Cinta Serenyah Macarons

Cinta Serenyah Macarons
CSM - 4


__ADS_3

*Allah SWT berfirman:


اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ ۗ 


"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."


(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 28*)


***


"Silakan duduk, Non."


Balqis mengangguk sopan dan tersenyum pada wanita paruh baya yang sudah mempersilakan dirinya duduk manis di ruang tamu mewah ini.


"Mau minum apa, Non?"


Balqis tersenyum. "Apa aja, Bu."


Wanita paruh baya itu pun mengangguk tersenyum. "Baik, Non. Kalau gitu saya permisi." Dan Balqis hanya membalasnya dengan anggukkan satu kali disertai dengan senyumannya.


Sesuai saran sahabatnya, Balqis tidak akan membuang kesempatan emas ini terlewati begitu saja dalam hidupnya. Yah walaupun Balqis baru memulai untuk mencobanya, why not?


Balqis merasa seperti di alam mimpi dirinya menginjakkan kaki di rumah yang mewahnya berkali lipat ini. Dan ya ini kali pertamanya masuk ke dalam rumah semewah ini.


Bahkan ia sempat membandingkan rumah Vanya dengan rumah ini. Ternyata rumah ini jauh lebih mewah dari pada rumah yang sahabatnya tempati itu. MasyaAllah... Pujinya tiada henti.


"Silakan Non diminum teh hangatnya."


Balqis sempat terlonjat kaget mendengar suara tersebut. Akhirnya ia pun menerimanya dengan senyuman. "Terima kasih ya, Bu."


Wanita paruh baya itu pun mengangguk membalas senyuman Balqis. "Tunggu sebentar lagi ya non ... Mung—"


Ucapan wanita paruh baya itu terpotong kala suara bel pintu rumah ini berbunyi, pertanda pemilik rumah ini telah datang. "Nah, ternyata sudah datang. Sebentar ya non, saya bukakan pintunya dulu." Pamit wanita paruh baya itu dengan sopannya.


Balqis mengangguki sembari senyum. Setelah kepergian wanita itu, Balqis merasa tubuhnya kali ini bergetar entah karena apa. Ia merasa detak jantungnya pun memompa dirinya lebih dari biasanya.


Keringat dingin pun mulai bercucuran di pelipis Balqis serta kedua telapak tangannya. Dan ia sadar, ternyata dirinya seperti ini karena belum siap akan bertemu dengan pemilik rumah mewah yang ia pijaki saat ini.


"Ingat Qis, hanya mengingat Allah hati menjadi tenang." Ucap Balqis mengingatkan diri sendiri sembari meletakkan tangan kanannya tepat di dadanya.


Balqis terus saja mengucapkan asma Allah di dalam hatinya untuk menenangkan dirinya yang tengah mengalami dag dig dug dengan kepalanya yang menunduk.


Dan tanpa ia sadari, sepasang sepatu hitam mengkilap sudah berada di hadapan Balqis saat ini. Hanya beberapa langkah saja, namun itu berhasil membuat kesadaran Balqis hidup.


Tunggu. Sepatu ini kan yang pernah aku lihat waktu ...


Tak mau berlama-lama Balqis memikirkan hal tersebut, langsung lah ia mengalihkan kedua matanya menatap seseorang yang kini sedang berada di hadapannya.


"Kamu?!"


Ucap mereka bersamaan sekaligus rasa terkejutnya yang sangat kompak. Lihatlah, kedua mata mereka pun juga samanya terbelalak kala mengetahui seseorang yang mereka ingin temui saat ini ternyata orang yang telah ...

__ADS_1


Astaghfirullah, belum cukupkah Engkau mempertemukan Hamba dengan orang seperti dirinya ini Ya Allah?


"Sedang apa kamu di sini?" Tanya seseorang itu dengan sinisnya.


Balqis pun mendelik. "Bukan urusanmu." Jawab Balqis tak kalah sinisnya.


Seseorang itu pun terkejut mendengar jawaban yang Balqis lontarkan itu, namun sepintar mungkin ia cepat - cepat mengembalikan mimik wajahnya menjadi sinis kembali. "Jelaslah urusan saya." Jawabnya menyeringai.


Akhirnya seseorang itu pun duduk berhadapan dengan Balqis. "Lalu, kenapa kamu ada di sini? Belum cukup juga apa setelah insiden kemar—"


Belum selesai Balqis bicara, seseorang itu telah memotongnya. "Saya pemilik rumah ini." Ucap dinginnya.


Glek


Apa benar? Batin Balqis tak percaya.


Balqis terkekeh. "Saya tidak meminta kamu untuk menjawab pertanyaan saya dengan lelucon kamu ya."


Tanpa Balqis sadari, seseorang yang telah ia anggap ucapannya lelucon kini mulai mendekati Balqis secara perlahan-lahan. Dan Balqis pun menyadari itu, otomatis membuat Balqis menelan susah payah salivanya dan mundur.


Tepat sepuluh senti wajah Balqis dan seseorang itu dekat. "Apakah di wajah saya ada sebuah lelucon untukmu, nona?" Tanya seseorang itu dengan wajahnya yang menampakkan keseriusan serta rahangnya yang sudah mengeras.


Glek


Lagi-lagi Balqis menelan susah payah salivanya. Mengapa dirinya dihadapkan seseorang seperti ini lagi sih dalam hidupnya?


"Be-benarkah?" Tanya Balqis dengan bibirnya yang gemetaran.


"Maaf." Cicit Balqis dan seseorang itu hanya mengangguk. "So, kedatangan kamu ke sini, untuk bekerja di rumah saya. Right?" Tanya seseorang itu.


Balqis mengangguk takut dan seseorang itu yang melihat Balqis karena menanggapi dirinya seperti itu, mau tak mau membuat dirinya menahan tawanya agar tidak bersuara.


Tak butuh waktu lama, seseorang itu tiba-tiba menyodorkan tangan kanannya ke hadapan Balqis. Balqis pun tau, seseorang tersebut melakukan seperti itu untuk apa. Ya, berkenalan.


"Gio Faeyza Darelano." Ucapnya yang masih setia menyodorkan tangan kanannya itu di hadapan Balqis.


Ya. Dia Gio. Pemilik rumah yang sangat mewah ini, yang baru saja Balqis pijaki rumahnya, baru saja Balqis melontarkan ucapan sinis padanya serta pria yang telah mengacaukan mood nya karena insiden beberapa hari yang lalu. Insiden yang telah membuat berkas lamaran kerjanya basah.


"Balqis Maura Lishyana." Jawab Balqis sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di dada.


Melihat perlakuan itu, Gio tercengang. Ia tidak mengerti dengan perempuan yang berada di hadapannya ini dan ia sangat heran. Mengapa perlakuan Balqis tidak sama dengan apa yang telah ia perlakukan padanya?


Padahal wanita di luar sana banyak sekali yang ingin menggenggam tangannya, menyentuh tangannya. Namun Gio tolak, setelah bercerai dirinya dengan mantan istrinya itu Gio tidak pernah menyentuh atau disentuh oleh wanita lain. Lalu ini?


Menarik batinnya.


Menyadari dirinya telah memuji Balqis, membuat ia menggeleng gelengkan kepalanya mengusir ucapan dalam hatinya.


Ingat Gio, wanita sama saja ... Hanya menginginkan harta. Batin Gio mengingatkan kembali.


"Kenapa?"

__ADS_1


Balqis mengernyit. "Kenapa apanya, Tuan?"


Gio menghela napasnya sedikit kasar. "Tidak membalas jabatan tangan saya."


Balqis ber'oh' ria. "Karena memang tidak seharusnya."


Halis mata Gio terangkat sebelah dan Balqis yang menyadari itu kembali ingin menjelaskan. "Di dalam Islam, perempuan tidak diperbolehkan menyentuh kulit laki-laki yang bukan mahramnya. Begitu pun sebaliknya."


Mendengar itu, Gio menatap lekat Balqis sekaligus rasa penasaran di dalam dirinya menggebu, penasaran pada ucapan Balqis yang baru saja Gio ketahui. "Alasannya?"


Balqis mengernyit. Apakah pria yang baru saja menjadi Tuannya ini benar-benar tidak mengetahui perihal ini? Pikirnya.


"Alasannya ... "


Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wa sallam bersabda,


"Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya."


(HR. Thobroni dalam Mu'jam Al Kabir 20: 211).


"Karena ... "


Allah SWT berfirman:


قُلْ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُـضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْ ۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا يَصْنَـعُوْنَ


"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."


(QS. An-Nur 24: Ayat 30)


وَقُلْ لِّـلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَـضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّ ۖ 


"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat ... "


(QS. An-Nur 24: Ayat 31)


Mendengar semua penuturan Balqis, Gio menganggukkan kepalanya seraya mengerti. Entah apa yang terjadi dengan hatinya, dirinya merasa hangat setelah mendengar semua ucapan Balqis barusan.


"Jadi dosa gitu?" Tanya Gio dan dibalas anggukkan oleh Balqis.


Gio cukup senang, tanpa diduga wanita yang sempat membuat dirinya kesal, jengkel, malas sampai Gio tidak ingin berurusan dengannya lagi, telah menambah pengetahuan pada dirinya mengenai Islam.


"Thanks." Ucap singkat Gio dan lagi lagi Balqis hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Lalu?" Tanya Gio dan lagi-lagi Balqis mengernyit, Gio yang menyadari itu langsung membuka suara kembali. "Solusinya agar bersentuhan dengan wanita tidak berdosa harus gimana?"


Balqis menghela napasnya pelan. "Menikah, Tuan Gio." Jawab Balqis berusaha sabar.


Setelah mengetahui jawaban Balqis, Gio menyeringai jahil. Lalu tubuh Gio mulai mendekat, dekat dan lebih dekat lagi pada Balqis, membuat Balqis refleks mundur dan antara mereka menyisakan jarak beberapa senti saja.


"Will you marry me, Balqis?"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2