
Kakakku luar biasa
"Maaf, apa aku membangunkanmu?" Alan kembali ke rumah sakit dengan membawa bungkusan kecil di tangannya.
Linda yang terbangun karena kedatangan Alan tidak merasa terganggu sedikit pun, ia justru senang melihat adik sepupunya.
"Apa yang kamu bawa?"
"Aku membelikan bubur ayam kesukaanmu. Kamu mau makan?"
"Tentu saja." Linda harus memulihkan kondisinya dengan cepat. Dibantu Alan, Linda menghabiskan makanannya.
"Kak, nafsu makanmu lumayan juga. Biasanya kamu susah sekali makan, seperti anak kecil."
"Benarkah?" Linda tersenyum.
Bila ingatannya belum pulih, Linda pastinya akan menolak makanan itu dan gelisah memikirkan apa yang harus dikerjakannya bila telah sembuh nanti. Tapi kini ingatannya sebelum kecelakaan lima tahun yang lalu telah kembali, semua akan berubah.
"Kakak istirahatlah, aku akan tinggal di sini menemanimu."
"Bagaimana dengan Paman?"
"Ayah sudah tidur. Dia menyuruhku untuk tinggal di sini, esok pagi-pagi aku akan pulang."
Linda merasa beruntung memiliki keluarga seperti pamannya dan Alan. Mereka yang selama ini bersedia menerimanya. Meskipun hidup dalam kemiskinan, tapi dia tidak akan pernah merasa sendirian.
"Apakah kamu memiliki tugas kuliah?" tanya Linda saat melihat Alan mengeluarkan beberapa buku dan sebuah laptop. Saat ini Alan tengah menjalani kuliah di semester akhir.
"Seorang teman memberiku pekerjaan, Kak. Aku bisa mendapatkan sedikit uang dengan menyelesaikannya. Dia meminjamkan laptopnya padaku."
"Kamu fokuslah belajar, biar Kakak yang bekerja."
"Temanku memberikannya padaku karena dia terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan." Alan sedikit berbohong, temannya mempercayakan pekerjaan ini karena yakin Alan mampu mengatasinya.
Linda memperhatikan adiknya yang tengah fokus mengerjakan pekerjaannya di laptop. Alan berada tepat di sampingnya sehingga memungkinkan bagi Linda melihat layar laptop dari ranjang tempatnya berbaring.
"Apakah kamu mengalami kesulitan?" tanya Linda ketika melihat Alan hanya memandangi layar monitornya.
"Yah, sepertinya aku kurang referensi untuk menyelesaikannya." Alan menarik nafas panjang, "aku harus membaca beberapa buku lagi."
"Boleh kupinjam laptopnya?"
"Untuk apa, Kak?"
"Biarkan aku coba membantumu. Kamu bisa membaca buku sekarang." ucap Linda sambil membenahi posisi duduknya di ranjang.
Meskipun ragu, Alan memberikan laptopnya pada Linda. Dia tidak mungkin menolak permintaan kakaknya meski hal itu dirasanya berat. Keraguan Alan tentu saja masuk akal, selama ini Alan tidak pernah melihat kakaknya mengoperasikan laptop, bahkan tak pernah dilihatnya dia membaca buku. Jadi bagaimana dia bisa membantunya?
Alan mulai membaca bukunya, di sela-sela dia mengintip Linda yang sedang melakukan stretching ringan pada bahunya. Hal itu membuat Alan tersenyum geli, dia tak mengerti apa yang telah terjadi pada kakaknya.
__ADS_1
Sudah lama sekali Linda tak memegang benda pipih yang ada di hadapannya. Beberapa tahun terakir ini dia hanya berkutat dengan kain lap. Sedikit canggung dan kaku, jemarinya bergerak pelan menyentuh keyboard, menggerakkan kursor. Jemarinya bergerak semakin cepat membentuk irama. Wajah Linda berubah serius, menandakan dia sedang berfikir.
"Berapa kata yang dibutuhkan untuk artikel ini?" tanya Linda setelah beberapa menit berlalu.
"Seribu kata."
"Kamu bisa melihatnya."
Alan tak mengerti apa yang dibicarakan kakaknya, tapi ia menurut saja dan melihat layar laptop.
Beberapa saat Alan terpaku, wajahnya menunjukkan ekspresi takjub tak percaya, "Kak, bagaimana mungkin kamu menyelesaikan artikel ini begitu cepat? Aku kesulitan membuatnya dan perlu membaca beberapa buku untuk referensi."
"Ingatanku telah kembali."
"Benarkah? Kapan, bagaimana, Kak?" Alan memeluk Linda, tak kuasa menahan bahagia atas kesembuhan kakaknya. Begitu banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan.
Setelah beberapa saat, Alan melepaskan pelukannya untuk membiarkan Linda bicara, "ceritakan padaku, Kak." pintanya.
"Sepertinya benturan di kepalaku ini secara tak sengaja membuat ingatanku kembali." Linda tersenyum hangat, "semua akan baik-baik saja. Mulai sekarang kita tidak akan hidup miskin lagi." Linda menggenggam tangan Alan.
"Bagaimana caranya, Kak? Ah--" Seperti tersadarkan dari lamunan, Alan teringat sesuatu. "Aku harus segera menyelesaikan artikel yang lain sebelum deadline untuk segera mendapatkan uang." lanjutnya.
"Masih ada yang lain?"
"Banyak, Kak. Temanku memberi pekerjaan 100 artikel untuk diselesaikan dalam waktu satu minggu. Artikel yang kakak buat tadi adalah artikel pertama."
"Baiklah, mari kita bekerja."
"Aku bantu kamu mengerjakannya."
"Tapi, Kak. Kita hanya ada satu laptop." mata Alan menerawang menunjukkan penyesalan.
"Kamu istirahatlah dulu, nanti kita gantian."
"Baiklah, Kak. Jangan memaksakan diri, kamu belum sehat betul."
"Tenanglah." Linda mengacak rambut Alan dengan lembut. Kemudian Alan duduk di kursi sebelah ranjang, mengamati Linda yang tengah menatap layar monitor.
"Semua kata kunci ada di folder x." Alan menjelaskan.
"Oke."
Alan masih memperhatiakan Linda yang begitu tenang, jemarinya menari dengan lincah, menuangkan isi kepalanya dalam tulisan. Pertanyaannya tentang kakaknya belum ada yang terjawab.
Dulu Linda mengambil study di luar negeri cukup lama, jadi mereka tak mengenal satu sama lain. Alan baru mengenal Linda setelah dia diusir dari rumahnya. Ayahnya, adik dari ayah Linda, membawanya pulang. Nasib mereka tak jauh beda, jatuh miskin karena dijebak ibu tiri Linda.
Yang Alan tahu, tak lama setelah Linda kembali ke tanah air, dia mengalami kecelakaan mobil yang mengakibatkan hilang ingatan. Karena khawatir dengan kondisinya, ayah Linda menjodohkannya dengan Terry putra keluarga Chuay. Belum sampai menikah, ayah Linda meninggal dunia. Sepeninggal ayahnya, ibu tirinya berbuat semaunya. Linda yang lemah dan bodoh hanya bisa menerima dan pergi dari rumahnya sendiri.
Selama ini Alan mengenal Linda yang ceroboh dan bodoh. Sekarang, saat melihat kakaknya tengah fokus, Alan bertanya-tanya dalam hatinya, "sebetulnya bagaimana kakakku yang dulu?"
__ADS_1
Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Beberapa kali Alan menanyakan keadaan Linda, ia khawatir karena kondisi kakaknya masih belum sehat. Sambil menunggu, Alan membaca buku dan tanpa disadari ia tertidur di kursi.
"Alan, kelak kamu harus bahagia." Linda memandang wajah adiknya yang tampak kelelahan, kemudian ia terus menggerakkan jarinya di atas keyboard, menuangkan isi otaknya yang telah lama membeku.
Linda tak mengalami kesulitan yang berarti saat mengerjakannya, hanya sesekali kepalanya terasa sakit. Mungkin kondisinya memang belum fit seratus persen, tapi suasana hatinya dalam keadaan yang baik.
"Ah, apakah aku tertidur?!" Alan berjingkat dari posisi tidurnya.
Linda tersenyum, matanya terlihat sayu karena begadang semalaman.
"Kakak, maafkan aku! Kenapa kamu tak membangunkaku? Ini sudah jam enam pagi!" ucapnya sambil melihat jam dinding.
Linda merenggangkan bahunya, "kamu perlu istirahat. Tenang saja, semua pekerjaan telah kuselesaikan."
"Semua?" Alan bertanya tak percaya.
"Iya, kamu bisa mengeceknya dulu." Linda menyerahkan laptop pada Alan.
Alan masih tak percaya dibuatnya, kakaknya benar-benar telah menyelesaikan membuat seratus artikel dalam semalam.
"Kakak, kamu sungguh luar biasa."
"Aku ngantuk sekali." Linda bicara sambil menguap.
"Kakak harus tidur." Alan membantu Linda memposisikan tubuhnya untuk berbaring.
"Nanti jangan lupa pulang untuk melihat Paman."
"Tentu saja Kak, jangan kuatir. Aku tak akan membangunkanmu saat pergi nanti."
Dengan cepat Linda sudah terlelap. Sedangkan Alan masih terperangah melihat hasil kerja kakaknya. Saat membaca tulisan-tulisan kakaknya, beberapa kali ia melihat wajah kakaknya yang sedang tidur. Dalam waktu kurang dari sepuluh jam, bagaimana bisa dia menyelesaikan seratus artikel.
"Ini mustahil." gumam Alan sambil mengirimkan artikel-artikel itu lewat email.
Setelah semua file dikirim, Alan keluar ruangan dengan perlahan supaya tak membangunkan kakaknya. Dia harus harus segera pulang untuk menyiapkan sarapan ayahnya.
Ponselnya bergetar tepat setelah pintu ditutup.
"Hallo, Marco." Alan menjawab panggilan teleponnya.
"Benar-benar luar biasa! Aku tak salah menilaimu, kamu memang yang terbaik. Seratus artikel dalam sehari, luar biasa!"
Sebenarnya diselesaikan hanya semalam, tapi memang Marco memberikan pekerjaan itu saat siang hari.
"Sebenarnya kakakku yang mengerjakannya." ucap Alan sambil terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
"Kakakmu pasti hebat sekali, kamu harus mengenalkannya padaku."
"Tentu saja, tapi sekarang dia masih sakit."
__ADS_1
"Baiklah. Uangnya sudah kutransfer ke rekeningmu."
"Oke, terimakasih." Alan menjadi lebih bersemangat, langkahnya makin cepat untuk segera sampai ke rumah.