Cinta Serenyah Macarons

Cinta Serenyah Macarons
CSM - 6


__ADS_3

'*Melihat senyumanmu saja, itu sudah cukup nak untuk mengartikan kebahagiaan Ayah memilikimu. Teruslah tersenyum dan tertawa jagoan Ayah, walaupun senyuman dan tawamu itu terjadi bukan sebab dari Ayahmu sendiri.'


Said Gio Faeyza Darelano*


***


Setelah Hanny menemani Balqis berkeliling rumah mewah bak istana ini, membuat kerongkongan mereka kering karena kehausan dan sedikit pegal kedua kaki mereka. Dan akhirnya mereka berakhir di dapur, agar rasa hausnya hilang sekaligus istirahat duduk manis.


"MasyaAllah ya ... "


Hanny terkekeh sembari menggelengkan kepalanya. "Kakak nih ya, unik banget. Dari tadi ngucapnya MasyaAllah terus." Katanya.


Balqis hanya bisa menunjukkan deretan giginya. "Aku kagum Han dengan rumah ini, serius loh aku baru pertama kali lihat dan masuk langsung ke rumah yang terbilang kelewat mewah ini." Ucap Balqis jujur.


Hanny terkikik geli. "Memangnya kalo kagum harus ngucapin MasyaAllah ya kak?" Tanya Hanny kebingungan.


Balqis tersenyum. "Kamu mau tau yang sebenarnya Han?" Hanny pun mengangguk semangat.


"Bismillah ...


Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan, "disyariatkan bagi orang mukmin ketika melihat sesuatu yang membuatnya takjub hendaknya ia mengucapkan 'Masya Allah' atau 'Baarakallahu Fiik' atau juga 'Allahumma Baarik Fiihi' sebagaimana firman Allah Ta'ala:


وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ


'Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu "MAA SYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH"' (QS. Al Kahfi: 39)" (Fatawa Nurun 'alad Darbi, no.39905)."


Hanny mengangguk mengerti. "Lalu, makna dari kata MasyaAllah itu sendiri ... Apa kak?" Lagi-lagi Balqis tersenyum.


"Jadi ... Kata MasyaAllah diucapkan bila seseorang melihat hal yang baik dan indah. Ekspresi penghargaan sekaligus pengingat bahwa semua itu bisa terjadi hanya karena kehendak-Nya dan semata-mata terjadi karena kuasa Allah."


Kedua mata Hanny berbinar. "MasyaAllah kak ... " Balqis tersenyum, "alhamdulillah, ternyata kamu langsung mempraktikkannya ya."


Hanny cengengesan. "Hehe iya kak alhamdulillah. Terima kasih banyak ya kak ilmunya." Balqis mengangguk tersenyum.

__ADS_1


Tiba-tiba dahi Hanny mengernyit. "Tapi kak, aku pernah dengar dari orang lain, mereka kalo kagum gitu ucapnya Subhanallah bukan MasyaAllah. Bisa kakak jelaskan?"


Lagi-lagi Balqis tersenyum dan mengangguk. "Kata Subhanallah diucapkan saat mendengar atau melihat hal buruk atau jelek, nah ucapkan Subhanallah sebagai penegasan bahwa Allah Maha Suci dari keburukan tersebut. Karena dalam Al-Quran, ungkapan Subhanallah itu digunakan dalam menyucikan Allah dari hal yang tak pantas atau hal buruk."


Hanny mengangguk mengerti sembari mulutnya menampilkan huruf 'o'. "Oh jadi gitu ya kak." Balqis mengangguk tersenyum.


"Berarti itu kebalikannya ya kak dan mungkin orang yang menyebut Subhanallah itu karema melihat kekaguman, mungkin mereka belum mengetahuinya." Lagi-lagi Balqis mengangguk.


"Maka dari itu, beritahu kepada mereka yang belum mereka ketahui sebenarnya. In syaa Allah bernilai pahala jika kita niatkan karena Allah." Ucap Balqis menjelaskan.


"Asiyap kak."


Keseruan mereka berdua di dapur berhenti begitu saja kala mendengar suara mesin mobil masuk ke dalam garasi. Karena keberadaan dapur dengan garasi tidak jauh dan itu menandakan adanya tamu atau seseorang yang datang.


"Pasti itu Den Daffa." Gumam Hanny yang masih bisa didengar oleh Balqis.


Balqis mengernyit. "Den Daffa?" Tanya Balqis sembari langkahnya mengikuti Hanny berjalan.


Hanny mengangguk, "iya kak. Dia anaknya Tuan Gio dan sebentar lagi, kakak mulai bekerja sebagai Babysitter. Yuk kak ke depan." Ajak Hanny pada Balqis yang masih nampak canggung dengan seragam yang ia kenakan sekarang.


Seragam orange pucat dan celana kotak-kotak dengan warna senada ditambah dengan tas ransel namun itu tertutupi oleh jaket yang dipakainya itu. Menambah kesan imut untuk anak tampan tersebut.


"Bibi Hanny, dia siapa?" Tanya Daffa dengan suara khas anak kecil yang akan menginjak usia empat tahun itu dan jangan lupa, tatapan penasaran Daffa pada Balqis saat ini.


Ya ... Usia Daffa beberapa bulan lagi menginjak ke empat tahun. Namun, jangan salah. Pemikiran dan daya tanggap anak tampan ini sangatlah bagus dan tinggi. Maka dari itu, ia dimasukkan ke sekolahnya oleh Gio lebih muda dari anak-anak lainnya.


Balqis pun jongkok dan mensejajarkan tingginya dengan Daffa. "Assalamu'alaikum anak tampan. Aku Bal—"


Belum selesai Balqis menyelesaikan ucapannya, ia dikejutkan oleh hamburan pelukan dari Den Daffa. Dan itu membuat Balqis hampir terjungkal ke belakang karena tubrukan Daffa dan pelukannya yang erat.


"Nama Bibi siapa?" Tanya Daffa pada Balqis setelah melepaskan pelukannya.


Balqis tersenyum. "Balqis sayang. Kamu bisa panggil aku Bibi Aqis hm?" Lagi-lagi Daffa memeluk Balqis sambil mengucapkan, "Bibi Aqis cantik." Puji Daffa sambil mengecupi pipi kanan Balqis.

__ADS_1


Dan Balqis terkejut dengan reaksi Daffa sedangkan Hanny sedang berusaha menahan tawaannya agar tidak pecah.


Mau tak mau Balqis pun tertawa dan langsung menggendong gemas anak tampan itu. "Namamu Daffa kan?" Daffa mengangguk, "nah sekarang Daffa ganti baju dulu ya, setelah itu kita makan." Sembari membawa Daffa ke kamarnya.


Tanpa mereka sadari, dari kejauhan si pemilik rumah serta wanita yang berada di sampingnya sedari tadi menatap mereka dengan serius. Ya siapa lagi kalau bukan Gio dengan Arsyita. Mereka sengaja melihat dari kejauhan interaksi antara Balqis dengan Daffa, anaknya Gio.


"See? Saya sungguh tidak menyangka, ternyata Daffa cepat juga menerima Balqis sebagai pengasuhnya." Ucap Arsyita sembari tersenyum.


Gio yang masih setia menatap rumahnya itu, menyunggingkan sudut bibirnya tipis. "Bukankah anakmu itu tidak mudah akrab dengan orang baru? Bukan begitu Tuan?" Gio hanya meresponnya dengan anggukkan.


Arsyita sudah lama bekerja dengan Gio, ya dia bekerja seperti sekarang ini. Karena pada dasarnya, sudah beberapa kali bahkan belasan kali Gio selalu merekrut seseorang untuk menjadikannya babysitter di rumahnya, namun gagal.


Dan Arsyita sendiri sudah tidak canggung jika bersama Gio. Karena Gio sendiri sudah menganggap Arsyita sebagai Mamahnya yang kedua. Dan Arsyita sendiri sudah menganggap Gio sebagai anaknya.


Arsyita tersenyum. "Saya harap semoga Balqis bisa mengasuh Daffa dengan baik. Dan ... "


Alis mata Gio terangkat sebelah. "Dan bisa membuat Daffa mengerti apa yang selama ini ayahnya kerjakan."


Gio mengambil napasnya dalam lalu membuangnya sedikit kasar. "Semoga saja." Lalu wajahnya menunduk sembari tersenyum getir.


"Sepertinya ... Sudah saatnya Tuan mencari pendamping hidup." Celetuk Arsyita tiba-tiba.


Gio hanya tersenyum tipis, sangat tipis. "Selama anak saya baik-baik saja, saya pun begitu."


Mendengar itu, Arsyita menggeleng kecil. "Kalau begitu, saya permisi Tuan." Dan dibalas anggukkan oleh Gio.


Gio sendiri masih saja berdiam diri di tempat. Masih memandang rumahnya dari kejauhan. Pikirannya teringat kembali bagaimana pertama kalinya Daffa bertemu dengan Balqis. Dan memperlakukan Balqis sangat manis, padahal Balqis orang asing yang baru saja Daffa temui.


Ia menggelengkan kepalanya sembari tersenyum miris. Ya ... Dia sangat berharap anaknya segera mengetahui mengapa dirinya seperti ini pada Daffa, anaknya. Dan berharap, semoga Daffa mengerti dengan keadaan yang ia alami selama ini.


Dan mengenai ... Pendamping hidup? Hah Gio benar-benar tidak memikirkan soal itu. Karena dirinya sudah sangat lelah jika berurusan dengan wanita, apa lagi soal hati. Dan jika ada yang menginginkan dirinya, wanita tersebut hanyalah menginginkan hartanya bukan dirinya setulus hati.


Lalu kemudian, Gio pun tersenyum kembali. Setidaknya kini anaknya itu tidak merasa kesepian lagi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2