Cinta Serenyah Macarons

Cinta Serenyah Macarons
CSM - 22


__ADS_3

'Tidak sedikit yang mengalami sakitnya hati seseorang karena sebuah lisan yang telah mereka lontarkan. Sengaja atau tidak, lisan tetaplah lisan. Diucapkan oleh lidah yang tak mempunyai tulang.


Maka, berhati-hatilah dengan lidah dan lisanmu.'


Khusus mengingatkan diri sendiri.


***


"Tolong nikahi saya, Tuan Gio."


Deg


Apa katanya? Nikahi?


Suasana di dalam ruangan Gio pun semakin mencekam, ucapan yang baru saja keluar dari mulut Anna, berhasil membuat Mike sangat terbelalak. Lalu, kedua mata Mike langsung beralih pada sosok sahabatnya, yakni Gio.


Apa reaksi Gio kala mengetahui apa yang Anna inginkan?


Kedua mata Gio memicing pada Anna intens, sangat tajam bagai pedang dan tak lupa dengan kedua tangannya yang sudah mengepal kuat, menahan gelora emosi agar tidak tumpah. Dan sekuat tenaga, Gio berusaha agar tidak kasar pada wanita.


"Sudah selesai?" Sinis Gio pada Anna sembari menaikkan alisnya sebelah.


Anna yang ditanya seperti itu, merasa heran. Ia benar-benar tidak mengerti arah pertanyaan yang baru saja Gio lontarkan. Sementara Mike, sungguh otaknya benar-benar tidak bisa mencerna dengan baik apa yang baru saja Gio ucapkan. Tepatnya, kebingungan.


Anna menggelengkan kepalanya. "Kamu sadar kan, apa yang baru saja kamu katakan?" Desis Gio.


Anna mengangguk. "Sangat sadar, Tuan. Maka dari itu, saya mohon bant-"


Gio terkekeh sembari menggelengkan kepalanya tak setuju. "Ah ya, atau kamu sudah gila?" Tanya Gio pada Anna dengan tatapannya yang menjijikkan.


What?! Gue dikatain gila? Batin Anna tak menyangka.


Beda hal dengan Mike, yang sedari tadi menjadi penonton, melihat drama di hadapannya, Gio dan Anna. Mendengar semua yang diucapkan oleh Gio, membuat Mike yang melihatnya tak bosan-bosan menggelengkan kepalanya.


Ampun deh, Gio ... Mulut lo, batin Mike bergidik ngerik.


Anna mendadak gugup. "Sa-saya masih waras, Tuan." Timpal Anna yang kini langsung menundukkan kepalanya.


"Kenapa?" Tanya Gio pada Anna, dimana saat ini posisi Gio bersandar pada mejanya sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


Anna yang tiba-tiba ditanya seperti itu, mengernyitkan dahinya. "Kenapa apanya, Tuan?" Balas Anna menatap Gio.


Gio memutar bola matanya malas. "Kenapa kamu ingin saya nikahi?" Ketus Gio.


Glek


Karena lo itu duda tajir, Gio! Sexy dan ... Ah tampan. Batin Anna menjawab.


"Karena saya menyukaimu, Tuan."


Berhasil membuat Mike tersedak saat minum di tempatnya ketika mendengar pernyataan langsung dari mulut Anna. Membuat Gio dan Anna mengalihkan pandangannya pada Mike, yang ditatap hanya cengengesan.


"Suka?" Tanya Gio menyeringai dan Anna langsung menganggukkan kepalanya yakin.


Melihat anggukkan Anna, membuat Gio semakin menampakkan seringaian iblisnya. Karena Gio tahu, wanita yang kini sedang berada di hadapannya benar-benar menyukai dirinya atau tidak.


Tatapan Gio pun semakin intens dan terkesan sangat mengintimidasi Anna. Yang ditatap seperti itu pun berusaha untuk menenangkan dirinya, walaupun rasa gugup telah mendominasi jiwanya.


"Apa kamu yakin dengan perasaanmu, Nona?" Tanya Gio menyeringai.


Anna melihat itu mau tak mau menelan susah payah salivanya. "Ya-yakin, Tuan."


Gio terkekeh muak. "Perlu kamu ketahui, Anna. Saya tidak menyukaimu. Dan ... "


" ... Hati saya terlalu berharga untuk wanita murah sepertimu." Sungutnya mudah mengucapkan seperti itu pada Anna.


Sialan! Umpat Anna dalam hati.

__ADS_1


Mike yang sedari tadi mendengar pun langsung menatap pada Gio tak percaya. "Gio!" Katanya, sementara Gio hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh.


Tak ingin berlama-lama, akhirnya Gio melepaskan jas hitamnya yang sudah lama melekat di tubuhnya, dimana sebagian jasnya itu cukup basah karena ulah dari Annabella. Dilemparkannya jas tersebut ke sembarang tempat.


Terpampanglah kemeja berwarna navy tersebut yang sudah tercetak di tubuh sixpack Gio. Gio menggulungkan lengan kemejanya sampai siku, dan melepaskan dasi yang sedari tadi mengikat kencang di lehernya. Ekor matanya pun jatuh pada arloji yang ada di pergelangan lengan kirinya.


"Follow me, Mike!" Titah Gio pada Mike yang sudah melangkah pergi meninggalkan Anna sendiri di ruangannya.


Mike yang diperintahkannya pun hanya bisa menghela napasnya pelan lalu menuruti Gio. Namun, tanpa sadar ... Gio berhenti melangkahkan kakinya seketika, tepat berdiri di pintu ruangannya yang masih terbuka itu.


"Carilah sosok pria yang ingin menikahimu, Anna. Dan tentunya ... Memiliki harta yang sangat berlimpah dibanding saya." Sindir Gio menyeringai pada Anna.


Shit! Umpat Anna refleks dalam hati.


Seketika wajah Anna pucat lalu menatap Gio tak percaya. "Satu lagi ... " Lanjut Gio tanpa mengalihkan tatapannya pada Anna.


"Sampai kapanpun, saya tidak akan sudi menikahimu, Anna. Sekalipun kamu menangis darah di hadapan saya ... "


" ... Karena hati saya sudah dicuri oleh seorang wanita yang sangat berharga ... Dibanding kamu."


Setelah mengucapkan kalimat pedas pada Anna, Gio langsung melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda itu. Keluar dari ruangannya yang ia rasa sangatlah panas, membakar tubuhnya walaupun AC di ruangannya sudah maksimal.


Anna yang ditinggal sendirian di ruangan tersebut, dan sedari tadi menerima ucapan pedas dari sosok pria yang ia inginkan itu, membuat dirinya mengepalkan kedua lengannya sangat kencang dan ...


Brukk!


Tonjokkan mendarat di atas nakas meja ruangan Gio. Dengan napas yang terengah-engah, aliran darah di sekujur tubuhnya sudah mendidih sampai ke ubun-ubun, wajah memerah, akhirnya baru ia lepaskan.


"Gue nggak akan biarin lo hidup bahagia dengan wanita yang lo sukai itu, Gio! Nggak akan!" Gumam Anna menyeringai.


See you later, Gio Faeyza Darelano.


***


"Pasien sudah sadarkan diri. Anda bisa menemuinya, Pak."


"Kak?"


Wanita yang bernamakan Yasmine tersebut, langsung memalingkan wajahnya ketika suara sapa dari adiknya terdengar di pendengarannya. Membuat Rayhan menatap sendu pada kakaknya itu, karena tidak mendapat balasan atas sapaannya.


"Kak Yas? Aku sa-"


Belum selesai Rayhan bicara, Yasmine telah menyelanya.


"Ngapain kamu ke sini, Ray?" Lirih Yasmine dengan kedua matanya sudah berkaca-kaca.


Hati Rayhan seperti dicubit rasanya. "Tolong, kak. Dengark-"


"Kakak nggak mau kamu ada di sini." Katanya dingin dengan wajah yang masih menghadap arah lain.


"Please, kak. Aku mohon dengarkan dulu penjelas-"


"Pergi!" Titah Yasmine.


Rayhan menggeleng. "Nggak, kak. Aku nggak akan pergi sebelum kakak dengar penjelasanku."


Akhirnya wajah Yasmine pun beralih, kini menatap Rayhan dengan sinisnya. "Kamu benar-benar batu ya, Ray." Katanya. "Kakak muak sama kamu!"


"Aku nggak peduli, kakak muak atau bahkan benci ke aku." Kata Rayhan. "Aku memang salah, kak. Salah karena belum mendapatkan persetujuan mengenai operasi ini. Tapi asal kakak tau, aku bahkan orang tua kita melakukan ini semua demi kebaikan kak-"


"Kebaikan katamu?!" Yasmine terkekeh muak. "Kebaikan apa yang kamu maksud, Ray? Kalo pada akhirnya aku nggak akan bisa hamil lagi!" Bentak Yasmine pada Rayhan dibarengi dengan isakan tangisnya.


"Wanita mana yang ingin rahimnya diangkat, Ray?! Jawab kakak, Ray! Jawab!" Lagi - lagi Yasmine membentak Rayhan.


Rayhan semakin teriris hatinya, lalu segera ia genggam lengan Yasmine yang tertutupi kain bajunya. Namun, baru saja Rayhan ingin menyentuh, Yasmine dengan cepatnya menepis tangan Rayhan.


"Kenapa kamu nggak biarin kakak mati aja, Ray?! Kenapa?!" Yasmine berteriak kesal. "Kamu tau, Ray ... Percuma kakak hidup, kalo pada akhirnya kakak nggak berguna sama sekali jadi wanit-"

__ADS_1


"Stop, kak!"


Sungguh, Rayhan benar-benar tidak kuat melihat kakaknya, Yasmine mengalami seperti ini.


"Ini sudah menjadi bagian takdir dari Allah yang terbaik untuk kakak. Allah memberi penyakit pada kakak seperti ini, karena Allah sangat sayang pada kakak." Ucap Rayhan.


Yasmine terkekeh jijik. "Sayang katamu?" Yasmine pun menggelengkan kepalanya. "Nggak! Allah nggak sayang ke aku, Ray! Allah nggak adil, Allah udah bua-"


"Cukup, kak!" Rayhan menghentikan ocehan Yasmine. "Istighfar, kak istighfar! Sadarlah dengan ucapan kakak barusan, bahwa kakak sudah menyalahkan takdir Allah."


Yasmine semakin terisak nangis setelah mendengar semua ucapan Rayhan.


"Jika Allah sangat sayang pada hambaNya, Allah akan memberikan hamba tersebut ujian selama ia hidup ... Semakin berat ujiannya, semakin tinggi pula derajat keimanannya pada Allah."


"Allah menjanjikan SurgaNya, jika seorang hamba tersebut mau bersabar dalam menjalani ujiannya dari Allah, tidak putus dalam memohon kepadaNya dan ridho menerima semua ketetapan yang telah Allah tetapkan padanya dengan ikhlas tawakal."


"Kamu tau, kak ... Aku sempat iri, karena Allah memberikan ujian seberat ini pada kakak." Setelah mengucapkan itu, tangisan Yasmine reda lalu menatap Rayhan dengan raut wajah bertanya-tanya.


"Sebab Allah tahu, bahwa kakak akan mampu melewati ujian ini. Allah tidak akan menguji hambaNya, di luar batas kemampuannya. Dan kalo misalkan, aku yang diberi oleh Allah sama hal beratnya dengan ujian kakak ini, entahlah aku akan mampu melewatinya atau tidak."


"Maka dari itu, bersyukurlah kak. Bersyukur karena kakak masih diberi kesempatan oleh Allah hidup di dunia ini. Pergunakan kesempatan kakak ini sebaik-baiknya, mendekat pada Allah. Dan bersyukurlah, karena Allah masih sayang pada kakak lewat ujian ini."


Setelah mendengar semua ucapan yang berisi nasihat tersebut oleh Rayhan, Yasmine langsung menghamburkan pelukan pada Rayhan. Dan tak lupa dengan tangisannya yang sangat sangat pilu.


"Hiks ... Ken-kenapa, Ray? Kenapa ka-kamu begitu baik pada kakak? Padahal kakak ini bukan kakak kandung kamu."


Ya. Benar sekali, Yasmine memang bukan kakak kandungnya Rayhan. Takdir Allah yang telah menyatukan kedua orang tuanya bersatu.


Rayhan yang sudah lama ditinggal oleh Ayah kandungnya karena meninggal. Dan hanya memiliki Umminya saja, 4 tahun lalu Umminya menikah dengan sosok pria yang notabene Ayahnya Yasmine.


"Sudah, kak. Jangan bertanya seperti itu lagi, aku nggak suka." Ucap Rayhan sembari melepaskan pelukan kakaknya. "Aku harap, kakak mengerti apa saja yang sudah aku ucapkan pada kakak."


Yasmine mengangguk. "Ray?"


"Hm?"


"Bantu kakak untuk lebih mengenal lagi pada Allah, mau?"


Rayhan tersenyum. "In sya Allah, kak." Melihat senyuman Rayhan, mau tak mau Yasmine pun ikut tersenyum.


"Terima kasih, Ray." Lagi-lagi Rayhan hanya tersenyum mengangguk sebagai respon dari ucapan kakaknya itu.


"Oh iya, Ray ... " Ucap Yasmine lagi.


"Butuh sesuatu, kak?" Tanya Rayhan.


Yasmine menggeleng. "Kakak ingin tau, kira-kira yang antar kakak ke sini siapa?"


Rayhan manggut-manggut. "Balqis, kak."


Dahi Yasmine mengernyit. "Siapa Balqis?"


Calon istri aku, kak. Batin Rayhan menjawab.


"Teman aku, kak." Jawabnya dan Yasmine hanya manggut-manggut.


"Kalau gitu, nanti pertemukan kakak dengan Balqis ya? Kakak mau berterima kasih padanya."


Rayhan tersenyum dan mengangguk. "In sya Allah, kak."


"Dan satu lagi ... "


Rayhan mengernyit. "Apa itu, kak?"


"Bantu kakak bertemu dengan seseorang yang selama ini kakak rindukan, Ray."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2