Cinta Serenyah Macarons

Cinta Serenyah Macarons
CSM - 16


__ADS_3

'Hatiku yang dingin, kembali menghangat karenamu. Tanggapanku mengenai wanita, kini berubah karenamu. Rasa yang tidak kukira akan datang, kini sudah bersemayam di hatiku ... Menerobos dalam pada hatiku yang dingin.


Aku sadari, aku membutuhkan sosok dirimu. Yang bisa mengenalkan Dia lewat perantara dirimu. Yang tanpa izin telah menari di dalam pikiran serta hatiku. Memberikan secercah cahaya ke dalam hidupku.


Kau! Wanita istimewa ... Jadilah milikku.'


Said Gio Faeyza Darelano.


***


"Ck! Fokus Gio fokus!"


Gio yang sedari tadi berkutat dengan pekerjaannya itu, benar-benar pikirannya tidak fokus. Dikarenakan dirinya selalu terpikirkan pembicaraan dengan Balqis malam tadi. Sudah beberapa kali mencoba untuk fokus, namun gagal.


Flashback On


"Saya butuh jawaban jujur kamu." Kata Gio masih bernada dingin. "Siapa seseorang itu?" Lanjutnya bertanya lagi.


"Seseorang yang tidak akan pernah bisa saya dapatkan."


Jawaban Balqis membuat Gio mengernyit kebingungan. "Saya tidak suka bertele-tele, Balqis." Kata Gio dengan tatapan yang menajam pada Balqis.


"Siapa, Qis? Siap--"


"Anda, Tuan."


Apa katanya?


"Sa--saya?" Tanya Gio tak menyangka.


Balqis yang sadar akan keceplosan tersebut, mendadak gelagapan terlihat dari bibirnya yang bergetar. "Mak--maksud saya, anda harus segera beristirahat, Tuan."


Gio semakin mengernyitkan dahinya, baru saja Gio ingin membuka mulutnya untuk menjawab ucapan Balqis, sayangnya Balqis sudah mendahuluinya.


"Ma--ma'af, Tuan ... Saya pamit pergi, assalamu'alaikum." Ucap Balqis menunduk dan langsung keluar dari kamar Gio.


Sementara Gio, baru saja ingin mengatakan sesuatu pada Balqis namun wanita itu sudah memutuskan untuk pergi.


Flashback Off


Benarkah seseorang yang dimaksud kamu itu saya, Balqis?


Drrrt... Drrrt...


Lamunan Gio pun terhenti kala merasakan getaran ponselnya di atas meja kerjanya. Tidak, dirinya kini tidak berada di dalam kantornya. Melainkan di rumahnya sendiri, tepatnya di ruang kerjanya.


Kedua mata Gio pun melihat ponselnya, terteralah nama sahabatnya itu memanggil dirinya.


"Halo, Bro?"


"Hm?"


"Lo beneran cuti dulu?"


"Hm."


"Berapa hari?"


"Entah ... Ntar gue kabari lagi."


"Jangan lama-lama dong lo! Kerjaan gue numpuk banget gar---"


"Suka-suka guelah."


"Ck! Bos mah bebas."


Tut... Tut...

__ADS_1


Sambungan telepon pun sudah dimatikan sepihak oleh Gio.


Ya benar. Setelah menyelesaikan bisnisnya di luar Indonesia kemarin itu, dirinya memutuskan untuk tidak masuk ke kantornya. Entahlah berapa harinya, yang jelas... Gio ingin beristirahat sementara dahulu di rumahnya. Yah sesekali ia sambil melihat pekerjaan Balqis sebagai Babysitter.


"Keluar aja lah, pusing."


Gio pun memutuskan untuk menunda pekerjaannya terlebih dahulu. Percuma jika dilanjutkan tetapi pikiran dan hati kemana-mana, pikirnya.


"Hahaha ... "


Langkah Gio terhenti, karena tiba-tiba pendengarannya tersebut menangkap suara tawaan riang yang pecah. Ia sangat mengenal suara tawa itu, ya. Itu suara Daffa, anaknya. Sudah sangat lama dirinya tidak mendengar tawaan riang dari anaknya itu.


Daripada rasa penasarannya tidak terselesaikan, akhirnya Gio melangkahkan kakinya ke kamar Daffa, untuk melihat apa yang sudah terjadi.


"Ahahaha wajah Bi Aqis sangat lucu."


Beruntung pintu kamar Daffa tidak tertutup sepenuhnya, mau tak mau Gio bisa melihat mereka dari kejauhan celah pintu terbuka.


Cukup dua kali gue jadi pengintip.


Apa yang dilihat Gio?


Ternyata Balqis dan Daffa sedang bermain di dalam kamar tersebut. Gio melihat Daffa dengan girangnya mengoleskan bedak di wajah Balqis secara bebas. Balqis yang menerima itu, benar-benar terkikik geli dan ikut tertawa kala Daffa pun tertawa.


Yap! Mereka berdua bermain permainan ular tangga tradisional. Dimana setiap pemain mulai dengan bidaknya di kotak pertama (biasanya kotak di sudut kiri bawah) dan secara bergiliran melemparkan dadu. Bidak dijalankan sesuai dengan jumlah mata dadu yang muncul.


Bila pemain mendarat di ujung bawah sebuah tangga, mereka dapat langsung pergi ke ujung tangga yang lain. Bila mendarat di kotak dengan ular, mereka harus turun ke kotak di ujung bawah ular. Pemenang adalah pemain pertama yang mencapai kotak terakhir.


Dan atas takdir Allah, Balqis selalu mendarat di kotak yang adanya ular. Maka dari itu, Balqis selalu mendapat coretan bedak dari Daffa. Dan membuat Daffa tertawa lepas tak hentinya.


Saya nggak salah menerima kamu sebagai pengasuh Daffa, Qis. Batin Gio bicara sembari tersenyum.


"Yeay! Daffa menang lagi." Ujar Daffa senang.


Balqis mengangguk tersenyum. "Daffa memang hebat!" Puji Balqis. "Oh iya, Daffa haus nggak?" Kata Balqis sembari menghapus bedak di wajahnya.


Lagi-lagi Daffa mengangguk. "Iya Bi Aqis, nggak apa-apa." Lalu Balqis tersenyum dan hendak bangkit dari duduknya ia sedari tadi.


Gio yang melihat tanda-tanda Balqis akan keluar, segera ia mencari tempat untuk persembunyian dirinya. Kedua ekor matanya mencari kesana kemari dan akhirnya ...


Grep


Haah ... Hampir aja. Batinnya lega.


***


"Beneran gitu, Hann?"


Bu Minah dan Hanny kini sedang berada di dapur, Bu Minah yang sibuk memasak dan Hanny yang sibuk membantu Bu Minah memasak.


Yah terkadang mereka berdua sambil berbicara, namun itu tidak sama sekali menganggu aktivitas mereka di dapur asalkan tidak berlebihan dalam bicaranya.


"Ibu benar-benar nggak nyangka salah satu dari mereka ada yang meninggal, itu juga pas ibu melihat bendera kuning di rumah sebelah itu, Hann."


Hanny menghela napasnya. "Gimana mau tau bu, rumah yang sebelah itu kan sombong, nggak mau bersosialisasi dengan yang lain, ter---"


"Hush! Jangan gitu, Hanny. Siapa tau mereka sangat sibuk, jadi nggak ada waktu buat sapa orang lain."


Hanny menggelengkan kepalanya. "Nih ya Bu Minah, banyak yang bilang, orang itu meninggalnya miris banget. Saking mirisnya, banyak kejadian aneh-aneh ... "


Bu Minah terkejut. "Astaghfirullah, Hanny. Jangan bicara sembarangan gitu, kamu tau darimana semua itu?"


"Ibu-ibu perumahan sini, pas Hanny lagi belanja sayuran." Jawab Hanny. "Hmm ... Emang wajar sih kalau benar ada kejadian aneh, mungkin dia selama hidupnya banyak lakuin maksiat, oh atau nggak suka nyakitin or---"


"Astaghfirullah, Hanny."


Bukan, itu bukan suara Bu Minah. Melainkan suara Balqis. Memang, sedari tadi Balqis sudah mendengar apa yang dibicarakan oleh Hanny kepada Bu Minah. Sungguh, membuat dirinya menggelengkan kepalanya tak menyangka.

__ADS_1


Mendengar namanya disebut secara tiba-tiba, akhirnya si empu pemilik namanya itu menoleh. Dan mendapati Balqis yang kini sudah menatap dirinya dingin. Wah ... Ada apa dengan Balqis?


"Eh ... Ah ka--kak Balqis." Ucap Hanny gugup.


"Istighfar, Hann." Kata Balqis yang sudah berada di samping Hanny. "Barusan, apa yang telah kamu bicarakan itu nggak baik."


Hanny menunduk malu lalu menganggukkan kepalanya ragu-ragu.


"Di dalam islam, kita harus saling menghormati dan menghargai orang lain. Nah, nggak cuma ditujukan pada orang yang hidup aja loh, tapi kita juga harus melakukannya pada mereka yang telah meninggal ... " Ucap Balqis.


" ... Dan di dalam islam juga, ada adabnya untuk bersikap yang baik pada mereka yang telah meninggal. Mau tau?" Tanya Balqis dan Hanny mengangguk.


"Salah satunya, kita dianjurkan untuk memperbanyak menceritakan kebaikan orang yang sudah meninggal itu agar ia lebih mudah masuk ke dalam surga Allah."


Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, "Mereka lewat mengusung jenazah, lalu mereka memujinya dengan kebaikan. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Wajib." Kemudian mereka lewat dengan mengusung jenazah yang lain, lalu mereka membicarakan kejelekannya. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Wajib." Umar bin Al-Khattab lantas bertanya, "Apakah yang wajib itu?" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا فَوَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِى الأَرْضِ


"Yang kalian puji kebaikannya, maka wajib baginya surga. Dan yang kalian sebutkan kejelekannya, wajib baginya neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi."


(HR. Bukhari, no. 1367; Muslim, no. 949)


"Dan ... Menceritakan keburukan orang yang telah meninggal, sama aja kamu itu ghibah pada orang tersebut. Pastinya ini sangat dilarang dalam islam."


Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bertanya, "Tahukah kamu, apa itu ghibah?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai."


Seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu tentang dirinya, maka berarti kamu telah menggibahnya (menggunjingnya). Namun apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah menfitnahnya (menuduh tanpa bukti)."


(HR. Muslim).


"Ghibah itu pun ada buruknya loh, Hann. Allah sendiri yang berbicara di dalam surat Al Hujurat ayat 12 ...


Allah SWT berfirman:


يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۗ اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ


"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang."


(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12)


"Tuh Hanny, dengar apa kata Balqis bicara! Kamu tuh seenaknya aja ngomongin orang yang udah meninggal." Ucap Bu Minah menggerutu pada Hanny.


Hanny menunduk malu lalu mengangguk. "Hanny minta maaf, Hanny benar-benar keikutan ibu-ibu."


Mendengar itu, Balqis menggelengkan kepalanya. "Mohon ampunlah pada Allah, dan jangan lupa do'akan yang baik-baik untuk tetangga kita itu. Walaupun kita tidak tau, selama ia hidup ... Sikapnya seperti apa. Hanya Allah yang mengetahuinya." Jawab Balqis tersenyum.


Tanpa Hanny sadari, dirinya sudah meneteskan air matanya lalu berhambur memeluk Balqis yang hendak mengambil air minum untuk Daffa.


"Astaghfirullah!" Pekik Balqis terkejut mendapatkan serangan pelukan tiba-tiba dari Hanny.


"Terima kasih banyak, Kak! Terima kasih. Hiks ... "


Balqis tersenyum lalu mengangguk. "Jangan diulangi lagi ya?" Dan Hanny hanya mengangguk antusias sebagai jawaban dari ucapan Balqis.


"Terima kasih juga ya, Qis." Kata Bu Minah tersenyum.


Balqis mengangguk dengan senyuman yang semakin lebar. "Iya Bu, sama-sama. Ya sudah kalau gitu Aqis pamit ke kamar Daffa ya Bu, Hann?"


Bu Minah dan Hanny kompak mengangguk. "Iya, Qis."


"Hanny, bantu Bu Minah yang bener ya? Jangan nangis ... Ntar cantiknya ilang lho." Goda Balqis yang langsung pergi.


Sementara Hanny mengerucutkan bibirnya dan Bu Minah terkekeh geli.


Tanpa mereka bertiga sadari, Gio melihat semuanya. Apa yang diucapkan Balqis, Hanny serta Bu Minah. Dan jangan lupakan dengan kedua sudut bibirnya yang sudah melengkung, membentuk senyuman yang sangat tampan.


Bolehkah saya menjadikanmu sebagai bidadariku dunia akhirat, Qis?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2