
'*Kadang kita memandang terlalu jauh tentang kebahagiaan. Pada apa yang orang lain capai, orang lain punya, orang lain lakukan. Padahal kebahagiaan itu sendiri dekat adanya, di dalam dada kita. Dalam hati yang bersyukur.'
Mari bersyukur padaNya❤*
***
"Will you marry me, Balqis?"
Glek
Pertanyaan Gio berhasil membuat Balqis menelan susah payah salivanya. Dan napas Balqis tercekat begitu saja. Sampai ia lupa cara bernapas itu bagaimana. Serta jangan lupakan dengan kedua pipinya yang bersemu merah.
Ni-nikah?!
Balqis yang menyadari karena ditatap oleh Gio lekat-lekat dengan jarak yang bisa dikatakan dekat, dirinya pun tak bisa berkutik. Seolah-olah tatapan Gio telah membius dirinya.
Nggak! Ini udah nggak bener Qis, batin Balqis mengingatkan.
Akhirnya ia mulai mengerjapkan kedua matanya. "Astaghfirullah!" Balqis memekik kaget karena kesadarannya dan refleks ia mendorong tubuh Gio kuat, hampir saja Gio tumbang namun ia tahan.
Melihat perlakuan Balqis terhadap tuannya itu, ia melototkan matanya. "Maaf tuan maaf." Cicitnya.
"Tenagamu lumayan juga." Ucap Gio datar namun Balqis hanya bisa menundukkan wajahnya sekaligus menyembunyikan pipinya.
Gio yang melihat itu **** senyum namun sesegera mungkin Gio kembali dengan mimik wajah datar. "Saya hanya bercanda." Ucapnya.
Balqis mengernyit. "Pertanyaan barusan." Ucap Gio dingin kembali karena menyadari raut kebingungan yang ada pada wajah Balqis.
Balqis menghela napasnya lalu mengangguk. "Saya harap kamu tidak menganggap serius pertanyaan saya itu." Ucap Gio sangat dingin lalu pergi begitu saja meninggalkan Balqis yang tercengang.
"Udah gitu aja?" Gumamnya bermonolog.
Kadang dingin kadang hangat, dasar pria dispenser!
"Astaghfirullah." Balqis sadar dengan dirinya yang tiba-tiba saja mengumpat Tuannya dalam hati.
__ADS_1
Lalu tak lama dari itu, datanglah wanita paruh baya menghampiri Balqis. "Mari non, saya antar ke kamar. Dan biarkan barang - barangnya saya yang bawa." Ucapnya.
*Tunggu. Ka-kamar?
Eh? Kok? Barang? Kan aku nggak bawa*.
Baru saja wanita paruh baya tersebut mengambil alih barangnya, namun langkahnya terhenti kala Balqis mencekal lengan wanita paruh baya tersebut. "Ada apa, non? Perlu sesuatu?"
Balqis menggeleng. "Maaf Bu, kok saya mau dibawa ke kamar ya? Maksudnya kam---"
"Iya kamar buat non, eh anu nama non siapa kalo ibu boleh tau?" Tanya wanita tersebut, "panggil aja saya Balqis Bu, jangan pake 'non' nya ya." Ucap Balqis lembut tersenyum lalu tangannya mengambil alih barangnya yang sempat wanita paruh baya tersebut dibawa. "Biar Aqis aja Bu yang bawa."
Wanita itu pun menggeleng. "Nggak apa-apa Bu." Kata Balqis. "Oh iya saya nggak suka ya Bu kalo dipanggilnya pake 'non'." Ucap Balqis kembali dan wanita itu pun menyerah lalu tersenyum.
"Baik, Qis." Balqis tersenyum, "hmm, nama ibu sendiri siapa?" Tanya Balqis sambil mengikuti arah jalan wanita tersebut. "Panggil saya Bu Minah aja, Qis." Balqis tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Tak terasa, Balqis dan Bu Minah sudah sampai depan pintu kamar yang Bu Minah maksud. "Nah, Ibu bawa kamu ke sini karena ini kamar kamu. Dan mulai saat ini, kamu sudah diperbolehkan bekerja." Bu Minah menjelaskan sembari membuka pintu kamar tersebut. Dan terbukalah ...
MasyaAllah... Mewah sekali.
Bu Minah yang melihat ekspresi Balqis hanya terkekeh. "Tuan Gio yang sudah mempersiapkannya seperti ini, Qis." Dan Balqis langsung menoleh kala mendengar nama Tuannya itu terucap.
"Oh iya, maaf Bu kalau saya terlalu penasaran. Kenapa Tuan Gio sendiri nggak langsung bilang ke saya, kalo saya hari ini sudah bisa mulai bekerja?" Tanya Balqis, "dan lebih kagetnya lagi, barang-barang Balqis udah ada di sini. Padahal tadi kan Balqis cuma bawa tas ini aja." Kata Balqis sembari menatap barangnya dan tasnya.
Bu Minah tersenyum. "Karena setelah itu Tuan Gio kembali bekerja lagi, Qis. Maka dari itu ia langsung menyuruh Ibu buat antar kamu." Dan Balqis menganggukkan kepalanya mengerti.
"Dan urusan barang-barang kamu ini, itu sudah diatur terlebih dahulu oleh Tuan Gio dan disiapkan oleh suruhannya." Ucap Bu Minah menjelaskan, "oh iya, setelah kamu membereskan semua barang-barang kamu ... Jangan lupa pakai seragamnya ya, udah Ibu siapkan di lemari."
Balqis mengangguk tersenyum. "Iya Bu, terima kasih banyak ya." Bu Minah pun mengangguk dan membalas senyuman Balqis.
"Ya sudah, kalau gitu Ibu tinggal ya." Balqis pun mengangguk sembari menampilkan senyuman manisnya.
***
"Alhamdulillah, pas banget."
__ADS_1
Senyuman yang tak lepas dari wajahnya terpampang jelas di hadapan cermin. Ya, Balqis kini sudah memakai seragam kerjanya yakni menjadi Babysitter.
Walaupun seragam yang ia pakai bukan layaknya gamis, namun pakaian atasnya cukup panjang sebatas lutut dan tak lupa celananya yang cukup longgar namun tetap tidak memperlihatkan lekukan tubuhnya.
Dia sangat bersyukur, akhirnya Allah mendatangkan rezeki yang tak terduganya berupa pekerjaan ini. Walaupun yang menggaji dirinya ialah seorang pria yang pernah membuat dirinya kesal, pria dingin namun hangat, macam dispenser.
Ah mengingat itu kembali, membuat Balqis menggelengkan kepalanya seraya mengucap istighfar berkali-kali.
"Ingat Qis, kamu bekerja di sini harus karena Allah. Dan ada seseorang yang membutuhkan kamu, Ummi. Ya... Ummi." Balqis bermonolog mengingatkan dirinya sendiri.
Tok ... Tok ... Tok ...
Ketika Balqis sibuk mengingatkan diri sendiri, sebuah ketukan pintu kamarnya terdengar. Membuat dirinya merasakan detak jantungnya yang tak beraturan. Lalu tak butuh waktu lama, Balqis membukakan pintunya.
Cklek
Menampilkan dua orang wanita, yang satu sudah berumur namun masih terlihat begitu cantik dan segar, yang satunya lagi terlihat cantik dan kelihatannya lebih muda dari dirinya.
"Perkenalkan, nama saya Ibu Arsyita. Kamu bisa memanggil saya Bu Syita. Dan saya yang akan menggantikan Tuan Gio untuk melihat pekerjaan kamu selama seminggu ini, selama Tuan Gio bekerja." Ucap wanita yang telah berumur tersebut---Ibu Arsyita---sembari menjabat tangan Balqis lembut dan tersenyum.
Balqis mengangguk sembari membalas senyumannya dan jabatan tangannya. "Saya Balqis Maura Lishyana." Ucap Balqis sopan, "oh iya, karena kamu harus di training terlebih dahulu selama seminggu ini." Katanya lagi dan Balqis mengangguk mengerti.
"Nah satu lagi," Ucap Arsyita lalu tatapannya beralih pada wanita di sampingnya. "Kenalkan, dia Hanny, asisten rumah tangga kedua setelah Bu Minah." Dan tanpa disangka, Hanny terlebih-lebih dahulu menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Hai kak Balqis. Aku Hanny, semoga kakak betah ya kerja di sini." Ujarnya sembari menampilkan deretan giginya yang membuat Balqis tak bisa menahan senyumannya.
Balqis mengangguk tersenyum. "Aamiin. Terima kasih ya Hanny." Ucap Balqis.
"Okey. Kalau gitu, saya pamit terlebih dahulu ya. Ada urusan yang belum saya kerjakan. Good luck ya Qis." Ucap Ibu Arsyita dan Balqis mengangguk tersenyum. "Hanny, kamu ajak Balqis keliling rumah ini ya." Ucap Arsyita pada Hanny, lalu ia meninggalkan Balqis dan Hanny begitu saja.
"Ayo kak, aku temani kakak keliling rumah ini." Ajak Hanny yang langsung menyambar tangan Balqis dan Balqis hanya meresponnya dengan senyuman.
Semoga ini memang awal yang baik, Ya Rabb.
Bersambung ...
__ADS_1