Cinta Serenyah Macarons

Cinta Serenyah Macarons
CSM - 21


__ADS_3

'Ketika dua hati datang padaku secara bersamaan, menawarkan niat baik tulusnya. Di sinilah istikharahku bergerak memohon petunjuk-Nya, tanpa sedikitpun mengurangi cintaku kepada-Nya.


Karena hanya Allah lah yang mengetahui apa yang hatiku butuhkan, walaupun Allah sudah mengetahui ... Hati ini menginginkan siapa.'


Said Balqis Maura Lishyana


***


"Maaf ... "


Balqis yang sibuk membaca Ayat suci Al-Quran di ponselnya mendadak berhenti kala tiba-tiba mendengar suara dari seorang pria. Balqis menoleh dan mendapati laki-laki tersebut yang sudah duduk di samping Balqis.


Namun ada yang berbeda dari raut wajah pria tersebut. Balqis amati sekilas, sepertinya ada sesuatu yang sangat ia pikirkan serius, karena melihat wajah pria tersebut berubah, berbeda sejak Balqis pertama kalinya bertemu.


"Maaf untuk?" Balqis heran.


"Sudah membuat kamu menunggu." Jawabnya menatap Balqis.


Balqis mengangguk. "Nggak apa-apa, Tuan." Katanya. "Oh iya. Kakak Tuan baik-baik saja, kan?" Tanya Balqis sekilas melihat laki-laki tersebut lalu segera ia alihkan.


Terdengar helaan napas berat. "Allah tengah memberikan ujian pada kakak saya, lewat penyakit yang sedang ia alami saat ini." Ucapnya, "Yasmine, kakak saya ... Terkena penyakit Kanker Serviks."


Seketika Balqis diam mematung, mendengar jawaban dari laki-laki tersebut. Kedua matanya mengerjap tak percaya.


Astaghfirullahalazim...


"Mohon do'anya, semoga operasi pengangkatan rahim yang akan dilakukannya sebentar lagi ... Dilancarkan dan dipermudah oleh Allah." Ucap laki-laki tersebut sembari tersenyum getir.


Balqis mengangguk. "Aamiin ... In sya Allah, Tuan."


Siapa yang tidak mengetahui kanker serviks?


Penyakit ganas yang senantiasa menyerang kaum hawa. Balqis bisa merasakan bagaimana perasaan wanita yang bernama Yasmine tersebut. Karena dirinya pun wanita. Pasti sangat sakit jika wanita tersebut mengetahui penyakit yang diderita olehnya.


Allah memberikan ujian seberat itu kepada Yasmine, tentunya Allah sudah mempercayakan padanya bahwa dirinya memang mampu melewati ujian tersebut. Jika Allah memberikan ujian seperti ini pada Balqis, mungkin Balqis tidak akan kuat bahkan pasti menyalahkan Allah.


Na'uzubillahiminzalik...


Bagaimana dengan diri kita?


Kita diberi ujian oleh Allah berupa hal kecil saja, kita banyak mengeluhnya, banyak protesnya, banyak komentarnya dan tak sedikit dari kita yang mendapatkan ujian dari Allah, menyalahkan Allah hingga berprasangka buruk pada Allah.


Padahal Allah seperti itu pada kita, menjadikan diri kita lebih baik ke depannya. Menjadikan kita semakin dekat dengan-Nya. Dan tentunya menjadikan kita supaya lebih tunduk kepada Allah, serta menjalani kehidupan dengan keikhlasan karenaNya.


Berani hidup, berani diuji.


Tidak ingin diuji, ya tinggal mati.


Simple kan?


Lalu, untuk apa Allah ciptakan Surga dan Neraka? Jika dunia tidak dijadikan ladang Ujian oleh-Nya? Supaya Allah mengetahui, siapakah Hamba-Nya yang bersungguh-sungguh ingin masuk ke dalam Surga dan bertemu dengan-Nya ...


Atau ...


Membangkang aturan dari-Nya lalu masuk Neraka.


"Balqis?"


Mendengar namanya disebut, Balqis langsung menoleh. "Iya, Tuan?"


Eh ... Tunggu!


Darimana Tuan ini tahu namaku?


Pikiran Balqis pun akhirnya bergelut sibuk memikirkan hal ini. Karena seingatnya, dirinya belum berkenalan dengan laki-laki yang berada di sampingnya ini.


Kini tubuh Balqis bergeser 90° menghadap laki-laki tersebut. Dan mendapati senyuman hangat dari laki-laki itu. Membuat sekujur tubuh Balqis tiba-tiba merinding, merasakan hawa aneh masuk ke dalam dirinya.


"Maaf, Tuan. Anda tau darimana nama saya?" Balqis akhirnya memberanikan diri bertanya.


"Ekhem ... " Laki-laki itu pun berdeham. "Kamu benar-benar tidak mengenali saya, Qis?" Tanyanya.

__ADS_1


Balqis menggelengkan kepalanya. Namun lagi lagi senyuman yang diberikan oleh laki-laki tersebut pada Balqis. Sementara Balqis, semakin dilanda kebingungan, terlihat dari dahinya yang melipat.


Laki-laki tersebut mengangguk lalu kedua tangannya ia tumpukan di atas pahanya, sembari kini tatapannya lurus menuju Balqis. "Wajar kamu tidak mengenali saya, sebab kita memang belum berkenalan." Ucapnya yang diangguki oleh Balqis.


"Saya senior kamu saat di kampus, Qis."


Senior?


Dahi Balqis mengernyit. "Lalu, Tuan tau darimana nama saya?" Tanya Balqis masih heran. "Seingat saya ... Saya itu nggak dekat dengan senior di kampus, apalagi senior laki-laki." Lanjutnya lagi.


Laki-laki tersebut semakin melebarkan senyuman di bibirnya yang tipis itu. "Lebih tepatnya, kita pernah melakukan kegiatan keagamaan bersama."


Balqis manggut-manggut namun tak lama ia diam mematung. Mendengar kegiatan keagamaan, pikirannya seolah-olah menyuruh Balqis untuk mengingat kembali pembicaraan Balqis dengan Umminya itu.


Jangan - jangan dia itu ...


Balqis memejamkan kedua matanya gugup. Lalu membuka lagi perlahan-lahan. Namun lain dengan laki-laki tersebut. Ia menahan tawa gelinya agar tidak keluar karena melihat tingkah Balqis yang menggemaskan saat ini.


"Kak Rayhan?" Tebak Balqis tiba-tiba dan respon laki-laki itu pun tersenyum lalu mengangguk.


Benar. Laki-laki yang sedari tadi menemani Balqis di Rumah Sakit ialah Rayhan, sekaligus adik dari wanita yang bernamakan Yasmine.


"Jelasnya ... Yang sudah melamarmu beberapa minggu lalu." Ucap Rayhan serius pada Balqis.


" ... Namun, wanita yang ingin saya lamar, tidak ada di rumahnya." Lanjutnya lagi sambil terkekeh.


Sungguh kini Balqis merasa malu dicampur dengan gugup. Terlihat dari rona kedua pipinya yang sudah memerah. Benar-benar Rayhan ini telah membuat dirinya susah payah menelan salivanya.


"Maaf, Kak. Sa--saya ... Benar-benar tidak tau kalau Kak Rayhan akan datang ke rumah saya." Cicit Balqis.


Rayhan tersenyum tampan. "Kamu tidak salah, Qis. Justru saya yang salah karena tidak menghubungi kamu terlebih dahulu." Katanya. "Jadi saya pikir, mungkin lebih baik saya langsung datang ke rumahmu."


Balqis diam dan dengan ragu dirinya menganggukkan kepalanya pelan. Melihat respon Balqis seperti itu, membuat Rayhan pun terdiam. Rayhan tahu, bahwa saat ini Balqis sedang berada dalam masa canggung, jadi dirinya memaklumi itu semua.


Merasa mereka berdua dalam keheningan, Balqis menyibukkan dirinya melihat - lihat sekitar rumah sakit tersebut dengan lirikan matanya. Tepat ekor matanya berhenti pada jam yang menempel di dinding rumah sakit tersebut, Balqis terbelalak.


Jam 11 siang? Astaghfirullah ...


"Ada apa, Qis?"


Balqis menoleh. "It--itu, Kak. Sa--saya harus segera pergi ... Karena ada urusan yang belum saya kerjakan." Dirinya teringat kembali dengan pekerjaannya sebagai pengasuh Daffa.


Rayhan mengangguk tersenyum. "Maaf, Kak. Saya tidak bisa berlama-lama ... " Ucap Balqis merasa bersalah.


Rayhan semakin melebarkan senyumannya. "No problem, Qis. Justru saya berterima kasih pada kamu ... Sudah bawa kakak saya ke Rumah Sakit ini. Jazakillahu khair ... "


Balqis mengangguk tersenyum tipis. "Saya pamit, Kak. Assalam---" Baru saja Balqis ingin berbalik pergi, namun Rayhan berhasil menghentikannya.


"Tunggu, Qis."


Balqis menoleh kembali. "Iya, Kak ... Ada apa?"


"Kalau nanti kamu ada rencana akan pulang lagi ke kampung halamanmu ... Beritahu saya." Ucap Rayhan lembut. Namun respon Balqis hanya mengernyitkan dahinya.


Rayhan yang menyadari itu, terkekeh geli. "In sya Allah, saya akan datang kembali ke rumahmu ... Membawa niat baik saya."


Sukses membuat detak jantung Balqis berhenti seketika. Dirinya benar-benar gugup. Namun, dentingan jam yang berada di dinding menyadarkan Balqis dari kegugupannya.


Dirinya langsung saja mengangguk tersenyum tipis sebagai respon dari ucapan Rayhan. "Assalamu'alaikum ... "


Rayhan tersenyum. "Wa'alaikumussalam ... Hati-hati, Qis."


***


"SERIUS LO?!"


Gio yang sibuk menandatangani berkas-berkas itu seketika berhenti, karena Mike---Sahabatnya---bertanya dengan suara yang melengkingkan daun telinga. Membuat Gio meletakkan keras penanya dan beralih menatap Mike sangat tajam.


Yang ditatap hanya cengengesan tak bersalah. "Sorry, bro. Abisnya gue nggak nyangka, ternyata sahabat gue udah berubah ... " Katanya, "Terus, kapan lo mau lamar Sis ... Eh bukan, Bil hmm---"


"Balqis." Gio langsung memotong pembicaraan Mike sembari memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Ah iya itu, Balqis. Jadi kapan, huh?" Tanyanya menggoda Gio. "Gue kasih tau nih, jangan kelamaan kalo lo mau lamar cewek! Direbut cowok lain tau rasa lo! Haha." Lanjut Mike sembari menyeringai jahil.


Memang, baru saja Gio menceritakan pada Mike bahwa dirinya telah menyatakan perasaannya pada Balqis saat malam kemarin. Mike yang mengetahui itu, benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya.


Dan Mike simpulkan, sahabatnya ini telah berubah.


Mendengar ucapan Mike, membuat Gio berhasil memberikan tatapan yang menusuk sangat tajam pada Mike. Jika karyawan lainnya yang mendapatkan tatapan tersebut dari Gio, pasti sudah mengira hidupnya akan berakhir. Namun lain dengan Mike.


"Apa kabarnya dengan lo, Mike? Udah ada cewek yang nyangkut, heh?" Balas Gio mengejek.


Mike menyadari dibalas ejekannya, mendengus kesal. "Sialan lo!" Umpatan pun akhirnya keluar dari mulut Mike. Namun Gio hanya terkekeh puas.


Setelah menandatangani berkasnya, Gio beranjak bangun dari kursi kebesarannya dan kakinya melangkah pada lemari di dalam ruangannya, dimana ia berniat mencari berkas penting yang akan diperlukan saat ini.


Tok ... Tok ... Tok ...


Gio dan Mike kompak menoleh pada pintu. "Masuk!" Titah Gio dingin.


Cklek


Bruukk


Kedua mata Mike terbelalak melihat Anna tiba-tiba datang lalu memeluk Gio erat, dibarengi dengan isakan tangisnya yang sangat pilu dan miris.


Sementara Gio? Yang tiba-tiba dipeluk erat oleh wanita, mendadak tegang tubuhnya, wajahnya sangat datar, tatapannya tajam dan kedua tangannya mengepal kuat pertanda ia tengah menahan emosi.


Bagaimana tak emosi? Pria yang sudah berkomitmen untuk tidak berhubungan dengan wanita manapun, kini darahnya mendidih kala dipeluk erat oleh wanita asing baginya.


Tahan, Gio ... Tahan. Ucapnya dalam hati, mengingatkan diri sendiri.


Yap. Dia Annabella. Wanita cantik dengan segala pesonanya. Tak lupa dengan adanya niat ingin dimiliki dan memiliki Gio, pria yang sudah ia incar selama ini.


Mike yang melihat ekspresi sahabatnya itu, merasa bimbang. Ia ingin memberitahu pada Anna, bahwa Gio tidak suka jika diperlakukan seperti itu. Di sisi lain, ia ingin menenangkan Gio yang saat ini sedang dirundung emosi.


Aduh, harus gimana nih gue? Batin Mike gelisah.


"Hiks ... Hiks ... Tolong saya, Tuan hiks ... " Ucap Anna disela tangisannya.


"Whats happen, Na?" Tanya Mike. "Lebih baik sekarang tenangin diri kamu, Na. Duduk sini ... " Ajak Mike ramah pada Anna.


Yang diajak hanya menggelengkan kepalanya dan semakin mempererat pelukannya pada Gio tanpa menghiraukan jas hitam Gio yang sudah basah sebab tangisannya.


"Bisa lepaskan terlebih dahulu?" Tanya Gio sinis pada Anna.


Mendengar titah dari Gio, mau tak mau Anna melepaskan pelukannya lalu menatap Gio sendu. "Tolong saya, Tu--tuan Gio." Mohon Anna.


Gio hanya menaikkan sebelah alisnya. "Ada masalah apa, Na?" Pertanyaan tersebut bukan berasal dari Gio, melainkan Mike.


Sambil terisak, Anna menjawab. "Orang tua saya akan menjodohkan saya dengan salah satu rekan bisnisny---"


Belum selesai Anna berbicara, Gio menyelanya. "Apa urusannya dengan saya?" Tanyanya tajam sembari menatap Anna tak suka.


Mike hanya meneguk ludahnya susah payah melihat respon dari sahabatnya itu.


Dasar cowok kutub lo, Gio. Umpat Mike dalam hati.


"Boleh saya meminta bantuan padamu, Tuan Gio?" Tanya Anna lirih dan Gio hanya menatap tajam serius pada Anna dan tidak berniat menjawab pertanyaan tersebut.


Sementara Mike, dirinya hanya memilih diam saja, untuk apa ia bertanya pada Anna jika ujung-ujungnya ia diabaikan? Pikirnya.


"Tolong nikahi saya, Tuan Gio."


**Bersambung...


KIPAS MANA KIPAS?


AC MANA AC?


KOK PANAS YA, GARA-GARA ANNA MINTA TOLONGNYA GITU KE GIO?😂


Jangan lupa like dan komentarnya ya dari kalian semua, terima kasih🙏❤

__ADS_1


Jazakumullah Khair🤗**


__ADS_2