Cinta Nona Muda

Cinta Nona Muda
Bab 3 Menghasilkan Uang Dengan Cepat


__ADS_3

"Kakak, apa kamu sudah sarapan?" Alan langsung bertanya saat ia melihat Linda telah bangun.


"Sudah, perawat membangunkanku untuk makan."


"Kupikir kamu butuh istirahat lebih lama, jadi aku pergi ke kampus dulu baru ke sini."


"Aku akan tidur lagi nanti. Lagi pula apa yang bisa kukerjakan di ranjang ini selain makan dan tidur."


"Aku membawakanmu makanan. Apa mau makan sekarang?" tanya Alan sambil duduk di pinggir ranjang.


Belum sempat Linda menjawab, Alan sudah berbicara lagi, "artikelnya telah kuserahkan, aku sudah menerima uangnya. Itu semua berkat kakak, sekarang kakak harus makan yang banyak. Jangan kuatir, Kak."


Linda tersenyum, "Iya, jangan kuatir. Kita tak akan mengalami masalah dengan uang lagi."


Alan tak begitu mengerti apa maksud dari ucapan kakaknya, tapi ia tak bertanya lebih lanjut. "Kakak mau aku suapi?"


"Hahaha ... aku bisa makan sendiri. Kamu sendiri sudah makan?"


"Aku membeli dua. Mari kita makan bersama."


Linda menikmati sarapan ke duanya pagi ini. Sejak ingatannya pulih, nafsu makannya pun membaik. Dia harus segera memulihkan kondisinya, badannya terlalu kurus saat ini.


"Kak, apakah kamu ingin sesuatu? Kita telah mendapatkan uang lima juta dari pekerjaan tadi."


"Boleh kupinjam dulu uangnya?"


"Tentu saja, Kak. Ini adalah uangmu." Alan menjawab dengan cepat meskipun ia tak tau untuk apa uang itu.


Sebelum merebut kembali semua miliknya, Linda berencana mendapatkan uang dengan cepat terlebih dahulu. Tentu saja ia butuh uang untuk menyiapkan segala yang dibutuhkan.


"Terimakasih, aku akan segera mengembalikannya."


"Kamu tak perlu mengembalikannya. Kita adalah keluarga."


Dua kakak beradik itu berpelukan. Rasa bahagia dan haru membuat Linda meneteskan air mata.


"Aku akan keluar dari rumah sakit hari ini." kata Linda sambil melepaskan pelukannya.


"Kamu pulanglah, aku ada urusan yang harus kuselesaikan."


"Baikalah, Kak."


***


Linda nampak jauh lebih baik setelah mendapat perawatan di rumah sakit. Di sana dia mendapatkan makanan yang bergizi dan istirahat yang berkualitas. Setelah keluar dari rumah sakit, ia berjalan ke arah kota.

__ADS_1


Dia berhenti di depan sebuah butik yang menjual gaun pesta. Dilihatnya tubuh kurus dan rambut kusut di pantulan kaca toko.


"Hah, tragis sekali." bisiknya lalu melanjutkan langkahnya menuju sebuah cafe internet.


Jam dinding menunjukkan pukul empat sore ketika Linda duduk di depan komputer di meja paling sudut. Karena tak memiliki komputer, Linda harus menyewa untuk beberapa jam kemudian.


Tak menunggu lama, dia langsung sibuk menghitung angka-angka. Setengah jam angka-angka yang baru telah ia dapatkan kemudian dia mulai rileks.


"Huh, aku terpaksa melakukan cara ini. Mari kita mulai."


Linda membuka sebuah situs judi dan memasang taruhannya. Tidak tanggung-tanggung, seluruh uang yang Alan berikan ia gunakan semuanya.


“Here we go.” Beberapa nomor undian telah dia beli dalam jumlah yang banyak.


Linda membutuhkan persiapan untuk merebut kembali miliknya. Lalu dia terpaksa berjudi karena ini merupakan jalan yang paling cepat sekarang. Bukan tanpa alasan, Linda telah menghitung dan menganalisa nomor yang dia beli. Sembilan puluh sembilan persen, salah satu nomor yang dia beli pasti keluar. Kenapa dia membeli beberapa nomor? Karena dia tak mau pemilik web judi itu curiga dan memblokirnya.


Pukul lima taruhan telah ditutup dan pemenang akan diumumkan pukul enam. Sambil menunggu, Linda mencari beberapa informasi tentang perusahaan peninggalan ayahnya.


"Hah, kalian benar-benar telah lupa daratan." Linda bergumam ketika melihat foto ibu dan adik tirinya di cover web perusahaan.


Ingatannya kembali saat mereka mengusirnya dari rumah, waktu itu Linda masih dalam kondisi lemah dan hilang ingatan. Ia dituduh telah berselingkuh dengan seorang pria. Hal itu membuat mereka malu pada keluarga Chuay. Dengan alasan itu, Linda dipaksa pergi dari rumah dan memutuskan pertunangannya.


“Ayah, maafkan aku yang tak mampu menjaga perusahaan. Tenanglah ayah di surga, aku akan merebutnya kembali.” Tangannya mengepal menahan amarah.


Satu jam bukanlah waktu yang lama. Nomor undian akhirnya keluar dan jackpot!! Senyum terukir di bibirnya, dalam sekejap Linda meraih uang ratusan juta.


“Hallo selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” seorang laki-laki yang agak gemulai menyambut Linda dengan ramah di pintu depan salon. Dulu Linda kecil sering ke tempat ini bersama ibunya. Namun semenjak belajar di luar negeri, ia tak pernah lagi mengunjunginya.


“Aku ingin melakukan perawatan.”


Laki-laki itu spontan melihat Linda dari ujung kaki ke ujung kepala, tapi masih dengan senyum sopan di bibirnya.


“Silahkan duduk, Nyonya. Aku akan membawakan daftar perawatan yang kamu inginkan.”


“Terima kasih.” Linda duduk di sebuah sofa. Para pelanggan dan pegawai salon memandanginya dengan hina. Penampilan Linda memang tak cocok dengan salon perawatan yang dikunjunginya.


“Hei, siapa yang memperbolehkanmu masuk kesini?! Kamu mengotori sofa, keluar!” hardik seorang pegawai wanita.


“Aku hanya ingin melakukan perawatan di sini.”


“Hahaha jangan membuatku tertawa. Keluar sekarang!” teriak wanita itu.


“Clara, apa-apaan kamu? Maafkan kami, Nyonya ... ini daftar perawatan kami.” Ucap laki-laki gemulai itu sambil menyerahkan sebuah daftar beserta harga.


“Aku mau premium class.” Ucap Linda cepat.

__ADS_1


“Hei, tunjukkan uangmu sebelum melakukan perawatan! Kamu hanyalah penipu yang ingin mendapatkan gratisan lalu kabur!”


Linda mengacuhkan wanita bernama Clara itu, “aku akan membayarnya di muka.”


“Saya akan mengantar Anda ke kasir, silahkan.”


Linda mengikutinya dan membayar lunas tagihannya. Hal itu membuat Clara malu dan salah tingkah.


“Aku akan melakukan perawatan setelah dia meminta maaf padaku. Kalau dia menolak, ambil saja uang yang telah kubayar, aku akan pergi dari sini.”


Supervisor salon mendengarnya dan memarahi Clara di depan para pelanggan.


“Maafkan saya, Nyonya. Saya sungguh menyesal.” Ucap Clara ketakutan karena terancam kehilangan pekerjaan.


“Jangan suka menilai orang dari penampilan luar.” Ucap Linda lalu meninggalkannya menuju ruang treatment.


***


Alan dengan gelisah mondar-mandir di ruang kontrakannya yang sempit. Sudah pukul sepuluh malam tapi kakaknya belum juga pulang. Saat mendengar pintu rumah dibuka, Alan segera melompat ke arah pintu.


"Kak, dari mana saja kamu? Harusnya-" Alan tak melanjutkan kata-katanya, tekejut melihat kakaknya di bawah lampu remang-remang.


Linda masuk ke dalam rumah dengan membawa beberapa kantong makanan. "Kamu sudah makan belum? Aku membeli makanan."


"Kakak, kamu cantik sekali." Alan tak percaya melihat kakaknya yang telah merubah gaya rambutnya. Rambut ikal lurus sebahu yang terlihat jauh lebih halus dari sebelumnya.


"Kubelikan kamu makan enak. Kemarilah!" Linda membuka makanan yang ia beli.


"Apa paman sudah tidur?"


"Iya Kak, ayah terus saja menanyakanmu." jawab Alan sambil menikmati makanan, "ah, ini enak sekali kak."


"Mulai sekarang kamu bisa makan apa pun yang kamu inginkan, jangan menahan lapar lagi."


Ucapan Linda dalam sekali. Mereka memang sering menahan lapar karena tak memiliki uang.


"Uang yang aku pinjam tadi sudah kukembalikan di rekeningmu. Pakailah untuk kebutuhanmu."


"Tapi Kak, beberapa hari lagi waktunya membayar kontrakan."


"Biar aku yang urus, kamu fokuslah belajar."


"Mana bisa begitu, Kak! Pakailah uangku untuk membayar."


"Alan, ingatan kakakmu sudah kembali. Kita tidak akan kekurangan uang mulai sekarang. Percayalah padaku."

__ADS_1


Ucapan Linda menenangkan Alan. Meskipun Alan tak tahu bagaimana caranya, tapi ia tak meragukan kakaknya sedikit pun. Ia yakin bila kakaknya adalah wanita yang luar biasa.


"Aku percaya, Kak."


__ADS_2