
"Aku memutuskan mengakhiri hidup ku sendiri karna aku sangat mencintai mu, dan jika kamu mencintai ku juga maka tolong Kabul kan permintaan terakhir ku" Ucap roh Mona.
"Aku akan menyusul mu" sahut Antoni yakin.
"Jangan lakukan itu..." Ucap Mona.
"Kalau pun kamu mati, jarak kematian kamu dan Mona berbeda jadi inti nya kalian juga tidak bisa bersama" sahut Kirana sok tahu, kenyataan nya dia juga tidak tahu tapi dia berkata begitu hanya agar Antoni tidak ikutan mati.
"Berbohong!" sahut Antoni dengan suara nyaring.
"Sekarang jelaskan bagaimana kamu bisa melihat roh kekasih mu berada di depan mu? dan apakah kamu berfikir aku sedang membohongi mu? jadi silahkan kamu menilai sendiri apakah aku terlihat sedang berbohong atau tidak!" sahut Kirana kesal sambil memberikan kode kepada roh Mona.
"Benar yang dikatakan Kirana, kita berada di waktu yang berbeda jadi jarak kita juga berbeda, sekarang sudah waktu nya aku pergi karna aku sudah tenang setelah berbicara dengan mu" Ucap Mona.
"Lalu sekarang aku harus bagaimana?" tanya Antoni sambil melihat ke wajah Kirana, tapi Kirana hanya merespon dengan mengedipkan mata nya 3 kali karna dia juga tidak tahu jawaban apa yang sesuai untuk keadaan ini.
Mereka berdua di kejutkan dengan masuk nya semua murid ke dalam kelas dan bergegas Antoni menjauhi Kirana kemudian duduk tenang di bangku nya kemudian roh pun bertanya kepada Kirana.
"Apakah benar, aku dan Antoni tidak bisa bersama meski Antoni juga mati?" tanya Mona penasaran.
"Entah lah, kalau mau mencoba silahkan saja" sahut Kirana cuek sambil dia membuka tas nya dan mengeluarkan buku nya.
"Kirana, mungkin ini adalah hari terakhir aku ada, tolong bantu aku, jagalah Antoni, aku mohon" pinta roh dengan suara bergetar.
"Merepotkan" sahut Kirana sambil melirik ke arah Antoni dan Antoni yang tidak faham langsung menyahut.
"Apa katanya?"
"Dia harus pergi sekarang" sahut Kirana cuek.
"Mengapa sekarang?" tanya Antoni tegang karna belum siap, kemudian Kirana melihat ke sekeliling lalu berkata.
"Dia sudah lenyap" ucap nya pelan.
__ADS_1
"Berbohong!" sahut Antoni repleks karna terkejut, tentu saja membuat Kirana kesal sehingga Kirana memukul lagi kepala Antoni dengan tas nya.
"Sakit tau!" keluh Antoni.
"Aku tau!" kemudian setelah berkata begitu Kirana pun konsentrasi pada pelajaran nya dan mengabaikan semua hal yang ada di samping nya bahkan mata Antoni yang tidak berkedip memandanginya pun dia abaikan.
Jam pelajaran berakhir Kirana bergegas berjalan menuju ke tempat parkir mobil nya, karna dia berniat menghindari pertanyaan Antoni yang pasti nya sudah menumpuk dan ternyata Antoni juga mengikuti Kirana sambil memanggil berulang kali.
"Kirana, tunggu!" Kirana mendengar panggilan itu tapi dia berpura pura tidak mendengar karna dia sedang malas menjelaskan.
Bruuuk.....
Kirana menghentikan langkah nya karna terkejut, lalu menoleh ke belakang dan ternyata di belakang nya Antoni sudah terbaring di tanah mencium bumi.
"Apa yang terjadi?" tanya Kirana kepo, mau tertawa tapi takut dosa.
"Aku terjatuh" sahut Antoni malu.
"Aku bisa melihat nya"
"Lalu?"
"Lalu aku jatuh dan sekarang siapa yang harus di salah kan" tanya Antoni sambil melihat ke arah Kirana yang kembali membelakangi nya dengan maksut meninggalkan Antoni yang masih betah duduk di tanah.
*****
Keesokan pagi nya saat Kirana di kantin tiba tiba dia di kaget kan oleh kehadiran Antoni dari belakang yang berkata.
"Hy Kirana" ucap nya yang penampilan dan sikap nya berbeda dari kemaren karna kali ini untuk pertama kali nya Antoni tersenyum dan juga terlihat bersemangat.
"Jangan bilang kamu sedang kerasukan" ucap Kirana bingung.
"Justru aku merasa sekarang keadaan ku sedang dalam suasana bagus" sahut nya sambil tersenyum manis kepada Kirana.
__ADS_1
"Aneh!" ucap Kirana sambil berjalan pergi meninggalkan Antoni.
"Kirana, tunggu! kenapa kamu mengabaikan ku? ayolah Kirana beri aku kesempatan untuk bersama mu!" pinta Antoni sambil mengejar Kirana yang berjalan semakin cepat setengah berlari.
"Jangan mendekat! atau tubuh mu akan ku ubah menjadi abu!" ancam Kirana sambil jari telunjuk Kirana dia Acung kan kearah Antoni, sontak pernyataan itu membuat Antoni sangat terkejut karna dia sangat percaya bahwa Kirana memang mampu melakukan hal itu.
"Ampun! jangan jadikan aku abu!" pinta nya panik sambil mengangkat kedua tangan nya keatas kemudian Kirana pun pergi meninggalkan Antoni yang masih berdiri seperti patung.
Dikelas.
Melihat Kirana sedang belajar kemudian Antoni mendekati Kirana lalu perlahan bertanya.
"Kirana, aku sangat penasaran tentang dirimu" ucap nya ragu.
"Tentang apa?"
"Tentang Ha...."
"Mereka roh bukan hantu" sahut Kirana memotong ucapan Antoni tanpa memandang kewajah Antoni karna mata Kirana tetap pokus pada buku yang sedang dibaca nya.
'Lalu bagaimana cara nya, kamu dan roh bisa..." pertanyaan nya terhenti lagi karna dia bingung dengan apa yang sebenar nya ingin dia tanyakan.
"Kau ingin tahu?" tanya Kirana serius sambil dia menutup buku nya kemudian memandang kearah Antoni.
"Iya, aku ingin tahu" sahut Antoni serius, kemudian Kirana menceritakan misi nya kepada Antoni.
"Ternyata kehidupan mu sangat berat, aku kehilangan kekasih ku 2 tahun yang lalu tapi sebalik nya kamu kehilangan kedua orang tua mu bahkan sebelum kamu sempat berada dalam pelukan mereka, setidak nya sampai sekarang aku masih memiliki ayah dan ibu meskipun mereka juga tidak pernah menganggap aku ada" ucap Antoni sambil meratapi nasib nya juga.
"Mengapa kamu berfikir begitu?" tanya Kirana kepo.
"Selama ini ayah dan ibuku selalu menilai aku adalah anak yang gagal, karna aku kalah segala galanya dari Kaka laki laki ku yang sangat pandai, orang tua ku selalu menghina ku karna aku dianggap anak yang tidak berguna, hanya Mona yang selalu mendukung ku, aku dan Mona sudah berteman sejak kami masih kecil, dulu saat usia Mona 5 tahun keluarga Mona pernah menjadi tetangga kami, aku dan Mona pernah berada di TK yang sama, SD yang sama, SMP yang sama juga, tapi kemudian keluarga Mona pindah ke kota lain dan kami pun terpisah, hanya mampu berbicara lewat surat saja, setelah lulus SMA aku memiliki rencana mau menikah dengan Mona tapi di surat terakhir nya Mona mengatakan bahwa dia akan menikahi pria lain pilihan orang tua nya" kemudian Antoni terdiam sambil memeluk tas nya lalu meletakan kepala nya di atas tas nya, terlihat air mata nya mengalir perlahan di sudut mata nya.
"Mengapa surat? dan bukan perangkat seperti ponsel atau...?"
__ADS_1
"Keluarga Mona melarang dia menggunakan ponsel atau pun komputer, bahkan aku berkirim surat juga melalui alamat tetangga nya dan bukan ke alamat rumah Mona"
"Mengapa begitu?"