
"Mau apa kalian?!"
"Mau bersenang-senang denganmu dong cantik. Hahaha...,"
Balqis menggelengkan kepalanya kencang, tubuhnya gemetar, aliran ketakutan yang dirasakan oleh Balqis menjalar cepat ke seluruh tubuhnya, termasuk ke urat nadinya. Balqis meremas erat pakaian kerjanya yang hampir mirip dinamakan seperti gamis.
Ya Allah, beri aku pertolonganMU.
Refleks kakinya melangkah mundur perlahan, untuk mengambil jarak keamanan dirinya terhadap dua orang pria berandalan yang kini sedang menatap dirinya lapar, sembari menampilkan seringaian iblisnya, perlahan pula mereka berdua memajukan langkahnya pada Balqis.
"Sayang kan bro kalo ada wanita secantik ini dilewatkan begitu saja. Hahaha...,"
"Yo'i bro! Sikat lang—"
Saat berandalan tersebut ingin menggapai lengan Balqis, tiba-tiba saja dirinya mengaduh kesakitan karena merasakan pukulan yang kencang tepat di leher dan punggungnya. Otomatis membuat si empu yang merasakan kesakitan tersebut, langsung menolehkan ke belakang.
Bugh!
Pukulan tepat di wajahnya pun mendarat, berhasil mengeluarkan darah segar yang keluar di rongga hidungnya.
__ADS_1
Ternyata seorang pria berpostur tinggi tegap dengan rahang kokohnya yang sudah mengeras itu yang sudah memukuli berandalan tersebut. Menerobos sinar lampu yang tidak begitu terlalu terang hingga wajahnya sedikit memperlihatkan pada Balqis yang kini sedang seketika mematung.
"Tu-tuan Gio?" Balqis hanya bisa bergumam dengan nada bicaranya yang masih dilingkupi oleh ketakutan sekaligus gugup.
*Bugh!
Bugh!
Bugh*!
Hancur sudah pertahanan kedua berandalan tersebut yang sudah dihabisi tiada ampun oleh pria yang bernamakan Gio.
"Cih!" Salah satu berandalan tersebut berdecih, "awas kau!" Ancamnya lalu tanpa disangka, salah satu berandalan itu menarik kencang lengan Balqis, mengunci pergelangan kedua tangan Balqis dan dihadapkan pisau tajam tepat depan wajahnya.
"Lo nggak usah ikut campur! Wanita ini milik kita berdua hahaha...," Kata berandalan itu dan disusul tawaan kencang oleh berandalan yang satunya lagi.
Balqis ingin memberontak, namun ia tahan. Ia sangat tahu, hal apa yang harus ia lakukan di saat keadaan seperti ini menimpa dirinya. Gio yang melihat Balqis seperti itu, rahangnya semakin mengeras menampakkan urat-uratnya, kilatan tajam dari kedua matanya sudah membuktikan bahwa dirinya tengah dirundung emosi tingkat tinggi.
Bugh!
__ADS_1
Pukulan kencang mendarat di perut berandalan tersebut, lalu dengan sigap ia membalikkan lengan berandalan itu dan menguncinya. Gio yang melihat itu, cukup terbelalak karena tanpa disangka, ternyata wanita yang ia tolong itu bisa melakukan seperti itu.
Ya Balqis.
Akhirnya Balqis berhasil mengunci kedua lengan berandalan tersebut dan langsung mengambil alih pisau yang sempat digenggam oleh pria barusan. Sementara Gio? Dirinya tengah menghabisi berandalan satunya lagi.
Memang tenaga Balqis tidak sekuat dengan berandalan tersebut. Tidak lama, berandalan tersebut akhirnya terlepas dari genggaman yang Balqis kunci dan segera melarikan diri. "Cabut!" ucap pada temannya. Dan akhirnya mereka jauh dari pandangan Balqis dan Gio.
Kini tersisa mereka berdua di pelataran taman yang hanya dihiasi lampu yang memiliki tingkat cahayanya remang. Derap langkah kaki Gio makin terdengar di pendengaran Balqis. Melangkah maju pada Balqis disertai napasnya yang masih terengah-engah lalu ia berhenti dengan jarak kurang lebih satu meter.
"Apa kamu baik-baik saja, Qis?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Gio, berhasil membuat tubuh Balqis mematung di tempat. Bagaimana tidak? Dari pertanyaan itu berhasil didengar oleh Balqis dengan lembutnya, tidak ada rasa dingin pada pertanyaan tersebut justru yang Balqis rasakan nada kekhawatiran.
Balqis hanya mengangguk menjawab pertanyaan Gio. Tanpa disangka, Gio mendekat pada Balqis. Rasanya Gio ingin memeluk Balqis untuk menenangkannya. Memang tidak akan mungkin, karena Balqis memiliki batasan.
Tapi setidaknya ia ingin menggenggam jemari Balqis yang kini ia lihat masih meremas pakaiannya itu. Saat jemarinya ingin menggapai jemari Balqis, Balqis lebih dulu menghindarinya.
"Haruskah saya menghalalkanmu terlebih dahulu agar bisa menyentuh dirimu, Balqis?"
__ADS_1