
Kirana sudah mulai kesal kemudian dia mulai berjalan berniat meninggal kan mereka, tetapi Tania memohon kepada Kirana untuk menolong nya sehingga Kirana pun berkata dengan tegas kepada ibu nya Tania.
"Katakan! mau di bantu menemukan mayat Tania atau tidak!" ucap nya kesal.
"Iya nak' tolong" sahut ayah nya Tania yang sejak tadi diam saja karna merasa sangat terkejut.
"Pertama kita lapor kan dulu pemuda itu kepada polisi kemudian bersama polisi kita temui pria itu lalu kita minta penjelasan kepada nya, tetapi mayat Tania ada di sebuah danau yang di taroh dalam kantong kresek dan di ikat di batu" ucap Kirana, kemudian semua orang pergi menuju kantor polisi untuk melapor kan kejadian itu.
"Maaf bu' apakah ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu petugas yang bertulisan nama Bowo di seragam nya.
"Maaf pak, kami kemari karna mau melaporkan anak kami yang hilang" ucap ayah nya Tania.
"Sudah berapa lama hilang nya anak ibu?" tanya pak Bowo lagi.
"Sudah satu Minggu pa!' sahut ibu nya Tania.
"Pak polisi, perkenal kan' nama saya Kirana, dan saya sudah menemukan mayat nya Tania" ucap Kirana dengan yakin.
"Apakah Anda melihat kejadian nya?" tanya pak Bowo lagi.
"Tidak" sahut Kirana heran karna tidak menduga pertanyaan itu sebelum nya.
"Lalu apakah kamu terlibat dalam kasus ini?" tanya polisi mulai curiga, Kirana pun mau bicara lagi tapi langsung di potong oleh dosen nya.
"Dia ini adalah Kirana, mungkin bapa' pernah mendengar nama nya beberapa tahun yang lalu" ucap ibu Irma sambil menunjuk ke arah Kirana.
"Kirana?" sahut Bowo heran karna terlalu lama jadi dia masih belum ingat.
"Itu loh pa' mayat di dalam lemari pendingin dan juga mayat di lantai hotel" ibu Irma menjelaskan lagi.
"Ooo....Kirana?" sahut rekan nya yang duduk di meja lain yang di tanda pengenal nya bertulisan Andi.
"Kan dari tadi saya udah bilang kalau nama saya Kirana" sahut Kirana mulai kesal.
"Jadi...dimana mayat itu sekarang?" tanya pak Bowo.
__ADS_1
"Di dalam air di sebuah danau, tidak jauh dari sini" sahut Kirana.
"Lalu siapa pembunuh nya?" tanya pak Bowo lagi.
"Kekasih nya yang bernama Thomas" ucap Kirana.
"Di mana sekarang Thomas itu?"
"Dia bekerja di sebuah tempat hiburan sebagai tukang parkir" sahut Kirana.
"Lalu di mana rumah nya?"
"Saya akan membawa bapa' langsung ke rumah nya" sahut Kirana lagi dengan tanpa ekspresi apa pun.
Polisi pun selesai mengumpulkan keterangan dan mulai bertindak, saat itu Thomas juga sedang tidur di rumah nya dan dia sangat terkejut karna tiba tiba saja polisi mendobrak kamar nya dan dia langsung parno dengan berkata.
"Maaf pa' saya tidak sengaja membunuh nya"
"Siapa yang kamu bunuh?" tanya pak Bowo sambil menggertak Thomas.
"Tania pa'! malam itu dia berkata bahwa dia sedang hamil dan meminta saya untuk bertanggung jawab, saya merasa panik karna saya belum siap untuk menikah" ucap Thomas, kemudian Kirana melirik ke arah roh berdiri lalu kirana berkata.
"Kur*ng ajar" teriak ayah nya Tania, lalu terjadi pergulatan sebentar karna polisi langsung melerai mereka.
Kemudian Thomas di bawa ke kantor polisi dan dengan bantuan Kirana akhir nya mayat Tania pun bisa di temukan.
Kirana melihat Liontin nya yang bertambah lagi satu tetes roh dalam liontin Kirana, Kirana menggenggam liontin nya dengan rasa putus asa, karna biar bagaimana pun juga 4 tetes yang tersedia arti nya masih 8 roh lagi yang kurang, Kirana menangis di tepi danau sambil membayangkan diri nya sedang ada dalam pelukan ayah dan bunda nya.
Setelah selesai menangis kemudian Kirana pulang ke rumah dan di rumah sudah ada Erlin di depan pintu karna menunggu ke datangan Kirana yang menurut Erlin sudah terlambat, jadi begitu Kirana memarkir mobil nya Erlin langsung saja datang dan bertanya.
"Tadi kamu kemana?" tanya Erlin panik.
"Menolong roh Paman" sahut Kirana sambil menunjukan isi Liontin nya yang bertambah.
"Ayo kita makan, karna menunggu mu, aku juga belum makan" ucap Erlin dengan wajah yang terlihat lega.
__ADS_1
Di meja makan Kirana pun menceritakan semua kejadian yang dia alami tentang Tania dan Thomas kemudian Erlin memberikan nya nasehat.
"Kamu juga harus hati hati dalam memilih teman dan pasti kan teman yang kamu pilih atau pun kekasih yang kamu pilih bisa menjaga mu" ucap Erlin.
"Paman jangan khawatir tentang pergaulan ku karna aku bisa melihat apa yang tidak bisa di lihat oleh orang lain"
"Aku percaya penuh kepada mu" ucap Erlin sambil memegang tangan Kirana kemudian Kirana melirik ke arah Vivian yang sedang menyiap kan makan untuk nenek nya yang sedang sakit dan terbaring di kamar.
"Bagaimana kabar nenek?" tanya Kirana sambil melirik ke arah Vivian.
"Ibu baik baik saja non, seperti biasa nafsu makan nya juga masih bagus" sahut Vivian.
"Terima kasih karna sudah merawat nenek ku" ucap Kirana sambil melirik Erlin karna tiba tiba Kirana kepikiran mau menjodohkan Erlin dan Vivian mengingat usia Erlin juga sudah tidak lagi muda tetapi masih belum menikah.
"Bibi Vi, mengapa tidak menikah?" tanya Kirana sambil makan seolah pertanyaan nya tidak terlihat bahwa dia sedang kepo dengan satu tujuan.
"Saya harus membiayai adik adik saya di kampung jadi untuk menikah rasa nya saya masih belum bisa"
"Berapa usia bibi Vi?"
"38 tahun" sahut Vivian.
"Paman ku juga belum menikah" ucap Kirana membuat Erlin langsung tersedak karna nya.
"Kalau tuan mau nanti akan saya kenal kan tuan kepada adik perempuan saya, tapi kami orang miskin dan...." Vivian tidak melanjut kan ucapan nya.
"Tidak masalah dengan hal itu, suruh saja dia datang dan kita lihat apakah dia mau menjadi bibi ku atau tidak" ucap Kirana sambil melirik Erlin yang hanya diam karna tidak menduga bahwa dia akan di jodoh kan oleh Kirana.
"Itu...." sahut Vivian ragu karna dia sebenar nya penasaran dengan pendapat nya Erlin.
"Baik lah, aku sudah selesai" ucap Kirana sambil berdiri kemudian meninggalkan meja makan.
"Dengan mu saja" sahut Erlin singkat.
"Apa?" tanya Vivian bingung dan terkejut.
__ADS_1
"Aku akan menikah dengan mu saja" sahut Erlin karna dia tahu kualitas Vivian yang selama ini menurut nya baik dan juga ramah.
"Tapi apakah saya pantas?" tanya Vivian bahagia bercampur terkejut.