
Setelah selesai berenang dan bersenang senang di bawah air terjun mereka berdua memutuskan untuk ke penginapan yang sudah Carl sewa, Carl enggan pulang ke rumah Dila dengan alasan kedinginan. Dila tidak percaya akan hal itu, mereka saja tidak memakai pakaian yang basah.
"Kamu masuk dulu, aku ingin membeli kopi hangat," ucap Carl.
"Iya… Nomor berapa?"
"13.. Jangan macam macam ya.."
"Apaan sih kamu, mana mungkin aku macam macam." Dila berjalan pergi meninggalkan suaminya.
"Istri yang cantik, ternyata bawahan menikahi nya sesuai dengan apa yang aku bayangkan selama ini. Cantik, seksi, begitu polos, benar benar istri idaman untuk ku." Carl mengatakannya sambil tersenyum.
Tidak hanya kopi, Carl juga membeli beberapa makanan ringan, ia mengerti istri nya paling tidak bisa tidak memakan apa apa, di kamar Dila banget sekali cemilan ringan yang sering Dila makan.
Di dalam kamar yang Carl sewa, Dila memilih untuk membilas badan nya dengan air hangat. Dila tidak lama lama karena ia hanya ingin menghilang rasa dingin di tubuh nya, setelah selesai ia segera memakai handuk kimono yang ada. Hanya di penginapan ia mendapatkan handuk seperti ini.
"Sayang kamu habis apa," tanya Carl.
"Sayang??"
"Salah apa? Kamu istri ku sendiri, emang tidak boleh," ucap Carl.
"Iya boleh," kata Dila sambil tersenyum sendiri melihat suaminya yang salah tingkah.
"Kamu kenapa senyum senyum sendiri. Nah aku belikan jajan." Carl memberikan cemilan yang ia beli tadi pada Dila.
"Makasi mas, kamu tau saja apa yang aku suka," ucap Dila.
Ia mengambil cemilan itu dari tangan Carl. Sebelum tangan nya menyentuh cemilan itu Carl melemparkan nya ke sofa di dekat mereka, dengan cepat Carl berlari mendekati Dila dan melemparkan tubuh mereka berdua ke atas kasur yang empuk.
__ADS_1
"Ahkk.." Dila berteriak dengan keras karena terkejut.
"Hahaha kamu kenapa," tanya Carl.
"Kamu mas, jangan seperti ini. Aku sangat terkejut sekali," jawab Dila.
"Oh iya, sebelum kamu makan cemilan itu, dirimu harus membayarnya terlebih dahulu," ucap Carl.
"Dengan," tanya Dila.
"Tubuh mu," jawab Carl sambil melepaskan pengikat handuk kimono yang Dila kenakan.
Dila langsung deg deg kan seketika, ia tau apa yang Carl maksud. Ini akan menjadi malam kedua mereka berdua, walaupun sudah yang ke dua Dila tetap merasa canggung, ia belum tau harus melakukan apa. Ia hanya bisa seperti batang pisang yang pasrah di bawa kemana saja oleh sang suami.
"Pelan pelan." Dila paling tidak bisa kalau Carl sudah ganas seperti ini, walaupun baru pemanasan rasanya Dila sudah terbang kemana mana.
"Apa lagi sih," tanya Carl.
"Aku kebelet pipis, tidak boleh berhubungan kalau ingin pipis," jawab Dila.
"Ya sudah sana."
Segera Dila langsung berlari ke kamar mandi, ia sudah benar-benar tidak tahan lagi.
Carl mengecek handphone nya selagi menunggu sang istri di dalam kamar mandi. Carl ingin tau bagaimana kabar rumah nya setelah ia tinggalkan beberapa minggu, selama kecelakaan yang menimpa nya Carl tidak pernah pulang ke rumah, bahkan sebelum kecelakaan itu ia sudah pergi meninggalkan rumah seminggu lamanya.
"Hmmm oke, aku akan kembali lusa," ucap Carl.
"Mereka sudah menunggu tuan."
__ADS_1
"Hahaha mereka sudah tidak sabar untuk aku gilir, sayangnya aku sudah tidak selera lagi dengan mereka. Hanya istri ku sekarang yang menjadi tempat ku untuk bersenang-senang," ucap Carl.
"Mas maksud kamu apa sih," tanya Dila yang mendengar itu semua.
Carl meletakkan handphone nya dan langsung berjalan mendekati Dila.
"Apa sayang.. Maksud apa," tanya Carl.
"Kamu gilir satu satu, apa apaan itu."
"Sayang bukan nya aku sudah mengatakan nya pada mu, kamu ratu dari semua ratu," ucap Carl.
"Kamu mempunyai istri lagi selain aku," tanya Dila.
"Sstttt.. Kamu satu satunya yang ada di dalam hati ku." Carl mencium bibir Dila dengan lembut.
"Mas.." Dila mendorong tubuh suaminya.
"Jangan membuat ku marah, hargai kelembutan yang aku berikan pada mu," ucap Carl dengan nada yang lebih tinggi dari biasanya.
Dila langsung ketakutan seketika, melihat Carl seperti ini benar benar menyeramkan untuk nya. Carl tidak pernah sampai seperti ini sebelum nya, ini pertama kalinya Carl menggunakan nada yang cukup tinggi padanya setelah mereka berdua menikah.
"Jangan takut.. Aku tidak akan marah kalau kamu tidak memancing emosi ku," ucap Carl.
Dila mengangguk-angguk kepalanya. Ia tidak akan membuat Carl sampai marah kepada nya.
Carl duduk di atas tempat tidur, ia melepaskan semua apa yang ia gunakan. Mata Dila terbelalak melihat senjata suaminya yang begitu besar nya, ini pertama kalinya ia melihat benda itu dengan jelas.
"Semoga hanya aku yang memiliki nya," batin Dila.
__ADS_1