Cinta Serenyah Macarons

Cinta Serenyah Macarons
CSM - 19


__ADS_3

'Jatuh cinta tidak terlarang dalam Islam. Namun, jangan sampai jatuh cinta membuat kita lalai terhadap Allah dan Rasul-Nya. Jangan pernah berhenti berharap, namun berharapnya hanya kepada Allah saja, yang menciptakan Makhluk-Nya. Dan tetaplah berusaha untuk memantaskan diri.'


***


Bugh!


Pukulan kencang tepat di leher dan punggungnya pun mendarat mulus. Otomatis membuat si empu yang merasakannya itu, mengaduh kesakitan dan langsung menoleh pada Gio.


Bugh!


Lagi-lagi pukulan mendarat tepat di wajahnya dan berhasil mengeluarkan darah segar yang keluar dari rongga hidungnya.


"Tu—tuan Gio?"


Yap. Wanita tersebut ialah Balqis. Melihat itu, Balqis merasa sedikit lebih tenang, namun tetap saja dirinya merasa gelisah walaupun di dalam hatinya selalu menyebut nama Allah. Karena melihat Tuannya sedang berusaha menghajar habis-habisan pria tua berandalan tersebut.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Hancur sudah pertahanan kedua berandalan tersebut yang sudah dihabisi tiada ampun oleh Gio.


"Pergi!" Titahnya pada kedua berandalan tersebut yang sangat tajam dan dingin hingga menusuk ke ulu hati.


"Cih!" Salah satu berandalan tersebut berdecih, "Awas kau!" Ancamnya.


Tanpa disangka, salah satu berandalan itu menarik kencang lengan Balqis, mengunci pergelangan kedua tangan Balqis dan dihadapkan pisau tajam tepat depan wajahnya.


"Lo nggak usah ikut campur! Wanita ini milik kita berdua hahaha...," Kata berandalan itu dan disusul tawaan kencang oleh berandalan yang satunya lagi.


Balqis ingin memberontak, namun ia tahan. Ia sangat tahu, hal apa yang harus ia lakukan di saat keadaan seperti ini menimpa dirinya.


Gio yang melihat Balqis seperti itu, rahangnya semakin mengeras menampakkan urat-uratnya, kilatan tajam dari kedua matanya sudah membuktikan bahwa dirinya tengah dirundung emosi tingkat tinggi.


Bugh!


Pukulan kencang mendarat di perut berandalan tersebut, lalu dengan sigap ia membalikkan lengan berandalan itu dan menguncinya. Gio yang melihat itu, cukup terbelalak karena tanpa disangka, ternyata wanita yang ia tolong itu bisa melakukan seperti itu.


Ya Balqis.


Akhirnya Balqis berhasil mengunci kedua lengan berandalan tersebut dan langsung mengambil alih pisau yang sempat digenggam oleh pria barusan. Sementara Gio? Dirinya tengah menghabisi berandalan satunya lagi.


Memang tenaga Balqis tidak sekuat dengan berandalan tersebut. Tidak lama, berandalan tersebut akhirnya terlepas dari genggaman yang Balqis kunci dan segera melarikan diri.


"Cabut!" ucap pada temannya. Dan akhirnya mereka jauh dari pandangan Balqis dan Gio.


Kini tersisa mereka berdua di pelataran taman yang hanya dihiasi lampu yang memiliki tingkat cahayanya remang. Derap langkah kaki Gio makin terdengar di pendengaran Balqis. Melangkah maju pada Balqis disertai napasnya yang masih terengah-engah lalu ia berhenti dengan jarak kurang lebih satu meter.


"Apa kamu baik-baik saja, Qis?"


Balqis hanya mengangguk menjawab pertanyaan Gio. Tanpa disangka, Gio mendekat pada Balqis. Rasanya Gio ingin memeluk Balqis untuk menenangkannya. Memang tidak akan mungkin, karena Balqis memiliki batasan.


Tapi setidaknya ia ingin menggenggam jemari Balqis yang kini ia lihat masih *** pakaiannya itu. Saat jemarinya ingin menggapai jemari Balqis, Balqis lebih dulu menghindarinya.


"Haruskah saya menghalalkanmu terlebih dahulu agar bisa menyentuh dirimu, Balqis?"


Deg!


Mendengar pertanyaan itu, Balqis langsung mendongak menatap Tuannya walaupun sedari tadi debaran jantungnya sudah tak terkendali.

__ADS_1


Sebuah kalimat hangat yang diselimuti oleh rasa kekhawatiran terucap begitu saja, jelas ditangkap oleh pendengaran Balqis.


Wanita mana yang tidak ingin dihalalkan oleh seorang laki-laki yang dia inginkan atau harapkan?


Sama dengan halnya Balqis. Dirinya menantikan sekali laki-laki yang sudah bersemayam di hatinya, mengucapkan seperti itu.


Namun, Balqis kembali mencerna kata perkata yang baru saja Gio lontarkan. Itu tandanya, Gio hanya ingin menyentuhnya? Bukan sekaligus untuk menjadi imamnya? Pikirnya.


Hati Balqis seperti teriris, setetes air mata keluar begitu saja membasahi pipinya mulusnya. Balqis tahu, Gio tak begitu terlalu paham mengenai Islam.


Walaupun agama yang ia yakini sama seperti dirinya, Islam. Namun setidaknya, Gio mengerti sedikit apa arti dari menghalalkan yang sebenarnya.


"Balqis, kamu menangis?" Tanya Gio kebingungan dipenuhi kekhawatiran.


Balqis menyadari itu, langsung mengusap kedua matanya yang sudah basah. Lalu menggelengkan kepalanya tanda ia merespon pertanyaan Gio.


Gio hanya terdiam membeku di tempat sambil menatap lurus pada Balqis. Lain halnya dengan jantungnya, dan hatinya yang berkecamuk karena memikirkan kembali ucapan yang baru saja ia lontarkan.


"Saya serius, Balqis." Ucap Gio. "Saya harus menghalalkanmu terlebih dahulu agar bisa men---"


"Menyentuh saya. Benar begitu, Tuan?" Sela Balqis. Dan Gio yang mendengar itu, dirinya langsung dilanda kegugupan setengah mati karena ucapannya sudah dipotong oleh Balqis.


"Jika niat Tuan ingin menghalalkan saya hanya karena menginginkan tubuh saya dan menyentuhnya, maaf ... Saya tidak bisa." Ucap Balqis tegas walaupun suaranya sedikit serak.


Tidak, Qis. Bukan itu maksud saya ... Batin Gio.


Gio menyadari satu hal, ternyata ucapannya barusan telah membuat Balqis seperti ini. "Bu--bukan begitu, Qis. Kamu salah sangka." Ucap Gio.


Balqis masih sibuk dengan diamnya, sesekali ia memejamkan kedua matanya, menahan agar air matanya tidak menetes kembali.


"Saya serius ingin menjadikanmu sebagai istri saya, Qis."


Istri? Benarkah? Balqis bicara dalam hati.


Gio yang sudah terlanjur mengucapkan kalimat tersebut. Dimana dirinya sudah lama pendam akhirnya keluar juga, walaupun dalam keadaan seperti ini. Mau tak mau, Gio kembali berniat melanjutkan ucapan isi hatinya pada Balqis.


"Memang, Qis ... Saya masih buta dalam urusan agama dan sama sekali tidak termasuk tipe pria yang kamu sukai, yaitu sholih ... "


" ... Namun, tanpa sadar ... Hadirnya kamu ke dalam hidup saya, menjadikan saya ingin lebih mengetahui dan ingin mempelajari kembali, Islam yang sebenarnya."


Tess...


Runtuh sudah pertahanan Balqis dalam berusaha menahan air matanya, yang sudah ia tampung sedari tadi. Balqis menunduk tersenyum kecil, lalu ia usap kembali kedua matanya.


"Salahkah saya, Balqis? Jika saya telah jatuh hati pada seorang wanita sholihah seperti dirimu?" Ucap Gio rapuh.


Balqis masih menundukkan kepalanya, ia benar-benar tidak berani menatap lawan bicaranya, yaitu Gio. Sementara hatinya sudah ingin loncat dari tempatnya.


"Benar ... Karena ketaatanmu pada Allah, saya telah jatuh cinta padamu, Qis. Dan Saya menginginkanmu, karena kamu cocok sekali menjadi Mamanya Daffa ... "


" ... Karena anak saya sangat membutuhkan seorang Mama seperti dirimu, Qis. Begitu pun saya, sangat membutuhkan istri sholihah seperti dirimu, dimana tujuan rumah tangga yang saya harapkan ... Diridhoi oleh Allah dan sampai ke Surga-Nya ... "


" ... Walaupun kemungkinan kecil kamu akan menerima saya sebagai suamimu." Tercurahlah isi hati Gio yang sudah lama ia pendam. Dan akhirnya, terucap juga pada Balqis.


Balqis memejamkan kedua matanya kencang, menahan rasa senang bercampur dengan kegelisahannya agar tidak kelihatan oleh Gio.


Lalu, perlahan-lahan ia menghirup napasnya dalam dan membuangnya. Dan sedetik itu pula, dirinya mendongak, menatap lawan bicaranya, Gio.


"Tuan, serius dengan semua ucapannya itu?" Tanya Balqis memastikan kembali.


Gio mengangguk tersenyum hangat. "Ya, saya serius." Balqis menganggukkan kepalanya paham.

__ADS_1


"Jadi ... " Ucap Gio masih menggantung.


Balqis menunduk diam sembari menunggu kelanjutan ucapan Gio.


" ... Maukah kamu menjadikan saya sebagai suamimu?"


Sudah kuduga.


Mendengar itu, detak jantung Balqis berhenti seketika. Kakinya lemas untuk menumpu tubuhnya berdiri. Dan untungnya ini malam hari, jadinya wajah merah Balqis tidak terlihat jelas oleh Gio.


Sementara Gio? Detak jantungnya memompa dirinya di atas normal. Di sisi lain, dia merasa lega akhirnya rasa yang ia pendam selama ini, sudah tumpah pada Balqis.


Namun, di sisi lain ... Dirinya masih dilanda penasaran, apakah jawaban yang akan Balqis beri padanya? Apakah akan menerimanya? Atau menolak? Pikirnya. Tapi, Gio sadar dan lebih yakinnya, pasti ia tidak diterima.


Ayo, Qis ... Terima lamaranku, harapan Gio di dalam hatinya.


Bismillah ...


"Ma'af, Tuan ... "


Ap--apa? Saya ... Saya ditolak? Gio lemas dalam hati.


"Saat ini, sa--saya tidak bisa memberi jawabannya." Ucap Balqis dilanda gugup.


Astaga!


"Kenapa?" Tanya Gio penasaran.


Balqis menghela napasnya pelan. "Saya ingin melakukan sholat istikharah terlebih dahulu, Tuan. Mohon petunjuk dari Allah, apakah Tuan sosok pria yang Allah pilihkan untuk saya atau tidak."


Gio mengangguk mengerti. "Iya, saya paham, Qis. Silakan saja ... Dan saya akan selalu menunggu jawaban kamu."


Balqis tersenyum tipis. "Dan satu lagi, Tuan ... "


Dahi Gio mengernyit. "Apa itu, Qis?"


"Datangi Ummi saya, Tuan. Dan bawalah kedua orang tua, Tuan Gio ... Serta niat yang tulus, untuk menyampaikan keseriusan Tuan menginginkan saya pada Ummi saya ... "


" ... Namun, yang lebih penting ... Pintalah apapun keinginan Tuan kepada Allah. Karena Allah lah sang pemilik hati manusia dan hanya Allah lah yang bisa membolak-balikan hati manusia, Tuan." Ucap Balqis tersenyum.


Melihat senyuman Balqis, menjadikan Gio ikut tersenyum juga. Seolah-olah senyuman Balqis tersebut menular begitu cepat padanya.


Gio tersenyum hangat lalu mengangguk sebagai respon apa yang telah diucapkan oleh Balqis. Tanpa sadar, dirinya menepuk dahinya pelan, menyadari sesuatu.


"Ayo, pergi!" Titah Gio.


Namun, yang diperintahkannya itu masih sibuk dengan diamnya. Gio yang menyadari, langsung menoleh pada Balqis.


"Kamu ingin bekerja lagi kan, Qis?" Tanya Gio dan Balqis mengangguk. "Ya sudah, ayo ikut dengan saya. Di mobil, ada supir dan Daffa. Cepat!" Lanjutnya.


Mendengar penjelasan Tuannya, Balqis langsung menerima ajakan Gio dan berjalan di belakang Tuannya.


Sesampainya di mobil, Gio langsung membukakan pintu kemudi untuk Balqis. Supir yang menyadari itu, terpekik kaget. "Eh, mbak Balqis? Kok bisa di sini?" Tanya sang supir heran.


Balqis tersenyum. "Iya, Pak. Nggak sengaja ketemu, Tuan." Jawabnya sopan dan sang supir hanya manggut-manggut.


"Ayo, Pak. Jalan." Titah Gio.


Dan akhirnya mereka pun melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Bedanya, kali ini dengan kehadiran Balqis. Dimana Balqis dan Gio duduk berdampingan belakang supir, namun diselingi Daffa yang berada di tengah-tengah mereka berdua.


Secepatnya, Qis. Saya akan membuktikan keseriusan saya padamu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2