Cinta Nona Muda

Cinta Nona Muda
Bab 1 Kecelakaan


__ADS_3

"Ciiiit!" Rem mobil berdecit. Seorang perempuan terjatuh di pinggir trotoar, hampir saja terserempet bodi mobil.


Kaca mobil diturunkan, "Kalau jalan lihat-lihat!" bentak Sarah dari dalam mobil yang ditumpanginya.


Terry keluar dari mobil, pria tampan dengan tubuh tegapnya mampu membuat para wanita yang berjalan di trotoar berhenti untuk menatapnya, bukan melihat perempuan yang hampir terserempet mobil. Dia mendekati perempuan yang tersungkur di pinggir trotoar itu. Diuulurkan tanggannya untuk membantunya berdiri. Tapi perempuan itu menolak, ia berusaha untuk mencoba berdiri sendiri dengan bantuan tiang di sebelahnya.


"Apakah kamu baik-baik saja?" Terry bertanya pada perempuan yang memiliki beberapa luka lecet di kaki dan tangannya karena kecelakaan itu. Rambut sepundaknya kusut berantakan menutupi sebagian wajahnya.


Sarah ikut keluar dari mobil karena merasa terganggu, "Terry, sepertinya dia tidak apa-apa. Hanya beberapa luka ringan." Suaranya berubah lembut saat berbicara dengan Terry, jauh berbeda saat tadi ia berteriak pada perempuan itu.


"Nyonya, bagaimana keadaanmu?" Terry bertanya lagi.


Perempuan lusuh di hadapannya masih bergeming, kemudian dengan perlahan ia berdiri sambil berpegangan pada tiang rambu-rambu di sebelahnya. Lalu dirapikan rambut yang tersibak berantakan di wajahnya. Sontak saja membuat Sarah terkejut melihat siapa sosok di depannya.


"Linda? Kamu Linda?" tanya Sarah tak percaya, ia memandangi perempuan di hadapannya dari ujung kaki ke ujung rambut dengan rasa jijik.


Terry ikut mengamati wajah perempuan itu. Memang sekilas mirip dengan mantan tunangannya, tapi ia tak bisa mempercayainya. Perempuan itu begitu kurus dan menyedihkan.


"Benarkah kamu Linda Chen?" Untuk yang ketiga kalinya Terry bertanya dan tak mendapat jawaban dari perempuan yang ternyata benar bernama Linda.


Linda, kakak tiri Sarah, sekaligus mantan tunangan Terry. Penampilannya sekarang sungguh membuat orang tak percaya bahwa itu dirinya, pewaris sah keluarga Chen. Namun dengan pakaiannya yang telah pudar, rambut kusut, kulit kering tak terawat, dan tubuh yang kurus, siapa yang menyangka bahwa dia Linda Chen?


"Linda, ke mana saja kamu selama ini?" suara Sarah melembut untuk menunjukkan rasa iba.


Linda meremas bajunya ketakutan, "aku harus pergi."


"Terimalah ini dan pergilah ke rumah sakit untuk memeriksakan lukamu." Terry mengulurkan beberapa lembar uang.

__ADS_1


"Tidak, terima kasih. Aku tak apa-apa."


"Linda ayolah, setidaknya terimalah uang itu untuk membeli makanan. Aku akan menambahkannya untukmu." Sarah menambahkan beberapa lembar uang dan memaksa Linda untuk menerimanya.


"Terry, kita harus segera pergi." Sarah melihat jam tangannya untuk menunjukkan bahwa waktu mereka terbatas.


"Linda, apa perlu kuantar ke rumah sakit?" Terry merasa kasihan melihat kondisinya.


Melihatnya, Sarah jadi tak sabar dan segera menarik lengan Terry. "Kita bisa ketinggalan pesawat."


Dengan terpaksa, Terry kembali masuk ke mobil dan berkendara menuju bandara. Mereka harus pergi ke Pulau K untuk urusan bisnis. Sedangkan Linda masih berdiri dan menunduk dengan memegang tiang.


Sepanjang perjalanan, Terry masih bertanya-tanya dengan kondisi mantan tunangannya. Apa yang telah terjadi dengannya? Linda memang perempuan rendah diri dan bodoh, tapi bagaimana bisa kondisinya sangat memprihatinkan sekarang. Namun dia masih sama seperti dulu, rendah diri dan bodoh.


"Linda yang malang, tiga tahun lalu dia memutuskan pergi dari rumah dengan pria lain. Aku sungguh kasihan melihat kondisinya tadi." Sarah menoleh ke arah jendela, lalu tersenyum.


Terry diam saja, tak menanggapi ucapan Sarah, pandangannya lurus ke depan sambil memegang kemudi. Yang Terry tahu, beberapa tahun lalu Linda pergi dari rumah keluarga Chen dan memutuskan pertunangannya dengan sepihak. Saat itu posisinya berada di luar negeri. Ia pun tak mengeluhkannya karena dia juga tak menyukai Linda. Pertunangan itu berlangsung karena perjodohan dua keluarga besar Chen dan Huang.


***


Dengan tertatih dia berjalan menuju rumah sakit terdekat. Dia putuskan untuk memakai uang yang ada di genggamannya untuk berobat, sisanya akan dibelikan bahan makanan untuk beberapa hari ke depan karena dengan kondisinya sekarang dia tidak akan bisa bekerja.


Selama ini Linda bekerja serabutan, apa saja akan dilakukannya untuk mendapatkan uang. Menjadi buruh cuci di restoran, menyetrika di laundry, membersihkan rumah tetangganya, dan pekerjaan kasar lainnya. Dia sering diberhentikan dari pekerjaannya karena terlalu ceroboh. Terakhir kali dia memecahkan sejumlah piring saat bekerja di restoran. Gaji tak didapat, justru Linda harus menggantinya dengan sejumlah uang. Semua pekerjaan kasar itu dia lakukan untuk bertahan hidup dan menghidupi pamannya yang sakit, serta keponakan laki-lakinya yang masih kuliah.


Kebodohan dan kecerobohan itu ia dapatkan setelah mengalami kecelakaan. Kecelakaan yang menyebabkannya kehilangan ingatan. Yang tak berubah adalah harga dirinya yang tinggi dan semangat kerja kerasnya meskipun hidup dalam kemiskinan.


"Braak." Tubuh Linda terjatuh tepat di lobi rumah sakit, dia pingsan.

__ADS_1


***


"Kakak, bagaimana keadaanmu? Di mana yang sakit?" Alan nampak khawatir melihat kondisi kakak sepupunya. Dia segera datang setelah menerima telepon dari perawat di rumah sakit.


"Tenanglah, hanya luka ringan."


"Bagaimana mungkin luka ringan, lihatlah perban di kepalamu."


"Ini hanya luka lama yang sedikit terbuka." Linda mencoba menenangkan adiknya. Ternyata kepalanya sempat terbentur yang menimbulkan luka lamanya sedikit terbuka. Luka dari kecelakaan lima tahun lalu yang menyebabkannya kehilangan ingatan.


"Hei, bagaimana kamu bisa di sini?"


"Seseorang meneleponku menggunakan ponselmu, dia mengatakan kakak berada di rumah sakit, lalu aku segera datang ke sini."


"Aku sekarang baik-baik saja. Kamu bisa pulang dan merawat paman. Sekarang sudah waktunya makan malam."


Ayah Alan memiliki tubuh yang kurang sehat, sehari-hari dia bergantung pada Alan untuk merawatnya.


"Aku akan pulang, lalu kembali ke sini untuk membawa baju ganti kakak. Apa yang ingin kakak makan? Aku akan membelikannya nanti."


"Tidak perlu, kakak akan mendapatkan makan yang layak dari sini." ucap Linda menenangkan adiknya.


"Baiklah, Kak. Aku akan segera kembali."


Sepeninggal Alan, Linda mencoba untuk tidur. Dia berharap segera pulih dan bisa kembali bekerja. Namun tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit seperti mau pecah. Keringat dingin membasahi telapak tangan dan kakinya. Linda memejamkan matanya dan terlintas bayangan potongan-potongan peristiwa sebelum kecelakaan lima tahun lalu. Secara tidak sengaja, ingatan Linda telah kembali karena benturan di kepalanya.


Dia masih memejamkan matanya. Air mata menerobos keluar, berlomba dengan memory yang keluar dari kotak ingatannya. Semua menjadi masuk akal, hal-hal yang selama ini di luar jangkauannya karena ingatannya yang hilang.

__ADS_1


Selama Linda kehilangan ingatan, hidupnya menjadi sangat menderita. Adik dan ibu tirinya dengan mudah memutar balik keadaan kemudian mengusirnya dari rumahnya sendiri. Kemudian Linda hidup dengan pamannya yang telah jatuh miskin, berpindah-pindah dari kontrakan satu ke kontrakan lain. Tak sanggup menghadapi tekanan, tubuh pamannya menjadi lemah dan sakit-sakitan.


Linda menatap langit-langit rumah sakit, "betapa menyedihkan hidupku selama ini. Lima tahun sudah cukup untuk kalian."


__ADS_2