
*Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَا بِيْ لَشَدِيْدٌ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."
(QS. Ibrahim 14: Ayat 7*).
***
Pagi ini tepat di hari senin, Balqis berada di Rumah Sakit Medika Bogor, dimana kini ia sedang menyuapi Umminya sarapan bubur ayam. Sempat Umminya menolak perlakuan Balqis terhadap dirinya, namun bukan Balqis namanya jika tidak melakukan hal tersebut pada orang yang ia sayangi.
Apalagi pada kedua orang tuanya. Kedua? Tidak. Balqis hanya punya satu dan itu hanya Umminya seorang. Ayahnya? Entahlah Balqis tidak tahu menahu dimanakah keberadaan Ayahnya sekarang. Yang ia tahu, selama ini ia selalu memendam perasaan rindu disayangi oleh Ayahnya. Walaupun Ayahnya sudah melakukan hal yang sangat melukai Umminya bahkan dirinya sendiri.
Gadis yang sudah memasuki usia 22 tahun ini tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah Allah beri padanya yaitu masih menghadirkan Umminya di dalam kehidupannya. Ia ingin menjadi anak yang berguna bagi orang yang ia sayangi dan orang banyak serta selalu berbuat kebaikan walaupun hal sekecil apapun kebaikan tersebut.
Karena sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan di dunia, tetap Allah akan mencatat sebagai amal kebaikan kita selama hidup di dunia.
Balqis tidak memiliki seorang kakak dan adik. Ia anak satu - satunya. Maka dari itu, hanya Umminya lah satu - satunya yang ia harus jaga, rawat bahkan sayangi dengan sepenuh hati. Dan hanya Umminya lah seseorang yang selalu siap mendengarkan keluh kesah hidup Balqis setelah dirinya mengadu pada Sang Illahi.
"Alhamdulillah, habis juga kan kalo Aqis yang suapin." Ucap bangga Balqis pada Umminya.
Mayra menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. "Terima kasih ya nak, kamu sudah mau direpotkan oleh Ummi."
Berhasil membuat Balqis menatap sang ummi tak terima dengan ucapannya. "Ummi, Aqis mohon... Jangan lagi Ummi bilang kayak gitu ya? Aqis nggak suka Umm." Kata Balqis dengan bibirnya yang sudah maju.
Nampak Mayra menghela napasnya pelan lalu menganggukkan kepalanya. "Iya deh anak Ummi yang manis. Udah dong itu bibirnya nggak usah dimaju-majuin." Ledek Umminya dan Balqis hanya terkekeh.
"Oh iya Qis, kamu yakin hari ini mau cari pekerjaan?" Tanya Umminya, Balqis mengangguk, "iya Umm, in sya Allah." Mendengar itu, Mayra tersenyum getir.
Ya. Dua hari setelah Mayra sadar, Balqis memang sudah memberitahukan pada Umminya itu, Mayra. Bahwa Balqis telah berhenti dari tempat dirinya mencari ilmu, tepatnya berhenti di tempat kuliah yang selama ini ia impikan.
__ADS_1
Dan memutuskan mencari pekerjaan dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dengan Mayra. Sampai - sampai, Balqis membongkar tabungannya yang sudah lama ia menabung untuk modal mencari pekerjaan.
Ekor mata Balqis pun mencari keberadaan jam yang berada di dinding ruang rawat. Lalu kedua matanya pun menangkap arah jarum jam yang sudah waktunya ia harus berangkat untuk mencari pekerjaan.
"Astaghfirullah! Ummi... Aqis telat." Katanya terbelalak, lalu dengan gerakan gesit Balqis segera mengambil tas dan berkas-berkas untuk keperluan melamar pekerjaan.
Setelah itu ia segera menghampiri Umminya dan meraih tangan Umminya untuk salam dan mencium. "Ummi, Aqis berangkat ya? Ummi baik-baik ya disini. Aqis minta maaf, karena Aqis ninggalin Ummi." Ucap Aqis merasa bersalah.
Mayra tersenyum menggeleng. "Enggak sayang. Ya sudah hati-hati ya. Jangan lupa ucap bismillah dulu dan niatkan karena Allah. Semoga kamu segera mendapatkan pekerjaan yang diridhoi oleh Allah."
Balqis mengusap wajahnya. "Aamiin. Makasih ya Umm... Aqis berangkat, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Kurang lebih dua menit, pintu yang terakhir sudah ditutup oleh Balqis terbuka kembali dan ternyata menampilkan dirinya lagi. "Duh Aqis lupa, nanti Vanya akan kesini nemenin Ummi. Jadi Ummi nggak kesepian."
Mayra terkekeh melihat tingkah anak semata wayangnya itu lalu menganggukkan kepalanya. "Iya sayang. Ya sudah berangkat gih, bukannya udah telat ya?"
Refleks Balqis menepuk dahinya keras. "Astagfirullah! Aqis berangkat ya Umm... Assalamu'alaikum?"
Ma'afkan Ummi, Balqis.
***
"Cari kemana lagi ya?"
Tak henti-hentinya keringat di kulit cerah sang gadis itu mengalir terus menerus. Dengan pakaian yang awalnya rapi, kini sebagian basah karena ulah keringatnya. Tak henti-hentinya pula Balqis mengibaskan tangannya pada wajahnya. Wajar, karena cuaca hari ini benar-benar panas dan cerah.
Sempat dirinya pun mengeluh, karena belum ada satu pun berkas lamarannya diterima oleh pihak perusahaan hingga ke PT. Dirinya pun sudah berjam-jam keliling Bogor untuk mencari lowongan pekerjaan. Namun, ia teringat kembali perkataan Ustadz dalam berceramah dimana Balqis pernah mendengarnya di youtube. Seperti ini...
Jika kita hidup banyak mengeluhnya, itu artinya kita tidak mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Allah pada kita. Itu nggak baik. Kita seperti tidak bisa melihat sisi baik dari sesuatu yang telah Allah takdirkan untuk kita bahkan kita mulai mendikte Allah dengan keinginan otak kita yang terbatas.
__ADS_1
Penjelasan tersebut, mengingatkan Balqis pada salah satu hikmah Al Hikam, sebuah kitab klasik tasawuf yang ditulis oleh Ibnu Attaillah pada tahun 1200-an.
"Andaikan tidak ada lapangan perjuangan melawan hawa nafsu, pasti tidak dapat terbukti perjalanan orang-orang yang menuju Allah."
Dalam salah satu penjelasan hikmah disebutkan mengenai perkataan Syekh Abu Utsman r.a:
"Engkau tidak akan menjadi sempurna hingga engkau bisa berlaku sama dalam berbagai kondisi. Pertama, dalam keadaan kekurangan. Kedua, dalam keadaan cukup. Ketiga, dalam keadaan mulia. Dan keempat, dalam keadaan hina."
Jadi sebenarnya tidak ada yang bisa dikeluhkan dalam hidup ini. Semuanya hakikatnya sama saja. Sebuah karunia dari Allah untuk kita jadikan jalan untuk mendekatkan diri kepada Ilahi. Mengeluh ini itu, sama saja artinya dengan tidak bisa mensyukuri nikmat Allah.
Dan...
Dalam kitab Jawahir Shifatush Shafwah, terungkap sebuah nasihat indah dari Muhammad bin Ali bin Al-Husain rahimahullah kepada putranya.
Beliau berkata, "Wahai anakku, jauhilah olehmu sifat malas dan banyak mengeluh. Sesungguhnya, kedua sifat itu merupakan kunci dari segala keburukan. Apabila engkau malas, niscaya engkau tidak akan mampu menunaikan kewajibanmu. Apabila engkau banyak mengeluh, niscaya engkau pun tidak akan sabar dalam menunaikan kewajibanmu itu."
Jadi... Sudahkah kalian bersyukur hari ini?
"Alhamdulillah, beli minum udah. Tinggal cari tempat duduknya yang teduh." Ucap Balqis bermonolog.
Matanya pun mencari tempat yang teduh untuk dirinya bisa duduk istirahat sejenak. Dan tak lama kedua matanya berbinar karena akhirnya Balqis menemukan tempat yang ia maksud.
Dengan langkah tergesa-gesa, Balqis sedikit berlari menuju tempat itu dan tanpa diduga-duga,
Brakk
"Astaghfirullah." Ucap Balqis yang kini posisinya sudah terduduk manis di jalanan. Kedua matanya membulat penuh karena melihat berkas lamaran pekerjaannya basah akibat tumpahnya minuman yang baru saja Balqis beli.
Kesal. Saat ini Balqis merasakan itu. Tapi ia tetap berusaha sabar, dan kedua mata Balqis menangkap sepasang kaki yang dibalut sepatu hitam mengkilap. Napas Balqis semakin memburu kala mengetahui sebab dari kesalahan ia terjatuh seperti ini bukan sepenuhnya salah dirinya.
Akhirnya Balqis bangkit dan mengambil berkasnya lalu tatapan matanya bertemu dengan seseorang yang sudah menabrak dirinya hingga sampai seperti ini. Dengan napas yang masih memburu berusaha untuk sabar, Balqis mendaratkan telunjuknya tepat pada wajah seseorang itu walaupun tingginya beda jauh.
__ADS_1
"Kamu!"
Bersambung...