
'*Jadilah seseorang yang selalu ingat akan kebaikan orang lain pada kita. Dan melupakan keburukan orang lain pada kita. Mengapa?
Supaya kita selalu berusaha melakukan kebaikan pada orang lain dengan ikhlas dan tulus, tanpa memerhatikan keburukan yang telah orang lain beri pada kita.
Jadilah seseorang yang selalu mengingat keburukan diri kita sendiri. Dan senantiasa mengingat kebaikan orang lain pada kita, sekecil apapun kebaikan tersebut. Mengapa?
Supaya kita selalu berusaha untuk memperbaiki diri terus menerus. Dan selalu merasa tidak cukup akan kebaikan - kebaikan yang sudah kita lakukan pada orang lain.
Karena, sekecil apapun kebaikan tersebut (sebesar biji Zarrah sekalipun) Allah pasti tetap akan memperhitungkannya di Yaumil Mizan (Hari pertimbangan). Begitu pun keburukan yang pernah kita lakukan pada orang lain.'
Semoga bermanfaat ya❤*
***
Tepat pukul 06:00 dini hari, Balqis sudah berada di dapur bersama Bu Minah. Membantu pekerjaan Bu Minah yaitu memasak selagi Daffa, anak majikannya itu masih bergelung pulas dalam mimpinya.
Walaupun Bu Minah sendiri sudah menolak ke sekian kalinya, namun tidak menjadi penghalang untuk Balqis berbuat kebaikan. Yah, hitung-hitung ia juga sembari mempertajam lagi hobinya dalam hal memasak.
Karena selama ia bekerja sebagai Babysitter, ia benar-benar sangat merindukan aroma tubuhnya yang tercampur oleh masakan di dapur. Hal tersebut pun mengingatkan dirinya kembali pada sosok malaikat tak bersayapnya, yakni Umminya.
Biasanya saat ini, ia pasti tengah bergulat dengan perabotan alat masaknya di dapur penuh semangat. Lalu menyajikan dengan senyuman yang tak pernah luntur pada Umminya.
"Hmm ... Udah pas." Ucap Balqis dengan senyumannya yang mengembang, setelah selesai mencicipi masakannya.
Sementara Hanny, ia bertugas membantu Bu Minah apa saja. Namun kali ini, ia disuruh oleh Bu Minah untuk menemani Balqis memasak di dapur. Karena Bu Minah sendiri sedang mengerjakan pekerjaan yang lainnya.
"Kak, aku mau cerita deh." Ucap Hanny tiba-tiba pada Balqis sembari dirinya mengiris cabai merah.
"Cerita aja, Hann."
"Aku tuh punya sepupu, perempuan. Nah dia sama keluarga aku tuh dekat banget kak, pokoknya kalau dia butuh apa-apa, pasti keluarga aku siap nolongin dia, sekalipun dia sedang kesusahan."
Balqis masih diam mendengarkan pembicaraan Hanny yang masih berlanjut.
"Tapi semenjak keluarga aku kesusahan, butuh bantuan orang lain termasuk dia, dia selalu aja nggak bisa kak, apalagi di saat dia udah sukses dengan impiannya. Kayak nggak kenal sama keluarga aku lagi, asing."
"Padahal selama ini kita selalu berbuat baik ke dia, ikhlas nolongin dia di saat dia kesusahan, butuh bantuan. Tapi justru dianya malah gitu, seolah-olah lupa sama kebaikan yang kita kasih. Yah istilahnya kacang lupa kulitnya, kak."
Balqis tersenyum. "Ada lagi, Hann?"
Hanny menggeleng. "Udah kak, itu aja."
"Sekarang aku mau nanya ke kamu, Hann." Kata Balqis, "nanya apa, kak?"
"Beneran kamu udah ikhlas melakukan kebaikan itu semua?" Tanya Balqis.
Hanny mengangguk yakin. "Iya, kak. Aku ikhlas."
"Belum." Kata Balqis tegas.
Hanny mengernyit. "Beneran, kak. Aku udah ikhl---"
"Belum, Hanny."
Hanny menghela napasnya lelah. "Kenapa kak Aqis bisa bilang gitu?"
"Ya karena kamu memang belum sepenuhnya ikhlas. Tepatnya, belum ikhlas karena Allah."
"Bisa kak Aqis jelaskan yang sebenarnya?"
Balqis mengangguk tersenyum. "Coba kamu baca surah Al Ikhlas di dalam hati. Terus cermati ayat per-ayat dari Surah Al Ikhlas itu, apa ada kata ikhlas?"
Hanny menuruti apa kata Balqis dan tak lama dirinya menggelengkan kepalanya. "Nggak ada, kak."
"Nah itu. Yang namanya kita berbuat baik pada orang lain, harus disertakan keikhlasan murni karena Allah dan semata-mata mengharap Ridho dan penilaian dari Allah saja, bukan dari manusia."
"Jika kita telah berbuat baik pada orang lain, namun pada akhirnya kita membicarakan kembali kebaikan kita pada orang lain, itu namanya belum ikhlas karena Allah, Hann ... "
__ADS_1
" ... Apalagi kamu sendiri tadi bilang ikhlas, itu semakin menunjukkan bahwa kamu memang belum benar-benar ikhlas."
"Seperti surat Al Ikhlas yang baru aja kamu baca tadi di dalam hati, apa ada kata ikhlasnya di dalam isi surat Al Ikhlas itu sendiri?"
Hanny menggelengkan kepalanya sebagai jawaban ucapan Balqis.
"Nah lebih jelasnya gini, Hann. Diibaratkan seperti kamu mengisi air ke dalam panci yang bolong. Alhasil, nggak ada air kan di dalam panci tersebut karena bocor?"
Lagi-lagi Hanny menggelengkan kepalanya.
"Begitulah nasib seseorang jika melakukan kebaikan namun kebaikannya dibicarakan kembali pada orang lain, tadinya sudah mendapat pahala eh pahalanya tiba-tiba hilang. Kan sayang ... "
"Jadi ... Aku belum benar-benar ikhlas ya, kak?" Tanya Hanny lesu dan Balqis hanya tersenyum.
"Ada hadistnya juga kok ...
'Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk badan kalian ataupun rupa kalian, akan tetapi Dia melihat ke dalam hati kalian.'
(HR. Muslim).
"Mau sekaya apapun seseorang, secantik atau setampan apapun seseorang, setenar apapun seseorang di dunia nyata ataupun dunia maya ... Jika dalam melakukan amal ibadah dan kebaikan tidak disertakan keikhlasan karena Allah ... "
" ... Sungguh, Allah tidak akan menerima semua amal yang kita lakukan itu, apalagi tidak ada keikhlasan di dalam hati karena Allah sekecil apapun."
"Sia-sia dong, kak?"
Balqis kembali tersenyum. "Iya sia-sia kalau niat kita dalam beramal ibadah kebaikan bukan karena Allah, melainkan karena ingin dipuji oleh manusia atau ingin dilihat baik oleh orang lain, dan lainnya yang bukan karena Allah."
Tiba-tiba Hanny memeluk Balqis dan hampir saja Balqis terjungkal ke belakang, namun secepatnya ia tahan. Dan Balqis dibuat heran oleh Hanny, karena tiba-tiba pula ia terisak.
Hanny menangis?
"La Tahzan, Hann. Cukup kesedihan kamu diperlihatkan hanya pada Allah saja, Allah sangat senang kok jika kita sedih karena Dia. Apalagi sedih karena mengingat dosa-dosa kita dan minta ampun padaNya, Allah bahagia banget."
Ya Allah, ampuni hamba. Hamba begitu lancang menasihati hambaMu yang lain, sementara diri ini masih sangat kotor dan hina. Batin Balqis.
"Jadi ... Mulai sekarang, niatkan semuanya dalam beramal ibadah kebaikan ikhlas karena Allah ya? Karena kita kan nggak tau, sebanyak apa kita melakukan amal sholih karenaNya dan sebanyak apa juga Allah menerima amalan kita."
Hanny mengangguk tersenyum pada Balqis setelah acara berpelukannya usai.
***
Serasa sudah merapikan kamar Daffa dan melihat Daffa yang masih sibuk dengan alam mimpinya, membuat Balqis menoleh kembali dan tersenyum manis melihat wajah tampan anak asuhnya itu. Lalu dirinya memutuskan keluar kamar Daffa.
Setelah pintu kamar Daffa tertutup, Balqis dikejutkan sosok Gio yang kini sudah berada di hadapannya dengan setelan jas yang sudah sangat rapi membalut tubuhnya.
Refleks Balqis mengelus lembut dadanya sembari bergumam istighfar saking terkejutnya. Melihat Balqis seperti itu, membuat Gio terkekeh geli.
Dan alhasil Balqis mematung di tempat melihat Gio terkekeh, baru kali ini ia melihat Tuannya seperti itu, karena dimana dirinya terkenal dengan wajah dingin bin datarnya.
"Sorry." Ucap Gio dan dibalas senyuman anggukkan oleh Balqis.
Cantik, batinnya.
"Butuh sesuatu, Tuan?" Tanya Balqis.
Gio mengerjap dan akhirnya kesadarannya kembali. "Ah iya, saya butuh kamu." Celetuk Gio tiba-tiba.
Balqis tercengang mendengar jawaban dari Tuannya itu. Butuh? Maksudnya apa? Batinnya bingung.
Gio yang baru saja sadar apa yang diucapkan barusan olehnya, mendadak sedikit rasa gugup menyelimutinya.
Astaga, Gio! Ada apa denganmu? Batin Gio.
Gio menghela napasnya. "Sorry, maksudnya ... Saya perlu bicara sama kamu. Ini soal pertanyaan saya tadi malam yang sempat tertunda."
Tanpa sadar, detak jantung Balqis sudah memompa dirinya lebih cepat dari biasanya. Balqis pun heran, mengapa dirinya jika sudah berhadapan dengan Tuannya, pasti merasakan detak jantungnya abnormal seperti saat ini.
__ADS_1
Gio? Sama. Dirinya pun merasakan detak jantungnya yang tidak biasa setiap dirinya berhadapan dengan Balqis. Apakah karena Gio jatuh hati kembali pada seorang wanita? Seperti Balqis ini? Ah entahlah. Masih diragukan, pikirnya.
Balqis mengangguk. "Hal apa yang ingin Tuan tanyakan pada saya?"
"Hmm ... "
Gio masih saja bergelut dengan rasa gugupnya. Dirinya juga sangat heran, mengapa suasana di sekitarnya mendadak panas, keringat pun mulai bermunculan keluar dari tubuh kekarnya, lidahnya serasa kelu untuk ia gerakkan.
"Sa—saya ingin bertanya mengenai ... "
Untungnya Balqis mempunyai stok kesabaran yang sangat sangat banyak. Jadi ia setia saja menunggu Tuannya itu berbicara padanya.
"Ucap Bismillah, Tuan. Supaya sedikit lebih tenang." Saran Balqis.
Gio mengangguk. Bismillah, batinnya mengikuti saran Balqis.
Gio pun menghirup napasnya dalam dan membuangnya pelan. "Ap--apa kamu sudah memp---"
"Permisi, Tuan."
Arrggh!
"Ck!" Tanpa sadar, Gio berdecak kesal.
Gio membuang napasnya kasar. Lalu berbalik badan dan menatap Bu Arsyita dengan tatapan tajamnya.
"Maaf Tuan, saya hanya ingin menyampaikan informasi, bahwa sahabat, Tuan ... Mike baru saja menghubungi Tuan lewat telepon rumah ini. Katany—"
Dahi Gio mengernyit. "Telepon rumah?"
Arsyita mengangguk. "Iya, Tuan."
"Kenapa dia nggak hubungi saya lewat ponsel?"
Arsyita menghela napasnya pelan. "Mike bilang, ponsel Tuan tidak aktif. Maka dari itu di—"
"Oke oke. Ada lagi?" Tanya Gio.
Arsyita menggelengkan kepalanya. "Itu saja, Tuan. Kalau gitu, saya permisi." Ucap Arsyita lalu pergi meninggalkan Gio dan Balqis.
Tatapan Gio pun beralih menatap jam yang sudah bertengger di perngelangan tangan kirinya. Lalu beralih menatap Balqis yang sedari tadi menundukkan wajahnya.
"Saya sudah terlambat." Ucap Gio, "jangan sampai lupa apa yang saya sudah pesankan pada kamu tadi malam, Balqis." Lanjutnya lagi dengan nada dinginnya.
Balqis mengangguk patuh. "Iya in syaa Allah, Tuan."
Dan tanpa diduga-duga, Gio perlahan-lahan mendekat pada Balqis otomatis membuat Balqis mundur dan berakhir punggungnya menempel pada pintu kamar Daffa.
"Masakanmu sangat enak." Bisik Gio hangat tepat di telinga kiri Balqis.
Lalu Gio pun menarik kembali tubuhnya menjauh dari Balqis yang telah membeku karena mendengar apa yang telah dibisikkan Gio kepadanya.
Merona, batin Gio gemas.
"Terima kasih." Ucap Gio sedikit menampilkan senyumannya.
Balqis mengangguk gugup. Lalu pergilah Gio dari hadapannya, namun langkahnya terhenti tiba-tiba dan berbalik kembali melihat Balqis.
"Assalamu'alaikum?" Salam Gio pada Balqis.
Balqis hanya bisa mengerjapkan kedua matanya, tanpa sadar Gio sudah tidak ada di sekitarnya.
"Wa'alaikumussalam." Gumam Balqis.
*Ya Allah, apa benar Engkau telah memberi rasa fitrah ini padaku?
Jika benar, mudahkanlah aku untuk bisa mengendalikan rasa ini pada semestinya. Supaya tidak ternodai oleh kotornya hati*.
__ADS_1
Bersambung...