ucapnya dengan wajah menyesal.
“aku tidak marah kepadamu, memang sudah seharusnya kau mengkhawatirkanku. Aku memang salah tak memberitahumu bahwa aku pergi sedirian. Seharusnya aku meberitahumu bahwa aku ingin pergi” jawabku. Lalu Lim menghela nafasnya dang lansung memeluku di sana.
“aku hanya ingin kau tidak terluka, aku khawatir jika sesuatu masalah menimpamu” ucap Lim. Lalu aku pun membalas pelukanya dan aku harap kami tidak akan bertengkar lagi.
__ADS_1
bersambung....