Cinta Serenyah Macarons

Cinta Serenyah Macarons
CSM - 14


__ADS_3

'Amarah itu fitrah kita sebagai manusia. Selayak fitrah, kita nggak bisa menghilangkannya. Islam pun tidak hadir untuk menghilangkan fitrah kita ini. Selayak fitrah manusia yang lain, selayak nafsu yang selalu butuh dituruti, tugas kita adalah menahan.


Tepat seperti yang diperintahkan Allah dalam QS. Ali Imran:134. Ingat, Allah loh yang perintahkan. Selain itu, ingat juga perkataan ulama, penulis buku, sosok yang juga pantas kita teladani dan pelajari, Ibnu Qayyim.


Sekali lagi, kenapa kita harus menahan amarah? Karena kita mengupayakan untuk bisa jadi hamba yang dicintai Allah. Agar kita meraih predikat takwa yang disebutkan Allah.


Lagi ya, Marah itu ga akan bisa dihilangkan. Karena itu fitrah. Nah, tugas kita untuk marah dengan cara tidak menyelisihi hukum syar'i, harus tetap elegan dan harus tetap cantik.


Aku padamu, kawan❤


***


"LEPASIN GUE, BRENGSEK!"


Seorang pria yang kini tengah sibuk meronta-ronta, karena tubuhnya dipenuhi oleh ikatan yang sangat kencang. Kedua tangannya, kedua kakinya, diikat mati oleh tali yang benar-benar kuat pada kursi yang kini pria itu duduki.


Wajahnya yang sudah penuh dengan lebam dan darah mengalir di hidungnya serta tubuhnya pun benar-benar lebam. Pria ini bukan termasuk pria yang tidak bisa berkelahi, namun lawan yang ia hadapi itu benar-benar kuat, lebih kuat darinya.


Tap ...


Tap ...


Derapan langkah kaki menggema di ruangan yang luas ini, hanya beberapa lampu saja yang cukup menerangi ruangan tersebut. Cahaya lampu itu pun tidak terlalu terang, meremang sehingga dominan keadaan ruangan ini terasa begitu seram, sunyi dan mencekam.


"SIAPA LO?!" Teriak pria tersebut.


Suara derapan langkah kaki pun semakin terdengar, dekat di telinga pria tersebut. Dan dengan bantuan cahaya lampu yang remang tersebut, pria ini melihat bayangan sosok manusia yang kini sedang menghampiri dirinya dengan santai.


"SI--SIAPA LO, HAH?!" Teriak pria itu kembali pada sosok yang sudah berada di depannya.


Sosok tersebut memakai topeng, sehingga pria itu benar-benar tidak mengetahui siapakah dalang dibalik semua ini, dalang dirinya diperlakukan seperti saat ini.


Namun, jika dilihat dari gerak geriknya, postur tubuhnya, pria ini seperti mengenali sosok yang kini melipat kedua tangannya di dada, berhadapan dengannya.


"Malaikat mautmu." Ucap sosok tersebut.


Membuat pria ini menelan susah payah salivanya, bergidik ngerik, keringat dingin mulai menjalar ke seluruh tubuhnya dan tak lupa kini ia merasakan getaran di sekujur tubuhnya.


Melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh pria tersebut, membuat sosok yang kini berada di hadapannya tersenyum miring, menyeringai bak malaikat mau yang hendak mencabut nyawa manusia, dibalik topengnya itu.


Tak butuh waktu lama, sosok tersebut pun akhirnya mulai mengangkat kepalanya. Dan tangannya pun bergerak hendak membuka topeng yang ia kenakan. Setelah dibuka terpampanglah ...


"Tu--tuan Gi--gio?" Ucap pria tersebut sangat gugup, ucapannya pun terbata-bata.


Melihat siapa dalang dibalik semua ini, membuat napas pria itu tercekat begitu saja. Kedua matanya pun membulat tak percaya, dan tubuhnya kembali bergetar.


Ya. Benar sekali. Sosok yang sedari tadi memakai topeng ialah Gio, Gio Faeyza Darelano.


"Selamat datang di nerakamu, Varo." Ucap Gio santai namun sangat dingin. Dan tak lupa seringaian iblisnya yang selalu menghiasi wajah tampan Gio saat ini.


Yups. Pria tersebut bernamakan Varo. Salah satu karyawan yang sudah cukup lama bekerja di perusahaan Gio. Dan termasuk orang kepercayaan Gio, untuk mengelola semua sumber daya perusahaan. Termasuk data-data penting perusahaan.


"Ke--kenapa Tu--tuan melakukan ini pa--pada saya?" Tanya Varo sangat ketakutan.


Mengapa Varo benar-benar merasa seperti itu? Padahal dirinya cukup pandai berkelahi, namun jika yang berada di hadapannya kini ialah Gio. Varo tidak akan bisa mengalahkannya, sebab Gio benar-benar ahlinya dalam bidang perkelahian. Benar-benar sangat kuat.


"Kau tahu ini apa?" Tanya Gio pada Varo dengan santainya. Sembari dirinya mengeluarkan pistol dari saku jas hitam mewahnya tersebut. Lalu melirik pistol yang ia pegangi saat ini.


GLEK


"Ah! Pastinya kau sangat tahu mengenai benda ini, Varo ... Benar kan?" Tanya Gio kembali dan ia pun melangkahkan kakinya mendekat pada Varo.

__ADS_1


"To--tolong, Tuan. Lep--lepaskan saya ... Sa--saya benar-benar tid--tidak tahu mengap---"


"Tidak tahu katamu, heh?" Tanya Gio menyeringai lalu perlahan ia mensejajarkan posisinya dengan Varo, agar seimbang.


DORRR!


Sangat terkejut yang Varo rasakan saat ini. Benar-benar membuat jantungnya melakukan marathon saja. Varo pikir, ia benar-benar sudah akan mati karena tembakan dari pistol tersebut.


Perlahan-lahan namun pasti, pistol yang Gio genggam saat ini sudah beralih menuju tubuh Varo. Tepatnya, Gio mengarahkan pistolnya tersebut dimana letak jantung Varo berada.


"Saya paling tidak suka dengan manusia yang pandai berdusta. Apalagi, jika ada PENGKHIANAT di belakang saya." Ucap Gio sarkastis dengan menekankan kata 'penghianat' tepat di telinga kiri Varo.


Varo benar-benar sangat sulit untuk menelan salivanya. Napasnya benar-benar merasa berhenti karena apa yang sudah dikatakan oleh Gio, Tuannya tersebut. Karena sudah mengetahui dirinya yang sebenarnya.


"Sandiwaramu benar-benar hebat, Varo." Ucap Gio lagi. "Katakan, penghargaan seperti apa yang kau inginkan, huh?" Tanyanya lagi sangat dingin terlihat dari kilatan mata Gio yang sudah menggelap karena amarah.


Varo benar-benar habis akal, dirinya tidak tahu lagi harus berbuat apa saat ini. Dimana sandiwara yang ia lakukan saat ini sudah diketahui oleh Bossnya sendiri. Alias Tuan Gio.


"Hahaha!" Pecahlah tawa Varo.


Mendapat balasan seperti itu, membuat Gio bertambah naik pitam. "Akhirnya lo tau juga sandiwara gue, heh?" Ucap Varo dengan nada menantang.


Tidak disangka Varo berkata seperti itu pada Gio. Gio benar-benar sudah tidak tahan ingin menghabisi penghianat seperti Varo.


Namun ia urungkan, jika sampai dirinya terlepas dalam mengendalikan emosinya, rencana yang ia akan lakukan pasti gagal.


"Ya. Layaknya bau bangkai yang disembunyikan rapat-rapat di suatu tempat dan suatu saat akan tercium juga." Jawab Gio yang sudah naik pitam.


Yap. Varo---salah satu karyawan kepercayaannya Gio---ternyata ialah seorang pengkhianat jika di belakang Gio. Akhir - akhir ini memang perusahaan Gio, lebih tepatnya hotel-hotel serta restoran yang dikelola olehnya mengalami omset yang menurun drastis.


Diamatilah oleh setiap Manager, serta Gio pun ikut turun andil masalah ini. Karena masalah ini benar-benar sangat keterlaluan jika dibiarkan begitu saja. Dan akhirnya Gio pun mencari tahu akar dari kasus ini, dibantu oleh detektif andalannya.


Ternyata ada sesuatu yang melakukan dengan sengaja hal tersebut. Dan yang lebih tidak disangkanya, seseorang kepercayaan Gio yang melakukan ini semua. Gio sangat tahu, Varo melakukan hal ini karena diperintah oleh orang lain. Gio pun tahu, mengapa Varo menerima tawaran yang seperti ini.


Dan Gio juga sudah tahu, siapa yang memerintahkan Varo untuk melakukan hal tersebut. Siapa lagi kalau bukan musuh Gio? Mengingat musuhnya yang melakukan ini semua, membuat darah Gio yang mengalir di dalam tubuhnya mendidih sangat panas.


Dan hal tersebut menjadikan Gio benar-benar bertekad ingin melakukan balas dendam pada musuhnya itu.


"Sangat menyesal saya percayakan mengenai bisnis ini kepadamu." Ucap Gio sangat dingin disertai sorotan matanya yang sangat tajam. "Dan kau, PENG--KHI--A--NAT pantas di hukum mati saat ini juga." Lanjutnya menyeringai seram.


Varo yang mendengar ucapan dari Gio, sungguh menusuk bagaikan pisau yang sudah ditancapkan ke dalam dadanya. Yang ia tahu dari Tuannya ini, ucapan apapun yang dilontarkan oleh Gio itu tidak main-main, alias sungguhan.


"Takut, heh?" Tanya Gio mengejek saat melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Varo. "Keep calm, boy. Saya tidak ingin, tangan saya kotor begitu saja untuk menghabisimu ... "


" ... But?"


Prok!


Cukup sekali Gio menepukan kedua tangannya agar berbunyi, empat orang pria bertubuh besar datang menghampirinya. Dan lagi - lagi Varo sulit untuk mengambil napasnya.


"Jalani tugas kalian!" Titah Gio pada anak buahnya, sembari melirik tajam pada Varo. "Baik, Boss!" Jawab ke empatnya serempak.


Setelah mengatakan itu, Gio mendekat pada Varo dan mensejajarkan bibirnya tepat di hadapan telinga kanan Varo. "Inilah akibatnya jika kau bermain dengan saya, Varo." Bisik Gio mengerikan.


Akhirnya Gio menarik tubuhnya menjauh dari Varo dan berbalik melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat yang ia pijaki ini.


Tapi baru saja beberapa langkah meninggalkan tempat ini, Gio berhenti melangkahkan kakinya dan berbalik sembari matanya langsung tertuju pada objek yang bagi dirinya sangat menarik.


"Ah iya, tolong ... Jangan dihabiskan hembusan napas si pengkhianat ini ... " Ucap Gio tiba-tiba.


" ... Sisakan sedikit napas untuknya, agar ia bisa menghembuskan napas terakhirnya nanti di jeruji besi."

__ADS_1


***


"Selesai?"


Setelah beberapa jam menghabiskan waktunya dengan pengkhianat tersebut. Kini Gio dan Mike berada di dalam Coffe Shop kepunyaan dirinya dan baru kemarin-kemarin pula mereka kunjungi.


Gio mengangguk sembari menampilkan seringaiannya, tanda ia menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu. Mike yang mendapat jawaban dari Gio, hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.


"Musuh lo?"


Gio yang sibuk menatap ponselnya kini menoleh pada Mike. "Itu urusan gue." Jawabnya penuh kemenangan.


Mike menggelengkan kepalanya. "Tapi gue nggak mau tau, Gio. Dimana nanti saat lo hadapin dia ... Amarah lo melebihi iblis neraka!"


Sudah bertahun-tahun Mike menjadi sahabat Gio, tidak mungkin Mike tidak mengetahui keburukan sahabatnya itu. Termasuk dalam hal emosi yang Gio punya, Mike sangat mengetahuinya.


Gio memutar bola matanya malas mendengar ucapan Mike yang hampir sama seperti peringatan. Yah ... Mungkin Mike bisa digantikan oleh sosok Mamanya yang sedang tidak berada di sisinya.


"Haaah ... Akhirnya besok balik juga gue ke Indonesia." Kata Mike, "udah nggak ada urusan lagi kan kita disini, Iio?" Tanya Mike pada Gio.


Gio menggeleng. "Nggak ada." Jawab Gio seadanya.


Mengingat kata Indonesia, Gio jadi teringat pada keadaan di dalam rumahnya. Terutama orang-orang yang berada di sana. Tidak! Tidak! Lebih tepatnya pada Daffa termasuk ... Balqis. Ya! Balqis.


Pikirannya yang kini tertuju pada Balqis, Gio akhirnya menyapa sahabatnya itu. "Mike?"


Mike menoleh lalu menaikkan sebelah alis matanya. "Hm?" Jawab Mike hanya gumaman.


Entah mengapa tiba-tiba rasa gugup menyelimuti diri Gio. "Gue ... Gue ... "


Mike yang menyadari kegugupan Gio, mulai angkat bicara. "Santai aja bro, tumbenan lo gugup gitu."


Gio menghela napasnya pelan. "Gue mau nanya sesuatu ke elo."


Mendengar itu, Mike semakin penasaran pada Gio. "Nanya apaan?"


Lagi-lagi Gio menghela napasnya. "Menurut lo, sekarang gue gimana?"


Mike semakin dibuat bingung oleh Gio. "Gimana? Maksud lo apa, Gio? Coba deh kalo ngomong yang jelas, sup---"


"Ck! Iya iya." Jawab Gio, "maksudnya, gue kalo dalam urusan cinta dan wanit---"


"Ah iya gue paham sekarang." Kata Mike dengan santainya memotong pembicaraan Gio.


Gio yang menyadari ucapannya dipotong, menatap tajam pada Mike dan Mike hanya bisa terkekeh. "Semenjak kejadian itu ya jelaslah, lo itu jadi cuek parah, nggak peduli soal cinta-cintaan dan hati lo tuh udah dingin, Gio."


Gio diam mendengar jawaban dari sahabatnya itu, ia juga menyadari bahwa dirinya memang seperti itu. "Kenapa lo tiba-tiba nanya gitu ke gue?" Tanya Mike sangat penasaran.


"Lo bilang hati gue dingin?"


Mike mengangguk. "Emang kenapa?" Tanya Mike.


"Karena sekarang hati gue sudah mulai menghangat."


Mike terbelalak. "What?! Jangan bilang lo lagi ... ?"


Gio menghembuskan napasnya sedikit kasar. "Lo tau kan, semenjak kejadian itu ... Gue benar-benar muak soal cinta?" Tanya Gio dan Mike mengangguk semangat.


"Dan hal itu juga udah buat lo lupa, rasanya jatuh cinta yang sebenarnya." Bukan kata Gio, justru Mike melanjutkan ucapan Gio.


Gio yang menyadari itu memutar bola matanya malas. "So?" Tanya Mike ke intinya.

__ADS_1


"Menurut lo, gimana rasanya jatuh cinta yang sebenarnya?"


Bersambung...


__ADS_2