
Seringkali hati bertanya, sampai dimana aku harus bersabar?
Hey! Ingatlah, bahwa yang namanya sabar itu tidak ada batasnya. Lalu, mengapa masih saja ada seseorang yang mengatakan ... Kesabaranku ada batasnya!
Itu berarti hatinya sendiri yang membatasi kesabaranmu. Jangan gitu, sebab Cinta Allah sangatlah luas. Pertolongan-Nya selalu dekat, dan itu hanya jika kamu ingin bersabar tanpa batas.
Bukankah Allah sudah berkata, bahwa sabarmu adalah pertolonganmu? So ... Mengapa masih ragu?'
-Sekaligus mengingatkan diri sendiri-
***
"Astaghfirullah!"
Pukul 08:20 Balqis dan Bu Minah kini sedang berada di Pasar Besar yang terletak di Jakarta. Setelah Daffa pergi ke sekolahnya yang diantar oleh Pak Roy, ia memutuskan untuk ikut dan membantu Bu Minah berbelanja kebutuhan dapur yang sudah hampir habis semua.
"Tunggu ya, Qis. Dompet ibu tertinggal ... " Kata Bu Minah dengan paniknya.
Balqis mengangguk. "Iya, Bu. Balqis tunggu kok." Setelah mendengar jawaban Balqis, Bu Minah langsung melesat pergi ke dalam pasar itu.
Tak lama sebuah mobil mewah terparkir di hadapan Balqis. Yap. Itu Pak Roy, setelah mengantar Daffa tepat waktu ke sekolahnya. Pak Roy langsung melesat pergi menjemput Bu Minah dan Balqis di pasar.
Akhirnya Pak Roy pun keluar dari mobil. Dan mengangkut serta memasukkan semua belanjaan tersebut ke dalam mobil.
"Lho, Bu Minahnya mana, mbak?" Tanya Pak Roy menyadari Bu Minah tidak ada di samping Balqis.
"Bu Minahnya ke dal---" Saat Balqis hendak menjawab, suara helaan napas seseorang memotong dirinya dalam berbicara.
"Haah ... Haah ... "
Balqis terkejut. "Astaghfirullah, Bu. Ada apa?" Tanya Balqis khawatir karena Bu Minah tiba-tiba muncul dalam keadaan sangat lelah.
Bu Minah menggeleng. "Nggak ada hhh ... Ap--apa-apa, Qis. Tadi Ibu habis lari aja, hhh." Jawab Bu Minah dengan napas yang tersenggal.
Balqis menghela napasnya pelan lalu menggeleng tersenyum. "Aduh, Bu. Tak kirain dikejar-kejar hantu." Kata Pak Roy cekikikan.
Bu Minah hanya cengengesan. "Ya sudah, ayo berang---"
BRUUKK
Suara yang tiba-tiba mengejutkan dari arah belakang, membuat Balqis, Bu Minah dan Pak Roy menghentikan langkah kakinya lalu berbalik 180°.
Kedua mata mereka terkejut melihat seorang wanita berparas cantik terjatuh. Melihat itu, mereka langsung menghampiri wanita tersebut. Mempunyai paras yang cantik, namun terlihat sangat pucat di wajahnya apalagi bibirnya.
"Mbak?" Tanya Balqis sembari menyentuh dahi wanita tersebut. "Astaghfirullah, Pak! Bu! Kita bawa wanita ini ke Rumah Sakit sekarang!" Ucap Balqis panik setelah mengetahui nadi wanita ini lemah.
Cepat-cepat mereka membawa wanita ini masuk ke dalam mobil, lalu Pak Roy melajukan mobil tersebut menuju Rumah Sakit terdekat.
***
"Ibu minta maaf ya, Qis? Ibu nggak bisa temani kamu di sini."
Setelah beberapa menit menempuh jalan ke Rumah Sakit, akhirnya mereka sampai dan membawa wanita tersebut ke ruang UGD yang langsung ditangani oleh perawat di sana.
Balqis mengangguk tersenyum. "Nggak apa-apa, Bu." Katanya, "Oh iya ... Nanti tolong sampaikan izin Balqis ke Bu Arsyita ya, Bu? Balqis temani wanita ini dulu sampai keluarganya datang."
Bu Minah tersenyum lalu mengangguk. "Iya, Qis. Pasti Ibu sampaikan kok. Ya sudah, kalau gitu ibu pulang duluan ya?"
Balqis mengangguk. "Terima kasih ya, Bu ... Ah iya, hati-hati."
Bu Minah tersenyum. "Assalamu'alaikum?"
"Wa'alaikumussalam."
Akhirnya Bu Minah pun terlebih dahulu pergi, meninggalkan Balqis sendiri di ruang tunggu Rumah Sakit ini. Dan Balqis baru sadar, dirinya sedari tadi mengenggam tas kecil milik wanita itu. Ia pun memikirkan, bagaimana caranya memberitahu pada keluarga wanita ini.
Drrtt ... Drrtt ...
Getaran ponsel menyadarkan Balqis dari lamunannya. Bukan! Itu bukan berasal dari ponsel miliknya, namun melainkan dari ponsel wanita tersebut.
"Adik?" Gumam Balqis saat melihat nama panggilan yang tertera di ponsel wanita tersebut.
__ADS_1
Angkat nggak ya?
Balqis kebingungan. Namun tak lama ia memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut.
Ya Allah, ampuni hambaMu ini yang sudah lancang ...
Bismillah ...
"Halo, kak? Assalamu'alaikum?"
Suara laki-laki?
Balqis masih diam, ingin sekali menjawab namun lidahnya terasa kelu.
"Kak? Sekarang kakak ada dimana? Aku jemput ya?" Terdengar suara laki-laki tersebut sangat khawatir.
" ... "
"Kak? Kakak baik-baik saja, kan?"
Balqis menghela napasnya pelan berusaha tenang. "Ekhem, wa'alaikumussalam."
Menyadari suaranya berbeda membuat laki-laki tersebut mengernyit walau Balqis tak tahu. "Anda siapa?"
"Maaf, Tuan. Saya ingin memberitahu, bahwa kakak Tuan masuk Rumah Sakit dan se---"
"Rumah sakit mana?!" Tanyanya terkejut.
"Rumah Sakit Karya Bhakti."
Tut ... Tut ...
Sambungan telepon terputus sepihak.
Dan tanpa sadar, Balqis menghela napasnya lega. "Alhamdulillah, Ya Allah. Akhirnya salah satu keluarga wanita itu sudah mengetahui dirinya sedang berada di sini." Ucap Balqis bermonolog.
***
Beberapa menit pun telah berlalu, Balqis pun tetap sabar menunggu dokter keluar dari ruangan tersebut dan menunggu salah satu keluarganya datang, yap. Yang beberapa menit lalu Balqis terima telponnya.
Suara tersebut semakin terdengar dekat dan tanpa sadar, sepasang kaki yang berbalut sepatu hitam kilaunya kini menghadap Balqis.
"Assalamu'alaikum."
Balqis menyadari itu, kedua matanya melihat sepasang kaki tersebut sembari menjawab salamnya. "Wa'alaikumussalam."
Balqis mendongak, dan kedua matanya menatap lurus pada kedua mata laki-laki tersebut, terhalangi oleh kacamata hitamnya yang bertengger di hidung mancung kulit bersihnya.
Sejenak Balqis terpaku, melihat laki-laki di hadapannya ini. Balqis akui, laki-laki ini tampan, layaknya laki-laki di dalam sebuah film drama Korea. Tubuhnya yang tinggi, tegap dibalut dengan jaket hitamnya.
Menyadari apa yang telah Balqis lakukan ini, segera Balqis palingkan wajahnya ke arah lain sembari mengucapkan kalimat istighfar berkali-kali.
Lain halnya dengan laki-laki tersebut, setelah Balqis mendongakkan wajahnya menatap dirinya. Laki-laki tersebut dibuat terkejut bukan main, kedua matanya terpaku melihat wajah natural Balqis diiringi jantungnya berdetak kencang.
Tak lama kedua mata laki-laki tersebut mengerjap dan mengucapkan istighfar berkali-kali setelah menyadari dirinya memandang Balqis sudah lebih dari tiga detik.
Melihat ekspresi laki-laki tersebut, membuat Balqis menoleh dan mendapati kedua mata sipit laki-laki itu yang sudah melepaskan kacamatanya.
Laki-laki itu pun tengah memandang dirinya dengan raut wajah cukup terkejut tak percaya. Dan sukses membuat Balqis semakin heran, mengapa laki-laki di hadapannya ini menatapnya seperti itu.
Apa ada yang aneh di wajah aku?
Balqis yang masih sibuk dengan keheranannya, tanpa sadar laki-laki tersebut sudah duduk di samping Balqis, memakan jarak yang tidak terlalu dekat, namun masih bisa berkomunikasi dengan Balqis.
"Ma---"
"Kam---"
Ucap mereka bersamaan tanpa disengaja, Balqis dan laki-laki tersebut menyadari ucapannya itu, akhirnya mereka pun sama-sama membungkam kembali mulutnya canggung.
"Kamu dulu." Ucap laki-laki tersebut sembari menetralkan detak jantungnya.
__ADS_1
Balqis menggeleng. "Tidak. Tuan dulu saja."
Laki-laki itu membuang napasnya pelan. "Ladies first."
Balqis menyerah jika sudah begini.
Balqis mengangguk. "Apa benar, Tuan ini adiknya wanita itu? Yang beberapa menit lalu menghubungi saya di telepon."
Laki-laki tersebut mengangguk tersenyum. "Benar. Bagaim---"
Cklek
Ucapan laki-laki tersebut terhenti kala mendengar decitan pintu ruangan tersebut terbuka. Dan menampilkan seorang Dokter wanita tengah menatap Balqis dan laki-laki tersebut bergantian.
"Anda salah satu keluarganya?" Tanya Dokter tersebut pada Balqis.
Balqis menggeleng. "Saya, Dok. Bagaimana keadaan kakak saya?" Tanya laki-laki tersebut sangat khawatir.
Dokter mengangguk. "Mari, Pak. Ke ruangan saya. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan."
Laki-laki tersebut mengangguk. "Baik, Dok." Setelah menjawab, laki-laki itu menoleh pada Balqis. "Tunggu sebentar, setelah ini ... Saya ingin bicara denganmu." Ucap laki-laki tersebut pada Balqis.
Balqis hanya bisa mengangguk dan tanpa disangka, laki-laki itu membalas dengan senyuman tampannya.
***
"Kanker Serviks?"
Laki-laki tersebut sangat terkejut ketika Dokter menginformasikan dengan detail di dalam ruangan dokternya, bahwa kakaknya mengalami penyakit Kanker Serviks. Dan hal tersebut benar-benar membuat laki-laki ini sangat lemas.
"Benar, Pak. Dilihat dari gejalanya yang sudah kami lakukan cek laboratorium, Nona Yasmine positif terkena penyakit ini. Dan kanker yang dialami oleh kakak Anda ini, sudah menginjak stadium IIB, itu artinya stadium ini akan berlanjut. Dimana sel kanker ini sudah dari rahimnya."
Sungguh mengejutkan. Ya, wanita tersebut bernama Yasmine. Dan sukses membuat adik laki-lakinya ini sangat lemas tak berdaya. Dan tanpa disadari, jatuhlah air mata di pelupuk matanya. Dalam keadaan bibir tipisnya yang bergetar, laki-laki tersebut berusaha tegar dan bertanya kembali.
"Apa penyebabnya kakak saya mengalami penyakit ganas seperti ini, Dok?" Lirih laki-laki tersebut bertanya.
"Saya kurang bisa memastikan, dominan penyebab Nona Yasmine mengidap penyakit ini. Karena banyak sekali penyebab yang memicu penyakit ini muncul. Salah satunya, kebiasaan menggunakan alat kontrasepsi minum atau pil KB dalam jangka waktu panjang ... "
" ... Dan ketika hasil cek laboratorium sudah keluar, saya simpulkan penyebab Nona Yasmine terkena penyakit ini itu karena melakukan kebiasaan tersebut."
Astaghfirullahalazim ...
Tak henti-hentinya laki-laki ini menyebut istighfar di dalam hatinya, sembari menahan air mata agar tidak keluar dari kedua matanya tersebut.
Memang, kakaknya ini sudah menikah namun sayang, kakaknya sudah diceraikan sekitar dua bulan yang lalu.
"Lakukan yang terbaik, Dok. Apa saja, asalkan kakak saya bisa sehat kembali." Ucapnya penuh harap.
"Mengetahui ini, saya sarankan Nona Yasmine melakukan operasi Histerektomi, yaitu tindakan pengangkatan serviks dan rahim. Dan dari tahap stadium ini, bagian indung telur serta tuba falopi pun harus diangkat ... "
" ... Namun, saya mohon maaf ... Resiko seperti ini akan menjadikan Nona Yasmine tidak bisa hamil kembali."
Bagai sebuah hantaman besar jatuh tepat pada laki-laki ini. Sakit, sangat sakit. Mengapa kakaknya mengalami ujian dari Allah seberat ini? Tanya laki-laki tersebut di dalam hatinya.
"Jadi bagaimana, Pak? Jika dibiarkan saja, ini akan berakibat fatal bagi Nona Yasmine. Kanker ini akan menyebar ke bagian-bagian lainnya, bahkan sampai ada yang meninggal. Karena tidak sedikit yang mengalami penyakit ini."
Bingung. Rumit. Gelisah. Sedih. Campur sudah semua rasa tersebut di dalam dirinya. Namun, ia tak henti-henti menyebut nama Allah di dalam hatinya, meminta petunjuk agar keputusan yang ia tetapkan ini, memang yang terbaik dari Allah untuk kakaknya.
Bismillah ...
"Boleh saya minta waktunya sebentar, Dok? Saya ingin menghubungi orang tua saya."
Dokter pun mengangguk. "Silakan."
Akhirnya laki-laki ini keluar dari ruangan tersebut dan segera menghubungi orang tuanya lewat telepon.
Beberapa menit berlalu, laki-laki ini sudah menetapkan keputusannya, dimana dirinya sudah memberitahu secara detail apa yang telah dialami oleh Yasmine, kepada kedua orang tuanya.
Maaf, kak. Aku, Mama dan Papa telah memutuskan tentang ini ... Tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu pada kakak.
*Dan semoga, ini keputusan yang terbaik dari Allah untuk kakak.
__ADS_1
Syafakillah, kak*.
Bersambung...