Cinta Mafia Kejam.

Cinta Mafia Kejam.
Bab 8


__ADS_3

Pagi hari yang cerah telah tiba, hari ini Cari alasan membawa Dila ke Singapura, ada beberapa pekerjaan yang harus ia siapkan di sana, Singapura memiliki jalur perdagangan terbesar di asia, tak heran jika Carl harus ke sana untuk menyelesaikan pekerjaan penting nya.


"Sudah bangun, siap siap ya. Kita akan ke Singapura," ucap Carl.


"Ha?? Keluar negeri," tanya Dila.


"Iya, ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesai kan," jawab Carl.


"Carl aku tida ikut ya, aku di hotel saja menunggu kamu kembali," ucap Dila.


"Tidak bisa, kau harus mengikuti kemanapun aku pergi, di sini tidak ada yang menjaga mu," ujar Carl.


"Ya.. Tapi aku belum mempunyai visa dan paspor," ucap Dila.


"Tenang saja, semuanya sudah aku urus, kau sudah pergi kemana mana sesuai dengan keinginan ku. Data diri mu sudah ada pada ku."


Segera Dila langsung membuka dompet nya dan benar saja semua data dirinya sudah tidak ada. Ia bingung sejak kapan Carl mengambil semuanya.


"Kamu kok bisa mengambil semua data diri ku? Kamu maling ya," tanya Dila.


"Hahaha iya aku calon maling, kau sendiri tidak bisa menyimpan semuanya dengan baik, aku saja dengan mudah untuk mengambil nya. Kalau aku tidak mengambil nya kau tidak akan bisa kemana-mana, jadi berterima kasih lah pada ku," jawab Carl.


"Lalu mana data diri ku," tanya Dila.


"Masih ada di tangan anak buah ku, tenang saja tidak akan disalah gunakan, kalau mereka macam macam akan aku bunuh mereka," ucap Carl.


"Gaya sekali, kamu saja penakut," ujar Dila.


"Hahaha kau tidak penakut, enak saja kau mengatakan aku penakut. Sekarang kau liat di lemari saja, semua pakaian mu sudah datang, bawa beberapa untuk kau ganti, kita juga akan langsung ke rumah orang tua mu, jadi kita tidak kembali ke sini lagi," ucap Carl.


"Jadi setelah dari luar negeri kita langsung ke rumah orang tua ku," tanya Dila.


"Iya bukan nya kau sudah tidak sabar untuk bertemu dengan mereka," jawab Carl.


"Yes.." Dengan penuh semangat Dila berjalan mendekati lemari yang Carl katakan.


"Iya aku yang tidak sabar untuk menikahi mu cantik," batin Carl.


Mata Dila terbelalak melihat pakaian mahal yang tersedia di dalam lemari, beberapa perhiasan juga ada di dalam sana, ia kembali mendekati Carl untuk bertanya apakah ini benar-benar untuk nya atau hanya candaan Carl saja.

__ADS_1


"Carl," ucap Dila.


"Hmmmm, bukan nya mandi malah sibuk sendiri," ujar Carl.


"Itu semua untuk ku," tanya Dila.


"Ya jadi kalau tidak untuk mu untuk siapa lagi," jawab Carl.


"Itu terlalu berlebihan, aku tidak bisa menerima nya."


"Aku kaya raya, segitu tidak ada apa apanya untuk ku, anggap saja ucapan terimakasih ku untuk mu karena kau sudah menolong ku. Sekarang lebih baik kau bersiap siap, tidak lama lagi pesawat kita akan segera terbang," ucap Carl.


"Makasih Carl, kau pria terbaik yang aku temui." Dila mengatakan nya dengan tulus, hal itu membuat jantung Carl berdetak dengan sangat kencang, ia hampir salah tingkah di depan wanita polos ini.


"Iya.. Cepat sana," ucap Carl.


Dila kembali meninggalkan Carl, ia cukup gugup setelah mengatakan kata Terima kasih pada pria itu, ini pertama kalinya ia sedekat ini dengan seorang pria. Hal itu lah yang membuat Dila sedikit gugup.


"Sudah cantik, polos, benar-benar wanita yang aku inginkan," batin Carl.


Setelah mereka berdua selesai bersiap siap mereka pun langsung pergi meninggalkan hotel, keduanya menuju bandara karena penerbangan mereka sudah mepet.


"Maaf, tapi masih sempatkan," tanya Dila.


"Ya masih, sekarang aku lapar, tolong oleskan roti itu dengan selai," ucap Carl.


"Iya, jadi kamu dari tadi sudah lapar.." Dila pun mulai melakukan apa yang Carl inginkan. Ia juga baru sadar di depan nya sedari tadi ada sebungkus roti.


"Aku suapin ya, nanti kamu tida fokus nyetir kalau makan sendiri," ucap Dila.


"Boleh.."


Perlahan Dila mulai menyuapi Carl makan, ini juga pertama kalinya Dila melakukan hal seperti itu dengan seorang pria. Ia tidak memiliki niat lain, selain hanya untuk membantu Carl makan, ia juga takut Carl kehilangan fokus karena makan dan terburu buru.


"Kau makan lah," ucap Carl.


"Nanti setelah kamu," kata Dila.


"Sekarang, kenapa tidak ingin makan satu roti dengan ku? Kau jijik dengan ku? Aku bersih, aku selalu menggosok gigi," ucap Carl.

__ADS_1


"Tidak bukan begitu.."


"Alasan, aku sudah baik pada mu, tapi kau malah seperti ini," ucap Carl.


"Iya aku makan." Dila pun memakan roti yang sama dengan yang Carl makan.


"Hahaha mantap Carl, sekarang hanya roti, lusa pasti kalian akan membuat anak bersama," batin Carl.


Sesampainya di bandara mereka berdua langsung menuju tempat yang sudah disiapkan khusus untuk mereka berdua, Carl selalu menggunakan jet pribadi jika ingin berpergian.


"Sudah siap tuan."


"Bagus, ayo Dila," ucap Carl.


Mereka pun berjalan menuju jet yang sudah siap untuk lepas landas. Dila terkejut dengan semua ini, ia masih penasaran sebenarnya siapa Carl sehingga bisa mempunyai semua ini.


Di dalam keduanya duduk berdampingan, ini kali pertama nya Dila naik pesawat seperti ini. Jadi ini salah satu momen yang cukup mendebarkan bagi Dila. Terlihat dengan jelas dari ekspresi wajah Dila yang gugup.


"Kau sudah pernah naik pesawat," tanya Carl.


"Belum, ini pertama kalinya. Dulu aku hanya naik mobil saat ke pulau ini," jawab Dila.


"Kau takut dan gugup," tanya Carl.


"Iya," jawab Dila.


"Sini.." Carl menarik tangan Dila dan menggenggam nya dengan erat.


"Jangan takut semuanya akan baik-baik saja, tidak ada yang perlu kau takutkan," ucap Carl.


Jet itu pun mulai lepas landas, Dila menggenggam tangan Carl dengan erat, tetapi itu tidak membuat nya lebih tenang. Ia sangat takut sekali, Carl yang paham akan hal itu langsung memeluk Dila dengan erat.


"Jangan takut," ucap Carl.


Dila membalas pelukan itu, ia benar benar sangat takut. Pelukan itu sangat berharga untuk dirinya.


"Terimakasih," ucap Dila.


"Jangan melepaskannya jika kau masih takut."

__ADS_1


"Dia benar-benar ketakutan, beruntung aku bisa memeluk nya seperti ini," batin Carl.


__ADS_2