
Kepada siapa hati bergantung?
"Sesungguhnya hati itu pasti bergantung apa yang dicintainya. Maka, barangsiapa yang tidak menjadikan Allah-lah satu-satunya yang dia cintai dan Tuhan yang dia sembah, sudah barang tentu hatinya akan menyembah atau beribadah kepada selain-Nya."
-Ibnul Qayyim rahimahullah-
***
Tiga hari telah berlalu, langit yang sudah menampakkan senja pun perlahan menggantikan warnanya menjadi gelap. Balqis yang sudah menyelesaikan sholat maghrib serta rapi dengan pakaian kerjanya, kini menghadap cermin.
Ya. Balqis memutuskan akan pergi kembali bekerja di Jakarta setelah maghrib. Sebenarnya Umminya sudah memerintahkan pada Balqis untuk berangkat siang atau sore, namun Balqis menolak. Dirinya masih ingin berlama-lama dengan Umminya, sembari membantu Umminya berdagang.
Sampai pada akhirnya keinginan Balqis berangkat setelah maghrib terwujud juga. Pikiran Balqis tiba-tiba berhenti pada kenyataan seseorang yang bernama Rayhan itu melamar dirinya. Balqis sendiri masih tak percaya, namun tidak mungkin pula Umminya berbohong padanya soal ini.
Siapa yang tidak senang jika dirimu wahai para gadis akan dilamar oleh seorang pria? Apalagi jika kalian berdua saling menyayangi. Tidak dengan Balqis. Balqis memang merasakan bahagia karena ada yang ingin melamar dirinya. Namun, pria yang melamarnya ini yang Balqis tidak tahu.
Dan pada kenyataannya pula, sebelum pria ini melamar dirinya, hati Balqis telah terpaut pada seseorang secara diam-diam. Memangnya ini keinginan Balqis? Tidak.
Jika seorang Hamba bisa memutuskan untuk memilih siapa yang ingin dia sukai, sayangi bahkan cintai... Mungkin Balqis salah satu dari Hamba tersebut yang akan memilih terlebih dahulu hati ini akan berlabuh dimana.
Namun, lagi - lagi kembali pada faktanya bahwa sebuah rasa entah itu suka, sayang atau cinta, tidak bisa direncanakan kapan datangnya, pada sosok siapa berlabuhnya, dan alasan mengapa harus menjatuhkan rasanya pada seseorang tersebut.
"Balqis?"
Sapaan Umminya berhasil menghancurkan lamunan Balqis. Balqis menoleh pada Umminya yang kini sedang menghampiri dirinya. Lalu mengajak Balqis untuk duduk berdua di bibir tempat tidurnya.
Balqis hanya tersenyum pada Umminya. "Sudah siap semuanya?" Tanya Umminya.
Balqis mengangguk. "Alhamdulillah sudah, Ummi."
"Ya sudah, ayo berangk---"
"Tunggu dulu, Ummi."
Ummi Mayra tersenyum. "Ada yang tertinggal, nak?"
Balqis menggeleng. "Ada yang ingin Balqis bicarakan, Ummi."
"Apa itu, Sayang?"
"Mengenai lamaran Rayhan." Ucap Balqis lemas.
Mayra menghela napasnya pelan. "Ummi tau kamu masih terkejut akan hal itu, tapi apa salahnya kamu melakukan sholat istikharah terlebih dahulu? Sambil kamu mengingat kembali Rayhan, teman semasa kuliahmu dulu. Dan tepatnya, sejak kamu mengikuti kegiatan keagamaan itu."
Balqis mengangguk lesu. "Tapi, Ummi ... "
"Apa ada hal lain lagi, yang menyangkut soal ini?"
Balqis mengangguk dan seketika kedua pipinya merona karena teringat akan perasaannya sudah berlabuh pada siapa. Mayra yang menyadari itu, akhirnya mengerti lalu **** bibirnya menahan senyum.
__ADS_1
"Kamu sudah menyukai seseorang, nak?"
Pertanyaan tersebut berhasil membuat Balqis menoleh pada Umminya dan kedua mata Balqis membulat. Mayra yang melihat ekspresi anaknya tersebut, hanya bisa terkekeh geli.
"Ummi tau darimana?" Tanya Balqis heran.
Mayra tersenyum. "Karena ummi pun pernah muda seperti kamu, Sayang." Jawabnya sambil terkekeh. "Jadi, siapa pria yang telah mencuri hati anak Ummi ini?" Goda Umminya.
Balqis memalingkan tatapannya pada arah lain salah tingkah. "Seseorang yang nggak mungkin bisa Balqis gapai, Ummi." Jawab Balqis lesu.
Mayra mengulas senyum. "Nggak ada yang nggak mungkin menurut Allah, Balqis. Jika Allah memang sudah mentakdirkan kamu dengan seseorang itu, pasti akan Allah satukan kamu dengannya di waktu-Nya yang tepat ... "
" ... Jadi, lakukanlah sholat istikharah, mohon petunjuk pada-Nya mana yang terbaik untuk kamu atas pilihan dari-Nya. Terbaik dunia maupun akhirat." Kata Umminya.
"Dan juga ... Jangan dulu pesimis, nak. Memang, setiap wanita pasti mendambakan kisah cintanya seperti Rasulullah dengan Siti Khadijah atau seperti Fatimah dan Ali, saling mencintai dalam diam ... "
" ... Dan pastinya, ingin mendapatkan yang terbaik, mau itu akhlaknya, keimanannya, ketulusan hatinya serta kemurnian cintanya. Namun, apakah ada pria sesempurna itu di dunia ini?" Tanya Umminya.
Balqis terdiam. Ia jadi teringat bahwa kesempurnaan yang mutlak hanyalah milik Allah, Tuhan Penguasa Alam ini. Dan manusia? Tidak ada yang sebersih hatinya seperti Rasulullah. Hal ini pula membuat Balqis semakin ingin muhasabah diri.
"Kamu pasti sudah paham, laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik. Yang tidak baik dengan yang tidak baik juga. Ummi tidak tau, apakah seseorang yang kamu sukai itu baik dalam pengamalan agamanya atau tidak ... "
" ... Yang jelas, percayalah pada Allah. Allah Maha Membolak-balikan hati manusia. Jika seseorang tersebut nyatanya belum baik dalam pengamalan agamanya, teruslah berdo'a! Karena hidayah selalu Allah berikan pada siapa saja yang dikehendaki-Nya ... "
" ... Dan juga, belum tentu mereka yang nggak baik itu lebih buruk dari kita."
Tanpa Balqis sadari, dirinya meneteskan air mata lalu berhambur memeluk Umminya. "Terima kasih, Ummi."
***
Sementara di Jakarta saat ini, tepatnya kini Gio, Daffa serta nenek dan kakeknya Daffa, alias kedua orang tua Gio sedang berada di salah satu Cafe mewah Jakarta.
Acara makan malam ini begitu mendadak, karena Mamanya Gio tahu bahwa anak satu - satunya ini sedang cuti. Dan hal itu sangat langka bagi kedua orang tua Gio, karena Gio bisa meluangkan waktunya.
"Kalau kamu masih saja betah dalam kesendirian seperti ini, Mama dan Papa akan memutuskan untuk memilih pendamping hidupmu, Gio." Ujar Mamanya tegas.
Perkataan Mamanya barusan, membuat dirinya tersedak. "Uhuk ... Uhuk ... " Lalu segera meraih minumannya.
Yang seperti ini, Gio sudah menduga jika dirinya bersama kedua orang tuanya berkumpul bersama, pasti membahas soal wanita. Maka dari itu, Gio memutuskan untuk tidak tinggal bersama dengan kedua orang tuanya.
Bahas ini lagi, batin Gio cukup lelah.
"Mama dan Papa serius mengatakan itu, Gio." Ucap Mamanya lagi.
Gio memutar bola matanya malas. "Iya, Ma. Mama dan Papa tenang aja ya ... "
Mamanya membuang napasnya kasar. "Harus tenang gimana lagi, Gio? Sementara kamu sendiri saat ini sedang tidak dekat dengan wanita mana pun. Gimana Mam---"
"Sudah, Ma ... Sudah. Jangan terlalu memaksaka---" Kata Papanya Gio sembari mengelus pundak istrinya lembut. Namun, ucapannya terpotong ...
__ADS_1
"Harus begini, Pa! Papa pasti mengerti kan maksud Mama melakukan hal ini karena apa?" Ucap Mamanya Gio yang sudah terpancing emosi.
Suaminya mengangguk. "Aku mengerti, Sayang." Menenangkan istrinya lalu beralih menatap Gio. "Asal kamu tahu, Gio. Papa dan Mama melakukan ini, karena untuk kamu juga. Supaya lebih ada yang memerhatikan kamu, merawat Daffa, menyayangi Daffa dan kamu tentunya ... "
" ... Papa tidak akan menjelaskan lebih detail lagi, alasan Papa dan Mama melakukan ini. Kamu cukup pintar dalam memahami apa maksud Papa dan Mama." Tegas Papanya.
Gio mengangguk. "Iya, Pa. Gio paham dan memang Gio tidak sedang dekat dengan siapa pun, namun sepertinya ... Hati Gio sudah terpikat oleh seseorang."
Mendengar itu, kedua mata Papa dan Mamanya berbinar. "Siapa seseorang itu, Gio?" Tanya Mamanya semangat.
"Nanti Gio kenalkan langsung pada Mama dan Papa di waktu yang tepat."
***
Setelah Dinner dengan kedua orang tuanya yang cukup menguras pikiran serta tenaganya, akhirnya Gio memutuskan untuk pulang ke rumahnya, menuntun Daffa sampai mobil yang sudah terparkir cantik di depan Cafe tersebut, dimana supirnya telah setia menunggu.
Sementara kedua orang tuanya Gio, sama ... Mereka pun memutuskan untuk pergi menginap di hotel yang telah mereka berdua pesan. Gio sudah menawari untuk menginap saja di rumahnya, namun mereka menolak halus. Entahlah alasannya karena apa, hanya mereka dan author yang tahu.
Mobil yang ditempati Gio pun akhirnya berjalan, membelah jalanan perkotaan yang ramai akan penduduk sekitar, semakin langit menggelapkan warnanya, semakin itu pula bintang-bintang menyinarinya.
"Ayah, Daffa haus." Ucap Daffa pada Gio yang tengah sibuk periksa email di ponselnya.
Gio menoleh lalu tersenyum. "Ya sudah, nanti Ayah belikan minuman ya." Daffa mengangguk.
"Pa, nanti berhenti sebentar di supermarket ya?" Ucap Gio pada supir dan supir itu mengangguk. "Baik, Tuan."
Selang beberapa menit, akhirnya mobil yang ditempati oleh Gio terparkir di depan supermarket. Lalu turun hanya seorang diri. "Tunggu sebentar ya, Sayang?" Ucapnya pada Daffa.
"Iya, Ayah."
Masuklah Gio ke dalam supermarket tersebut. Dan beberapa pasang mata yang berada dekat dengannya, melihat Gio dengan tatapan memesona. Apalagi wanita, tatapannya seperti ingin menggoda Gio.
Tak lama Gio pun keluar dari supermarket tersebut dan tiba-tiba pendengarannya menangkap sebuah suara yang cukup menganggu Gio.
"Tolong!"
Suara wanita?
Gio yang mengerti hal itu, dirinya langsung memberikan minuman pada Daffa dan ...
"Pa, tolong jaga Daffa baik-baik. Saya ada sedikit urusan, sebentar tidak lama." Ucap Gio sedikit panik lalu kedua matanya beralih pada Daffa yang sudah tertidur.
Sang supir mengangguk menjawab 'iya' walaupun tidak dilihat oleh Gio. Sementara Gio? Dia kini mencari suara wanita tersebut yang seolah-olah benar-benar sedang membutuhkan pertolongan.
Dan benar, terlihat seorang perempuan yang Gio lihat sudah dikepung oleh dua pria berbadan cukup besar. Perempuan itu pun terlihat gemetaran tubuhnya menahan rasa takut.
Pantas saja perempuan tersebut diganggu oleh dua pria tua tersebut, tempatnya yang gelap dan hanya diisi oleh cahaya lampu remang, cukup mendukung pria tua tersebut melakukan hal seperti itu pada perempuan.
Diam-diam Gio melangkah untuk mendekat pada pria tua berandalan itu, dirinya tak sengaja melihat wajah perempuan tersebut. Bersamaan dengan itu, detak jantung Gio berhenti seketika.
__ADS_1
Balqis?
Bersambung...