Cinta Nona Muda

Cinta Nona Muda
Bab 4 Terry Huang


__ADS_3

"Tuan, wanita itu adalah Nona Linda. Selama ini dia tinggal bersama pamannya di perkampungan kumuh. Hari ini dia akan keluar dari rumah sakit. Apa yang harus saya lakukan selanjutnya Tuan?" Luis melaporkan apa yang ingin diketahuinya tuannya, Terry.


Terry memasukkan sejumlah uang ke dalam amplop coklat.


"Berikan ini padanya. Aku hanya kasihan melihat kondisinya seperti itu."


"Baik, Tuan." Luis mengambil amplop di meja dan beranjak keluar.


"Luis." Terry menghentikan langkah Luis.


"Berikan amplop itu pada pamannya."


"Baik, Tuan." Luis keluar dari ruangan.


Mengingat kejadian kemarin, Terry yakin kalau Linda akan menolak uang pemberiannya. Lebih baik mamberikan uang itu lewat pamannya.


Meskipun Terry tak begitu mengenal Linda, tapi mereka sempat bertemu beberapa kali setelah acara pertunangan itu dilaksanakan. Hanya sebatas makan malam bersama, tak lebih. Kesan yang ditinggalkan Linda pun begitu buruk, kabur dengan pacarnya. Tapi, Terry begitu iba mengetahui mantan tunangannya yang pasti sedang membutuhkan uang saat ini.


"Terry, kau membuatku menunggu lagi. Untung saja sekretarismu cantik, kalau tidak aku pasti akan bosan." protes seorang pria dengan setelan jas hitamnya yang masuk tanpa mengetuk pintu. Laki-laki itu berwajah latin dengan hidung mancung dan rahang yang tegas, di tangannya memegang segelas minuman yang tinggal setengah.


"Apa yang membuatmu menungguku, Marco?" Terry terkekeh melihat tinggah kawannya.


"Tidak ada, aku hanya bosan." Marco menghempaskan tubuhnya di sofa.


Terry menghampiri rak kaca yang dipenuhi botol minuman yang berjejer. Diambilnya botol yang telah sedikit berkurang isinya dan sebuah gelas kosong.


"Pagi ini aku dikejutkan oleh seseorang. Dia mampu menyelesaikan 100 artikel dalam sehari. Artikelnya sempurna." kata Marco.


"Benarkah? Siapa dia?"


"Kakak dari salah satu penulis lepasku. Suatu hari aku akan merekrutnya menjadi pegawaiku."


"Kenapa tidak sekarang?" tanya Terry santai.


"Sepertinya dia masih sakit atau semacamnya. Aku akan menemuinya dalam waktu dekat. Dalam kondisi sakit dia bisa mengerjakan artikel itu, tentu dia luar biasa." Marco bercerita sambil menyesap minumannya, "bagaimana rencana pernikahanmu?"


Terry memainkan gelas minumannya, lalu ikut duduk di sofa.


"Aku tidak berminat. Biarkan mereka yang mengatur."


"Kenapa mau menikahi wanita yang tak kamu cinta?"

__ADS_1


"Itu tak penting."


"Jangan bilang kamu tak suka wanita." Marco menggoda kawannya yang memang sejak dulu belum pernah dekat dengan wanita kecuali terpaksa karena dijodohkan orang tuanya.


"Urus dirimu sendiri." Terry meneguk habis minuman di tangannya.


Marco terkekeh melihat reaksi dingin kawannya. Mereka berdua telah berteman lama dan merupakan CEO di perusahaannya masing-masing. Marco berjaya di media dan Terry sukses dengan bisnis retailnya yang tersebar hampir di seluruh negara.


"Aku akan menikahi wanita yang kucintai." ucap Marco sambil menerawang gelas kacanya yang telah kosong.


"Kau mencintai semua wanita."


"Ayolah, Terry ... aku tak serius dengan mereka. Aku yakin suatu saat akan menemukan seorang wanita yang bisa mencintaiku setulus hati."


"Kamu terlalu banyak nonton drama."


Marco hidupnya dikelilingi artis dan selebritis, selalu berganti pasangan saat mendatangi pesta. Wajahnya yang tampan, juga postur tubuhnya yang tinggi dan tegap membuatnya didekati banyak wanita. Tak heran bila hal itu membuatnya dicap sebagai playboy.


"Kriing kriing kriing ..." telepon di meja kerja Terry berbunyi.


Dia memencet tombol loudspeaker, "Ya, Criss."


"Nona Sarah ingin bertemu dengan Anda." ucap sekretaris Terry dari seberang telepon.


"Baik, Tuan."


Marco menatap kawannya, Terry berbicara tanpa ekspresi. Bila Marco tidak berada di dalam ruangan, akan sedikit sulit mengetahui dia sedang berbohong atau tidak.


"Sarah lumayan cantik." ucap Marco.


"Untukmu kalau kamu mau."


"Dia bukan seleraku, terlalu glamour seperti artis-artis yang mengejarku tiap hari."


"Kling kling." sebuah pesan masuk ke ponsel Terry.


[Sayang, apakah rapatnya masih lama? Aku menunggumu.]


Terry tak menghiraukan pesan yang muncul di layar ponselnya.


"Apa kita lanjut minum di bar?" tanya Marco.

__ADS_1


"Tunggu perempuan itu pergi."


"Apa perlu aku yang membuatnya pergi?"


"Terserah."


"Tunggulah di sini." Marco menuju pintu beranjak ke luar ruangan. Dia melihat Sarah sedang memainkan ponselnya dengan cemberut.


"Hai Sarah, kamu sedang menunggu Terry? Dia masih ada rapat." ucap Marco.


"Apa masih lama?" tanya Sarah kecewa, ia pikir Marco keluar karena rapatnya telah usai.


"Sepertinya begitu. Aku sampai kelelahan dan mau menghirup udara segar di luar sebentar." Marco menahan senyum karena merasa konyol, "hari ini pun aku akan melewatkan acara peresmian butik C di kawasan distrik."


"Benarkah? Sayang sekali. Gaun limited editionnya benar-benar jadi rebutan." ucap Sarah sambil mengingat bulan lalu ia tak mendapatkan gaun itu karena ibunya tak mau memberikannya uang.


"Kenapa kamu tak pergi ke sana sekarang?"


"Tidak, aku akan menunggu Terry."


Sarah menolak karena sekarang pun dia tak punya uang untuk membeli gaun yang harganya sama dengan sebuah mobil sport. Ibunya bisa marah besar bila ia merengek meminta gaun lagi.


"Apa yang kamu ragukan? Terry memiliki saham di butik itu. Pilihlah gaun yang kamu suka, kamu adalah tunangannya."


Sarah terkejut karena belum tau akan hal itu. Tapi ia akan merasa malu bila Marco mengetahuinya.


"Tentu saja Marco, Terry selalu memanjakanku. Baiklah, karena rapat masih lama sepertinya aku tinggal saja. Aku akan ke butik C. Bye, Marco." Sarah melangkah pergi dengan hati senang. Dia berpikir akhirnya bisa memamerkan diri ketika memakai gaun yang diimpikan semua wanita kelas atas.


Marco segera kembali masuk ke ruangan Terry, "dia sudah pergi. Mudah sekali kan hahaha ..."


Terry hanya diam, tak ingin tau apa yang Marco katakan pada Sarah.


"Apa kamu tidak menghadiri peresmian butik C di distrik 5?" Tanya Marco.


"Berterima kasihlah aku meluangkan waktuku untuk minum denganmu."


"Hahaha ... kamu juga perlu berterima kasih padaku karena telah menjauhkanmu dari wanita itu. Tapi sebetulnya kamu bisa menolak pertunangan itu dengan mudah. Apa yang membuatmu mau menerimanya?"


Terry tak mau menjawab pertanyaan Marco, bagaimana mungkin dia akan jujur tentang dirinya yang belum pernah mencintai perempuan. Selama ini dia gila kerja, tidak ada waktu untuk mendekati perempuan yang konon sangat sulit ditebak isi hatinya. Sarah adalah tunangan keduanya setelah pertunangan pertamanya berakhir. Tapi sampai sekarang, belum ada rasa cinta untuknya atau pun wanita lain.


"Kalau kamu masih ingin ke bar, sebaiknya tutup mulutmu."

__ADS_1


"Baiklah Terry, ayo kita pergi sekarang."


Keduanya berjalan berdampingan menuju lift. Sungguh dua pria yang rupawan dengan tubuh bidang. Marco dengan wajah latinnya yang membuat banyak perempuan mengejarnya dan Terry dengan wajah asia yang menawan. Belum ada seorang wanita pun yang mampu meluluhkan hatinya.


__ADS_2