Cinta Serenyah Macarons

Cinta Serenyah Macarons
CSM - 7


__ADS_3

'*Aku penasaran, bagaimana caramu bisa mengubah orang yang aku sayangi menjadi lebih baik dari yang dulu, dalam jangka waktu yang terbilang cepat. Sebegitu pengaruhkah dirimu hadir di dalam kehidupanku, Balqis?'


Said Gio Faeyza Darelano*


***


'*Entahlah mengapa dirimu itu suka sekali membuat diriku mematung seketika karena perubahan sikapmu yang cepat. Dan perlakuanmu seperti itu, telah berhasil membuatku mulai penasaran tentang dirimu, Tuan Gio.'


Said Balqis Maura Lishyana*


***


"Gimana keadaan Ummi sekarang? Sudah mulai membaik kan, Mi?"


"Alhamdulillah sudah, Nak."


"Alhamdulillah ... Maafkan Balqis ya Ummi. Balqis nggak bisa temani um—"


"Ssst ... Justru Ummi yang seharusnya minta maaf ke kamu Qis. Gara-gara Ummi kamu jadi kerja keras seperti ini."


Balqis menggeleng antusias walaupun Mayra tidak melihatnya. "Ummi kan tau, Balqis nggak suka kalo Ummi bilang gitu."


Mayra menghela napasnya yang cukup terdengar dari sambungan telepon. "Iya deh nggak lagi. Oh iya memangnya kamu lagi ada waktu luang menghubungi Ummi, Nak?"


Mendengar itu, Balqis melihat jam yang berada di dinding kamarnya lalu kedua matanya membulat. "Astaghfirullah!"


"Kenapa, Nak?" Tanya Mayra khawatir.


"Ummi, Aqis minta maaf. Sekarang Aqis harus kembali kerja lagi ... Daffa pasti sudah bangun."


"Ya sudah, nggak apa-apa nak. Pesan Ummi, jangan tinggalkan sholat sesibuk apapun itu dan jaga diri baik-baik."


"Iya Ummi. Ummi juga jaga diri baik-baik ya disana. Balqis sayang Ummi ... "


"Iya nak. Ummi juga sayang sekali sama kamu. Ya sudah, tutup ya ... Assalamu'alaikum?"


"Wa'alaikumussalam."


Tut ... Tut ...


Sambungan telepon terputus bersamaan dengan menetesnya air mata Balqis.


Ya Allah ... Jagalah ummi dan ayah Balqis dimana pun mereka berada dan haramkan api neraka untuk menyentuh kulit mereka Ya Rabb.


Ayah? Engkau dimana ... Batin Balqis perih.


"Oke Qis, back to work! Semangat." Gumamnya bermonolog sembari mengusap matanya yang sempat mengeluarkan air mata lalu merapikan jilbab serta pakaiannya.


Serasa sudah rapi, akhirnya Balqis keluar dari kamarnya menuju kamar Daffa dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.


***


"Weekend pun Tuan harus bekerja?"


Mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Arsyita, Gio hanya mengangguk. Kini Gio yang sudah selesai menyantap sarapannya, lalu mengusap bibirnya dengan tissu.


"Meeting penting." Ucap Gio singkat pada Arsyita yang masih setia berdiri di samping Gio, Gio pun bangkit dari duduknya dan sekilas merapikan kembali dasinya.

__ADS_1


Arsyita menghela napas berat. "Baiklah."


Saat Gio ingin melangkahkan kakinya pergi dari rumahnya. Langkahnya terhenti karena melihat anaknya yang sedang tertawa riang dengan pengasuhnya itu, Balqis.


Dimana anaknya yaitu Daffa berlari kecil karena dikejar oleh Balqis, yang Gio lihat Balqis membawa sarapan Daffa. Dan Gio pun melihat senyuman serta tawaan dari wajah Balqis.


Melihat anaknya dan Balqis seperti itu, entah mengapa ada rasa hangat menjalar di tubuhnya Gio. Dan tanpa ia sadari, ia menyunggingkan sudut bibirnya menampilkan senyuman tipis namun masih tampak.


"Sudah 4 hari ini Balqis mengasuh Daffa dengan baik." Ucap Arsyita dan Gio masih berdiam diri berniat menunggu Arsyita melanjutkan pembicaraannya sembari menatap anaknya maupun Balqis.


"Selama 4 hari diasuh oleh Balqis, Daffa menjadi anak yang tidak sulit diatur, ia menjadi penurut." Lapor Arsyita dan berhasil membuat Gio menolehkan wajahnya, "Benarkah?" Tanya Gio penasaran.


Arsyita menghela napasnya lalu mengangguk. "Daffa yang biasanya sangat sulit untuk disuruh makannya, namun kini ia berubah. Ia tidak terlalu sulit saat disuruh makan dan ketika di saat sulitnya itu datang kembali, ada saja cara dari Balqis supaya Daffa menurut dan ingin makan."


Benar. Memang sebelum adanya Balqis hadir di rumah ini sebagai pengasuh anaknya. Daffa memang sangat sulit jika sudah berurusan soal makan.


Sudah dilakukan beribu cara oleh Bi Minah, Hanny bahkan Bu Arsyita serta dirinya sendiri, namun benar-benar sulit. Saking tidak sabarannya dan pikirannya sudah penuh dengan urusan pekerjaan membuat Gio sempat membentak Daffa.


Gio hanya diam sembari melihat Balqis yang sedang menyuapi Daffa makan. Gio juga mendengar apa yang Balqis ucapkan pada anaknya, merayu anaknya sampai mau menurut untuk makan.


Balqis, gumam Gio tanpa sadar.


Arsyita mendengar gumaman Gio namun kurang jelas lalu akhirnya Arsyita pun memilih untuk bertanya. "Maaf, tadi Tuan bicara apa?"


Gio yang menyadari apa yang baru saja ia katakan, cukup gelagapan namun secepat mungkin ia menggelengkan kepalanya, "Bukan apa-apa."


Gio pun melihat jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Tak butuh waktu lama, ia segera menyambar tas kantornya dan ponselnya yang berada di atas meja makan. "Kalau gitu, saya pamit Bu." Ucap Gio.


Arsyita mengangguk tersenyum, "Hati-hati Tuan."


***


"Daffa sayang, istirahat dulu yuk?" Ajak Balqis.


Daffa menoleh lalu menghampiri Balqis. "Bi Aqis lelah ya?"


Balqis tersenyum lalu mengangguk. "Kamu pintar sekali sayang." Puji Balqis pada Daffa sembari mengelus kepala Daffa dengan lembut, yang kini sudah duduk di kursi ruang keluarga.


"Nah, suapan terakhir ini. Ayo aaaa ... " Ucap Balqis menyodorkan suapan makanannya pada Daffa dan Daffa melahapnya.


Balqis tersenyum. "Alhamdulillah habis."


"Alhamdulillah." Ucap Daffa mengikuti, lagi-lagi Balqis tersenyum.


Memang semenjak Balqis mengasuh Daffa, Daffa selalu ingin berada dekat dengan Balqis dan tanpa Balqis suruh, ucapan Balqis yang baru saja Daffa tahu seperti menyebut ucapan hamdallah tersebut ia ikuti.


Balqis senang Daffa mengikuti ucapannya tersebut selama itu ucapan baik. Tetapi di sisi lain, Balqis merasa aneh dengan sikap Daffa yang mudah akrab sekali dengannya. Padahal ia sudah diberitahu oleh Hanny, Daffa itu anaknya Tuan Gio yang tidak mudah akrab dengan orang asing.


Namun dengannya?


Atau Daffa seperti ini merindukan sosok kasih sayang dari Mamahnya?


Entahlah. Yang terpenting sekarang Balqis bekerja di rumah ini dengan baik dan harus diniatkan karena Allah.


"Nah Daffa sayang, setelah makan juga ada do'anya loh. Daffa mau tau nggak?" Tanya Balqis dan Daffa mengangguk antusias, "mau bi Aqis."


Selain cepat tanggap, Daffa juga termasuk anak yang rasa keingin tahuannya besar. Mendapat jawaban dari Daffa membuat Balqis tersenyum senang. "Nah ... Dengarkan bi Aqis baik-baik ya, kalo kamu mau ikuti, ikuti aja sebisa kamu." Ucapnya lembut dan Daffa mengangguk.

__ADS_1


"Bismillah ...


اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْنَ اَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ


Artinya :


"Segala puji milik Allah, Dzat yang memberi kami makan dan minum serta menjadikan kami termasuk golongan orang-orang yang berserah diri."


"Aamiin ... " Ucap Daffa langsung mengusap wajahnya. Dan Balqis semakin melebarkan senyumannya sembari mengelus kepala Daffa penuh kasih.


"Jadilah anak yang sholih ya Daffa." Gumam Balqis.


"Aamiin ... "


Balqis tersentak karena mendengar suara tersebut. Bukan, itu bukan suara dari Daffa. Melainkan dari Ayahnya, ya dia Gio.


What? Gio?


Tanpa babibu Balqis dengan gesit menoleh ke asal sumber suara dan benar dugaannya, berdirilah Gio di hadapan mereka berdua sembari menampilkan senyumannya yang tipis.


Ternyata pria macam dia bisa tersenyum juga.


Balqis menggeleng kecil kepalanya sembari mengucap istighfar di dalam hatinya karena sudah mengumpat lagi dan lagi Tuan besarnya itu.


"Kenapa?" Tanya Gio datar.


Balqis hanya menggeleng ragu. "Ga—gapapa Tuan." Jawab Balqis sedikit gelagapan.


Melihat penampilan Gio, Balqis menyimpulkan bahwa kini Tuannya akan segera berangkat untuk bekerja walaupun di hari weekend seperti ini.


"Nah Daffa, Ayahmu sudah ingin berangkat tuh." Ucap Balqis ramah sembari tatapannya beralih pada Gio yang kini sedang memerhatikan mereka berdua.


Tidak ada respon dari Daffa, Balqis menghela napasnya pelan. "Daffa sayang, ayo salami tangan Ayahmu?" Kata Balqis, lagi-lagi Daffa masih diam tidak bergeming.


Bukan Balqis namanya jika tidak sabar menghadapi anak kecil. "Bi Aqis yakin, kamu pasti nggak lupa apa yang sudah bi Aqis ajarkan kemarin soal ini." Ucap Balqis lagi sembari mengelus pundak Daffa lembut.


Daffa menoleh pada Balqis dan mengangguk. "Iya bi Aqis. Daffa nggak lupa dan Daffa akan melakukannya."


Lalu apa yang terjadi?


Tanpa disangka, Daffa menghampiri Ayahnya yaitu Gio. Lalu Daffa meraih tangan Gio yang kini tubuhnya sudah mematung atas perlakuan Daffa, anaknya terhadap dirinya.


Disalaminya tangan Gio oleh Daffa lalu mengecupnya. Namun ekspresi Daffa tetap diam pada Gio. Gio yang diperlakukan seperti itu, hatinya merasa terenyuh, hangat dan kedua matanya sudah berkaca-kaca.


Bayangkan saja, seseorang yang kita sayangi namun dalam kesehariannya selalu mendiami kita bahkan dalam jangka waktu yang cukup lama, pada akhirnya ia berlaku manis kembali pada kita meskipun perlakuan tersebut hanya dianggap sebagai suruhan dari orang lain.


Sama halnya dengan Gio. Perlakuan manis yang anaknya lakukan itu padanya, membuat semangatnya bertambah dan merasakan kembali menjadi sosok Ayah sebenarnya. Walaupun Daffa seperti itu suruhan dari Balqis, pengasuh barunya.


Dan saking terkejutnya, Gio sampai tidak sadar bahwa Daffa sudah kembali ke sisi Balqis. "Kalau gitu, Ayah pamit ya Daffa sayang?" Kata Gio sembari bibirnya bergetar.


Daffa hanya diam lalu menatap Balqis yang mengangguk tersenyum, seolah-olah Balqis menginstruksikan pada Daffa untuk menjawabnya. Dan Daffa pun hanya mengangguk saja pada Gio.


Gio tersenyum, tepatnya tersenyum getir. Lalu dirinya melangkahkan kakinya pergi namun tepat di sisi kiri Balqis, langkah Gio terhenti. Gio menempatkan bibirnya dekat dengan telinga Balqis.


"Terima kasih, Qis. Dan jaga anak saya baik-baik." Bisiknya tenang dan hangat.


Setelah itu, Gio pun melesat pergi keluar meninggalkan Balqis yang masih mematung di tempat, dirinya merasa merinding di sekujur tubuhnya kala Tuan besarnya tiba-tiba berbisik di telinganya.

__ADS_1


Mengapa bisikanmu itu seolah-olah membius tubuhku, Tuan Gio?


Bersambung...


__ADS_2