
Kemudian Erlin bertanya kepada Lica.
"Apakah kamu baik baik saja?" Lica pun mengangguk dan semua orang menerus kan makan nya tapi Reta kehilangan nafsu makan nya hanya ayah nya menyadari kecemburuan Reta.
"Erlin! bagaimana kalau kamu dan Reta berteman, siapa tahu nanti kalian jodoh" ucap Andi sambil memandangi wajah Reta yang tersenyum, Erlin menghenti kan makan nya lalu memandangi Reta kemudian.
"Reta! aku bisa menjadi Kaka mu dan kita juga bisa menjadi sahabat, tapi untuk menikah aku tidak bisa karna aku mencintai wanita lain" sahut Erlin dengan lembut sambil Erlin melihat ke arah Lica yang sedang makan seolah tidak mendengar kan apa yang di katakan Erlin, di saat yang sama mata Reta dan Andi juga memandang ke arah Lica tapi Lica tidak menyadari nya dia sedang pokus memotong daging steak di depan nya karna kesulitan Erlin pun berkata.
"Sini aku bantu" kemudian Erlin yang memotong daging steak dan menyuapi Lica, kelakuan mereka berdua terlihat sangat mesra dari sudut pandang Reta, membuat Reta sangat cemburu lalu Reta melemparkan sendok nya ke lantai kemudian pergi tanpa pamit lalu Andi menyusul Reta dan meninggal kan Erlin tanpa pamit juga, Erlin memahami situasi nya tapi Lica tidak sehingga Lica bertanya.
"Apa yang terjadi? dan mengapa mereka pergi?"
"Entah lah! apakah penting untuk di ketahui?" jawab Erlin dengan senyuman manis kepada Lica, Lica menggelengkan kepala nya, selesai makan Erlin mengantar kan Lica pulang ke rumahnya dan Erlin pergi ke kantor nya lagi.
Malam itu Erlin memejamkan mata nya tapi dia merasa sangat gelisah dan suhu di ruangan itu mendadak jadi dingin, Erlin sudah membungkus seluruh tubuh nya dengan selimut tapi tetap saja terasa sangat dingin dan dalam hati nya berkata.
"Mengapa sedingin ini? pasti ada hantu di kamar ini" Erlin pun membuka mata nya dan dia melihat Rafael di atas plafon berdiri seperti kelelawar tapi Erlin mencoba mengabaikan nya kemudian berbalik ke sebelah kiri lalu membuka mata nya lagi dan di depan nya ada Rafarl lagi yang sedang duduk di bangku di meja kerja nya yang terletak di samping ranjang nya dan sedang memandang ke arah nya, Erlin kembali memejamkan mata nya dan berbalik lagi ke arah kanan lalu dia membuka mata nya lagi dan di samping pintu dia kembali melihat Rafael yang berdiri sambil melihat ke arah nya, Erlin pun merasa kesal lalu duduk di ranjang nya.
"Rafael! apa kamu mau Kaka mu ini mengalami serangan jantung lalu mati seperti mu" tanya Erlin kepada Rafael tapi Rafael menggelengkan kepala nya sambil tersenyum manis.
Erlin melihat ke arah jam dinding di kamar nya.
"Jam 2 malam, rasa nya seram juga ada hantu di kamar ku, di tambah lagi malam ini malam Jum'at" ucap Erlin dalam hati,kemudian Erlin berbaring lagi di ranjang nya dan hati nya berkata lagi.
__ADS_1
"Ngapain coba' dia datang mengunjungi ku?" Erlin mencoba mengabaikan dengan memejamkan mata nya tapi hati nya tidak tenang lalu dia membuka mata nya lagi dan dia terkejut karna Rafael mengubah wajah nya menjadi tengkorak sehingga membuat Erlin sangat kaget dan berteriak.
"Hantu!!!" kemudian wajah Rafael berubah lagi jadi tampan sambil Rafael tersenyum kepada Erlin.
"Apa maksut mu melakukan hal seperti itu kepada ku?" tanya Erlin yang sedang berusaha mengendalikan rasa terkejut nya agar dia tidak terlalu tegang.
"Aku tidak takut, aku hanya terkejut!!!" ucap Erlin lagi sambil memandangi wajah Rafael.
"Katakan apa yang kamu ingin kan dari ku?" tanya Erlin kemudian Rafael menunjuk ke arah pintu, Erlin bertanya lagi.
"Pintu?" Rafael mengangguk lalu Erlin bertanya lagi.
"Apakah kamu mau aku tidur di pintu?" tanya Erlin tapi Rafael menggelengkan kepala nya.
Kemudian Erlin menggaruk kepala nya yang sebenar nya tidak gatal lalu dia bertanya lagi.
"Lalu apa?" sambil Erlin melihat ke arah Rafael berdiri kemudian Rafael menunjuk ke arah kamar Lica, Erlin bertanya lagi.
"Apakah kamu meminta aku ke kamar Lica?" Rafael mengangguk kemudian Erlin keluar kamar dan menutup pintu kamar nya tapi dia melihat Rafael lagi di samping nya membuat dia kaget lagi sehingga tanpa sadar bertanya.
"Rafael? Bukan nya tadi kamu di dalam kamar?" sambil Erlin membuka pintu kamar nya lagi dan melihat ke semua penjuru kamar nya tapi dia tidak melihat siapa pun kemudian dia menutup pintu kamar nya lagi sambil bergumam.
"Aku lupa kalau dia hantu" sambil Erlin memukul wajah nya sendiri, kemudian Erlin berjalan ke kamar Lica dan meletakan tangan nya di gagang pintu kamar Lica kemudian bertanya lagi kepada Rafael.
__ADS_1
"Dengar hantu! ini sudah jam 2 malam! dan apa yang akan di fikir kan Lica jika dia melihat aku masuk ke kamar nya dan bagaimana jika dia terbangun lalu berteriak setelah melihat ku! pasti aku akan malu jika semua orang salah faham kepada ku" ucap Erlin sambil memandangi wajah Rafael kemudian Rafael tersenyum sambil menggelengkan kepala nya.
"Dasar hantu" Erlin bergumam sambil membuka pintu kamar Lica tapi ternyata Lica tidak tidur karna dia sedang menangisi foto Rafael dan Lica bahkan tidak menyadari kehadiran Erlin sampai akhir nya Erlin mengambil foto Rafael dari tangan Lica sambil Erlin berkata.
"Lica! jangan menangisi Rafael lagi karna dia juga pasti tidak akan suka melihat mu seperti ini" sambil tangan kanan Erlin menyentil dahi Lica kemudian Erlin duduk di ranjang Lica.
"Mengapa Kaka ke sini? apakah Kaka juga kesulitan tidur? atau ada hal lain yang mengganggu kaka" tanya Lica sambil mengusap dahi nya.
"Kau benar! ada yang sangat sangat mengganggu ku" sambil mata Erlin melirik ke belakang Lica yaitu tempat Rafael berdiri.
Erlin mengusap air mata Lica di pipi nya sambil berkata.
"Jangan menangis!"
"Kaka' malam ini aku sangat merindukan Rafael" ucap Lica sambil berusaha menahan tangisan nya.
Kemudian Erlin meletakan foto Rafael di atas meja di samping ranjang Lica sambil berkata.
"Sudah malam, sebaik nya kamu tidur"
"Kaka' seandainya Rafael tahu bahwa aku sangat merindukan nya" ucap Lica lagi.
"Dia tahu!" sahut Erlin sambil Erlin menunjuk ke arah Rafael berdiri di belakang Lica tapi Rafael menggelengkan kepala nya kemudian.
__ADS_1
"Aku yakin Rafael bisa merasa kan kerinduan mu kepada nya,tapi kamu harus bisa mengendalikan diri mu juga agar Rafael bisa tenang" dalam hati Erlin juga berkata.
"Jika Rafael tenang dan tidak lagi gentayangan maka aku juga bisa tenang"