
'Orang yang mudah tersinggung, sakit hati bahkan benci dan dendam ... Tidak akan tenang di dalam hatinya. Karena hatinya amat bergantung pada sikap orang lain, bukan pada keridhoan Allah.'
Mari Muhasabah Diri.
***
Setelah dirinya benar-benar berhenti dari acara mengintip seseorang yang ia sukai itu, Gio kini melangkahkan kakinya gontai ke ruang tamu. Dan mendaratkan bokongnya dengan nyaman di sofa tersebut lalu tangannya meraih secarik koran terkini di atas meja yang ada di hadapannya.
Seperti biasa, ia melihat berita terkini yang sudah diedarkan dalam koran. Bukan maksudnya Gio ini tidak mengikuti zaman, karena dirinya membaca berita di koran, dimana berita sudah tersedia di ponsel canggihnya. Namun, Gio pun dengan rajinnya membaca di koran, siapa tahu ada yang menarik perhatiannya untuk ia baca.
Lalu, siapa sangka dibalik sosok seorang Ayah tersebut Gio adalah sosok pria yang sangat ditakuti di kalangan orang-orang yang telah munafik di belakangnya? Sosok yang terkenal dingin, wajah yang datar dan cuek terhadap semua orang termasuk wanita.
Boss Besar dari segala bidang Perhotelan hingga kuliner ini, ternyata diam-diam menyimpan rasa dendam terhadap seseorang. Yups! Tidak akan ada asap, jika tidak ada api.
Tidak akan Gio menyerang seseorang tanpa sebab, jika seseorang itulah yang memulai terlebih dahulu memasang bendera perang terhadap dirinya.
Ya. Dirinya dengan kedua orang tuanya, lebih tepatnya pada Ayahnya Gio. Kasus dimana Gio telah mengetahui Varo mengkhianatinya, mau tak mau pikiran Gio berputar kembali pada kejadian beberapa tahun lalu.
Teringat akan hal yang telah membuat seseorang yang Gio sayangi amat sangat yaitu Ayahnya mengalami penderitaan.
Musuhnya!
Ya. Tekad dirinya membalaskan rasa sakit yang telah dialami oleh sang Ayah, Mama serta dirinya sendiri sudah cukup menjadikan Gio, sosok yang misterius, memiliki aura yang gelap mencekam kala menghadapi musuhnya nanti.
Dendam.
Memikirkan itu, membuat dirinya menyeringai tak sabar. Ia pun tak tinggal diam, Gio selalu berusaha mencari keberadaan musuhnya itu, dimana pria tua tersebut bersembunyi.
Pastinya dengan bantuan seseorang yang bertugas dalam mencarikan informasi hal tersebut dengan handal. Memikirkan kedua orang tua, membuat Gio teringat akan keluarga Balqis. Tidak! Bukan kedua namun hanya satu. Yaitu Ummi saja.
Ya, Gio sudah mengetahui informasi mengenai latar belakang kehidupan Balqis. Saat mengetahui semuanya, Gio hampir tidak bisa untuk tidak menunjukkan rasa kagumnya pada Balqis, saat menghadapi kejamnya dunia.
Dan Gio sudah mengetahui alasan mengapa Balqis bekerja keras seperti ini. Karena Umminya. Dan karena ia juga memiliki tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarganya, menggantikan sosok Ayah yang kejam meninggalkan Balqis serta Umminya.
Mengingat ayahnya Balqis, membuat Gio tak sadar mengepalkan tangannya kencang. Sudah pernah ia mencari tahu dimana dan siapa pria yang sebagai Ayahnya Balqis tersebut.
Namun hasilnya nihil, ia tidak mendapatkan informasi mengenai hal ini termasuk fotonya pun tidak ada.
Pasti saat ini Balqis sangat merindukan Umminya. Pikir Gio.
Terlalu berlarut dalam lamunannya, Gio benar-benar tidak sadar bahwa di samping ia duduk sudah berdiri sosok jagoan tampannya, siapa lagi jika bukan Daffa, anak Gio satu-satunya.
"Ayah!" Sapa Daffa.
Refleks Gio segera menoleh pada Daffa. "Iya, nak?"
Tunggu, Daffa memanggil dirinya?
Bukankah ini kejadian yang sangat langka?
Tanpa disangka, Daffa langsung berhambur ke pelukan hangat Gio. Sementara Gio? Dirinya membeku di tempat. Sampai belum membalas pelukan anaknya itu, kedua matanya mengerjap tak percaya.
Apakah ini mimpi? Batin Gio.
"Ayah, Daffa minta maaf ... Hiks." Ucap Daffa disela isakan tangisnya.
Gio masih saja diam, belum juga membalas pelukan Daffa. Sampai kedua mata Gio mulai berkaca-kaca dan akhirnya terbalaslah pelukan Daffa dengan erat, sembari mengecup puncak kepala Daffa berkali-kali.
Gio menganggukkan kepalanya. "Iya, nak. Ayah juga minta maaf ya? Ayah sudah kasar ke kamu, sud---"
Daffa melepaskan pelukannya sembari menggelengkan kepalanya antusias pada Gio. "Ayah mau kan maafin Daffa?"
Gio mengangguk tersenyum lalu memeluk erat kembali anaknya sembari mengelus lembut pundak Daffa. "Iya sayang, terima kasih nak." Ucap Gio sembari meneteskan air matanya.
Tak jauh dari mereka, Balqis sedari tadi menyaksikan mereka berdua dengan tersenyum dan hatinya merasa terenyuh,
Ayah, Balqis merindukanmu ... Batin Balqis miris.
__ADS_1
Tanpa sadar, Balqis pun ikut meneteskan air matanya bahagia melihat Tuannya dan Daffa kembali lagi dalam keadaan yang baik.
"Balqis?"
Balqis mengerjapkan kedua matanya sembari mengusap matanya yang sempat basah itu. "Iya, Tuan?"
"Terima kasih." Ucap Gio tersenyum pada Balqis, senyuman yang hangat dan tanpa sadar Balqis terpukau melihatnya.
Astaghfirullah! Jaga pandanganmu, Qis.
Balqis mengerjapkan berkali-kali kedua matanya dan mengangguk tersenyum. "Sama-sama, Tuan."
"Oh iya, jika kamu ingin pulang menemui Ibumu, silakan. Namun, saya perbolehkan hanya tiga hari." Ucap Gio.
Balqis tercengang lalu segera ia berkata. "Tapi Tuan, Daffa bagaim---"
"Selama kamu di sana, Daffa akan saya urus. Karena selama tiga hari itu pun saya ambil cuti. Bagaimana?"
Balqis mengangguk senang. "Baik, Tuan. Terima kasih banyak." Ucap Balqis. "Kalau gitu, boleh saya izin untuk bersiap-siap dari sekarang?" Tanya Balqis.
Gio mengangguk. "Silakan."
Balqis tersenyum lalu melesat pergi dari Gio dan Daffa.
"Bi Aqis mau kemana, Yah?" Tanya Daffa lesu.
Gio tersenyum. "Bi Aqisnya mau pulang dulu, karena rindu pada ibunya. Daffa sama Ayah dulu, nggak apa-apa kan? Nanti kita main kemanapun Daffa ingin." Ucap Gio lembut.
Memang, sosok Gio tidak bisa ditebak. Dirinya memang terkenal dingin dan irit di luar, termasuk pada orang-orang yang ia anggap tidak penting.
Namun, sebaliknya. Gio akan menunjukkan sikap posesif dan sayangnya pada orang yang ia telah anggap sangat penting dalam hidupnya.
Daffa mengangguk. "Iya, Ayah." Katanya dan mendengar jawaban Daffa menurut seperti itu, Gio mengacak rambut Daffa gemas.
Sebenarnya rindu kepadamu ini sudah memberontak tak tertahankan, Qis.
***
"Alhamdulillah, sampai."
Teriknya sinar matahari yang menyinari wajah cantik Balqis, tidak menganggu rasa senang yang Balqis saat ini rasakan. Memang, ia sangat merindukan Umminya. Ia ingin sekali pulang ke halaman kampung rumahnya.
Dan saat mendengar titah dari Tuannya bahwa diperbolehkan pulang, perasaan senang Balqis benar-benar tidak bisa dijabarkan lagi.
Setelah beberapa waktu dirinya memakan waktu di perjalanan, ia sampai juga di terminal. Sempat Balqis menghubungi Vanya, akan kepulangan mendadak dirinya ke halaman kampung rumahnya.
Dan kebenaran pula, Vanya tidak sedang sibuk lalu dengan senang hati Vanya akan menjemput Balqis di terminal.
"Assalamu'alaikum, Balqis!" Ucap Vanya yang kini sudah memeluk Balqis erat.
Balqis hampir terjungkal. "Wa'alaykumussalam, Van. MasyaAllah, kamu tuh ya hampir aja buat aku terjatuh." Jawab Balqis sembari membalas pelukan Vanya tak kalah erat.
Vanya tertawa renyah. "Sorry, Qis. Abisnya elo suka banget sahabatnya ini menderita gara-gara kerinduan gue ke elo yang takk---"
"Aduh, Van. Bucinnya tunda dulu aja ya, ayo pulang. Aku udah nggak sabar pengen ketemu Ummi." Kata Balqis berbinar.
Vanya tersenyum kikuk. "Yaudah, ayo pulang."
Vanya dan Balqis pun akhirnya meninggalkan terminal tersebut dan memasuki mobil Vanya yang tidak jauh terparkir di terminal itu.
Tidak apa rindu ini menyapamu hanya sebentar, memang sepantasnya begitu bukan?
Siapalah aku yang berhak merindukan sosok pria sepertimu, yang takkan bisa aku dapatkan, Tuan Gio.
***
Selama perjalanan menuju rumah Balqis, tak henti-hentinya Vanya bertanya mengenai apa saja yang Balqis kerjakan di sana, betah atau tidaknya, orang-orang di sana memperlakukan baik atau tidaknya pada Balqis, dan lain-lain.
__ADS_1
Sampai tak terasa, Balqis sudah sampai di rumahnya.
"Seriusan Ummi lo nggak tau, lo balik sekarang?" Tanya Vanya setelah keluar dari mobilnya.
Balqis mengangguk. "Surprise, Van." Katanya diakhiri tawaan kecil.
"Sosweet banget sih lo."
Tok ... Tok ... Tok ...
"Assalamu'alaikum?"
Hanya beberapa detik, pintu rumah itu pun terbuka. "Wa'alaykumussal---Balqis?!"
"Ummi!" Ucap Balqis yang langsung berhambur memeluk Umminya erat.
"MasyaAllah nak, kamu pulang?" Tanya Umminya dan dibalas anggukkan oleh Balqis.
"Kenapa nggak bilang ke Ummi sih kalo kamu mau pulang?"
"Surprise, Ummi." Bukan, itu bukan jawaban dari Balqis. Melainkan itu dari Vanya, sahabatnya.
Ummi Mayra pun hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. "Ya sudah, ayo masuk dan istirahat nak, ayo Vanya."
Balqis melepaskan pelukannya lalu masuk ke dalam rumah yang ia rindukan ini, diikuti oleh Vanya di belakangnya.
Akhirnya Balqis dan Vanya duduk manis di atas lantai yang beralaskan karpet. Memang Balqis tidak memiliki sofa di dalam rumahnya, cukup ini saja dirinya bersyukur.
Tak lama Mayra---Ummi Balqis---membawakan dua gelas minuman dingin berasa jeruk peras itu. Dan sigapnya Balqis langsung mengambil minuman tersebut.
"Ya ampun, Qis. Lo kayak belum nemu minuman dingin aja." Ucap Vanya tak habis pikir dengan kelakuan Balqis.
Balqis cengengesan. "Haus, Van."
Vanya menggelengkan kepalanya. "Bismillah dulu." Dan dianggukki oleh Balqis.
Setelah menikmati minuman dinginnya itu, Ummi Mayra kini duduk bersama dengan Balqis dan Vanya. Namun, raut wajah Mayra menunjukkan keseriusan pada Balqis.
"Balqis? Ummi ingin bicara sesuatu pada kamu."
Mendadak Balqis pun serius karena tiba-tiba saja Umminya itu berbicara serius padanya. "Iya, Ummi. Tentang apa?"
"Teman kuliah kamu, Rayhan."
Mendadak raut wajah Balqis mengernyit. "Rayhan? Balqis nggak kenal Mi, siapa Rayhan."
Sementara Vanya berpikir serius dan seketika kedua matanya membulat. "Atau jangan - jangan ... "
"Memang dia juga sempat bilang ke Ummi, kamu itu nggak kenal dia. Tapi dia kenal kamu, dan kalian berdua pernah bertemu ... "
" ... Dan kalau kamu melihat wajahnya, pasti kamu seperti pernah melihatnya." Ucap Ummi Balqis. "Oh iya, dia bilang ... Dia kenal kamu saat kamu mengikuti kegiatan keagamaan tempat kuliah."
Hah?
Balqis semakin sibuk dengan pikirannya, berusaha mengingat kembali sosok pria yang bernama Rayhan itu. Sementara Vanya, sudah dibuat terkejut oleh ucapan Umminya Balqis.
Melihat reaksi Vanya seperti itu, membuat Balqis penasaran dan bertanya. "Kamu kenal, Van?"
Vanya otomatis menganggukkan kepalanya antusias. "Seriusan?" Tanya Balqis lagi tak percaya.
Bukannya Vanya menjawab ucapan Balqis, melainkan bertanya lebih detail pada Umminya Balqis. "Ummi, kalau boleh tau ... Memangnya ada apa dengan, Rayhan?"
Ummi menghela napasnya pelan. "Seminggu yang lalu, Rayhan datang ke sini dengan niat baiknya."
Balqis mengernyit. "Niat baik apa, Mi?"
"Dia ingin melamar kamu sebagai istrinya, Qis."
__ADS_1
Bersambung...