Cinta Sejati Sampai Mati

Cinta Sejati Sampai Mati
Bab 39 Roh kesepuluh dan kesebelas


__ADS_3

Tapi Kirana mengabaikan pengusiran itu dan dia memilih mendekati tubuh Sam yang terbaring di ranjang.


Terlihat dengan jelas bahwa tidak ada bagian tubuh Sam yang masih berfungsi selain bagian kepala nya saja yang bisa bergerak dengan suara yang sangat keras, di tangan kanan Sam di pasang jarum infus tapi tangan itu tidak bisa bergerak sedikit pun, Kirana pun diam melihat pemandangan itu sambil dia terus berfikir.


"Bawa Sam ke hadapan ku" ucap Sam dengan nada suara yang berbeda sambil menyeringai ke arah Kirana sehingga membuat Bibi Anna merasa merinding mendengar nya dan Kirana juga merasa terpaku mendengar nya di tambah lagi dia melihat aura merah di tubuh Sam menambah pemandangan angker di depan Kirana.


"Sadar Nak!" Pinta Bibi Anna sambil menangis tapi kemudian Sam mengeluarkan tawa cekikikan seperti kuntilanak sehingga suasana angker pun semakin bertambah, mereka bertiga pun keluar dari kamar itu lalu duduk lagi di sofa kemudian Bibi Anna bertanya kepada Kirana.


"Sebenar nya apa yang terjadi?" tanya Bibi Anna sambil memandang ke arah Kirana yang sedang melamun karna berfikir.


"Ayo! kita pergi ke rumah yang sudah meninggal, siapa tahu kita bisa menemukan petunjuk" sahut Kirana sambil berdiri dan di ikuti oleh Max kemudian mereka naik ke mobil dengan tujuan ke rumah Wahyu yang sudah meninggal di dalam kampus.


Mereka pun tiba di rumah Wahyu dan terlihat kedua orang tua Wahyu sedang menjemur padi di depan rumah nya, melihat kedatangan Max mereka pun menegur nya karna mereka juga mengenal Max.


"Max, kamu bukan nya sudah pindah ke kota?" tanya Pak Dayat, ayah nya Wahyu.


"Iya pak! saya kemari bermaksud ingin berkunjung ke tempat nya Sam" Sahut Max.


"Duduk dulu' Nak Max, ibu buat kan minum." ucap Ibu Lastri sambil berjalan menuju ke dalam rumah nya.


"Ya Bu' jangan repot repot" Sahut Max.


Kemudian mereka duduk di bangku panjang yang terletak di halaman rumah itu, Pak Dayat mulai bertanya.


"Bagaimana keadaan Sam?"

__ADS_1


"Tidak ada perubahan Pa' masih saja selalu berteriak bahkan tadi saat kami masuk ke kamar nya, teriakan nya lebih nyaring karna mengusir kami kemudian dia tertawa seperti hiiiyyy.... pokok nya seram deh Pak" Max menjelaskan dengan ekspresi wajah kengerian.


"Loh!" sahut Pak Dayat heran karna dia juga tahu Sam tidak pernah berkata lain selain maaf dan ampun saja.


"Anak kami si Wahyu juga tertawa seperti kuntilanak di hari kematian nya" ucap Ibu Lastri yang tiba tiba datang dengan membawa 3 cangkir teh.


"Bagaimana Kirana? apakah kamu melihat sesuatu" tanya Max sambil melihat kearah Kirana yang sedang terlihat gelisah.


"Aku merasa kedinginan." sahut Kirana sambil menggigil sehingga membuat kedua orang tua Wahyu keheranan karna cuaca sedang sangat panas, Max melepaskan jaket nya lalu menutupi tubuh Kirana, tapi tetap saja Kirana terlihat sangat menggigil kemudian Max mendekati Kirana lalu memeluk nya sambil bertanya.


"Apakah kamu melihat ada roh?"


"Aku bisa merasakan kehadiran roh, tapi aku masih belum bisa melihat nya" sahut Kirana sambil menahan dirinya agar dia tidak pingsan karna cuaca yang dia rasa kan semakin dingin kemudian Max memegang tangan Kirana dan Max juga merasa kan tangan Kirana dingin seperti es, repleks Max mengangkat tubuh Kirana membawa nya keluar dari kawasan rumah itu dan suhu pun menjadi normal dan rasa dingin itu pun juga menghilang, Kirana meraba tangan dan wajah nya dengan heran tapi kedua orang tua Wahyu lebih heran lagi karna mereka tidak memahami apa pun.


"Siapa mereka Bu!" terdengar suara dari belakang yang tiba tiba datang sehingga membuat semua orang kaget karna ketegangan yang mereka rasakan.


"Kirana! kenal kan ini adalah adik nya Wahyu, nama nya Aldo" ucap ibu Lastri.


"Aku menunggu mu, Wahyu" ucap Kirana sambil melihat ke belakang Aldo yang sedang berdiri roh Wahyu.


"Aku Aldo, Nona! bukan Wahyu!" sahut Aldo sambil menggoyang goyang kan tangan nya di depan wajah Kirana.


"Apakah roh Wahyu ada di sini" tanya Max kepada Kirana.


"Iya" sahut Kirana, kemudian Max memegang Liontin Kirana dan dia pun bisa melihat roh Wahyu dan roh Arya, repleks Max berkata.

__ADS_1


"Wahyu! Arya?" Ucap nya heran sambil melepaskan liontin Kirana.


Mendengar itu tangis Ibu Lastri langsung pecah sehingga membuat Aldo kesal kemudian berkata.


"Bu! jangan percaya mereka karna mereka pasti sedang berusaha menipu kita" ucap nya kesal karna dia keberatan Kaka nya di anggap seperti hantu.


"Aldo! Kirana ini bukan manusia biasa, dia bisa melihat hal yang tidak bisa kamu lihat" Ucap Max dengan setengah membentak karna dia kesal sudah di anggap penipu oleh Aldo.


"Halah...kalian suka berkhayal dan kebanyakan nonton film horror" sahut Aldo sambil mencibir.


"Aku ingin merasuki Aldo" ucap Wahyu.


"Pinjamkan tubuh mu agar Wahyu bisa berbicara dengan kedua orang tua mu" ucap Kirana, membuat Aldo heran kemudian berkata.


"Silahkan! ambil tubuh ku kalau memang di sini ada roh Kaka ku" sahut Aldo sambil merentangkan kedua tangan nya dengan gaya sombong sekaligus mencibir, seketika angin bertiup kencang ke arah Aldo dan Aldo mulai mengubah Ekspresi wajah nya menjadi lebih kalem sambil berjalan ke bangku lalu duduk di bangku kemudian Aldo yang kerasukan Roh Wahyu melihat ke arah semua orang sambil berkata.


"Hari itu ibu Clara melihat kami mencontek dan dia menghukum kami, dia meminta kami melepaskan seragam sambil kami keliling lapangan" Ucap Aldo.


"Lalu apa yang terjadi setelah itu?" tanya Kirana.


"Kami saat itu sangat marah dan membuat rencana 10 dari 24 siswa sepakat memberikan pelajaran kepada Ibu Clara, jadi hari itu kami memberikan minuman yang bercampur obat tidur kepada ibu Clara, kemudian Reza menjemput ibu Clara ke ruangan nya dan mengatakan bahwa Mandra dan Aziz sedang berkelahi di dalam perpustakaan" kemudian Aldo melirik ke wajah Ayah dan ibu nya yang tampak berusaha keras untuk menahan tangisan nya.


"Lanjutkan ceritamu" Pinta Kirana.


"Setelah tiba di dalam perpustakaan Ibu Clara pun terjatuh di lantai kemudian tertidur lalu kami menyimpan tubuh nya di dalam lemari dan kami pun melanjutkan pelajaran berpura-pura tidak terjadi apa-apa, setelah jam pelajaran berakhir kami semua bersembunyi di perpustakaan sampai malam, kami juga mengikat tangan dan kaki ibu Clara di 4 penjuru meja dengan tali yang kami temukan di dalam gudang, kami menutup mulut nya dengan celan* d*lam milik Alex" kisah nya berhenti karna dia menangis karna menyesal.

__ADS_1


__ADS_2