
"Tanyalah pendapat ibu, dan jika ibu setuju maka kita akan menikah, memang benar sebelum nya aku tidak pernah kepikiran untuk menikah karna aku terlalu pokus kepada Kirana, dan kamu tahu kan selama ini semua keinginan kirana selalu aku Kabul kan sehingga aku merasa kali ini pun juga harus aku Kabul kan." sahut Erlin malu malu karna dia sebelum nya tidak pernah melamar siapa pun.
"Saya mengerti tuan." sahut Vivian kemudian pergi dengan membawa makanan ke kamar ibunya Erlin.
Di kamar nenek nya, sudah ada Kirana yang mengusul kan tentang pernikahan Erlin dan Vivian, sehingga ketika Vivian tiba di kamar itu Ibu nya langsung bertanya.
"Bagaimana menurut mu? apakah kamu menerima usul cucu ku?" tanya ibu Erlin.
"Apakah nyonya tidak keberatan jika saya yang miskin ini menjadi menantu nyonya?" tanya Vi takut dan ragu.
"Aku percaya bahwa tidak ada wanita sebaik bibi yang cocok dengan Paman ku" ucap Kirana lalu dia pergi dan berjalan ke kamar Erlin yang saat itu sedang duduk di ranjang untuk melakukan beberapa pekerjaan di laptop nya.
Kirana duduk di ranjang Erlin kemudian Erlin menutup laptop nya lalu bertanya.
"Apa yang kamu lakukan di kamar ku" tanya nya gugup, baru kali ini dia merasa canggung di depan Kirana.
"Nenek setuju Paman menikah dengan bibi Vi" ucap Kirana setengah menggoda Erlin sehingga membuat wajah Erlin menjadi merah seperti tomat matang.
"Benar kah? tapi aku penasaran, mengapa kamu memilih Vivian?"
"Karna aku tahu dia adalah wanita yang cocok untuk Paman, persiapan pernikahan akan aku urus" ucap Kirana kemudian Erlin mengangguk lalu Kirana pergi.
Persiapan pernikahan Erlin dan Vivian di urus sepenuh nya oleh Kirana dan berjalan meriah tanpa masalah, semua orang bahagia karna pada akhir nya Erlin yang seumur hidup nya hanya mencintai Lica pada akhir nya bersedia menikah.
__ADS_1
Di acara pernikahan Erlin ada seorang tamu undangan yang di ikuti oleh roh seorang anak perempuan yang berusia 12 tahun, ibu itu bernama Wati dan dia adalah salah satu dari tetangga nya Vivian, kemudian Kirana mendekati roh itu dan bertanya.
"Siapa nama mu?"
"Camelia"
"Apa masalah mu?" tanya Kirana.
"Dia ibu sambung ku" ucap Camelia sambil menunjuk ke arah wanita yang sedang makan dengan rakus, beberapa orang memperhatikan sikap Kirana yang bagi tidak tahu itu adalah sebuah ke anehan tapi Kirana mengabaikan pandangan semua orang dan pokus pada roh itu kemudian Kirana mendekati Anggel lalu berkata.
"Apakah di antara semua tamu ini ada polisi?" mendengar pertanyaan itu Anggel kemudian melihat ke sekeliling lalu berkata.
"Seingat ku dia adalah seorang komandan polisi" sahut Anggel sambil menunjuk ke arah pria yang sedang berbicara dengan Neyreen.
"Apakah ada hubungan nya dengan roh?" tanya Anggel, kemudian Kirana mengangguk lalu Anggel pun pergi untuk menghampiri suami nya kemudian berbisik kepada Neyreen lalu Neyreen berkata kepada teman nya.
"Pak Joko, apakah bisa membantu ku?" tanya Neyreen kepada teman nya, lalu teman nya mengangguk.
"Tentu! apakah ada masalah?" tanya pa' Joko serius.
"Ayo kita temui dia dan kita tanya langsung apa yang ingin dia katakan" ucap Neyreen sambil menunjuk ke arah Kirana yang sedang berdiri di dekat pintu kamar nya.
Mereka bertiga pun kemudian mendekati Kirana kemudian masuk ke kamar mengikuti Kirana dan setelah Kirana selesai menjelas kan kemudian mereka semua keluar dan menunggu acara berakhir, tentu saja wanita yang sejak tadi mereka incar juga berniat mau segera pulang juga setelah membungkus banyak makanan di dalam tas gendong nya, tetapi Anggel mencegat nya dengan beralasan.
__ADS_1
"Kenal kan, nama ku Anggel dan aku seorang juru masak, sebenar nya kami masih memiliki banyak hidangan yang tersisa di dapur jika mau, Anda bisa menunggu sampai semua tamu pulang" ucap Anggel dan mendengar itu Wati langsung merasa sangat bersemangat, kemudian dia mengangguk beberapa kali sambil tersenyum lebar.
Anggel pun duduk di banggku dan wati juga duduk di samping Anggel dengan tidak sabar dia menunggu tamu yang satu persatu meninggalkan tempat itu.
3 jam kemudian hampir semua tamu jauh sudah pulang yang tersisa hanyalah beberapa keluarga dekat Vivian saja dan Kirana mulai mendekati Anggel kemudian dengan segera semua orang mengepung Wati sehingga membuat nya heran dengan apa yang sedang terjadi.
"Aku di sini berbicara mewakili Camelia gadis berusia 12 tahun yang mati karna kekejaman mu!" ucap Kirana dengan tegas.
"A...apa Mak...sut mu? aku tidak mengerti!" sahut nya mulai gugup.
"Camelia ada di sini dan dia sudah menceritakan semua nya kepada ku" bentak Kirana sehingga membuat Erlin dan Vivian yang sedang berbicara di pelaminan jadi terkejut lalu mendekati mereka juga kemudian dengan heran Erlin bertanya.
"Kirana, apa yang terjadi?"
"Wanita ini adalah pembunuh" ucap Kirana sambil menunjuk ke wajah Wati.
"Tunggu dulu, siapa yang aku bunuh dan kapan aku membunuh?" tanya wati heran karna dia yakin tidak ada siapa pun saksi dan tidak ada bukti apa pun yang bisa membuat dia di tangkap.
"Camelia adalah anak tiri mu, ayah nya adalah pria yang berasal dari kampung para pemulung, saat itu Camelia masih berusia 7 tahun dan usia Camelia sama seperti usia almarhum anak perempuan mu yang bernama Adinda, Adinda memiliki penyakit ginjal dan kamu sengaja menikahi ayah nya Camelia untuk mencadangkan anak nya sebagai pendonor bagi Adinda dan tujuan mu berhasil Adinda sempat menggunakan ginjal Camelia tetapi karna Adinda bertubuh lemah kemudian dia sakit lagi dan kamu mengambil ginjal Camelia yang satu nya lagi dan bukan hanya itu saja, kamu juga menjual jantung dan mata Camelia kepada orang lain dan kamu menyuruh orang untuk membuang mayat Camelia di jurang" ucap Kirana dengan ekspresi menakut kan membuat Wati gugup.
"Ba...bagai mana ka...kamu bisa tahu" tanya nya tanpa sadar mengakui perbuatan nya di dalam pertanyaan nya itu.
"Kamu hidup dengan makan uang hasil penjualan semua organ tubuh Camelia dan kamu bisa hidup tanpa bekerja karna uang yang kamu dapat kan cukup banyak" sahut Kirana lagi membuat Wati berkeringat di buat nya.
__ADS_1
"Tidak ada bukti aku melakukan hal itu jadi jangan sembarangan menuduh ku jika kamu tidak punya bukti" sahut nya seolah dia menemukan keberanian karna dia sangat yakin bahwa kejahatan nya sudah sangat rapi sehingga bahkan polisi pun tidak akan bisa menemukan bukti nya karna sudah terkubur selama 2 tahun.