
'Aku titipkan rindu ini kepada-Nya agar disampaikan kepadamu, lewat angin yang berhembus menerpa hatimu.'
Said Balqis Maura Lishyana.
***
Balqis, tengah menyendiri di balkon depan kamar Daffa yang berada di lantai dua setara dengan kamar Tuannya serta ruangan kerjanya. Memang, cuaca di siang hari seperti ini cukup menyilaukan wajah polos Balqis tanpa bubuhan make-up itu.
Namun kesendirian dirinya saat ini, sangat ia butuhkan untuk merenung, apakah selama yang ia kerjakan ini diridhoi oleh Allah? Apakah selama ini kebaikan yang ia lakukan, akan diakui bahkan diterima oleh Allah?
Entahlah, Balqis hanya manusia yang tak luput dari kesalahan dan dosa. Manusia yang tidak sempurna, dimana memiliki kelebihan serta kekurangan. Dan bukankah sebaik-baiknya manusia yang bisa bermanfaat untuk orang banyak?
Ini yang ia renungkan, tujuan dirinya diciptakan oleh Allah, di dalam fatamorgananya dunia ini serta akan berakhir seperti apakah dirinya nanti menutup mata. Dan satu hal yang mewakilkan dari beribunya harapan Balqis,
Yaitu ...
Allah sudi memperlihatkan Wajah-Nya pada Balqis kelak di akhirat.
"Bi Aqis?"
Balqis tersadar dari lamunannya kala mendengar suara Daffa tiba-tiba, dan ia menoleh. "Eh Daffa udah bangun?" Kata Balqis sembari langkahnya mendekat pada Daffa.
Daffa mengangguk lemas. "Alhamdulillah. Oh iya kamu sudah baca do'a bangun tidurnya hm?" Tanya Balqis lembut.
Daffa menggeleng. "Belum Bi Aqis." Balqis tersenyum, "nah kalo gitu, kita baca bareng-bareng ya sayang."
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ
"Segala puji bagi-Mu, ya Allah, yang telah menghidupkan kembali diriku setelah kematianku, dan hanya kepada-Nya nantinya kami semua akan dihidupkan kembali."
(HR.Ahmad, Bukhari, dan Muslim).
Bertepatan setelah selesai membaca doa tersebut, adzan ashar pun berkumandang. Pertanda bahwa panggilan Allah menggema di seluruh dunia.
"Alhamdulillah, sudah waktunya sholat ashar." Ucap Balqis, "nggak apa-apa kan Bi Aqis tinggal sholat dulu, sayang?" Tanya Balqis pada Daffa.
Daffa mengangguk. "Nggak apa-apa, Bi Aqis. Tapi ... "
Balqis mengernyit. "Tapi apa, nak?"
"Tapi ... Daffa juga mau ikut sholat." Lirih Daffa yang masih terdengar jelas oleh Balqis.
Sebelum Daffa mengenal Balqis, Daffa tidak tahu menahu soal kewajibannya menunaikan sholat. Karena baru-baru ini ia masuk dan disekolahkan oleh Gio khusus sekolah internasional. Dimana bahasa selain Indonesia lebih diutamakan, contoh inggris.
Dan Allah mentakdirkan Daffa bertemu dengan Balqis, menjadi mengenal kewajiban dalam menunaikan sholat. Awalnya Balqis terkejut perihal anak majikannya itu tidak mengetahui hal sepenting ini, dan Balqis pun berniat memberitahukannya pada Daffa walaupun perlahan-lahan.
"MasyaAllah sayang." Balqis terkagum. "Ya sudah kalo gitu, kamu ikut sholat sama pak Roy aja ya di Mesjid? Nanti Bi Aqis yang bilang."
Pak Roy ialah salah satu pekerja di rumah ini yang bekerja sebagai supir, dimana ia selalu mengantarkan bahkan menjemput Daffa (khusus) pulang dari sekolahnya. Namun, beliau juga terkadang diperlukan oleh Gio sebagai supir.
Lagi-lagi Daffa mengangguk tersenyum. "Nah tapi sebelum sholat... Kamu mandi dulu. Oke?"
"Oke, Bi Aqis."
***
"Shadaqallahul-'adzim."
Benar. Namanya bukan Balqis jika melakukan kebaikan pada orang lain secara tanggung. Setelah ia mengajarkan Daffa bagaimana caranya sholat, ia pun mengajarkan pada Daffa mengaji dengan kesabarannya, walaupun baru dimulai dari 'Iqra.'
"Alhamdulillah, bacaan mengaji kamu semakin hari semakin lancar, Daffa." Ucap Balqis sambil mengelus kepala Daffa lembut. "Bi Aqis bangga sama kamu." Lanjutnya lagi disertai dengan senyumannya.
Daffa memeluk Balqis. "Terima kasih ya, Bi Aqis." Balqis mengangguk. "Sama-sama, sayang." Jawab Balqis.
Tiba-tiba Daffa melepaskan pelukannya lalu menatap Balqis. "Bi Aqis, apa nanti ada manfaatnya di akhirat, kalo Daffa bisa membaca Al-Qur'an?" Tanyanya khas anak kecil gemas.
Balqis tersenyum. "Ada dong. Banyak malah ... "
"Wah, kalo gitu beritahu Daffa salah satunya dong, Bi Aqis?"
Balqis mengangguk.
Dari Mu'adz Al-Juhani, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
__ADS_1
"Barangsiapa membaca Alquran dan mengamalkannya apa yang terkandung di dalamnya, maka kedua orangtuanya akan dikenakan mahkota pada hari Kiamat yang cahayanya melebihi cahaya matahari seandainya ada di dalam rumah-rumah kalian di dunia ini, maka bagaimanakah perkiraanmu mengenai orang yang mengamalkannya?"
(HR. Ahmad).
"Nah ... Anak yang membaca dan mengamalkan ayat Alquran, maka kedua orang tuanya akan dikenakan mahkota pada hari Kiamat. Dimana cahayanya melebihi sinar matahari, seandainya matahari itu berada di dalam rumah kita, maka tidak dapat dibayangkan betapa terangnya cahaya tersebut."
Daffa masih sibuk dengan diamnya, mencoba mencerna kata perkata yang dilontarkan oleh Balqis.
Hakim meriwayatkan dari Buraidah r.a. bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa yang membaca Alquran dan mengamalkannya, maka akan dipakaikan kepadanya sebuah mahkota yang terbuat dari nur. Dan kedua orangtuanya akan dipakaikan dua pasang pakaian yang indah tiada bandingnya di dunia ini. Orangtuanya akan bertanya kepada Allah, "Ya Allah, mengapa kami diperlakukan seperti ini?" Jawab Allah, "Ini adalah pahala bacaan Alquran anakmu.""
"Dan masih banyak lagi manfaatnya." Kata Balqis tersenyum pada Daffa. "Nah, sampai sini Daffa pah---"
Ucapan Balqis terhenti dikarenakan ponselnya berdering, menandakan bahwa ada sebuah panggilan masuk.
"Sebentar ya, sayang." Daffa mengangguk.
Diraihnya ponsel yang berada di saku seragam kerja Balqis. Terteralah nama ...
Tuan Gio?
"Bismillah." Gumamnya.
"Halo, Qis. Assalamu'alaikum?"
"Wa'alaykumussalam. Iya, Tuan ... Ada perlu apa Tuan menghubungi saya?"
"Hmm ... Nggak ada." Ucap Gio dingin dari arah teleponnya.
Balqis mengernyit. "Lalu, untuk apa Tuan menghubungi saya?"
" ... "
"Tuan?"
"Saya rindu kamu."
Deg.
"Mak--maksud, Tuan?"
"Ah ng ... Itu, maksud saya ... Saya rindu Daffa. Dia baik-baik saja, kan?"
Ternyata pendengaranku salah ya, batin Balqis.
"Alhamdulillah, Daffa baik-baik saja, Tuan." Jawab Balqis sembari melirik Daffa yang tengah memainkan mobil-mobilannya.
Terdengar helaan napas lega.
"Hmm ... Apa Tuan ingin bicara dengan Daffa?"
"Oh boleh. Loudspeaker saja, Qis."
Akhirnya Balqis mengaktifkan loudspeaker pada panggilannya.
"Daffa sayang, ini Ayah."
Daffa hanya diam. Tidak menanggapi ucapan ayahnya. "Daffa, ayo jawab sapaan ayahmu." Bisik Balqis.
"Ayah rindu sekali padamu, Daffa. Ah iya, Daffa rindu ayah nggak?" Ucap Gio getir dari sambungan telepon.
Daffa masih diam. "Ayo sayang, jawab dong ucapan ayah kamu, nak." Kata Balqis lembut dan Gio mendengarnya.
"Ya sudah, Qis. Saya tutup teleponnya. Tolong jaga Daffa baik-baik, saya percaya pada kamu. Assalamu'alaikum?"
"Iya in sya Allah, Tuan. Wa'alaykumussalam."
Sambungan telepon pun terputus.
Kasihan Tuan Gio,
Balqis menghela napasnya pelan. "Kenapa, Daffa?"
__ADS_1
Daffa mengernyitkan dahinya. "Nggak baik loh seperti itu pada ayah kamu."
Daffa terdiam. "Bi Aqis udah tau kok, sebab kamu bersikap seperti itu terus ke ayah kamu, Daffa." Kata Balqis yang kini sudah berada di hadapan Daffa.
"Bi Aqis tau darimana?" Tanya Daffa.
Balqis tersenyum. "Tau darimananya itu nggak penting. Yang terpenting sekarang, kamu nggak boleh gitu lagi ke ayah kamu, ya?"
Daffa menggeleng. "Nggak mau! Daffa masih kesal ke ayah, Bi Aqis. Ayah udah kasar ke Daffa! Ayah nggak sayang Daffa! Ay---"
"Ssstt." Kata Balqis sembari memeluk Daffa. "Daffa sayang, dengarkan Bi Aqis bicara ya?"
Daffa mengangguk. "Nggak ada seorang Ayah yang tidak sayang dengan anaknya, apalagi anak setampan dan sepintar kamu. Semua orang tua itu sayang sekali pada anak-anaknya, termasuk ayah kamu."
Daffa masih diam di pelukan Balqis. "Bi Aqis tau, kamu ingin sekali bertemu dengan Mama kamu. Dan kamu juga ingin bermain seharian dengan ayahmu, benar kan?" Lagi-lagi Daffa mengangguk.
Balqis tersenyum. "Daffa pasti akan bertemu dengan Mama kok. Tapi nanti, jika Allah sudah berkehendak mengizinkan Daffa bertemu dengan Mama."
Begitupun aku, yang tengah menunggu takdir dariNya untuk bertemu dengan Ayah. Batin Balqis teriris.
"Dan satu lagi, ayah kamu itu seorang Boss Besar, Daffa. Pekerjaan Boss Besar itu sangatlah banyak dan sibuk. Maka dari itu, ia belum bisa meluangkan waktunya bermain dengan kamu, sayang. Bi Aqis yakin kok, ayah kamu juga pasti ingin bermain lagi dengan Daffa, anak tampannya ini."
Tidak ada respon dari Daffa, melainkan pelukannya pada Balqis semakin erat.
"Lalu, kenapa ayah bisa sekasar itu pada Daffa, Bi Aqis?" Akhirnya Daffa mengeluarkan suaranya.
"Mungkin karena ayah kamu sangat lelah dengan pekerjaannya, Daffa." Kata Balqis. "Kamu ingin tau, kenapa ayah kamu selalu sibuk dengan perkerjaannya?"
Daffa mengangguk. "Memangnya kenapa, Bi Aqis?"
"Karena demi kamu, Daffa. Ayahmu seperti ini karena sangat menyayangimu, Daffa. Dan ingin anaknya bahagia. Tapi, apa yang telah Daffa lakukan pada ayah?"
Daffa diam dan Balqis melihat kedua mata Daffa mulai berkaca-kaca.
"Allah nggak suka loh kalo kita kesal pada orang tua kita. Karena Allah udah bilang di dalam Al-Qur'an, gini kata-katanya ...
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ
"Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya ... "
(QS. Al-Isra: 23).
"Dan ...
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا
"Dan Kami wajibkan kepada manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya ... "
(QS. Al-Ankabut: 8).
"Serta masih banyak ayat-ayat-Nya yang menerangkan perihal tentang Birrul Walidain atau berbakti pada kedua orang tua."
"Hiks ... Hiks ... "
Balqis cukup terkejut melihat Daffa menangis sesenggukan sambil memeluk dirinya erat.
"Eh Daffa, Bi Aqis salah ya ... Maafk---"
Daffa menggeleng. "Nggak, Bi Aqis. Daffa yang salah. Daffa ud---"
"Ssstt. Udah ya sayang, jangan nangis lagi." Kata Balqis sembari mengusap kedua mata Daffa yang sudah sangat basah.
Daffa mengangguk patuh. "Bi Aqis boleh minta sesuatu dari Daffa?" Tanya Balqis dan lagi-lagi Daffa mengangguk. "Boleh."
Balqis tersenyum. "Nanti kalau ayah sudah pulang, Bi Aqis mau ... Daffa minta maaf ke ayah. Gimana?"
Daffa terdiam, seperti menimang permintaan tolong Balqis. Namun tak lama akhirnya ia mengangguk setuju dibarengi senyuman tampannya.
"Alhamdulillah. Terima kasih, anak tampan." Ucap Balqis sembari memeluk Daffa kembali.
Daffa mengangguk. "Sama-sama, Bi Aqis."
Dan tanpa mereka berdua sadari, ternyata dibalik pintu kamar Daffa yang terbuka sedikit itu, ada seseorang yang setia memperhatikan mereka berdua.
__ADS_1
Bersambung...