Cinta Sejati Sampai Mati

Cinta Sejati Sampai Mati
Bab 25 Kesepian.


__ADS_3

Kirana masuk ke dalam mobil duduk di depan di samping Erlin kemudian Kirana melihat ke bangku belakang lalu berkata.


"Ayah! ibu! duduk yang nyaman ya...kita akan pulang ke rumah" ucap Kirana dengan bahagia dan bersemangat kemudian Kirana pun pindah di bangku belakang dan sepanjang jalan berbicara dengan ayah dan ibu nya yang hanya bisa di lihat oleh nya saja.


Erlin berulang kali melihat ke bangku belakang tapi dia memang tidak bisa melihat Rafael dan Lica.


"Sayang! kita sudah tiba di rumah" Erlin memberi tahu Kirana karna Kirana terlalu pokus pada ke dua orang tua nya saja.


"iya Paman! ayo Bu! ayo ayah! kita masuk ke dalam" ucap Kirana kemudian mereka pun masuk ke rumah dan Kirana mengabaikan nenek nya karna dia pokus berbicara sendirian sambil dia berjalan menuju ke kamar nya, dengan heran nenek nya memandangi Kirana kemudian bertanya kepada Erlin.


"Erlin! apa yang terjadi dengan Kirana?"


"Kirana masih kecil bu' mungkin dia sedang bahagia karna sudah di ajak ke makam ayah dan ibu nya" sahut Erlin karna dia juga tidak tahu cara menjelas kan kepada ibu nya tentang yang dia ketahui.


Ke esokan pagi nya Erlin datang ke kamar Kirana jam 6 pagi dan Kirana sudah bangun kemudian Erlin berkata kepada Kirana.


"Sayang, waktu nya mandi dan berangkat ke sekolah"


"Iya Paman" sahut Kirana dengan polos kemudian Kirana berkata kepada ayah dan ibu nya.


"Ayah! ibu! Kirana mandi dulu ya..? nanti kita bicara lagi karna masih banyak yang ingin aku cerita kan kepada ayah dan ibu" ucap Kirana dengan wajah bersemangat.


Hari itu di sekolah Kirana yang pemurung menjadi Kirana yang bahagia, dia berlari ke keliling lapangan sambil berbicara sendirian dengan senyuman bahagia.


Tapi justru sebalik nya pendapat orang lain mulai berbeda tentang kelakuan Kirana yang semakin hari menurut mereka semakin aneh karna dari sudut pandang mereka Kirana mulai gila, karna sering bicara sendiri, begitulah gosip yang sudah menyebar di sekolah sehingga membuat semua orang tua takut ketika anak nya berteman dengan Kirana.


Semua orang mem-bully Kirana bahkan orang tua murid juga mulai risih dengan keberadaan Kirana sampai suatu hari Erlin di panggil oleh ibu kepala sekolah dan kepala sekolah berkata.

__ADS_1


"Maaf pa' seperti nya Kirana sekarang sedang memiliki masalah"


"Iya bu' saya sudah berusaha menasehati nya, tapi dia mengabaikan nasehat saya dan dia hanya pokus pada dunia nya sehingga mengabaikan semua yang saya katakan" sahut Erlin kesal bercampur malu karna dia tahu dengan jelas kalau semua orang sedang berfikir Kirana sudah mulai gila.


"Kalau bapa' mau mungkin Kirana bisa libur sebentar untuk menjalani beberapa pengobatan" sahut kepala sekolah.


"Apakah maksud ibu' keponakan saya sudah gila?" bentak Erlin mulai emosi.


"Bukan begitu pa' maksud saya...." Erlin langsung pergi sebelum sempat kepala sekolah berbicara lagi kemudian dia mencari Kirana lalu mengajak nya pulang.


Sampai di rumah Erlin duduk di sofa dan wajah nya terlihat sangat gelisah kemudian Kirana mendekati Erlin lalu memeluk nya, mendapat pelukan dari keponakan nya Erlin pun terlihat lebih tenang.


"Lho..? Kirana tidak ke sekolah?" tanya nenek nya yang datang dari dapur.


"Aku yang menjemput nya" sahut Erlin sambil dia melepaskan pelukan nya dari keponakan nya, Kirana pun di ajak Vivian ke dalam kamar untuk ganti baju, kemudian Erlin menceritakan kepada ibu nya tentang pembicaraan nya dengan kepala sekolah.


"Bu..' sebenar nya Kirana masih kecil, kalau pun dia merasa ada ayah dan ibu nya di samping nya bukan berarti ada masalah dengan mental nya" ucap Erlin membela Kirana karna dia juga pernah merasa kan momend seperti itu, hanya saja dia tidak pernah menceritakan kepada siapa pun.


"Erlin, ajak Kirana pergi ke psikiater siapa tahu...."


"Bu!" Erlin kembali memotong ucapan ibu nya karna dia tahu keponakan nya tidak sedang berhalusinasi meski dia memang tidak pernah melihat Lica tapi dia yakin yang di katakan Kirana benar.


Ibu pun meninggal kan Erlin kemudian Erlin masuk ke kamar Kirana yang saat itu Kirana sedang terlihat berbicara sendirian tapi dia sedang berbicara dengan Lica.


"Kirana... kamu sedang bicara sama siapa sayang?" tanya Erlin.


"Sama bunda"

__ADS_1


"Di mana sekarang bunda" tanya Erlin sambil melihat ke sekeliling.


"Di sana" sahut Kirana sambil menunjuk ke belakang Erlin kemudian Erlin berdiri ke arah yang tadi di tunjuk Kirana lalu Erlin berkata kepada sesuatu yang tidak bisa dia lihat.


"Lica' aku tahu kamu sangat menyayangi anak mu, tapi tolong kamu mengerti posisi nya dan bisakah kamu membiarkan anak mu terlihat normal di depan orang lain?"


"Ibu di sana Paman" ucap Kirana lagi sambil menunjuk ke arah lain yaitu di belakang Erlin, kemudian Erlin berbalik lagi mengikuti arah yang di tunjukan Kirana.


"Lica' aku khawatir pada masa depan Kirana jika kamu mengganggu nya di depan orang lain dan..."


"Ibu pindah ke sana Paman" ucap Kirana lagi sambil menunjuk ke arah lain lagi, langsung tangan Erlin memukul jidad nya sendiri karna dia sangat kesal jika harus menguber Uber hantu hanya untuk menjelas kan.


"Ya Allah...ternyata hantu juga tidak suka di nasehati" gumam Erlin.


"Dengar hantu! di mana pun kamu berada kamu hanya harus mendengar kan nasehat ku karna ini juga demi masa depan anak mu juga" ucap Erlin sambil menunjuk ke arah yang tadi di maksut Kirana kemudian Erlin melihat lagi ke arah Kirana yang sedang melihat ke arah lain sambil Kirana tersenyum lebar, jadi Erlin pun sadar kalau Lica sudah pindah lagi, tambah kesal Erlin jadi nya karna merasa seolah sedang di permainkan hantu.


"Dengar hantu! tolong di ingat bahwa kelakuan mu yang sekarang adalah salah" ucap nya dengan ekspresi sangat kesal dan asal tunjuk membuat Kirana tertawa lagi melihat nya.


"Dan, jika kamu tidak ingin anak mu di sebut Gila maka mulai sekarang kamu jaga sikap mu" ucap Erlin lagi sambil menunjuk ke arah yang menurut Kirana salah lagi sehingga Kirana tertawa lagi sehingga membuat Erlin tambah kesal sampai rasa nya naik darah.


"Ingat! jaga sikap mu" ucap Erlin asal tunjuk kemudian meninggalkan kamar Kirana dengan perasaan sangat kesal bercampur jengkel dan juga marah.


Keesokan pagi nya Kirana sedang sarapan sikap nya sangat tenang jadi membuat Erlin sangat penasaran kemudian Erlin bertanya.


"Di mana ibu mu?"


"Ibu di kamar" sahut Kirana sambil makan roti nya.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan Erlin mengantar kan Kirana ke sekolah dan kirana masih dalam mood yang buruk dia seolah sedang menggunakan mode senyap.


__ADS_2