
Kirana tidak terlihat bicara dengan roh itu tapi dia hanya mengangguk saja seolah sedang menyimak kisah dan setelah beberapa menit kemudian Kirana bicara.
"Bibi, sebenar nya anak bibi meninggal dunia karna jatuh dari tangga, tapi karna takut berurusan dengan polisi, kemudian anak bibi di simpan di rumah di dalam lemari pembeku" ucap Kirana dengan yakin dan membuat tangis ibu muda itu langsung pecah.
Rekan nya segera menghubungi polisi sekaligus rekan kerja nya yang lain agar mereka meliput berita itu secara live, kemudian Erlin bersama Kirana dan juga wartawan pergi ke rumah mantan suami nya dan di ikuti beberapa orang massa yang tadi mengeroyok Kirana karna mereka juga penasaran apakah yang di katakan Kirana itu benar atau salah.
Semua orang sangat terkejut termasuk Erlin juga sangat terkejut karna ternyata semua yang di katakan Kirana adalah benar, mayat itu memang di temukan di dalam lemari es dan sudah meninggal 6 bulan yang lalu dan berita yang cukup menggemparkan itu tayang live di beberapa saluran TV, sehingga Kirana yang di kenal sebagai anak aneh dengan kebiasaan yang di sebut tidak normal itu, kini bisa di fahami semua orang, tapi hari itu Kirana tidak banyak bicara, dia hanya diam seperti gadis polos yang pemurung lagi, yang banyak diam dan tidak lagi periang.
Ibu nya Andre memeluk Kirana sambil mengucap kan terima kasih dan berita tentang kisah Kirana pun sangat cepat tersebar, masing masing mau me wawancarai nya dan masing masing orang tua murid mengakui bahwa Kirana adalah sahabat anak anak nya dan sebagai nya.
Setelah kejadian itu sekolah tempat Kirana jadi viral, membuat semua orang yang pernah membully nya masing masing mau berteman dengan nya bahkan para wali murid juga mulai mengubah sikap nya kepada Kirana dan perlahan mengagumi nya, tapi Kirana lebih memilih berteman dan berbicara dengan roh saja, dia mengabaikan beberapa orang yang berusaha mendekati nya, karna Kirana kecewa kepada manusia.
Semua orang memang sudah bisa menerima keberadaan Kirana dengan kemampuan nya yang unik itu tetapi masih ada ke khawatiran lain di hati Erlin yang bahkan dia juga tidak tahu apa arti nya, yang dia tahu hanyalah dia takut Lica dan Rafael membawa Kirana pergi.
Hari itu datang seorang perempuan kesekolah Kirana, perempuan itu bernama Nilam usia 45 tahunan, tapi karna Kirana sedang di kelas dan masih mengikuti pelajaran kemudian Nilam pun duduk di bangku di depan kelas nya Kirana dan Erlin duduk di bangku yang lain juga sedang menunggu Kirana.
Setelah 30 menit Kirana pun keluar dari kelas dan Nilam langsung memanggil nya.
__ADS_1
"Kirana!" mendengar itu, Erlin dan Kirana melihat ke arah wanita itu secara bersamaan, lalu wanita itu mendekati Kirana sambil berkata.
"Tante ingin bicara"
"Tentang apa?" tanya Erlin sambil menggendong Kirana, kemudian Nilam pun faham bahwa Erlin adalah wali nya Kirana.
"Ayo, kita cari tempat yang nyaman untuk bicara" kemudian wanita itu berjalan dan Erlin mengikuti nya, setiba nya di taman mereka pun duduk di bangku kemudian Nilam mulai bicara.
"Aku adalah anak yatim piatu karna ayah dan ibuku sudah meninggal dunia sejak usia ku 10 tahun, dan sejak saat itu aku bisa berkomunikasi dengan para roh dan juga hantu, guru ku pernah mengatakan kalau aku menolong 12 roh yang tersesat maka aku bisa pergi ke alam lain dan di alam lain ada ramuan yang bisa membuat ayah dan ibu ku rainkarnasi tetapi untuk membuka kunci ke dunia lain aku harus menolong 12 roh, tapi yang jadi masalah nya adalah sudah 35 tahun aku berpetualang hanya 2 roh yang memerlukan bantuan ku dan aku masih harus menemukan 10 roh lagi, jadi Kirana! kemampuan mu bukan tanpa alasan dan jika kamu keberatan menolong roh yang datang maka serahkan roh itu kepada ku agar aku bisa membawa ayah dan ibuku kembali ke dunia ini" ucap Nilam sambil memandangi Kirana.
"Rainkar... Nasi?" tanya Kirana polos karna di usia nya yang masih muda kata rainkarnasi itu baru dia dengar, bahkan dia tidak faham arti nya yang dia faham hanya di bagian nasi nya saja.
"Apakah ayah dan ibu ku bisa bersama ku?" tanya Kirana lagi.
"Iya" sahut Nilam sambil mengangguk, Erlin hanya diam saja dan tidak memiliki pendapat apa pun karna dia tidak faham tentang dunia roh yang dia faham hanya ura roh saja.
"Apakah ayah dan ibu ku bisa memeluk ku?" tanya Kirana lagi dengan bingung.
__ADS_1
"Iya sayang, jika kamu bisa menyelesaikan misi, maka kamu bisa membawa ayah dan ibu mu kembali ke dunia ini lagi, dan ini kalung untuk menampung semua roh" sahut Nilam sambil menyerahkan sebuah kalung dengan liontin yang berbentuk seperti botol.
"Paman..." ucap Kirana sambil melihat ke wajah Erlin, tapi Erlin hanya tersenyum saja tanpa mau bicara apa pun.
"Kamu panggil roh yang kamu tolong kemaren maka dia akan masuk ke dalam liontin ini" ucap Nilam lagi.
"Andre" ucap Kirana pelan kemudian kalung nya seolah terisi setetes air.
"Ketika kamu menolong roh maka tetesan roh di kalung mu akan bertambah, dan ketika telah menemukan 12 roh maka kamu patah kan liontin ini kemudian lemparkan kalung ini ke tanah, maka portal menuju dunia lain akan terbuka tapi selanjut nya aku tidak tahu, karna aku tidak pernah menemukan portal itu" Nilam menjelaskan.
Setelah selesai bicara, kemudian Nilam berdiri sambil berkata.
"Kirana, aku harus pergi sekarang karna aku harus bekerja" Kirana pun mengangguk dan mereka pun berpisah kemudian Kirana memeluk Erlin dan Erlin juga memeluk Kirana dengan fikiran Erlin yang sedang entah di mana.
Sepanjang pelajaran berlangsung, kirana lebih banyak murung tapi semua tugas sekolah nya berhasil dia jawab dengan benar, Erlin mengawasi sikap keponakan nya dari balik kaca dan dia merasa sangat khawatir karna dia tidak tahu apa yang sedang di fikirkan oleh Kirana.
Ketika tiba di rumah Kirana juga hanya diam bahkan mengabaikan nenek nya yang sudah membuka kan pintu, nenek nya dengan bingung melihat Kirana yang langsung berjalan ke kamar nya tanpa menyapa nya, kemudian Erlin menceritakan kepada ibu nya tentang semua hal yang terjadi dengan Kirana sehingga membuat nenek nya merasa khawatir Kirana akan mendapat kan masalah nanti nya.
__ADS_1
Erlin pun pergi ke kamar Kirana dan melihat Kirana hanya diam saja sambil memandangi foto pernikahan ayah dan ibu nya, Erlin melihat ke sekeliling kamar kemudian bertanya.
"Di mana bunda"