
"Dok dok dok." Pagi-pagi sekali pintu rumah digedor dengan keras dari luar.
Alan berlari membuka pintu karena takut pintunya rusak, maka dia harus mengeluarkan uang lagi untuk memperbaikinya.
"Tuan pemilik kontrakan, ada apa?" tanya Alan keheranan.
"Rumah ini sudah terjual, kalian harus pindah sekarang." ucapnya santai.
"Tapi kami sudah menyiapkan uang untuk bulan ini."
"Tidak perlu. Kalian harus pergi sekarang."
"Tolong beri kami waktu sampai kami mendapatkan tempat lagi." Alan memohon karena mustahil baginya untuk mendapatkan kontrakan baru saat ini juga.
"Ada apa, Alan?" tanya Linda sambil berjalan mendekatinya.
"Kakak, kita harus pindah."
Linda menatap tajam pemilik kontrakan, "siapa yang menyuruhmu?"
"Tidak ada. Rumah ini sudah terjual, kalian harus pindah sekarang."
Linda meraih kerah baju laki-laki itu, "dengar, kamu akan menerima ganjaran atas perbuatanmu ini!"
Pemilik kontrakan tiba-tiba merasa takut dengan ancaman Linda, tatapannya begitu mengintimidasi, "lepaskan aku!"
"Kamu bisa semena-mena pada kami sekarang. Tunggulah nanti nasib buruk menunggumu."
"Ku- ku- kuberi waktu kalian sampai besok. Jangan katakan aku tidak berbaik hati." ucapnya terbata-bata ketakutan.
"Kami akan pergi sekarang. Katakan siapa yang menyuruhmu!"
"Seorang wanita muda telah membeli rumah ini dengan syarat kalian harus pergi pagi ini juga."
Linda melepaskan cengkeramannya, "Berbenahlah, aku harus mengurus sesuatu. Bawa seperlunya saja." kata Linda pada Alan lalu pergi meninggalkannya yang masih tak percaya dengan apa yang ia alami barusan.
Linda menghentikan sebuah taxi kosong, "Ke Boulevard no 1." ucapnya pada sopir. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.
Sebetulnya Linda tak terburu-buru untuk merebut kembali rumah miliknya. Tapi ternyata mereka sendiri yang mendorongnya untuk melakukan hal itu secepatnya. Dia yakin ini adalah ulah adik tirinya.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah bernuansa barat. Pintu gerbang yang tinggi menghalangi pemandangan di dalam.
"Siapa Anda? Ada keperluan apa?" tanya penjaga gerbang.
"Kamu pegawai baru?" tanya Linda.
"Tidak, aku sudah tiga tahun di sini."
Linda keluar dari rumah ini lima tahun yang lalu. Jadi wajar saja bila penjaga itu tidak mengenalinya.
"Namaku Cerry Chen."
"Chen, apakah Anda saudara keluarga Chen?"
"Aku putri pertama dari keluarga Chen."
Penjaga gerbang melihat Cherry dengan saksama. Iya ragu dengan perkataan Cherry.
"Aku akan mengambil alih rumah ini. Kelak aku juga akan memilih pegawai mana yang harus kupertahankan dan mana yang harus kupecat."
__ADS_1
Mendengar perkataan Linda yang berwibawa, membuat penjaga gerbang percaya bahwa Cherry adalah bagian dari keluarga Chen. Meskipun ia tak yakin dengan cerita itu, tapi ia cukup takut untuk kehilangan pekerjaannya bila hal yang dikatakannya benar.
"Aku akan membukakan pintu." Penjaga membuka pintu dan Cherry masuk ke halaman rumahnya yang luas. Dipandanginya suasana rumah yang tak jauh berbeda saat ia masih tinggal di sana, hanya beberapa tatanan kebun yang berubah.
"Aku akan mengambil kembali milikku." Cherry melangkah menuju rumah dan duduk di sofa ruang utama.
"Siapa kamu?" tanya seorang pelayan wanita saat melihat Cherry.
"Aku Cherry Chen. Di mana Norah?"
"Berani sekali kamu mencari nyonya! Lihat dirimu, berkacalah sebelum masuk rumah ini!"
Cherry memang hanya memakai pakaiannya sehari-hari, jauh dari kata layak.
"Siapa namamu?" tanya Cherry.
"Kamu ingat-ingat, ya! Namaku Bella."
"Bella, kamu orang pertama yang akan kupecat."
"Hahaha... imajinasimu tinggi sekali." Bella mencemooh Linda.
"Bella, kenapa kamu tertawa keras sekali?" tanya pegawai perempuan lain dari arah dapur dengan setengah berbisik.
"Kepala pelayan, ada orang gila di sini. Katanya dia akan memecatku."
"Nona, kamu mencari siapa?" tanya pegawai perempuan yang disebut kepala pelayan.
"Katakan pada Norah, Cherry Chen di sini." ucap Cherry tenang.
"Nona Cherry?! Ini saya Emil." ucapnya.
"Baik, akan saya panggilkan Nyonya di atas." Emil segera berlari menuju lantai atas.
Bella kebingungan melihat reaksi Emil, dia memang sudah lama bekerja di rumah ini sehingga dipercaya sebagai kepala pelayan. Belum habis rasa ingin tahunya, Norah, ibu tiri Cherry telah berdiri di atas tangga.
"Wah, ada tamu tak diundang." ucapnya sambil berjalan menuruni tangga.
"Apa yang membawamu ke sini?"
"Aku hanya ingin mengambil apa yang menjadi milikku."
Norah tertawa melihat kekonyolan Cherry, "Kamu telah mempermalukan nama keluarga Chen. Kabur dengan laki-laki lain dan memutuskan pertunangan. Masih berani datang ke mari?"
"Ayolah, kamu tahu apa yang terjadi. Jangan bersandiwara lagi."
Norah terkejut dengan sikap Cherry. Dulu begitu mudah ia bisa dipermainkan dengan permainan kata. Ia mulai menyadari bahwa Cherry sudah mendapatkan ingatannya kembali.
"Aku tak menerimamu di sini. Keluar sekarang!" perintah Norah.
"Kamu yang harus keluar." ucap Cherry santai.
"Kalian--" menunjuk pegawai wanita, "panggil petugas keamanan!"
"Norah, sudah cukup lama kamu menikmati apa yang bukan milikmu. Sekarang waktunya sudah berakhir."
"Apa yang membuatmu begitu percaya diri? Kamu sekarang bukanlah siapa-siapa."
"Aku masih tetap Cherry Chen, pewaris satu-satunya keluarga Chen."
__ADS_1
"Hahaha... kupikir kamu sudah sembuh, ternyata aku salah. Pergilah berobat ke rumah sakit, aku akan memberimu uang."
Tiga orang penjaga keamanan, salah satunya yang membukakan pintu gerbang, telah masuk ke ruang utama.
"Nyonya, apa yang harus kami lakukan?"
"Bawa pergi wanita rendahan itu! Tunggu dulu, siapa yang membiarkannya masuk?"
Penjaga itu terlihat kaget, tapi dengan berani ia mengakuinya, "saya, Nyonya."
"Berani sekali kamu! Kupecat kamu sekarang juga! Usir mereka keluar!" ucap Norah penuh amarah.
"Tunggu, biarkan aku bicara sebentar." Linda menahan gerakan petugas keamanan. "Aku adalah putri pertama dari keluarga Chen. Norah adalah ibu tiriku, dia tidak berhak sepeser pun atas peninggalan ayahku, termasuk rumah ini. Sekarang, biarkan dia membuktikan kepemilikannya atas rumah ini. Bila dia memilikinya, tanpa dipaksa aku akan keluar dari rumah ini."
"Apa yang kamu bicarakan? Bertahun-tahun aku telah tinggal di sini. Tentu saja ini milikku."
"Tunjukkan saja buktinya." kata Linda.
"Berani-beraninya kamu menjebakku! Kalian -- cepat seret dia keluar!"
Para petugas keamanan saling berpandangan. Salah satu rekannya baru saja dipecat, bila mereka salah mengambil tindakan, tak menutup kemungkinan mereka juga akan dipecat, "Nyonya, tolong tunjukkan saja buktinya."
"Berani-beraninya kalian membantah! Kupecat kalian sekarang!"
"Tiga orang petugas keamanan telah kamu pecat. Baiklah, maukah kalian bekerja untukku sekarang? Aku membutuhkan bantuan kalian." Linda menatap tiga orang laki-laki berbadan tegap itu. Mereka saling berpandangan, kemudian mengangguk.
"Kami akan bekerja untuk Nona." kata salah satu dari mereka.
"Kalian pengkhianat!" Teriak Norah mulai resah. Dia tidak bisa membuktikan bahwa rumah ini miliknya karena dia tidak pernah menemukan surat kepemilikan rumah. Bahkan ia telah mencarinya selama bertahun-tahun, tapi usahanya sia-sia.
"Norah, kamu mau tahu di mana surat rumah ini? Ayo ikuti aku. Kalian juga ikut sebagai saksi." Linda berjalan menuju ruang kerja ayahnya.
Kondisi ruang kerjanya tak banyak berubah. Meja, rak buku, perabot dan lukisan kesayangan ayahnya masih di tempat yang sama. Linda berjalan menuju sebuah lukisan yang paling besar, ia jongkok di bawahnya dan memukul dinding yang paling bawah. Karena tak terjadi apa-apa, Linda mengambil patung kecil di sebelahnya dan memukulkannya sekali lagi. Lalu dinding itu retak. Linda membuka retakan dinding menjadi lebih lebar. Lalu ia memencet tombol merah yang tersembunyi di dalamnya. Kemudian sebuah pintu rahasia di sebelah lukisan terbuka. Tempat itu lebih mirip brankas kecil.
Semua orang yang ada di dalam ruangan takjub melihatnya. Linda mengambil tumpukan kertas di dalamnya dan menunjukkan satu lembar yang ia butuhkan.
"Surat kepemilikan rumah ini atas namaku." ucapnya sambil menunjukkan pada penjaga keamanan.
"Jadi, kamu boleh pergi sekarang, Norah."
"Ini tipuan! Kamu menipuku! Aku adalah nyonya rumah di sini!" Norah nampak sangat emosi.
"Tolong, kalian bawa dia keluar."
"Baik, Nona." Para penjaga bersiap memegang tangan Norah.
"Aku akan pergi. Akan kuambil barang-barangku." tanpa menunggu persetujuan Cherry, Norah bergegas menuju kamarnya.
"Kalian ikuti dia, jangan sampai dia mengambil apa yang bukan miliknya."
Norah begitu geram mendengar perkataan Cherry. Secepatnya ia mengemasi pakaian dan beberapa dokumen dengan diawasi para penjaga.
Tak lama kemudian Norah keluar membawa dua koper besar.
"Tunggu saja pembalasanku, ini belum berakhir Cherry!"
"Ah iya, katakan pada anakmu tercinta. Dia tak perlu masuk ke rumah ini lagi. Aku yang akan mengemasi barangnya. Dia bisa mengambilnya di pos jaga pintu gerbang."
"Kamu --" Norah berjalan keluar dengan terus melontarkan sumpah serapah.
__ADS_1
"Baiklah. Tolong semua pegawai berkumpul di sini." ucap Cherry dengan penuh wibawa. Mendengar itu, Bella harus bersiap pula untuk pergi dari rumah ini.