
'*Teruslah berbuat baik meski tak dikenal orang-orang... Selayaknya jantung, dia tak terlihat namun terus berdenyut memberikan kehidupan.'
Pesanku untukmu kawan❤*
***
"Ck! Kenapa sih Qis pulang ngelamar muka lo kusut gitu? Heran gue."
Setelah terjadinya insiden kecil yang terjadi pada Balqis, yaitu tertabraknya ia di pinggir jalan dengan seseorang dimana berkasnya pun sudah basah oleh minumannya, mau tak mau Balqis memutuskan untuk pulang ke kontrakannya saja.
Yap, Balqis dan Umminya tinggal di kontrakan yang tak jauh dari Kampus tempat Balqis sudah berhenti. Bukan seperti orang lain, yang telah memiliki rumah sendiri. Walau begitu, Balqis sudah sangat bersyukur tinggal di kontrakan yang hanya beberapa petak saja.
Mengapa? Karena di luar sana masih banyak yang kurang beruntung dari dirinya sendiri. Ada yang tinggal di bawah jembatan, tinggal di tempat yang kurang layak dan lain sebagainya.
Mendengar ocehan dari sahabatnya itu, Balqis hanya menggelengkan kepalanya. "Ayo cerita ke gue kenapa muka lo sampe kusut gitu?" Tanyanya, "apa perlu gue setrika nih biar jadi licin dan rapi?" Lanjutnya lagi.
Mendengar celetukan dari sahabatnya, Balqis hanya terkekeh. "Nggak apa-apa Van." Jawabnya, "oh iya kok Ummi udah boleh diizinin pulang sih Van?" Tanyanya mencoba mengalihkan.
Vanya sudah tahu jika Balqis mengalihkan pembicaraannya dan Vanya pun tahu jika Balqis sudah mengalihkan pembicaraannya seperti ini, mau tak mau Vanya tidak akan bertanya lagi. Vanya hanya menunggu waktu yang tepat dimana Balqis sudah saatnya ingin bercerita.
Akhirnya Vanya tersenyum sembari tangan kanannya meraih cemilan gurih yang sudah siap masuk ke dalam mulutnya. "Alhamdulillah Qis. Keadaan Ummi lo udah baikan. Jadi nanti tinggal terapi cuci darahnya aja." Katanya sembari lidahnya menikmati cemilan.
Mengingat itu, wajah Balqis seketika berubah menjadi murung. Sungguh sangat bingung dirinya harus kemana lagi mencari lowongan pekerjaan. Dan Balqis baru menyadari, bahwa mencari pekerjaan itu memanglah tidak mudah. Makanya mengapa sekarang orang-orang kebanyakkan mengalami pengangguran. Ya salah satunya ini.
Vanya yang menyadari perubahan wajah sahabatnya itu, kedua tangannya langsung mengusap lembut bahu Balqis. "Gue selalu ada buat keluarga elo Qis keadaan apapun yang nanti akan terjadi. So... Don't be sad, Allah selalu bersama orang yang sabar Qis." Katanya, "itu juga gue pernah dibilangin sama sahabat gue, Balqis namanya."
Mendengar itu, Balqis langsung menghamburkan pelukannya yang erat pada Vanya serta isakan kecilnya yang menyusul. "Balqis sahabat gue tuh strong loh, nggak lemah." Sindir Vanya membuat Balqis terkekeh lalu melepas pelukannya dan Balqis segera mengusap kasar kedua matanya yang sudah basah.
__ADS_1
"Makasih Van, makasih banyak." Ucap Balqis lirih, Vanya menganggukkan kepalanya tersenyum, "oh iya... Gue punya berita baik nih buat lo." Kata Vanya.
Jantung Balqis seakan-akan berdetak lebih cepat kala mendengar apa yang telah diucapkan oleh sahabatnya itu. "Baik? Apa itu, Van?" Jawabnya penasaran.
Akhirnya Vanya meraih ponselnya dengan lihai jarinya menari-nari di layar ponsel tipis bermerk apel digigit itu, seperti mencari sesuatu. Lalu setelah itu Vanya menunjukkannya pada Balqis.
Balqis pun menerimanya dan melihat sesuatu yang sahabatnya itu telah ditunjukkan pada dirinya. Tak main, membuat kedua mata Balqis membulat dan tak lupa juga mulutnya yang terbuka 'o'.
"Serius kamu Van?" Vanya pun mengangguk senang sambil tersenyum, "gimana Qis? Coba dulu ya? Please?" Mohon Vanya serius.
Balqis menelan salivanya susah, namun tak lama Balqis pun menganggukkan kepalanya sedikit ragu. "Yeay! Gitu dong." Kata Vanya girang, "you can do it, Balqis." Dan Balqis pun hanya tersenyum menanggapi ucapan Vanya.
Semoga jalanku ini termasuk takdir dariMu yang terbaik Ya Rabb.
***
Mike. Pria yang sangat setia sebagai asisten pribadi sahabatnya ini. Mike yang ditanya oleh seorang pria yang selalu berpenampilan rapi tersebut menoleh namanya dipanggil. Lalu tatapannya kembali lagi pada layar ponselnya. "She's accepts your offer, Gio."
"Nice."
Gio Faeyza Darelano. Seorang pria yang sangat tampan, berpostur tinggi tegap, berkulit sawo matang bersih, rahang yang kokoh, hidung yang mancung, bibir tipis nan sexynya dan tak lupa kedua matanya yang tajam namun bisa melelehkan semua wanita yang melihatnya.
Apalagi jika dirinya tertangkap basah oleh wanita saat dirinya tengah tersenyum, mau tak mau wanita yang melihat senyumannya itu akan kehabisan napas seperti ikan yang masih hidup lalu ditaruh di atas daratan.
Gio tidak bekerja namun memperkerjakan ratusan bahkan ribuan orang dalam perusahaannya. Gio berperan sebagai Corporate Director of Executive and Hotel Management. Istilah Indonesianya Direktur Utama atau kalau suasana di negara Amerika Serikat itu CEO.
Dari puluhan hotel yang berada di Indonesia serta beberapa cabang di luar negeri, salah satunya di New York. Hotel yang ia urusi lebih banyaknya berbintang lima dan sisanya berbintang empat bahkan tiga. Serta ia memiliki beberapa restoran yang terkenal dan cabangnya di luar negeri.
__ADS_1
Sudah tidak diragukan lagi berapa penghasilan yang didapatkan oleh Gio. Puluhan bahkan ratusan juta ia dapatkan. Namun itu sudah biasa saja bagi Gio sendiri.
Gio yang seperti ini pun berkat dari sang ayah yang sudah mempercayakan jabatannya pada Gio, anak semata wayangnya. Dan kini, sang ayah sedang menikmati masa tuanya bersantai tenang di rumahnya yang seperti istana itu, termasuk rumah Gio pula.
Dan mengenai status, Gio bukan pria yang belum menikmati pernikahan, dimana pria setampan seperti dirinya masih dengan status single alias belum menikah seperti cerita romansa di novel-novel.
Namun ia seorang 'Duda' atau banyak yang bilang 'DuRen' artinya Duda Keren. Ya, Gio pernah menikahi seorang wanita, namun belum memasuki satu tahun dalam pernikahannya, Gio telah bercerai dengan istrinya.
Kejadian tersebut, menjadikan Gio mengurus anaknya yang masih kecil, lebih tepatnya sang Mamah ikut turun membantu mengurusnya. Walaupun Gio sudah pernah menikah dan menjadi duda serta mempunyai seorang anak laki-laki, itu tidak sama sekali membuat para wanita ilfeel padanya.
Justru banyak sekali yang menginginkan hidup bersama dengannya. Okay, lebih jelasnya ingin hidup bersama hartanya, pikir Gio. Dan ini salah satu bentuk kelemahan Gio, jika dirinya sudah dihadapkan oleh seorang wanita.
Apalagi menyangkut pautkan soal perasaan, Gio kalah, Gio dingin melebihi kutub yang berada di utara dan selatan, sikap Gio tajam bagai pisau yang baru saja dipahat, sifatnya yang datar seperti triplek dan tentu saja cuek.
Semua wanita sama saja, harta, harta dan harta. Pikirnya yang selalu menghantui di dalam otaknya.
"Pilihan yang ini harus tepat, Gio." Ucap Mike serius pada Gio yang tengah bersandar duduk di kursi kebesarannya.
Tidak ada respon sama sekali dari Gio untuk menanggapi ucapan Mike. Dan Mike sendiri sudah terbiasa dengan sikap dan sifat yang dimiliki sahabatnya itu.
"Oke kalo gitu, gue balik kerja lagi." Pamit Mike, "Thanks." Ucap Gio dan Mike hanya menganggukkan kepalanya lalu melenggang pergi keluar dari ruangan Gio.
Setelah pintu tertutup, Gio membalikkan kursinya dimana kali ini dia disuguhkan pemandangan perkotaan yang sangat padat dan cerah tersebut sesekali memijat pelipisnya.
Semoga yang ini memang tepat.
Bersambung...
__ADS_1