
"Ketika Allah menitipkan cinta pada kita, kita tidak bisa memilih, pada siapa kita mencinta, pun tak kuasa menolak cinta yang datang, karena cinta adalah titipan.
Dan ketika saatnya tiba, Allah akan menguji titipan-Nya, menguji cinta yang Dia titipkan pada kita. Menguji timbangan cinta kita pada-Nya dan pada kekasih yang fana ini.
Ketika saatnya tiba, Allah akan menguji seberapa kuat ikatan cinta itu dan mungkin akan Dia datangkan cinta-cinta yang lain. Sekedar memastikan, apakah cinta yang Dia titipkan, tak berkurang kekuatannya.
Dan akankah manusia ikhlas, saat titipannya itu diambil kembali oleh-Nya, dimana nanti waktunya telah tiba?"
-Korban Bucin-
😂😂😂😂😂
***
Tepat satu bulan Balqis telah bekerja sebagai pengasuh Daffa. Minggu ini pekerjaan Balqis tidaklah se-repot hari-hari kemarin, dikarenakan anak asuhnya itu-Daffa-diasuh oleh ayahnya, yaitu Gio.
Karena Gio telah memutuskan saat Daffa meminta maaf padanya, ia akan meluangkan waktunya di hari weekend untuk anaknya tersayangnya.
Namun, bukan Balqis namanya jika dirinya sedang bekerja, tetapi pekerjaannya itu sudah menyuruhnya untuk bersantai. Balqis termasuk tipikal wanita yang tidak betah jika dirinya hanya duduk manis santai, sementara yang lainnya masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Seperti saat ini, Balqis sedang membantu Bu Minah memasak. Yang membuat Balqis heran, mengapa tiba-tiba Bu Minah memasak beberapa macam masakan yang terbilang banyak, tidak seperti biasanya ia memasak dalam sehari-hari.
Balqis pun tidak tinggal diam, dirinya juga sudah menanyakan pada Bu Minah, apakah Tuannya akan mengadakan acara, atau hal lainnya? Sehingga membuat Bu Minah dan Balqis sudah mulai berperang saja dengan alat-alat dapur saat ini.
Namun yang ditanya pun tidak tahu, Bu Minah sendiri juga hanya menjalankan titah dari Tuannya. Tanpa memberitahu sebab apa dirinya menyuruh seperti itu. Huh! Dasar Tuan Gio! Untung tampan. Astaghfirullah!
"Alhamdulillah, ya Allah. Akhirnya selesai juga ya, Qis. Huh," ucap Bu Minah yang kini sudah duduk di kursi meja dapur, sembari mengusap dahinya yang dialiri keringat lelah.
Balqis tersenyum. "Iya, Bu. Alhamdulillah."
Bu Minah pun berkata, "untungnya ada kamu yang mau bantu Ibu, Qis." Dan Balqis hanya bisa tersenyum lagi dalam menanggapi ucapan Bu Minah.
Melihat raut wajah lelahnya Bu Minah, Balqis mendapat dorongan dari hatinya untuk memberikan segelas air putih pada Bu Minah. Dan ia pun menyodorkannya setelah mengambil segelas air tersebut.
"Alhamdulillah, terima kasih, nak." Kedua mata Bu Minah berbinar mendapat perlakuan manis dari Balqis, akhirnya ia terima dan meminumnya.
Sesaat kegiatan Bu Minah dan Balqis berbincang-bincang asyik di dapur, terhenti begitu saja ketika suara bel dari rumah ini berbunyi. Dengan inisiatif diri sendiri, Balqis yang memutuskan untuk membukanya.
Cklek
"Assalamu'alaikum."
"Wa-wa'alaikumussa-salam." Tiba-tiba napas Balqis tercekat ketika mendapati sosok pria dan wanita paruh baya di hadapannya, seperti pasangan suami-istri.
Namun yang membuat Balqis sedikit terkejut, sosok pria paruh baya ini memakai kursi roda. Dan jika dilihat-lihat dengan lamat, wajah mereka hampir mirip dengan Tuannya, yaitu Gio.
Eh? Mirip? Jangan-jangan mereka itu ...
Benar-benar saat ini Balqis tiba-tiba saja dirundung kegugupan maksimal. Jika benar mereka adalah kedua orang tua dari Tuannya, sosok pria yang Balqis sukai itu. Harus bagaimana ia bersikap? Dirinya serba salah, seperti lagu Raisa saja.
Tanpa disangka, mereka tersenyum pada Balqis. "Babysitter-nya Daffa, ya?" Tanya wanita paruh baya itu dengan sopannya.
__ADS_1
Balqis berusaha bersikap normal, segera ia anggukkan kepalanya walaupun canggung sudah menyelimuti dirinya. "I-iya, Nyonya." jawab Balqis tersenyum. "Mari Nyonya, Tuan. Silakan masuk."
Baru saja kedua orang itu masuk, suara seseorang telah memberhentikan langkah mereka. "Alhamdulillah, Mama sama Papa sudah sampai." ucap Gio pada kedua orang tuanya.
Ya Allah, ternyata benar. Mereka kedua orang tuanya, Tuan Gio. Batin Balqis.
Sibuk dengan lamunannya, sampai - sampai Balqis tak sadar bahwa Gio telah berada di antara mereka, dan kini ia membantu mendorong Papanya yang duduk di kursi roda tersebut.
"Kenapa nggak bilang Ma, kalo benaran mau ke sini. Kan Gio bisa jemput kalian." Oceh Gio yang masih didengar oleh Balqis.
Ternyata dia bisa posesif juga ya, batin Balqis.
Carissa-Mamanya Gio-tersenyum saat sikap anaknya seperti itu pada dirinya dan suaminya. "Nggak apa-apa, nak. Toh, Mama sama Papa kan pakai supir ini." jawabnya.
Balqis yang merasa sangat canggung berada di antara mereka, ia putuskan untuk pergi ke dapur. "Mohon maaf, Nyonya, Tuan. Saya permisi terlebih dahulu." sopannya.
Carissa dan Bryan-Papanya Gio-hanya tersenyum dan mengangguk menjawab ucapan Balqis. Sementara Gio, dirinya sedari tadi menahan senyumannya karena melihat tingkah Balqis yang menurutnya sangat menggemaskan.
Balqis pun dengan langkah santai namun bermakna tergesa-gesa, akhirnya sampai juga di dapur sembari mengelus dadanya, bertujuan untuk menenangkan diri, tanpa sadar dirinya mendapati Bu Minah yang kini menatap Balqis heran.
"Kenapa, Qis? Kok muka kamu kayak udah dikejar hantu aja?" Bu Minah menatap Balqis heran.
Balqis hanya menggelengkan kepalanya. "Oh iya, yang tadi itu tamunya siapa, Qis?" Tanya Bu Minah.
Setelah duduk, Balqis menjawab, "Orang tuanya, Tuan Gio, Bu."
Tiba-tiba saja kedua mata Bu Minah melebar. "Serius, Qis?" Dan Balqis mengangguk yakin pada Bu Minah.
Ah! Balqis baru paham sekarang, mengapa Tuan Gio tiba-tiba saja menyuruh Bu Minah membuat masakan banyak. Baru saja Balqis santai di dapur dan bergulat dengan pikirannya, suara tiba-tiba Gio membuat dirinya langsung menoleh.
"Boleh saya pinjam sebentar Balqisnya, Bu?" Tanya Gio pada Bu Minah, dimana kini posisi dirinya sudah dekat dengan Balqis dan Bu Minah.
Pinjam? Udah kayak barang aja.
Bu Minah yang sudah mengetahui Tuan Gio masuk ke dapur, tidak membuat dirinya gugup. Lain halnya dengan Balqis. "Boleh dong, Tuan." Jawab Bu Minah tersenyum.
Gio pun tersenyum singkat dan kedua matanya kini beralih pada Balqis. "Ikut saya." Titahnya yang langsung meninggalkan Balqis dan Bu Minah di tempat.
Balqis pun menatap Bu Minah, seolah tatapannya memberi artian pamit pada Bu Minah. Dan Bu Minah hanya mengacungkan jempolnya pada Balqis.
***
"Enak nggak ice cream nya, hm?"
Saat ini Balqis sedang berada di tempat duduk bersama Daffa, yang sudah disediakan di samping Rumah Sakit XXX. Benar, Gio mengajak Balqis kemari sebab Gio ingin menebus kembali obat Papanya yang sudah habis.
Saat Gio ingin pergi, Daffa dengan keras kepalanya ingin ikut. Gio pun bingung, akhirnya mau tak mau ia mengajak Balqis pergi bersamanya. Bisa saja Gio menyuruh Pak Roy untuk menebus obat ini, namun bagi Gio tidak.
Khusus untuk Papanya, Gio rela melakukannya seorang diri tanpa meminta bantuan pada orang lain. Bryan pun yang melihat Gio-anaknya-bersikap seperti itu merasa heran. Namun sudah Bryan simpulkan, Gio sudah berubah.
"Enak, Bi Aqis." Daffa dengan lahapnya memakan ice cream, sampai-sampai di sekitar mulutnya sudah dihiasi oleh sisa-sisa ice cream tersebut.
__ADS_1
Balqis menggelengkan kepalanya sembari terkekeh karena melihat wajah Daffa yang sangat lucu itu. Lalu, akhirnya Balqis bersihkan mulut Daffa dengan tisu yang sudah ia bawa.
"Nanti pulang dari sini, langsung sikat gigi ya? Supaya gigi Daffa nanti nggak sakit." Balqis menyarankan pada Daffa dan Daffa hanya bisa mengangguk.
Tak lama kemudian, Gio sudah hadir di antara Balqis dan Daffa. "Enak ya yang lagi makan ice cream." Sindir Gio jahil pada Daffa.
Daffa hanya menunjukkan deretan giginya cengengesan. Sementara Gio, dirinya sudah menatap Balqis lekat. Yang ditatap seperti itu, hanya bisa menundukkan kepalanya gugup, karena wajahnya sudah tidak bisa dikondisikan karena memerah malu.
Gio terkekeh. "Melihatmu seperti ini, membuat saya semakin ingin mencubit kedua pipimu, Qis."
Blush! Sudahlah, Balqis sudah menyerah. Dirinya kali ini pasti memiliki wajah yang sangat merah seperti kepiting rebus. Balqis semakin menggigiti bibir bawahnya, untuk menahan kegugupannya agar tidak meluap.
"Apalagi tadi, di saat kamu dekat dengan kedua orang tua saya. Wajah kamu, Qis ... " Gio berbicara sambil tertawa renyah.
"Benar-benar menggemaskan." Lanjut Gio berkata, dimana perkataan Gio barusan, telah berefek pada jantungnya Balqis.
Dan saya sangat suka itu, lanjut Gio dalam hati.
Balqis hanya menampilkan senyumannya. Tanpa menjawab perkataan dari Tuannya.
"Oh iya, tadi saya sudah bicarakan pada Mama dan Papa saya, mengenai ... "
" ... Kamu, yang akan jadi calon istri saya."
Deg
Hah? Secepat itu dia beritahu pada kedua orang tuanya? Batin Balqis tak menyangka.
Balqis mendongak. "Lalu?" Tanyanya pada Gio, ah! Akhirnya ia bisa mengeluarkan suaranya juga di hadapan Tuannya ini.
"Sabtu selanjutnya, kamu pulang saja ke rumahmu, Qis." ucap Gio tersenyum, namun berbeda dengan Balqis, dirinya justru dilanda kebingungan dengan ucapan Gio barusan.
Gio menghela napasnya pelan. "Karena tepat di hari minggunya, saya bersama Mama dan Papa akan datang ke rumahmu ... "
" ... Untuk melamarmu."
MasyaAllah, benarkah? Tanya Balqis dalam hati.
Balqis hanya mengangguk tersenyum. Jika Tuannya sudah berbicara seperti itu, berarti kemungkinan besar kedua orang tuanya benar-benar sudah menyetujui semua ini? Pikirnya.
Permudahkan urusan kami, Ya Allah. Mohon Balqis dalam hati, setelah pikirannya bergulat mengenai apa yang baru saja Gio katakan padanya.
Saya sudah tidak sabar, untuk menjadikanmu sebagai istri saya, Qis. Ucap Gio dalam hati.
Menyadari keadaan di sekitar mereka mulai canggung karena sibuk pula dengan pikiran masing-masing. Akhirnya Gio mengajak Daffa dan Balqis, memutuskan untuk segera pergi dari rumah sakit ini, karena urusannya sudah selesai.
Sesaat Gio ingin melangkahkan kakinya pergi, tiba-tiba saja ia tersentak kaget kala tubuhnya dipeluk oleh seseorang dari arah belakang, pelukannya pun begitu erat, seolah-olah seseorang tersebut tidak sudi Gio meninggalkannya.
"Miss you, Gio."
Bersambung...
__ADS_1