
Setiba nya di sekolah, Erlin mengantar kan Kirana sampai ke bangku nya dan Erlin melihat reaksi teman teman Kirana yang seolah sangat takut sekaligus jijik melihat nya bahkan meja dan bangku Kirana berada jauh dari teman nya yang lain, salah satu teman anak berkata.
"Pergi kamu dari sini, dasar anak aneh!" ucap nya sambil melemparkan penghapus kepada Kirana kemudian dengan cuek Kirana langsung duduk di bangkunya dan mengabaikan keberadaan Erlin yang sejak tadi hanya diam melihat kelakuan teman teman nya.
Erlin pun keluar ruangan itu lalu dia berdiri di depan kelas nya Kirana, tidak lama kemudian guru pun datang ke dalam kelas dan guru nya heran melihat semua murid nya menumpuk di sudut ruangan lain karna sedang menjauhi Kirana.
"Anak anak susun bangku dan meja kalian seperti biasa" perintah wali kelas nya dengan tegas.
"Kami takut sama anak aneh itu Bu..." sahut salah satu murid yang bernama Doni sambil Doni menunjuk ke arah Kirana, Erlin yang sejak tadi mengintip dari balik kaca merasa iba melihat perlakuan anak anak itu kepada keponakan nya, Erlin pun kemudian masuk ke dalam kelas lalu memegang tangan Kirana.
"Kirana, ayo pulang sayang, kita pindah ke sekolah lain saja" ucap Erlin kepada Kirana tetapi Kirana menggelengkan kepala nya kemudian berkata.
"Jangan khawatir Paman, mereka tidak akan berhasil menyakiti hati ku"sahut nya.
Di luar kelas di lapangan ada banyak ibu ibu dan bapak bapak yang sedang berteriak dan mengatakan hal yang sama yaitu.
" Usir Kirana! jangan biarkan dia menjadi pengaruh buruk bagi anak anak kita!" teriak mereka.
"Usir Kirana! usir Kirana! hanya itu lah yang mereka katakan berulang kali oleh ratusan orang tua dan wali murid itu, kemudian Erlin menggendong keponakan nya dan keluar menemui mereka semua.
__ADS_1
Melihat wajah Kirana beberapa orang langsung memunguti batu yang ada di lapangan itu lalu berusaha melempari Kirana tapi Erlin berusaha melindungi Kirana agar Kirana tidak terkena batu batu itu tapi salah satu batu mengenai kepala Kirana sehingga membuat kepala nya berdarah dan pihak sekolah berusaha menenangkan masa dengan berkata.
" Ibu ibu' bapa bapa' tolong! kita bicara kan ini dengan cara baik baik dan jangan ada tindak kekerasan" ucap wali kelas Kirana.
"Keluarkan Kirana dari sekolah ini bu' dan jangan sampai Kirana merusak mental anak anak kami juga" ucap salah seorang emak emak yang gemuk sekaligus judes.
Semua wali kelas pun melihat ke arah Kirana dan Erlin yang sedang membersihkan kepala Kirana yang mengalami memar Dengan mengeluarkan sedikit darah di kepala nya karna terkena lemparan batu tadi.
"Saya akan membawa keponakan saya ketempat lain jadi ibu ibu dan bapa bapa' semua tidak perlu khawatir karna Kirana juga tidak akan lagi sekolah di sini" ucap Erlin sambil menarik tangan Kirana untuk pergi kemudian Kirana melepas kan pegangan tangan Erlin sambil berkata.
"Aku mau tetap di sini Paman, apa salah ku jika aku bisa melihat hal yang tidak bisa di lihat orang lain dan apakah aku salah jika aku berbicara dengan beberapa teman yang tidak bisa kalian lihat? aku berbicara dengan bunda ku dan selama ini aku tidak pernah merugikan siapa pun, apakah aku pernah mencelakakan teman teman ku? atau aku pernah membahayakan teman teman ku? tidak! aku tidak pernah menganggu siapa pun" ucap Kirana dengan air mata yang terus mengalir di pipi mungil nya tanpa henti.
"Katakan kepada ku, apakah kalian tidak malu? orang sebanyak ini mengeroyok seorang anak kecil yang tidak berdaya" pertanyaan Kirana membuat semua orang tertunduk dan tidak ada yang berani bicara lagi di saat yang sama ada wartawan yang lewat di depan sekolah, begitu melihat ada hal yang menurut mereka bisa menjadi berita viral kemudian mereka pun mulai meliput, Erlin seolah sedang menelan kotoran kucing saking malu nya dia karna pasti nya berita yang akan keluar adalah berjudul keturunan terakhir keluarga Romanov adalah gadis gila.
"Aku ingin bertanya kepada semua orang apakah salah jika aku bisa melihat hal yang tidak bisa di lihat oleh orang lain" tanya Kirana kepada reporter di depan Camera yang sedang On, wartawan bertanya.
"Apa yang kamu lihat adik kecil?"
"Aku melihat banyak hal bibi, dan aku juga melihat bibi sedang di ikuti seorang anak laki laki seusia ku" sahut nya dan membuat wartawan itu bingung lalu menatap ke wajah rekan nya sambil bergumam.
__ADS_1
"Anak laki laki? siapa?" tanya nya kepada rekan nya.
"Kirana, ayo kita pulang!" ucap Erlin lagi karna dia merasa mulai sangat malu bahkan tingkat malu nya lebih tinggi dari tingkat dewa.
"Aku mau menolong anak ini Paman" sahut Kirana sambil menunjuk ke samping wartawan itu.
"Dia sekarang bertambah gila" ucap orang orang yang ada di tempat itu kemudian kesabaran Erlin habis lalu dia berusaha menggendong Kirana tapi lagi lagi Kirana memberontak sambil berkata.
"Jangan sekarang Paman!" Erlin pun hanya mampu menutup wajah nya saja sambil berusaha menyembunyikan rasa malu nya sambil berdoa semoga saja TV semua warga Indonisia rusak dan semoga saja jaringan internet mengalami gangguan setidak nya sampai 100 tahun yang akan datang.
"Nama kamu siapa?" tanya Kirana kepada roh itu.
"Andre?" ucap Kirana lagi dan membuat wartawan itu terkejut karna itu adalah nama anak laki laki nya yang sudah 6 bulan tidak ada kabar nya karna ikut ayah nya yang sudah bercerai dengan nya.
"Apakah maksut mu Andre anak tante" tanya nya sambil menunjuk ke arah nya sendiri kemudian Kirana mengangguk, wartawan itu menangis lalu berkata.
"Andre adalah anak ku, dia ikut ayah nya setelah kami bercerai dan sudah 6 bulan tidak ada kabar dari nya, setiap kali aku menelpon ayah nya atau ibu tiri nya selalu saja mereka membuat alasan kadang mengatakan dia sudah tidur atau dia sedang menginap di rumah nenek nya dan masih banyak lagi alasan, aku juga beberapa kali mengunjungi rumah mantan suami ku untuk menemui anak ku, tetapi tidak ada yang membukakan pintu untuk ku" ucap wartawan itu sambil menangis.
"Anak ku...." tambah nya lagi.
__ADS_1
"Tunggu bibi, Andre sedang bicara dan biar kan dia bercerita kepada ku" sahut Kirana, kemudian semua orang diam dan Kirana mulai bicara dengan roh Andre"