
'Kututup mataku, dari semua pandanganku...
Bila melihat matamu ... Kuyakin ada cinta, ketulusan hati yang mengalir lembut.
Penguasa alam, tolonglah pegangi aku... Biar 'ku tak jatuh, pada sumur dosa yang terkutuk, dan menyesatkan cintaku.'
Rossa - Takdir Cinta
Balqis Maura Lishyana.
***
"Akhirnya ... "
Suasana di sekitar rumah mewah milik Gio saat ini sangatlah sunyi. Wajar, saat ini waktu menunjukkan pukul 03:00 dini hari. Ya, Gio baru saja sampai di kediaman rumahnya, setelah berminggu-minggu ia habiskan waktunya dengan urusan bisnis.
Hanya satpam penjaga rumahnya saja yang masih berjaga saat ini. Dan Gio pun memiliki kunci rumahnya, jadi ia tidak sulit ketika saat ini hendak masuk ke dalam rumahnya, karena yakin... Semua orang yang berada di dalam rumahnya pasti sedang terlelap.
Cklek
Terbukalah pintu rumahnya, segeralah Gio masuk setelah mengunci kembali rumahnya. Dan mendudukkan dirinya di sofa yang empuk. Benar-benar sangat melelahkan, terlihat dari raut wajah Gio dengan kedua matanya yang lemas.
Wajahnya yang sedikit kusam oleh keringat, dasi yang sudah tidak beraturan lagi bentuknya, dan kerah kemeja yang sudah terbuka disertai kedua kancing kemejanya yang sudah ia lepaskan, menampakkan sedikit dada bidangnya.
"Hoaamm ... " Telapak tangannya yang menutupi sebagian mulutnya yang terbuka, sesekali Gio memejamkan kedua matanya sejenak sembari memijat pelipisnya lelah.
Rasanya ingin dipijat, gumam Gio.
Tak lama Gio duduk di sofa, akhirnya ia pun bangkit dan hendak pergi ke dalam kamarnya. Berniat ingin segera tidur pulas di atas kasurnya yang sangat empuk itu, tanpa melakukan hal hal lainnya.
Ketika langkahnya hendak melewati kamar Balqis, Gio menghentikan langkahnya tersebut. Tidak! Bukan karena Gio ingin melihat keadaan Balqis saat ini, ia sudah mengira pasti Balqis sedang tidur terlelap.
Memang, Gio akui. Dirinya merindukan Balqis dan ada hasrat dari dirinya sendiri untuk bertemu dengan Balqis. Namun ia masih bisa tahan, toh keesokkannya masih bisa ia temui pengasuh anaknya itu.
Ada hal lain yang sedari tadi mengganggu pendengaran di telinga Gio, menjadikan langkah kakinya kini berhenti tepat di pintu kamar Balqis, yang makin Gio tidak disangka, pintu tersebut terbuka sedikit. Membuat dirinya mempunyai kesempatan untuk bisa melihat Balqis lewat celah pintu tersebut.
Ngintip nih bro? Bisik iblis yang ada di dalam diri Gio.
Ternyata kedua mata Gio menangkap seseorang yang selama berminggu-minggu ini ia rindukan tengah membaca Ayat ayat suci Al-Quran. Ya, dia Balqis.
قُلْ اِنَّمَاۤ اَنَاۡ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰۤى اِلَيَّ اَنَّمَاۤ اِلٰهُكُمْ اِلٰـهٌ وَّاحِدٌ ۚ فَمَنْ كَا نَ يَرْجُوْالِقَآءَ رَبِّهٖ فَلْيَـعْمَلْ عَمَلًا صَا لِحًـاوَّلَايُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖۤ اَحَدًا
"Qul innamaaa ana basyarum mislukum yuuhaaa ilayya annamaaa ilaahukum ilaahuw waahid, fa mang kaana yarjuu liqooo'a robbihii falya'mal 'amalan shoolihaw wa laa yusyrik bi'ibaadati robbihiii ahadaa ... Sadaqallahul'adzim."
Kedua mata Gio masih saja belum terlepas dalam memandang Balqis. Dan tanpa sadar, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyuman yang sudah lama ia tidak tunjukkan pada orang lain. Senyuman yang tulus dan memabukkan.
Entah mengapa hatiku merasakan kedamaian, saat melihat wajahmu seperti ini, Balqis. Batin Gio berbicara sejujurnya.
"Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya ... Maha suci Allah dengan segala firman-Nya."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 110)
Mendengar arti dari ayat alquran yang Balqis ucapkan itu, membuat hati Gio tiba-tiba merasakan sentuhan. Entah sentuhan apa yang ia rasakan, namun itu jelas sudah membuat hatinya bergetar kala mengetahui arti ayat tersebut.
Di dalam diri Gio seperti ingin berteriak menangis. Namun entahlah, Gio pun tidak mengerti dengan semua ini.
"Hiks ... Hiks ... " Suara isakkan pun terdengar.
Bukan, bukan Gio yang menangis, melainkan Balqis. What? Balqis?
Mengapa dia tiba-tiba menangis? Batin Gio bertanya-tanya.
"Ya Allah, aku memohon ampun atas kekhilafanku, kelalaianku, dosa-dosaku yang disengaja atau tidak... Bahkan, ampuni diri ini ya Rabb, ketika hendak melakukan suatu kebaikan, namun tanpa sadar diri ini ingin terlihat sempurna di hadapan manusia ... "
" ... Diri ini hendak senantiasa ingin dipuji oleh manusia. Ampunilah aku ... Ya Allah hiks." Berserulah kalimat doa lirih Balqis sembari tangannya menengadah dan didengar oleh Gio.
Tafsir Al Jalalain: (QS. Al- Kahf: 110).
__ADS_1
" ... Maksudnya; yang diwahyukan kepadaku mengenai keesaan Tuhan (Barang siapa mengharap) bercita-cita (perjumpaan dengan Rabbnya) setelah dibangkitkan dan menerima pembalasan (maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan di dalam beribadah kepada Rabbnya) yakni sewaktu ia beribadah kepada-Nya, seumpamanya ia hanya ingin pamer (dengan seorang pun)."
Sementara Gio? Dirinya hanya bisa mematung di tempat sembari tatapannya masih tertuju pada Balqis, tatapan yang sulit diartikan.
"Dan aku mohon ampun atas rasa suka ini yang tiba-tiba datang, Ya Allah. Aku tau, ini fitrah dariMu... Namun, jika rasa sukaku ini pada dirinya bisa melalaikan aku dalam beribadah kepadaMu, maka mudahkanlah aku untuk membersihkanNya. Mudahkanlah aku untuk mengikhlaskan semuanya ... "
" ... Aku tidak ingin, rasa sukaku dan rinduku ini kepada Makhluk ciptaanMu, membuat diriku tanpa sadar, bahwa aku telah menyekutukan CintaMu yang sesungguhnya. Aku tidak ingin ya Allah, hal itu terjadi ... Hiks. Aamiin ... "
Begitulah ucapan doa Balqis yang masih saja setia Gio dengar di celah pintu kamar Balqis.
Ibnul Qayyim rahimahullah, berkata;
"(Syirik yang) tidak ada baginya ampunan sedikitpun (jika tidak bertaubat di dunia, pent) diantaranya adalah menyekutukan Allah dalam cinta dan pengagungan. Yaitu mencintai makhluk sebagaimana mencintai Allah. Syirik jenis inilah yang Allah tidak akan mengampuninya. Inilah syirik yang Allah sebut dalam firman-Nya."
Allah SWT berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَشَدُّ حُبًّا لِّـلّٰهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْۤا اِذْ يَرَوْنَ الْعَذَا بَ ۙ اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعَذَا بِ
"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal)."
(QS. Al-Baqarah [2]: 165)
Rasa suka dan rindu? Ucap Gio dalam hati sangat penasaran.
Aktivitas Balqis pun selesai, lalu ia hendak membalikkan tubuhnya ke samping kanan dan kedua matanya tanpa sengaja melihat ke arah pintu kamarnya, dimana ia melihat sosok pria yang selama ini telah berhasil membuat hatinya gelisah tak tentu arah.
"Tu--tuan Gio?" Ucap Balqis gugup.
Gio yang sudah tertangkap basah dilihat oleh Balqis, mendadak hatinya bergemuruh, jantungnya serasa ingin melompat dari tempat asalnya, dan entah hatinya merasa berbunga-bunga, seperti banyaknya kupu-kupu yang beterbangan di dalam tubuhnya.
Bukan hanya Gio yang merasakan seperti itu, melainkan Balqis pun sama halnya.
Sejak kapan Tuan Gio berada di sana? Batin Balqis bertanya-tanya.
"Tu--tuan sudah sampai?" Gio hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Selesai itu, tolong buatkan saya minum ... Apa aja asal hangat. Dan bawakan ke kamar saya." Titah Gio lemas dan diangguki oleh Balqis. Lalu pergilah Gio menuju kamarnya.
***
Tok ... Tok ... Tok ...
"Masuk!"
Cklek
Speechless. Itu yang dirasakan oleh Balqis ketika kedua matanya melihat isi ruangan kamar atasannya itu. Luas, bersih, mewah, dengan desain dan warna yang membuat Balqis suka. Balqis yang sadar dari keterkejutannya, membuat dirinya kembali mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.
"Taruh di meja." Ucap Gio tanpa mengalihkan tatapannya pada ponselnya.
Balqis mengangguk lalu menaruh secangkir minuman hangat itu. Siapa saja yang mencium aroma minuman hangat ini, pasti membuat akalnya ingin segera meminumnya penasaran. Termasuk pada Gio.
Tatapan Gio beralih pada minuman yang Balqis bawa. "Minuman apa ini?" Tanyanya.
"Itu Wedang Jahe Merah, Tuan." Jawab Balqis, "cocok untuk tubuh Tuan yang kelelahan itu." Lanjutnya.
Akhirnya jemari Gio menyentuh minuman secangkir wedang jahe tersebut. Dan mengambilnya lalu menghirup aroma yang dikeluarkan oleh minuman itu.
"Kamu buat sendiri?" Tanya Gio.
Dibalas anggukkan oleh Balqis. "Iya, Tuan."
Ketika dirinya hendak merasakan wedang jahe tersebut, ucapan Balqis menghentikan dirinya. "Ucapkan bismillah dulu, Tuan." Katanya dengan nada yang cukup kecil namun masih bisa didengar oleh Gio.
Gio tersenyum kikuk. Lalu dirinya pun menuruti ucapan Balqis dengan mengucapkan bismillah terlebih dahulu. Seketika kerongkongannya merasakan kehangatan yang benar-benar beda.
Bukan itu saja, di dalam perutnya pun merasakan kehangatan walaupun sedikit pahit dari jahe merahnya tersebut, namun ada rasa manisnya yang mewakilkan wedang jahe tersebut.
__ADS_1
Sangat enak, batin Gio tertarik.
"Ah iya, kalau begitu saya permisi, Tuan." Pamit Balqis sopan.
Ketika kakinya ingin melangkah pergi, suara intruksi dari Gio menghentikan kembali langkahnya.
"Tunggu!"
Balqis diam lalu berbalik arah menghadap Gio. "Ada lagi, Tuan?"
"Hmm ... It--itu, saya ingin menanyakan sesuatu pada kamu."
Balqis mengangguk. "Silakan, Tuan."
"Maaf, saya tadi tidak sengaja melihat kamu sedang sholat. Kalau boleh saya tau, sholat apa yang kamu kerjakan itu?"
Balqis tersenyum tipis. "Sholat tahajjud, Tuan. Atau istilah lainnya sholat Qiyaamul Lail."
Allah SWT berfirman:
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَا فِلَةً لَّكَ ۖ عَسٰۤى اَنْ يَّبْعَـثَكَ رَبُّكَ مَقَا مًا مَّحْمُوْدًا
"Dan pada sebagian malam, lakukanlah sholat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."
(QS. Al-Isra' [17]: 79)
Gio mengangguk mengerti. Lalu mulutnya hendak terbuka dan ingin mengatakan sesuatu kembali.
"Boleh saya bertanya lagi?" Tanya Gio.
Walaupun dirinya kini sedang menahan rasa kantuk yang besar, namun rasa penasaranlah yang sudah mengalahkan rasa kantuknya itu.
Balqis mengangguk. "Apakah kamu sedang menyukai seseorang, Balqis?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Gio, sukses membuat pertahanan tubuhnya runtuh. Detak jantungnya pun tiba-tiba meletupkan sensasi yang benar-benar di luar batas.
Balqis masih diam, namun tatapannya sudah ia alihkan ke tempat lain. "Hmm ... Eng, ma--ma'af Tuan. Saya harus segera pergi, tidak baik berduaan di kam---"
"Saya tau." Potong Gio, "dan tolong ... Jangan alihkan pembicaraan ini, Qis." Mohon Gio.
Balqis menelan susah ludahnya. "Saya yakin, pastinya kamu sudah tau nilai kejujuran itu sangatlah penting." Ucap Gio dingin.
Balqis masih diam, sembari menggigit bibir bawahnya gugup. Ada apa dengan Balqis?
Saya butuh jawaban kamu, Qis. Sayangnya Gio hanya bisa mengucapkan kalimat tersebut di dalam hatinya.
"Tuan tau darimana saya sedang menyukai seseorang?" Tanya Balqis yang detak jantungnya masih bergemuruh.
"Do'amu." Jawab Gio singkat.
Balqis tercengang. Astaghfirullahalazim ... Geram Balqis pada diri sendiri dalam hatinya.
"Maaf, saya tidak sengaja mendengar do'a-do'amu, Balqis." Ucap Gio dan Balqis mengangguk tanda menjawab 'tidak apa-apa'.
"Jadi siapa?" Tanya Gio lagi.
Balqis berusaha menormalkan detak jantungnya dan menghela napasnya pelan. "Untuk apa Tuan menanyakan hal itu? Itu tidak penti--" Tanya Balqis.
"Penting bagi saya." Jawab Gio bernada dingin.
Balqis tercekat. "Saya butuh jawaban jujur kamu." Kata Gio masih bernada dingin. "Siapa seseorang itu?" Lanjutnya bertanya lagi.
"Seseorang yang tidak akan pernah bisa saya dapatkan."
Jawaban Balqis membuat Gio mengernyit kebingungan. "Saya tidak suka bertele-tele, Balqis." Kata Gio dengan tatapan yang menajam pada Balqis.
"Siapa, Qis? Siap--"
__ADS_1
"Anda, Tuan."
Bersambung...